June 13th 2014
Perkuliahan semester ini hampir usai. Begitu pula
dengan tugas akhir yang kususun. Dosen pembimbing tak banyak melakukan revisi.
Sedikit banyak aku bisa bernafas lega dengan ini. Hari ini hari jum'at.
Belakangan surabaya jadi sering diguyur hujan ketika subuh menjelang. Senang
saja. Pagi harinya jadi lebih sejuk dan dingin dari biasanya.
Ah ya berbicara tentang hujan, bagaimana kabar
perempuan itu ? Perempuan yang biasanya membawa mendung kecil atau bahkan hujan
besar di setiap pertemuannya denganku. Hujan di subuh dua hari ini akan membawa
cerita seperti apa ? Lagipula sepertinya sudah lama juga aku tak bertemu
dengannya.
Aku baru ingat bahwa dua hari yang lalu aku sempat
berpapasan dengannya. Ketika aku sendiri sibuk berbincang dengan temanku
tentang materi perkuliahan yang baru saja kuikuti. Perempuan itu dengan
santainya melewatiku. Tentu saja dengan teman perempuannya itu. Aku tak banyak
membaca apa yang ada dipikirannya. Yang jelas masih ada gurat-gurat kekaguman
yang terpancar dari bola mata cokelat tuanya itu. Meski tak banyak tersisa.
Meski sudah berbeda dengan kalimat-kalimat konyol yang mulai kurindukan
darinya. Ahh, apa yang sedang terjadi denganku?
Subuh tadi tak hujan. Padahal aku berharap ada
pertanda yang membuatku bertemu dengan perempuan itu beserta kalimat-kalimat
konyol di kepalanya. Dan banyak hal takterduga yang bisa saja muncul di
kepalanya seperti yang sudah-sudah. Entah kenapa. Sepertinya bukan hal yang
asing buatku untuk mengharapkan sebuah pertemuan akibat hujan yang turun
belakangan ini. Tapi sepertinya tidak mungkin. Minggu UAS perempuan itu sudah
usai sejak hari Senin kemarin. Kemungkinannya amat kecil untuk bertemu
dengannya di kampus. Kampus mulai sepi sejak UAS berakhir. Selalu seperti itu.
Kenyataannya berbeda. Perempuan itu pergi ke kampus
hari ini. Dengan standar kuliah yang lebih santai. Sepertinya tidak ada kelas
atau ujian tambahan yang harus ia ikuti. Aku hanya mendengar derap langkahnya
yang tergesa-gesa seperti diburu. Pikirannya yang kacau balau dan sebaris
kalimat, 'ah yaa kakak itu'. Akhirnya hanya aku yang masih terpaku
dengan sebaris kalimat di kepalanya.
Hujan di subuh dua hari ini membuat motor yang
biasanya jadi media paling setia yang membawaku ke kampus nampak kotor. Waktu
luang sebelum shalat jumat ini sepertinya tepat untuk membuatnya kembali
bersih. Tak pikir panjang aku membawa motor kesayanganku ke tempat yang
menyediakan jasa cuci motor. Agak ramai sepertinya, tapi tak apalah. Daripada
terlihat kotor seperti itu.
Aku mulai menyibukkan diri dengan beberapa lembar
koran yang berserakan diatas bangku kayu tempatku menunggu. Hitung-hitung
menghilanghkan kebosanan. Lagipula koran yang berserakan disini juga koran
baru. Apa salahnya dibaca. Di sela-sela kesoksibukanku membaca kkoran aku
menangkap siluet perempuan itu. Bersama teman perempuannya tentu saja. Sibuk
mencari tempat yang mneyediakan jasa cuci motor. Itu yang terbaca olehku. Tapi
mereka memutuskan untuk lewat begitu saja dan memilih untuk mencari tempat
lian. Kalau saja mereka tahu yang buka hanya tinggal ini saja.
Tak berapa lama perempuan itu dan teman perempuannya
kembali. Nah, akhirnya mereka kembali. Aku masih sibuk dengan lembarab-lembaran
koran di tanganku. Aku curi-curi membaca pikiran perempuan itu. Kenyataannya
meskipun ia kelihatan tak menyadari keberadaanku dia tahu benar aku duduk di
bangku kayu menunggu motorku selesai dicuci. Hanya sebaris kalimat 'ahh
sudah lama aku tak melihatnya' dan 'waah ada kakak ini' yang terbaca
dari kepalanya. Serta senyum diam-diam yang muncul di wajahnya.
Sayangnya tak ada lagi kalimat-kalimat konyol yang
muncul di kepalanya seperti yang sudah-sudah. Perempuan itu sibuk bercerita dan
sibuk bergulat dengan sindrom keperempuanannya yang menghampiri setiap bulan.
Menahan sakit dengan tidak terlihat. Perempuan itu duduk di bangku kayu yang
sama denganku. Hanya saja tak saling bicara. Padahal bisa saja jika ingin
mengobrol untuk sekedar basa-basi. Toh hubungan senior-junior masih bisa
dijadikan alasan kan. Tapi aku sibuk dengan gadisku. Berselisih pendapat
tentang suatu hal yang kuakhiri dengan menutup telepon begitu saja.
Perempuan itu bilang “kalo aku belum sama siapa-siapa
pasti udah jingkrak-jingkrak ngga jelas ya cuman gegara duduk disini”
“iyalaaah, kan kamu”
“yaa abisnya dia lucu banget kan, kayak anak kecil”
“ya kan aku udah bilang ke kamu” kata teman
perempuannya.
Motorku selesai dicuci. Akhirnya aku menemukan jawaban
buat kalimat-kalimat konyol yang tak lagi kutemukan di kepalanya. Ada yang lain
yang berhasil mengalihkan perhatiannya. Entah laki-laki yang mana. Dan sebelum
aku pergi dari tempat yang berhasil diatur Tuhan buatku dan perempuan itu, aku
melihatnya. Sayangnya, perempuan itu tak melihatku seperti biasanya.