Senin, 08 Februari 2016

Segelas cokelat panas

Apa kabar..
Kalimat yang sederhana itu tidak pernah keluar dari bibirku buatmu. Entah kenapa. Lidahku ini tidak punya tulang, selalu saja kehilangan kuasa saat kamu di depan mata. Dan aku berubah jadi angin tak kasat mata setiap keberadaanmu tidak lagi mengada-ada.
Apa kabar..
Kalau bisa sudah kukatakan sejak hari itu. Sejak aku kehilangan kendali atas perasaanku. Kalau bisa kuucapkan setiap waktu, jadi aku selalu punya alasan untuk berbincang denganmu. Sayangnya aku hanya rintik hujan yang terus jatuh di depanmu, bukannya sepasang tangan yang mampu mendekapmu.
Apa kabar..
Kalau aku mampu aku sudah mengirimkannya kepadamu. Hingga tak ada lagi jarak yang terbentang. Hingga selalu ada jalan atas percakapan. Atau mungkin keberlanjutan cerita yang selalu kukarang-karang. Tapi aku hanya kata tak bermakna yang terus berputar tanpa muara.
Apa kabar..
Kalimat itu terus terngiang. Tak punya jalan keluar. Selayaknya pusaran yang kau ciptakan dalam segelas cokelat panas di hari hujan. Dan aku pias menjadi angin yang mengganggu pepohonan. Sibuk mencari cara untuk menarik perhatian.
Aku tidak lagi punya apa kabar untuk diucapkan. Aku berubah jadi angin tak kasat mata, pusaran tanpa muara, hujan bukan lengan, kata tak bermakna dan bibir tanpa suara. Karena segelas cokelat panas di hari hujan yang kau singkirkan setelah perpisahan. Karena segelas cokelat panas kegemaranmu yang kuhancurkan. Karena segelas cokelat panas yang tidak lagi bisa memaafkan. Karena segelas cokelat panas di hari hujan yang tidak lagi menenangkan. Karena kamu tahu benar bahwa aku bukan orang yang sama seperti sebelumnya.

Adheala Nathasya
February, 8th 2016
11.13 PM

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template