Tampilkan postingan dengan label belajar nulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar nulis. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2015

Gadis

Chocolate?” tawarku. Gadis ini menatapku dengan tatapan kau-yakin-? yang khas dari sorot matanya.
Ambilah” kataku meyakinkan meski aku sendiri menolak menatapnya.
Aku tak pernah membagi cokelatku pada siapapun. Aku sendiri heran dengan kelakuanku saat ini. Memberikan cokelat sumber ketenanganku pada orang baru? Oh yang benar saja, batinku. Tapi toh aku melakukannya. Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?
Aku baru menatapnya ketika sentuhan tangannya membuatku sadar bahwa cokelat kesayanganku itu berkurang satu. Rupanya gadis itu tengah memakan salah satu cokelat berhargaku. Aku tidak tahu harus berkata apa yang jelas aku terus memperhatikannya. Ia nampak membaik, syukurlah. Tangan kecilnya mengguncang lenganku, sepertinya aku terlempar jauh ke dunia lamunan barusan.

Kamis, 10 September 2015

Muda


Ritme jantungku masih saja tak karuan padahal sudah lewat dua jam sejak kejadian itu. Aku tidak lagi di auditorium. Aku sudah di kamar dan sendirian tapi kenapa ritme jantungku masih berantakan begini? Efeknya sungguh gila! Bahkan ciuman dan sentuhan yang diberikan Levine tak pernah sampai sedahsyat ini. Oh ayolah Nat, dia hanya anak ingusan umur delapan belas tahun, batinku mengejek. Iya dia masih delapan belas tahun dan aku merasa bodoh karena meyukainya, balas batinku.

Senin, 24 Agustus 2015

Diam – August 8, 2015



Kau tahu apa yang tercipta dari setiap keterdiamanmu itu sayang? Atau aku akan mencoba pertanyaan lain, apa yang kau buat dari senyap dalam kepalamu? Apa yang kau wujudkan dari bungkamnya dirimu? Jawab aku sayang, kali ini saja. Kupikir kau cukup lelah untuk menyimpan dan memendam semua perasaanmu sendirian.

Senin, 19 Januari 2015

Tuhan.

Ujian yang dikasih Tuhan itu ngga jauh-jauh sama statistika. Kalo lu nanya kenapa jawaban gue sederhana. Ada banyak data yang Tuhan punya tapi kita engga yang dijadikan dasar atas seberapa susahnya ujian yang dikasih ke elu. Nah lu sendiri bahkan ngga paham kan data seperti apa yang dipunyai Tuhan. Sama gue juga engga paham. yang jelas Tuhan punya hitungan probabilitas sendiri yang menggambarkan keberhasilan lu melewati cobaan yang udah Dia kasih. Elu ngga bisa ngitung probabilitas keberhasilan elu. Kalo pun bisa nih ya, gue yakin ngga bakalan segampang ngitung probabilitas keluar mata dadu tiga dari 50 kali pelemparan yang lu lakuin. Jadi, ketimbang lu pusing nyari rumus buat ngitungnya, bakalan lebih efisien dan ekonomis buat lu untuk sekedar ngejalanin dan ikhlas tentunya  gue paham ini berat dan susah tapi lu tau sendiri kan ngga ada yang namanya probabilitas mutlak atau probabilitas sama dengan satu.

Sebenernya gue nulis ini buat gue sendiri. Buat ngingetin diri gue biar ngga lepas kendali dan terus fokus. Sekaligus belajar mencintai bidang ilmu yang lagi gue pelajari. Kalo ini juga berguna buat li sih gue ikut seneng. Seenggaknya gue ngga ngerasa sendirian karena dikasih cobaan dan seneng karena gue bisa bantu orang. Udah itu aja.

Minggu, 21 Desember 2014

SMG-SBY

Kalimat menatapmu saja sudah cukup sama sekali tak benar. Kau tahu bahwa manusia tak pernah puas dengan satu hal dan tak banyak manusia yang bisa bersabar dengan kenyataan. Kau juga tahu bahwa akan ada banyak keinginan setelah aku mampu menatapmu berlama-lama seperti ini. Kau juga tahu bahwa selangkah lebih dekat denganmu akan berakhir dengan permintaan atau permohonan yang terkait hati. Kau juga tahu benar bahwa hati yang sudah meminta sulit sekali dilawan. Kalau aku memintamu menjadikan aku yang satu apa kau bisa mewujudkannya ? Kalau aku mau cuma aku yang ada di setiap harimu bagaimana ? Lalu kalau aku mau jadi yang terakhir buatmu kau bisa apa ?

-Adheala Nathasya
Sepasang mata di balik kaca, menatap jalanan Tuban entah memikirkan apa (re: I wish bisa frontal sebut nama)
20 Desember 2014, jalanan Tuban

Senin, 17 November 2014

ruang rindu

katakan saja aku merindukanmu. amat singkat dan jelas. ketimbang aku harus memutar kepala memilih kata untuk menyampaikannya kepadamu. kau tahu bahwa aku sendiri belum menemuimu. jadi..
iya, katakan pada seluruh dunia kalau aku merindukanmu. sampai pagi ini. sejak hari lalu ketika kamu begitu saja datang dalam mimpiku. entah bagaimana menjadikan kenangan berputar bak film di bioskop dan sebuah senyuman tanpa alasan yang mengembang setelah aku terbangun dari tidurku.

lekas putuskan, sesegera mungkin kamu harus menemuiku. sebelum rinduku membuncah dan menelanku bulat-bulat lalu aku menghilang begitu saja.

Minggu, 09 November 2014

I am okay, probably I am not

(dheakuu):
dear you, things that scrumbled on my mind is easily solved by seeing you this morning. though you stands in front not besides.
(dheakuu):
I told myself again and again that everything is okay. and I told myself that it's just okay seeing you there smiling brightly not besides.
(dheakuu):
again, I told myself that I am happy seeing you though you don't see me. sometimes it just the matters of time that don't cooperative. sometimes chances matter a lot.
(dheakuu):
the worst is sometimes the fate matters. God won't allow you and I standing as us. again I told myself that it's just okay so I can live my own life as nothing happen but the pieces of you left.
(dheakuu):
but again I said it's okay so God sends me the better you for the rest.

Rabu, 22 Oktober 2014

Now Playing : Tulus – Jatuh Cinta Blue Polo Series




Finally ini kelas terakhir yang harus kuikuti untuk kuliah hari ini. Minus dengan tugas-tugas yang masih harus kukerjakan sepulang kuliah ini. Minggu UTS makin dekat tapi tugas makin banyak. Sepertinya banyak agenda yang harus kulakukan untuk persiapan UTS kali ini. Dosen mata kuliah Aljabar Linear II berbaik hati hari ini, kuliah diakhiri lima menit lebih awal. Aku bernafas amat lega mengingat jadwal kuliahku yang beruntun hari ini. Sebenarnya tidak berat hanya saja dengan kondisiku yang kurang fit selesai kuliah lebih awal melegakan juga.
Aku membereskan buku dan beberapa alat tulis yang kugunakan selama kelas berlangsung tadi. Mendadak smartphone dalam genggamanku bergetar. Menunjukkan sebuah chat masuk. Mas Hanif. Aku tersenyum tanpa sadar melihat namanya tertera di layar smartphone-ku.
'Adelin selesai kelas jam berapa hari ini ?' tulisnya di ruang chat.
'Harusnya jam lima mas tapi ini udah selesai' jawabku. Aku urung keluar dari ruang kelas, menunggu balasan mas Hanif di ruang chat yang ia ciptakan.
'Kamu dimana ?' tak sampai semenit mas Hanif membalas chat-ku.
'masih di kelas mas, di ruang F. mas Hanif dimana ?' tanyaku sekedar ingin tau. Chat terakhir hanya dibaca tanpa dibalas.
Aku memandangi layar smartphone-ku sekali lagi. Belum ada balasan dari mas Hanif di ruang chat yang ia mulai terlebih dulu. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul lima tepat.

Senin, 20 Oktober 2014

Pendamping Wisuda - Blue Polo Series


“Mas wisuda besok siapa yang bakalan dateng ?” tanyaku iseng. Ia lagi-lagi mengusap puncak kepalaku.
“Wisudaku masih lama, Del. Masih kurang dua semester lagi kalau sesuai targetku. Kalau tidak ya tiga semester lagi biar tepat waktu. Memangnya kenapa ?”
“Ngga apa”
“Seriusan deh kenapa tiba-tiba nanya wisudaan segala ?”
“Tiba-tiba aja inget wisudaan kemarin. Mas sama mba angkatan 2011 kan datengnya sama pendamping, terus ntar kalo mas Hanif wisuda yang jadi pendampingnya siapa ?”

Intro -Blue Polo Series


“Itu bibirnya ngga bisa ngga ditekuk gitu ? Manyun-manyun seenaknya. Kamu kenapa sih ?” aku masih termangu menanggapi sebuah suara yang akrab di telingaku. Masih bersandar pada pagar pembatas sungai di hadapanku. Sungai di depanku juga bukan sungai yang bagus. Aliran airnya mampet dan terlalu banyak daun kering mengapung diatasnya. Sebenarnya tidak nyaman berdiri sendirian menunggunya disini. Tapi apa boleh buat. Toh ini tempat paling dekat yang bisa kujangkau.
Tak berapa lama pemilik suara itu sudah berdiri disampingku. Meletakkan lengannya di pagar pembatas. Menuntut perhatian dengan mengusap puncak kepalaku dengan sebelah tangannya yang bebas. Rambutku berantakan. Dan ia selalu tersenyum melihatku seperti ini. Aku menatapnya. Memiringkan sedikit kepalaku dan menelusuri setiap inchi wajahnya. Ia tersenyum lagi sembari menggaruk kepalanya lalu memalingkan muka. Masih saja seperti ini. Menjadi gugup menghadapi tingkahku yang suka sekali memandangi wajahnya.
“Kenapa ?” bibirnya mengerucut menanggapiku yang sedari tadi belum mengeluarkan kalimat apapun.

Senin, 25 Agustus 2014

Harusnya


"Proposalnya fail, Ta" kata Gaska diantara tegukan secangkir kopi dihadapannya. Sudah kuduga. Aku menghela nafas panjang. Lelah.

"Kamu keliatan lebih kecewa dari aku. Kenapa ?" katanya. Aku memalingkan wajah. Menyapukan pandangan ke sekitar. Pikir sendiri coba, Gas.

Bukan Pengabaian


“Jadi kemana saja perempuanku ini ?” tanya Gaska.

“Menyibukkan diri. Mengembalikan kerja setiap indra yang melekat di tubuhku” jawabku asal.

“Kamu mulai lagi, Del. Menggunakan kalimat-kalimat memutar yang tak kupahami maksudnya. Kuulangi, kemana saja kamu, Adelin ?” tanya Gaska lagi. Suaranya naik sepuluh desibel dengan penekanan.

“Menyibukkan diri, Bagaskara. Sama seperti kamu yang bilang bahwa kamu sibuk dan tak sempat memberiku kabar” jawabku akhirnya.

“Berhenti memberi perhatian juga ? Sok-sok ngambek dengan balik tak memberi kabar begitu ?” kata Gaska. Aku hanya mendengus.

Minggu, 27 Juli 2014

Kamu


Sore ini hujan turun dengan lebatnya. Tanah pekarangan di depan rumah basah diguyur hujan. Bunga mawar yang ku tanam setahun lalu sudah tumbuh tinggi. Bunganya bukan hanya dua tiga tangkai lagi hari ini. Tapi menggerombol mengelilingi dedaunan yang tumbuh di tangkainya. Wangi tanah basah pekarangan menyusup ke dalam kamar lewat jendela yang sedari tadi kubiarkan terbuka. Air hujan yang jatuh dari atap takkan masuk ke kamar meski aku membuka jendelanya. Hujan seperti ini selalu menyertakan lamunan yang tidak ada habisnya buatku. Apalagi jika lamunan itu menyangkut seorang Bagaskara. 

Meet You


kamu terlalu tinggi dan bersinar untuk digapai. maka jadilah aku yang menunggu,u untuk kau tahu perasaanku tanpa aku harus mengatakannya. dan hari ini ketika aku sudah bangga karena jatuh cintaku dengannya. kamu berdiri dihadapanku. baiklah, senang bertemu denganmu lagi ..

Sekali saja


Katakan saja aku tak waras. Tak cukup memendamnya sendirian aku bahkan ingin bertemu dengannya. Sekali ini saja. Setelah hampir dua tahun aku tak bertemu dengannya ..

Berubah




ketika waktu terus berputar dan lambat laun banyak hal berubah. kamu pun begitu. aku tak luput pula. lalu bagaimana dengan kita ?

Marry Him If You Dare (Park See Jo's point of view)


how's drama send me some words to explain. who's point of view I fall. not to deep..

Minggu, 29 Juni 2014

Today's Lecture


Life is so unfair, it's always said when people don't get what they want. Truly life is just fair. Layaknya tuhan dengan gagah mengaturnya. Keadaan sudah berbalik rupanya. Hanya saja aku masih gagal mengerti bagaimana anugerah sejak lahir mengalahkan kerja keras. Tertawakan saja. Dengan keras jika perlu. Aku belajar untuk baik-baik saja. Seperti biasanya. Hanya saja aku akan belajar jujur pada diriku sendiri kali ini. Bahwa aku tak baik-baik saja. Dengan keadaan. Dengan kenyataan. Dengan kehidupan yang kujalani hari ini.
Life is so unfair. Alasan dibalik itu semua adalah karena manusia dengan naifnya membandingkan backstage hidup sendiri dengan mainstage orang lain. Membandingkan setiap kekurangan yang dimiliki dirinya sendiri dengan kelebihan yang sudah susah payah dibangun orang lain manusia hanya terlalu naif. Terlalu polos buat menyadari seberapa banyak kehidupan mengajarinya tentang keadilan. Terlalu berlgak untuk sadar betapa hidup sudah membangunkannya selama ini. Begitulah manusia.

Jumat, 13 Juni 2014

Cerita (hujan) sore ini bagian 10


June 13th 2014
Perkuliahan semester ini hampir usai. Begitu pula dengan tugas akhir yang kususun. Dosen pembimbing tak banyak melakukan revisi. Sedikit banyak aku bisa bernafas lega dengan ini. Hari ini hari jum'at. Belakangan surabaya jadi sering diguyur hujan ketika subuh menjelang. Senang saja. Pagi harinya jadi lebih sejuk dan dingin dari biasanya.
Ah ya berbicara tentang hujan, bagaimana kabar perempuan itu ? Perempuan yang biasanya membawa mendung kecil atau bahkan hujan besar di setiap pertemuannya denganku. Hujan di subuh dua hari ini akan membawa cerita seperti apa ? Lagipula sepertinya sudah lama juga aku tak bertemu dengannya.
Aku baru ingat bahwa dua hari yang lalu aku sempat berpapasan dengannya. Ketika aku sendiri sibuk berbincang dengan temanku tentang materi perkuliahan yang baru saja kuikuti. Perempuan itu dengan santainya melewatiku. Tentu saja dengan teman perempuannya itu. Aku tak banyak membaca apa yang ada dipikirannya. Yang jelas masih ada gurat-gurat kekaguman yang terpancar dari bola mata cokelat tuanya itu. Meski tak banyak tersisa. Meski sudah berbeda dengan kalimat-kalimat konyol yang mulai kurindukan darinya. Ahh, apa yang sedang terjadi denganku?
Subuh tadi tak hujan. Padahal aku berharap ada pertanda yang membuatku bertemu dengan perempuan itu beserta kalimat-kalimat konyol di kepalanya. Dan banyak hal takterduga yang bisa saja muncul di kepalanya seperti yang sudah-sudah. Entah kenapa. Sepertinya bukan hal yang asing buatku untuk mengharapkan sebuah pertemuan akibat hujan yang turun belakangan ini. Tapi sepertinya tidak mungkin. Minggu UAS perempuan itu sudah usai sejak hari Senin kemarin. Kemungkinannya amat kecil untuk bertemu dengannya di kampus. Kampus mulai sepi sejak UAS berakhir. Selalu seperti itu.
Kenyataannya berbeda. Perempuan itu pergi ke kampus hari ini. Dengan standar kuliah yang lebih santai. Sepertinya tidak ada kelas atau ujian tambahan yang harus ia ikuti. Aku hanya mendengar derap langkahnya yang tergesa-gesa seperti diburu. Pikirannya yang kacau balau dan sebaris kalimat, 'ah yaa kakak itu'. Akhirnya hanya aku yang masih terpaku dengan sebaris kalimat di kepalanya.
Hujan di subuh dua hari ini membuat motor yang biasanya jadi media paling setia yang membawaku ke kampus nampak kotor. Waktu luang sebelum shalat jumat ini sepertinya tepat untuk membuatnya kembali bersih. Tak pikir panjang aku membawa motor kesayanganku ke tempat yang menyediakan jasa cuci motor. Agak ramai sepertinya, tapi tak apalah. Daripada terlihat kotor seperti itu.
Aku mulai menyibukkan diri dengan beberapa lembar koran yang berserakan diatas bangku kayu tempatku menunggu. Hitung-hitung menghilanghkan kebosanan. Lagipula koran yang berserakan disini juga koran baru. Apa salahnya dibaca. Di sela-sela kesoksibukanku membaca kkoran aku menangkap siluet perempuan itu. Bersama teman perempuannya tentu saja. Sibuk mencari tempat yang mneyediakan jasa cuci motor. Itu yang terbaca olehku. Tapi mereka memutuskan untuk lewat begitu saja dan memilih untuk mencari tempat lian. Kalau saja mereka tahu yang buka hanya tinggal ini saja.
Tak berapa lama perempuan itu dan teman perempuannya kembali. Nah, akhirnya mereka kembali. Aku masih sibuk dengan lembarab-lembaran koran di tanganku. Aku curi-curi membaca pikiran perempuan itu. Kenyataannya meskipun ia kelihatan tak menyadari keberadaanku dia tahu benar aku duduk di bangku kayu menunggu motorku selesai dicuci. Hanya sebaris kalimat 'ahh sudah lama aku tak melihatnya' dan 'waah ada kakak ini' yang terbaca dari kepalanya. Serta senyum diam-diam yang muncul di wajahnya.
Sayangnya tak ada lagi kalimat-kalimat konyol yang muncul di kepalanya seperti yang sudah-sudah. Perempuan itu sibuk bercerita dan sibuk bergulat dengan sindrom keperempuanannya yang menghampiri setiap bulan. Menahan sakit dengan tidak terlihat. Perempuan itu duduk di bangku kayu yang sama denganku. Hanya saja tak saling bicara. Padahal bisa saja jika ingin mengobrol untuk sekedar basa-basi. Toh hubungan senior-junior masih bisa dijadikan alasan kan. Tapi aku sibuk dengan gadisku. Berselisih pendapat tentang suatu hal yang kuakhiri dengan menutup telepon begitu saja.
Perempuan itu bilang “kalo aku belum sama siapa-siapa pasti udah jingkrak-jingkrak ngga jelas ya cuman gegara duduk disini”
“iyalaaah, kan kamu”
“yaa abisnya dia lucu banget kan, kayak anak kecil”
“ya kan aku udah bilang ke kamu” kata teman perempuannya.
Motorku selesai dicuci. Akhirnya aku menemukan jawaban buat kalimat-kalimat konyol yang tak lagi kutemukan di kepalanya. Ada yang lain yang berhasil mengalihkan perhatiannya. Entah laki-laki yang mana. Dan sebelum aku pergi dari tempat yang berhasil diatur Tuhan buatku dan perempuan itu, aku melihatnya. Sayangnya, perempuan itu tak melihatku seperti biasanya.

Sabtu, 07 Juni 2014

How's life going (2)


Hello world ! How's your day ? Is it good ? Or it's just as usual ? Is there something special ?
I have been telling you that everyone has their own life as their pass through some problems too. There's always a reason behind. Some of it is better left unsaid but how can you find those reason ? How can you find the cause of those happening problems ?
Mereka bilang membicarakan banyak hal dengan saling bertatap muka adalah hal yang paling mudah dilakukan. Paling efektif untuk menemukan kebenaran dan kejujuran. Paling mudah digunakan untuk menemukan alasan tersembunyi. Mereka juga bilang mata tak pernah berbohong. Semudah mulut yang bisa saja bicara seenaknya. Hati tak begitu. Dan mata menceritakannya dengan baik. Lalu bagaimana dengan mereka yang tak mampu membaca mata lawan bicaranya ? Atau tak mampu menatap mata lawan bicaranya hanya karena mengatakan apa yang ingin ia jelaskan sudah sangat sulit buatnya.
Amarah mungkin berhasil mengeluarkan setiap alasan dibalik semuanya. Air mata juga bisa jadi hal paling ampuh ketika seseorang tak menemukanderetan paragraf yang tepat untuk menceritakan ceritanya. Tawa yang diumbar diluar sana jadi pengusir setiap penat dan sesak yang bergumul di kepala karena tak ada waktu yang paling pas untuk menceritakannya. Apa saja. Asal semua perasaan terekspresikan dengan baik. Tak apa. Itu saja.
Lalu bagaimana dengan mereka yang susah payah menyimpan semuanya. Sedikit membaginya. Dan tak mampu mengekspresikan tiap ceritanya lewat rangkaian emosi yang seorang manusia punya ? Sama sekali tak merasa bahwa dikepalanya sudah bergumul awan-awan gelap yang siap berubah jadi hujan. Hebatnya lagi masih bertahan dan tak tumbang meski sadar bahwa sudah menempuh jalan dengan langkah yang terseok-seok. Harus apa mereka ? Sudah sekuat apa mereka melewatinya ?
Pasti ada jalan untuk menemukan tiap alasan dan tiap sebab atas sebuah masalah. Semudah mengatakannya. Sesulit menemukannya. Sesulit mengakuinya dan terbuka buat tiap penyebab dan alasannya. Sesusah melapangkan hati dan melebarkan telinga mendengar kalimat-kalimat yang menggambarkan penyebabnya. Sudahlah. Semuanya memang tak mudah tapi pasti ada jalan. Seperti semut yang selalu menemukan makanannya. Seperti mempelajari materi matriks ruang vektor hari ini. Semangatlah. Berpikirlah positif. Tuhan tak pernah memberi sesuatu yang tak bisa kamu tangani. Itu saja. Sederhana kan ? Terimalah. Kamu bisa.
Selamat malam dunia. Jangan lelah dulu sebelum aku benar-benar dewasa.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template