Senin, 04 Januari 2016

Pertemuan, Waktu dan Perpisahan

Sepertinya sudah lumayan lama tidak meninggalkan catatan yang sedikit serius dan panjang selain ucapan ulang tahun dan bualan-bualan kecil yang sempat diprotes dibelakang layar oleh seseorang karena tingkat kepentingannya yang rendah. Seharian ini nyaris tidak meninggalkan tempat tidur akibat serangan virus influenza yang diperparah dengan lelah fisik dan batin. Bercanda. Jadi seharian ini jadi berpikir tentang tiga hal di atas.
Selayaknya catatan yang sering dituliskan orang-orang dan kalimat mainstream yang diucapkan kebanyakan, tiap pertemuan diiringi perpisahan. Sayangnya saya punya versi saya sendiri, pertemuan dan perpisahan itu dibentangkan waktu. Iya, waktu. Kalau tidak bersama waktu tidak ada pertemuan. Kalau waktu tidak ada maka perpisahan juga tidak ada. Lalu seberapa banyak pertemuan yang harus saya lalui dan perpisahan yang saya ucapkan untuk bertemu kamu? Bercanda, bukan itu yang ingin saya bahas di sini.
Kalau boleh saya bicara, tiap pertemuan itu meninggalkan kesan, pesan, cerita atau apapun itu bentuknya yang membekas atau paling tidak pernah ada. Maksud saya, adanya pertemuan itu bisa jadi satu awal yang lain. Sebuah cerita baru atau justru catatan sambil lalu seperti ini. Sedangkan perpisahan bisa jadi memberikan senyuman, deretan penyesalan, awal cerita yang lain juga catatan sambil lalu yang dijadikan pelajaran. Sedang hal yang memisahkan pertemuan dan perpisahan adalah waktu. Membentang dan merentang jarak yang hanya bisa dinikmati, ditunggu atau dibiarkan berlalu.
Kalau kamu paham bahwa waktu tidak berhenti dan penyesalan itu letaknya di ujung hari maka kamu tahu bagaimana menikmati pertemuan dan perpisahan yang sedang berada di depanmu, bukan begitu? Dengan waktu pula kamu tahu bahwa di antara pertemuan dan perpisahan ini ada hal yang bisa dipelajari. Entah bagaimana bentuk dan ceritanya. Selalu ada kalau kamu mau tahu atau malah sekedar duduk dan membicarakannya denganku.
Pertemuan itu diretas takdir sehingga saya tidak punya kuasa menentang apalagi menghindar. Sedang perpisahan itu saya yang sengaja menciptakan karena direntang waktu yang ada saya tidak menikmatinya. Pertemuan itu meninggalkan cerita dan kamu tahu bahwa ada kalanya saya menjadi penikmat yang meninggalkan catatan. Sisanya tinggal permainan takdir yang tidak ingin saya campuri lagi.
Saya bebas. Melepaskan diri maksud saya. Menikmati pertemuan lain dan rentang waktu di tengahnya. Menatap perpisahan sebagai suatu hal yang jauh dalam jangkauan. Hingga pertemuan, waktu dan perpisahan yang terkait denganmu menjadi sebuah catatan lalu.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template