Senin, 03 April 2017

Dheala’s Journal: Rasa Si Sulung


            It feels good to have someone reliable dependable every day, doesn’t it? It does.it really does..
As the first born, to have someone to rely and depend on is not something to have every day in forever.  At most of the time I rely and depend on myself. No I am not going to ask people to understand, I am not telling as a complain. I am just telling myself how’s it going.
I was born as dad’s little daughter, mom’s only daughter, almost every oppa’s little sister, everyone’s sweet little girl so they tend to spoil me. Like a lot. Even so I am still the first born who tend to grow individually and take almost responsibility. Sometimes I realize that being the first born is hard. Maybe almost for all the first born who born as girl.
Waktu terus berjalan, Ibu dan Bapak menua sedangkan anak pertamanya harus mendewasa. Untuk beberapa anak pertama di luar sana dipaksa mendewasa. Entah bagaimana caranya. Harus belajar mendewasa, bertanggung jawab, dan mandiri baik secara emosional dan finansial. Sebenarnya bukan hanya tiga hal itu yang dipelajari, barangkali semua hal tentang hidup. Tentu semua orang belajar, tapi anak pertama selalu belajar lebih dulu biar mampu memberi pengertian pada si anak tengah juga si bungsu.
Untuk si sulung yang kini hanya punya satu orang tua, sisi emosionalnya dipaksa mendewasa. Bahunya dipaksa merentang lebar untuk menahan kepala yang kapan saja menangis di bahunya. Mungkin ibunya, mungkin ayahnya, mungkin juga adiknya. Telinganya ditarik kencang-kencang untuk mendengar banyak hal. Matanya dipaksa menatap ke depan, memproyeksikan gambar masa depan yang akan dicapainya. Bibirnya ditarik lebar menunjukkan senyuman, menyembunyikan segala jenis kesedihan dan pelik pikiran. Otaknya diperas habis-habisan untuk paham, menghubungkan segala jenis logika yang ada. Memberikan pemikiran paling logis nan positif untuk kehidupannya yang sekarang. Tangannya di depan dada untuk mendoa, biar semuanya tetap terasa mudah meski sulit dan tetap bisa mengucap syukur. Keningnya dicium bumi hanya untuk menyadarkan bahwa si Sulung tidak sendirian.
Si Sulung yang dipaksa mendewasa kadang juga lelah. Mentally exhausted, kadangkala tak sadar bahwa segalanya teredam terpendam dalam kepala dan hatinya. Tidak apa-apa, toh hingga saat ini si Sulung masih baik-baik saja. Si Sulung paham bahwa Tuhan membuatnya lebih kuat dari anak-anak di luar sana. Tidak apa-apa lebih cepat dewasa, tidak apa-apa jadi berbeda.
Barangkali si Sulung yang perempuan ini belum bisa menemukan that dependable reliable man untuk bergantung setiap harinya. Mungkin nanti meski sudah bertemu tidak bisa setiap hari begitu. Si Sulung yang perempuan ini tetap harus jadi biggest and greatest supporter to her man since she, herself is dependable and reliable. Tapi kadangkala, si Sulung yang perempuan ini juga lelah. Si Sulung yang perempuan ini juga manusia.

PS.
Untuk semua Sulung di luar sana,
            It’s okay to be not okay sometimes. It’s okay to be afraid to something. But one thing you need to realize is you’re born different. You’re stronger and greater day by day. You’ll be okay. You’ll always be okay. 

- April, 2nd 2017

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template