By December
2022
memutuskan resign dari kantor lama. Alasan klisenya mempersiapkan study
lanjut, alasan aslinya merasa overwhelmed dan ngga mampu menghadapi pressure
nya. Did I cry? A lot. Ada ketakutan tidak mampu memenuhi tanggung jawab
sebagai tulang punggung keluarga, ada biaya sekolah yang masih harus dibayar,
cicilan yang belum selesai, uang UKT yang belum lunas tapi bertahan saat itu
bukan jawaban yang tepat. Berusaha ikhlas dan yakin kalau ada pintu rejeki lain
buat tulang punggung seperti kami ini. Berusaha menikmati waktu senggang meski banyak
takut dan khawatir yang ditelan sendiri. Kenyang? Ngga. Pahit iya. Tapi, antara
senggang itu jadi lebih rajin ibadah dan berdoa, banyak ngobrol dan menemani
ibunda, update kehidupan teman-teman kantor lama. It was good
spending time together with my family, setelah beberapa tahun skip karena pekerjaan
yang benar-benar menyita waktu. Did I regret my decision? Gladly no. I was
home till February 2023 then got new job I prayed for. Did I happy? I was happy
eventually.
Selama
perjalanan di kantor baru jadi banyak belajar, ada banyak perbedaan dan hal
baru. Heran? Jelas. Bikin salah? Tentu. Lot of things happened, I was once
thought dapet atasan yang usianya ngga beda jauh akan lebih asik karena
pikirannya pasti beda dengan para tetua. But then I remembered, otak
manusia baru berkembang sempurna di usia 25 tahun and maybe he wasn’t at
that state yet. Banyak miskomunikasi dan mendem sebelnya. Banyak hal yang
jadi kerasa unfair dan subjektif. Maybe I hung my expectation too high.
Buat perusahaan yang sebesar ini masih banyak perubahan yang perlu dilakukan,
aturan baru yang perlu ditegakkan dan rintisan hal-hal baru lainnya. It was
hard, menjadi saksi sebuah perubahan yang harapannya ke arah lebih baik. We never
know, maksud baik ini hasilnya akan baik juga atau malah sekedar jadi hikmah
aja nantinya. I do realize jadi saksi perubahan perusahaan ini berat
tapi pasti bisa dilewati, can I bear this?
By witnessing
this change I feel not good enough. Ada banyak kesalahan dan
ketidakjelasan di dalam perjalanan kantor baru ini. I am discourage dan lelah.
Rasanya ingin berhenti, tapi ada tanggung jawab yang harus dipenuhi. Ingin
berpindah tapi belum punya tujuan baru. Kadang ingin mati tapi sadar amal ibadah
belum mumpuni. Barangkali ketika sudah terlalu lelah orang bisa berpikiran
sependek ini, mati dan berhenti.
Tahun ini
merasakan pergantian atasan, maybe ini salah satu rejeki baik dari
kantor ini. Berasa punya mentor jadinya, ada tempat untuk bertanya ketika
hilang arah. Tapi sadar tetap disuruh berlari. Jadi makin banyak yang harus
dicapai dalam satu waktu. Lelah? Barangkali ini salah satu alasan why do I
feel not good enough. Sejauh apa ekspektasi yang harus dipenuhi? Bukannya orang
berlari juga butuh waktu istirahat sebentar? Setidaknya untuk mengatur nafas. She’s
good but maybe it’s one of the reason why I feel not good enough then.
By December
26, 2023 do I feel happy? Maybe not that happy, I don’t feel enough. And I remembered
happy wasn’t on my prayer last time. Doanya waktu itu segera punya pekerjaan
baru supaya tetap bisa memenuhi tanggung jawab. Barangkali harus berdoa lebih
lengkap lain kali. Sampai hari ini ada ibadah dan iman yang berantakan di
antara usaha memenuhi tanggung jawab kehidupan. Padahal kehidupan ini juga
punya Tuhan.
Kadang, aku berharap rejekiku bisa sekolah tinggi tanpa mikir biaya pendidikan dan kehidupan. Belajar aja, since I can endure the pain of studying and learning. Tapi mungkin rejekiku jadi tulang punggung keluarga saat ini dan menanggung diriku sendiri. But I realized, proses penerimaannya tidak mudah meski sudah 5 tahun bekerja. I wish things were easier, but it wasn't I just getting stronger.