Rabu, 11 Februari 2015

Pandang yang semena-mena. Tanpa suara dan asa yang saling bersua. Tak lagi bisa dijaga arah mata dan hati yang bertutur tentang rasa. Merekam erat raut tanpa dosa. Menyimpan apa yang lanyak. Acuh atas apa yang dianggap lekat.

Segaris senyum hangat yang tak pernah tau ditujukannya kepada siapa. Senyum menggantung tanpa ada kata-kata. Luruh harap untuk tetap tinggal. Pisah tanpa sapa awal kehangatan. Tinggal tunggu tanggal mainnya melihat punggung lebar menjauh menjadi titik di ujung jalan.

Menatap seulas senyuman  hangat yang menggetarkan jiwa. Abai dengan kuat akan siapa yang berdiri di sampingnya. Meski lara dirasa lekat tak menghujam kuat. Sebentar saja tanpa aba-aba bulir bening meluncur bebas bukan tanpa alasan yang jelas.

Hanya serentetan kata semoga yang diiringi amin khidmat. Bukannya pinta yang diucap kuat karena tenggorokan selalu saja tercekat. Kalau saja jam pasir itu membalik masa maka sudah kulakukan sebelumnya. Bukan sekedar mengulang senyum mengambang serta kehadiran yang mampu menbawa hati terbang ke langit sana. Tapi juga menghadirkan sapaan awal yang bisa mengubah jalan.

Hujan sudah reda. Langit lepas menyapa penggemarnya. Hari terus berlalu dan 'semoga' masih merindu. Menanti perwujudan diantara langit pekat nan sunyi senyap. Hening yang memabukkan. Ranah dan rumah untuk setiap semoga yang belum mau berhenti bergulir.

Iya, semoga punya kesempatan untuj sekedar bertukar senyum selepas subuh menjelang. Bertukar kata sebelum mata memejam. Semoga punya kesempatan untuk menghabiskan kebersamaan dalam masa dan ruang yang serupa. Setiap harinya. Diantara semoga yang kita lanjutkan bersama-sama.

-Adheala Nathasya
February, 10th 2015

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template