“Chocolate?”
tawarku. Gadis ini menatapku dengan tatapan kau-yakin-? yang
khas dari sorot matanya.
“Ambilah”
kataku meyakinkan meski aku sendiri menolak menatapnya.
Aku
tak pernah membagi cokelatku pada siapapun. Aku sendiri heran dengan
kelakuanku saat ini. Memberikan cokelat sumber ketenanganku pada
orang baru? Oh yang benar saja, batinku. Tapi toh aku melakukannya.
Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?
Aku baru menatapnya ketika sentuhan tangannya membuatku sadar bahwa cokelat kesayanganku itu berkurang satu. Rupanya gadis itu tengah memakan salah satu cokelat berhargaku. Aku tidak tahu harus berkata apa yang jelas aku terus memperhatikannya. Ia nampak membaik, syukurlah. Tangan kecilnya mengguncang lenganku, sepertinya aku terlempar jauh ke dunia lamunan barusan.
Aku baru menatapnya ketika sentuhan tangannya membuatku sadar bahwa cokelat kesayanganku itu berkurang satu. Rupanya gadis itu tengah memakan salah satu cokelat berhargaku. Aku tidak tahu harus berkata apa yang jelas aku terus memperhatikannya. Ia nampak membaik, syukurlah. Tangan kecilnya mengguncang lenganku, sepertinya aku terlempar jauh ke dunia lamunan barusan.
“Terimakasih,
nanti aku ganti cokelat kakak” ujarnya. Oh, seberapa banyak dia
tahu tentangku? Ia bahkan berniat mengganti barang berhargaku.
“Lupakan
saja. Kau sudah baikan?” tanyaku. Ia hanya mengangguk. Bulir
keringatnya ia seka dengan tisu. Senyumnya masih sama mempesonanya
meski wajahnya pucat.
“Maaf
sudah merepotkan” katanya. Sorot matanya yang penuh dengan
penyesalan itu membuatku ingin mendekapnya lama-lama. Aku hanya
memalingkan wajah. Lagipula tidak ada yang perlu dijawab kan. Aku
benci mendengar kata maaf dari bibirnya itu. Aku lebih benci dengan
pemikiran mendekapnya lama-lama itu.
Gadis
ini diam saja. Seperti sengaja memperluas jarak dan membentengi diri.
Mungkin dia hanya sedang menenangkan diri, kata suara di kepalaku.
Mungkin saja. Gadis ini menghela nafas berkali-kali. Aku sendiri
pura-pura sibuk mengamati jalanan lengang dari taman tempatku duduk.
Padahal aku memperhatikannya dari sudut mataku. Aku tahu ia melirikku
beberapa kali. Mungkin jengah sendiri dengan keheningan ini.
“Ayo
kembali” ajaknya. Ia tersenyum seperti tidak pernah terjadi
apa-apa. Aku hanya menatapnya. Rasanya masih enggan masuk ke
auditorium. Menghabiskan waktu dengannya terdengar jauh lebih
menyenangkan. Hey, sejak kapan aku jadi tidak profesional begini?
“Ayo
kak, teman-temanku sudah mencarimu” ajaknya lagi. Senyumnya
mengembang. Tebak apa efek dari senyumannya barusan? Waktu berhenti.
Benar-benar berhenti lalu jantungku meluncur lepas dari tempatnya.
Ada apa dengan gadis ini? Ia keturunan penyihir atau apa sampai bisa
menghentikan waktu?
“Kak?”
panggilnya.
Bahkan
caranya memanggilku terdengar istimewa. Aku benar-benar berharap aku
tidak perlu menghadiri acara itu lalu menghabiskan waktu dengan gadis
ini. Ia seperti memancing sisi lain diriku untuk keluar saat
bersamanya. Banyak hal yang sengaja kututupi dan kusimpan rapat-rapat
sendirian. Jadi seseorang yang ramah bukan berarti juga aku terbuka
tentang hal-hal yang berbau pribadi dalam kehidupanku. Tapi gadis
ini, bahkan sorot matanya membuaiku untuk menceritakan semuanya. Aku
tahu bahwa aku seorang pembicara publik. Tapi menjadi seorang
pembicara publik bukan berarti aku menyediakan semua bagian
kehidupanku untuk jadi konsumsi umum. Aku punya batas yang jelas
untuk hal itu dan gadis ini seakan melebur batas itu perlahan-lahan.
Tanpa aku menceritakannya seakan ia sudah tahu. Tentang cokelat itu
misalnya.
“Kak”
Sepertinya aku melamun terlalu lama. Gadis ini sudah beberapa langkah
di depanku. Mau tak mau aku mensejajari langkahnya untuk kembali ke
auditorium seperti permintaannya tadi.
Acara
hari ini berakhir sukses seperti acara yang sudah-sudah. Cukup banyak
pertanyaan yang dilontarkan peserta seminar seputar materi yang
kusampaikan juga senyuman-senyuman terpesona yang selalu sama. Gadis
itu masih duduk manis di samping tas punggung yang kutitipkan padanya
tadi. Sekembalinya dari taman tadi teman-temannya menempatkanku di
jajaran kursi khusus tepat di depan panggung bersama beberapa orang
penting lainnya dan gadis ini duduk di sampingku. Sepertinya selama
aku menyajikan materi tadi ia tetap duduk manis di sini. Aku tidak
tahu ia selama menungguku atau mungkin juga menikmati materi yang
kusampaikan ia melakukan apa yang jelas ia tersenyum menyambutku saat
aku selesai menyajikan materi. Seperti ini rasanya kalau ada yang
menunggu setelah menyelesaikan pekerjaan? Semacam.. Lupakan saja.
Gadis
ini benar-benar menarik setiap cerita untuk keluar dari mulutku.
Sayangnya aku mendadak kehabisan bahan obrolan dan bahan cerita untuk
diceritakan kepadanya. Aku bisa mengobrol dan membahas apa saja
dengan banyak orang. Tapi gadis ini berhasil membuatku gagu dan
mendadak bodoh. Sama sekali bukan aku. Aku sudah mengambil tempat di
sampingnya sejak tadi. Meneguk dan memainkan air mineral yang
disuguhkan teman-temannya. Ia sendiri sudah fokus dengan pemateri
selanjutnya. Sedangkan aku hanya bisa memainkan ponsel tidak tentu
begini. Dunia seperti mendadak tidak adil, benar kan?
Aku
sengaja mennyenggol lengannya untuk menarik perhatiannya. Aku sedang
tidak ingin memanggilnya meski memang sejak bertemu aku tidak
menyebut namanya. Aku merasa tidak menemukan panggilan yang tepat
untuknya. Padahal aku biasa memanggil orang lain dengan nama mereka.
Bukannya namanya tidak cantik hanya saja aku ingin punya panggilan
khusus buatnya. Aneh kan? Gadis ini benar-benar menjadi sebuah
pengecualian buatku.
Ah
ya, gadis ini menatapku dengan senyuman menggantung di wajahnya.
Engg, untuk apa aku menuntut perhatiannya tadi? Aku merasa bodoh.
“Ada
sesuatu yang kakak perlukan?” tanyanya. Ia sama sekali tak
kehilangan keramahannya meski fokusannya kuganggu. Atau memang ia
ramah karena tugasnya ini? Aku benci pemikiran ini sejujurnya. Tapi
selama ini ia nampak tulus dan tidak dibuat-buat.
“Bisa
kita pulang ke hotel sekarang?” Kenapa juga harus pertanyaan ini
yang keluar dari mulutku. Gadis ini hanya tersenyum lalu mengangguk.
“Aku
tanya Devan sebentar” pamitnya. Kilat kesedihan tertutup senyum
ramah yang mengiringi langkahnya. Kenapa dia sedih? Aku sendiri
sejujurnya masih ingin tinggal. Bukan untuk menikmati acara ini atau
hiruk pikuk ibukota provinsi ini. Tapi tinggal untuk menghabiskan
waktu dengannya sekedar mengobrol dan menguak diriku yang lain.
Harusnya
aku tidak memintanya dengan permintaan semacam itu. Penerbanganku
masih besok malam. Terlalu panjang untuk dihabiskan sendirian di
dalam kamar hotel. Kuharap gadis itu tak mengijinkanku pulang tapi
sayangnya itu tidak mungkin. Bahkan sebelum kedatanganku kemarin
gadis ini sudah mengatakan bahwa kebutuhan dan keperluanku akan
dipenuhinya. Memprioritaskan tamu? Mungkin begitu, sayangnya sebelah
hatiku tidak semudah itu setuju.
“Ayo
kak” Benar kan, ia mengijinkanku pulang duluan. Oh ayolah,
setidaknya tahan aku sampai acara ini selesai atau temani aku sampai
aku kehabisan bahan obrolan. Aku hanya tersenyum kaku menatapnya.
Baiklah, mau tak mau aku beranjak juga setelah berpamitan pada
lainnya. Setidaknya aku masih bisa berbincang dengannya selama
perjalanan ke hotel kan?
Masih
mobil yang sama dengan orang yang sedikit berbeda. Tadi pagi ia duduk
di sampingku tapi dengan kebodohan yang lain aku memintanya duduk di
depan kali ini dan meninggalkanku sendirian di kursi penumpang. Aku
membuatnya menemani teman laki-lakinya yang sepertinya punya sesuatu
dengannya. Tapi dengan begitu aku bisa leluasa melihatnya tanpa perlu
khawatir akan tatapan atau senyumannya yang bisa sewaktu-waktu
membuatku gagu dan mati kutu dengan cara yang dungu.
Gadis
ini tidak membawa tas ranselnya seperti tadi pagi. Mungkin ia
tinggalkan di ruang panitia di auditorium sana atau justru sudah
berada di dalam bagian lain mobil ini. Hanya ada clutch bag
di tangannya. Si teman laki-laki ini belum menyalakan mobilnya.
Mungkin ada sesuatu yang sedang ia tunggu. Aku menangkap senyuman
gadis ini sekilas. Si teman laki-laki memberikan jaketnya untuk
menutupi pangkuan gadis ini. Begitu lebih baik. Tube dress di
atas lututnya itu akan tersingkap sedikit dan mempertontonkan
kulitnya yang tanpa cela itu. Aku jelas tidak menyukai hal itu
terlebih lagi bagian si teman laki-lakinya yang melirik pangkuannya
diam-diam itu. Ya, menutupi pangkuannya dengan jaket lebih baik tapi
mungkin akan lebih baik lagi kalau aku yang memberikannya. Kuharap
senyuman yang muncul di wajahnya tadi bukan karena hal ini.
Jalanan
Surabaya tak benar-benar lengang meski hari Minggu begini. Panasnya
yang menyengat benar-benar mengalahkan ibukota sana. Bahkan pendingin
di mobil ini tidak terasa fungsinya. Gadis ini melempar tatapannya ke
jalanan. Wajah ayunya jelas mencetak senyuman yang aku sendiri tidak
tahu alasannya.
“Acaranya
keren. Salut sama kalian. Persiapannya berapa lama?” tanyaku
memecah keheningan. Gadis ini menatapku tertarik. Ia bahkan
repot-repot memiringkan tubuhnya agar bisa melihatku sedang si teman
laki-laki meliriknya dengan senyuman tersembunyi.
“Terimakasih
banyak. Teman-teman yang lain pasti senang mendengarnya. Sekitar satu
atau dua bulan sebelum aku menghubungi kakak untuk pertama kalinya
sudah mulai disiapkan” katanya panjang lebar. Sorot matanya penuh
dengan antusias dan kesenangan. Aku menyimpan senyumku sendiri
dibalik anggukan yang kuberikan atas jawabannya barusan.
“Sudah
berapa kali?” tanyaku. Gadis ini punya antusias yang tinggi dan aku
senang melihatnya berbinar seperti itu.
“Harusnya
ini yang ketiga tapi untuk skala nasional ini yang pertama kalinya”
ujarnya.
“Oh
ya? Selamat kalau begitu” selamat sudah membuatku gagu dan nampak
seperti bukan diriku, batinku melanjutkan.
“Terimakasih,
senang bisa undang kakak ke sini” katanya. Ia tersenyum tulus. Aku
perlu merekam senyumnya kalau-kalau hari ini hari terakhirku bertemu
dengannya.
“Setelah
ini mau ke mana kak?” tanyanya.
Tatapannya
membentur jalanan macet di depan mobil yang kami tumpangi. Gadis ini
mendadak menghela nafas. Perubahannya cepat sekali. Aku ikut berubah
melihatnya seakan semua bergantung padanya. Aku memilih bersandar dan
membuang tatapan ke jalanan ramai sampingku.
“Mungkin
istirahat sebentar lalu mampir ke rumah kerabat” kataku pelan.
Rasanya semangatku turut hilang bersama dengan senyumannya.
“Kenapa
penerbangannya diubah jadi besok sore kak?” tanyanya. Gadis ini
jelas tahu jawabannya. Tapi tidakkah pertanyaan ini terkesan ingin
tahu, menuntut dan mencampuri privasiku?
“Sekedar
ingin jalan-jalan mengelilingi kota lalu membeli banyak oleh-oleh”
bercerita banyak hal dan berfoto denganmu lanjutku dalam hati. Ia
mengangguk mendengar jawabanku.
“Maaf
kak, Tara dan aku ngga bisa menemani dan mengantar kakak besok” si
teman laki-laki menyahut.
“Saya
biasa jalan-jalan sendiri kok” ucapku. Aku menangkap kilat sedih di
mata gadis ini lewat bayangannya di kaca spion, kenapa?
“Kalau
begitu hati-hati kak, semoga jalan-jalannya menyenangkan. Hubungi aku
kalau ada apa-apa” pesannya. Aku akan berharap terjadi sesuatu biar
aku punya alasan untuk menghubungimu kalau begitu.
Hotel
tempatku menginap sudah di depan mata. Bisa tidak gadis ini kubawa
untuk menemaniku? Tidak sampai melakukan hal itu meski harus kuakui
pakaiannya membuat sisi tiap laki-laki tidak tenang. Untuk sekedar
mengobrol dan membunuh waktu. Dua hari ini sama sekali tidak cukup.
Kalau tahu akan begini jadinya aku tidak akan mengabaikan
pesan-pesannya dan menciptakan obrolan yang lain dengannya saat ia
menghubungiku dulu.
“Walk
him in Ta” kata si teman laki-laki.
“It's
okay” kataku. Harusnya kuterima saja kan.
“Ngga
apa-apa kak, yuk” ajaknya. Aku baru sadar gadis ini menenteng
sebuah goodie bag yang ukurannya lumayan besar.
“Wait”
kataku sembari meraih tas punggungku lalu memakainya.
“Aku
tunggu di sini, Ta” kata si teman laki-laki. Gadis ini tersenyum
manis. Tolong jangan tersenyum semanis itu untuk orang lain.
Aku
melangkah memasuki lobby hotel menuju lift di ujung koridor. Gadis
ini hanya mnegekoriku tanpa mengatakan apa-apa. Aku menunggu lift
yang akan membawa kami sampai di lantai 17, lantai di mana kamarku
berada. Gadis ini masih betah membisu sedang aku tak punya bahan
obrolan dengannya. Hening yang ada baru pecah ketika denting lift
berbunyi.
“Ada
salam dari teman-teman tadi kak” katanya. Akhirnya ia bicara juga.
“Salam
balik kalau begitu” kataku senang. Apa aku terdengar antusias? Aku
senang ia membuka obrolan denganku.
“Akan
kusampaikan nanti” ujarnya lalu tersenyum. Pantulan bayangannya di
dinding lift terlihat cantik.
“Selamat
sekali lagi, acara tadi sukses dan meriah” pujiku tulus.
“Terimakasih.
Lega bisa menyelesaikan acara ini” katanya lagi.
“Berapa
orang yang datang?”
“Sekitar
empat ratus orang. Sayangnya pak menteri berhalangan hadir”
“Sayang
sekali” sayang sekali perbincangan kita harus berakhir di sini
karena denting lift terdengar lagi di lantai 17.
Gadis
ini mengekoriku setelah keluar dari lift tadi. Mungkin kaki-kakinya
yang disangga heels itu mulai lelah. Ia berhenti seakan hafal
dengan nomor kamarku. 17004. Aku memutar kunci dan membuka pintu
sedang ia tetap berdiri di belakangku tanpa mengatakan apa-apa. Aku
sudah di ambang pintu tanpa ada langkah selanjutnya untuk masuk ke
kamar. Aku masih menunggu gadis ini bicara. Gadis ini nampak
mengumpulkan sesuatu dalam dirinya. Aku tak pernah melihatnya
menunduk gelisah seperti itu.
“Ini
souvenir untuk kakak dari kami selaku panitia acara” mulainya
“dan
sekotak cokelat untuk mengganti cokelat kakak tadi pagi” lanjutnya.
“Maaf
aku kehabisan cokelat yang sama, tapi kuharap sekotak cokelat Belgia
ini bisa menggantinya”. Ia mengulurkan goodie bag yang ia
bawa. Cokelat Belgia? Tentu saja aku terima apalagi jika ditambah
dengan tawaran mengobrol dengannya.
“Maaf
kalau ada kesalahan atau kesalahpahaman kecil barangkali. Terimakasih
sudah mau datang” ujarnya. Berhenti menggunakan kata maaf, aku sama
sekali tidak menyukainya.
“Sama-sama.
Senang bisa mengunjungi Surabaya. Simpan nomor ponselku, kita masih
bisa jadi teman diskusi” kataku. Atau hubungi aku sesuka hatimu,
aku tak akan keberatan dengan hal itu.
“Senang
bisa mengenalmu” kataku lalu menjabat tangannya. Ia tersenyum dan
menyambut jabatan tanganku. Untuk kedua kalinya gadis yang mungkin
punya darah penyihir dalam tubuhnya ini menghentikan waktu, membuat
nafasku tercekat dan jantungku meluncur bebas.
“Hati-hati
di jalan” pesanku. Sejak kapan aku berubah perhatian begini?
Gadis
ini lalu mengangguk dan tersenyum meninggalkanku yang masih terpaku
sampai tubuhnya dibawa pergi ke lantai dasar oleh lift. Gadis itu
sudah pergi. Mungkin beberapa bulan ke depan pesona dan pengaruhnya
akan menghilang karena aku tak pernah bertemu dengannya, tak punya
alasan untuk menghubunginya terlebih dulu, ia tak kunjung
menghubungiku dan tak punya keberanian untuk menghubunginya.
Untuk
sisa hari ini aku memilih menjadi aku yang lain. Menjadi aku yang
membunuh waktu untuk memikirkan gadis yang baru kutemui pertama kali
dan mungkin tidak akan kutemui lagi dengan meringkuk di atas tempat
tidur dan membaca pesan-pesan lawas yang ia kirimkan kepadaku. See?
Gadis itu merubahku sejauh ini tanpa melakukan apa-apa dan membuatku
merasa dungu sendiri.
Memikirkan
gadis itu sukses membuatku terlelap hingga pagi. Aku bahkan
melewatkan makan malam dan kunjungan ke rumah Syam semalam.
Notifikasi pesan singkat, obrolan dan telepon masuk memenuhi layar
ponselku. Sepertinya banyak orang yang mencariku tapi tidak dengan
gadis itu. Sayang sekali. Akan kuselesaikan semua notifikasi itu
nanti setelah mandi.
Sepertinya
aku terlalu lama mandi. Notifikasi pesan singkat, obrolan dan
telepon masuk di ponselku bertambah. Dari sekian banyak notifikasi
pesan dan obrolan yang masuk hanya satu yang menyita perhatianku,
tentu saja datangnya dari gadis itu, memang siapa lagi?
Gadis:
May I come for a sec? Some friends want to meet you
Me:
Just come. What time will you come?
Gadis:
Satu jam lagi?
Me:
Okay then
Aku
juga tidak keberatan kalau kunjunganmu ini tidak membawa
teman-temanmu itu. Atau aku yang menunggumu selesai kuliah lalu
menghabiskan waktu. Bodoh, batinku. Aku bahkan senyum-senyum sendiri
karena pesan yang dikirimkan gadis itu. Mungkin tidak ada salahnya
mengobrol lagi dan lagi dengannya sekaligus memenuhi memoriku
sendiri. Bisa jadi aku tak akan bertemu dengannya lagi. Bisa jadi tak
ada gadis sepertinya yang bisa kutemui. Bisa juga Tuhan mengirimku
kembali ke sini. Entahlah, tapi aku menyukai pemikiran terakhir itu.
Gadis
itu lumayan tepat waktu. Ia sudah duduk manis di lobby hotel dengan
teman-temannya. Penampilannya jauh berbeda dengan kemarin meski
kuakui wajahnya tetap ayu. No dress. No heels. Hanya
jeans ketat, kemeja hitam dan sneakers khas anak kuliahan. Bahkan
bayangannya saja sudah membuatku mendadak dungu. Gadis itu menatap
cermin yang dipasang pihak hotel dan menemukan bayanganku di sana. Ia
tersenyum lalu berbalik dan menatapku. Apa yang bisa kulakukan selain
tersenyum balik kepadanya meski aku sendiri tiba-tiba punya keinginan
untuk mendekapnya.
Gadis
itu berdiri dan menyambutku, begitu pula dengan teman-temannya. Si
teman laki-laki yang menemaninya kemarin sama sekali tidak tampak.
Baguslah. Hanya ada si ketua panitia yang duduk rapat di sampingnya
dan tiga orang teman perempuannya yang mendadak diam setelah
melihatku. Obrolan ini hanya dipenuhi suaraku, suaranya dan suara si
ketua panitia. Si ketua panitia ini entah memang jahil atau sedang
mencari perhatian dari gadis ini. Si ketua panitia berkali-kali
mengejek dan menggoda gadis ini di tengah obrolan yang berhasil
dihadiahi ekspresi sebal yang menurutku menggemaskan. Jadi, gadis ini
dekat dengan laki-laki yang mana?
Kunjungannya
hari ini berakhir dengan sesi foto khas meet and greet.
Kupikir gadis ini akan ikut sesi foto tapi ia hanya berdiri mengamati
teman-temannya dengan senyum menggantung di wajahnya. Aku hanya bisa
meliriknya satu dua kali. Mungkin ini benar-benar yang terakhir
kalinya.
“Terimakasih
sudah menerima kami” katanya. Ini sebuah salam perpisahan ya? Gadis
ini tersenyum. Senyum tulus yang sepertinya tak ada duanya.
“Saya
juga senang bisa mengobrol dengan kalian” kataku, tidak buruk kan?
Gadis ini tersenyum dengan sorot sedih di matanya yang mendadak
muncul.
“Datang
lagi kak, Tara pasti senang kalau kakak datang lagi” kata si ketua
panitia sembari merangkul leher gadis ini. Gadis ini menatap si ketua
panitia sebal. Wajah sebal yang lucu.
“Gas”
tegurnya lalu melepas rangkulan di lehernya. Ia meringis menatapku.
“Lain
kali kita ajak kakak keliling kampus kita” kata si ketua panitia
lagi.
“Bakal
rame cewe-cewe pasti Gas” katanya. Begitu ya? Asal ada gadis ini
mungkin ada baiknya kucoba.
“Atau
mungkin keliling Surabaya kak” usulnya. Good advice should be
noted! Aku tersenyum mengiyakan.
“Kita
pulang dulu kak” pamit si ketua panitia. Aku mengangguk
mempersilahkannya pamit. Sebelah tangan si ketua panitia menarik
gadis ini untuk mendekat ke arahnya. Si ketua panitia merangkulnya
lehernya lagi.
“Gas
jangan suka narik-narik sembarangan dong” bisiknya. Aku menatapnya
ingin tahu sedang ia hanya tersenyum kecil padaku. Si ketua panitia
lalu melepas rangkulannya.
“Kita
pamit kak” katanya. Tapi kakinya sama sekali tidak beranjak padahal
teman-temannya yang lain sudah berhamburan keluar.
“Maaf
tidak bisa mengantar ke bandara” katanya. Bibir tipisnya itu
terlalu sering mengucapkan kata maaf.
“Tidak
apa-apa. Saya senang bisa punya extra day di sini. Lagipula
saya yang minta tiketnya untuk diubah. Kamu ngga perlu khawatir”
kataku panjang lebar.
“Yakin
tidak apa-apa?” tanyanya. Ada gurat ragu di matanya. Kalau bisa aku
mau dia yang mengantarku tapi membuatnya membolos kuliah bukan ide
yang bagus.
“Ta
ayo” panggil si ketua panitia dari luar lobby. Ada sorot jahil di
matanya ketika memanggil gadis ini.
“Aku
pulang dulu kak” pamitnya. Senyuman terakhirnya hari ini menjadi
bekal pengantarku ke bandara.
Beberapa
bulan ke depan aku pasti melupakannya, batinku meyakinkan. Lagipula
rasanya terlalu konyol. Gadis itu merubahku hanya dalam waktu kurang
dari tiga hari terhitung sejak kedatanganku ke kota ini. Senyumannya
jelas menunjukkan bahwa ia bukan gadis yang ambisius dalam mencapai
sesuatu tapi tetap konsisten dengan pilihannya. Coba tebak dari mana
aku mendapatkan kalimat sepanjang itu? Aku menggedikkan bahu acuh,
aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku bisa membaca gadis itu. Aku
suka senyumannya dan caranya berbicara meski harus kuakui ia tak
berbicara macam pembicara handal yang mudah mempengaruhi orang. Aku
hanya suka. Itu saja. Baik, aku salut dengan gadis itu yang sukses
membuatku mengakui apa yang kurasakan sekarang. Perubahanku drastis
sekali ya, aku bahkan tak mau repot-repot mengakui kalau aku kecewa
atau sedih akan sesuatu tadinya.
Bandara
dan segala hiruk pikuknya selalu punya cerita yang bermacam-macam.
Setengah jam yang lalu aku sudah sampai di bandara dan menikmati
secangkir green tea demi menunggu penerbanganku kembali ke
Jakarta. Ingatanku terlempar pada tiga hari yang lalu ketika gadis
itu menjemputku. Menungguku dengan wajahnya yang gelisah di pintu
kedatangan terminal 2 Bandara Juanda. Aku tidak tahu apa yang
membuatnya gelisah, tapi senyumannya menunjukkan kelegaan luar biasa
ketika ia menemukanku di pintu kedatangan terminal 2. Tentu saja dia
tidak sendirian, seorang teman perempuan dan si teman laki-laki itu
menemaninya. Ia mensejajari langkahku ketika dua temannya itu
meninggalkanku dengannya di belakang mereka. Gadis ini bukan gadis
yang banyak bicara, tapi ia mencoba ramah dan terbuka pada orang baru
sepertiku. Nah, aku berhasil membacanya lagi.
Kalau
kupikir-pikir lagi tidak banyak obrolan yang terjadi antara aku dan
gadis itu. Basa-basi biasa. Aku terpaku pada senyumannya yang entah
kenapa menurutku menyimpan cerita, menjadi candu dan membuatku dungu.
Bisa jadi aku mulai tak waras saat aku tersenyum sendiri menatap
secangkir green tea-ku seakan sedang menatap gadis itu. Gadis
itu tidak banyak bicara, tapi selalu ada ketulusan dalam ucapannya.
Aku sadar hal itu. Gadis polos itu terlalu rentan terpengaruh kota
sebesar Surabaya.
Penerbangan
yang membawaku kembali ke Jakarta sudah diumumkan melalui pengeras
suara. Aku membereskan barang-barangku termasuk cokelat Belgia yang
diberikannya kemarin. Rasa-rasanya aku membawa lebih banyak hal saat
aku sampai di Jakarta nanti. Termasuk kenangan tentangnya yang tak
sampai seujung jari. Satu jam. Waktu tempuh Surabaya-Jakarta hanya
satu jam dengan pesawat. Jam lima lewat. Gadis itu setidaknya harus
mengirimkan pesan untuk mengantarku pulang, batinku. Kenapa aku jadi
mengharapkannya begini? Drrt drrt. Ponselku memberikan notifikasi
obrolan masuk. Gadis itu, batinku bersorak senang. Aku pasti sudah
berubah jadi abege labil yang sedang kasmaran.
Gadis:
Sudah sampai di bandara kak? Hati-hati di jalan. Lekas datang lagi ke
Surabaya :]
Aku
hanya bisa tersenyum membaca pesan yang dikirimkannya. Semoga Tuhan
membawaku kembali lagi kalau begitu.
Me:
Terimakasih :]
Hanya
itu. Lalu ponselku kuubah ke mode penerbangan dan terbang menuju
Jakarta.
5
bulan kemudian..
Surabaya,
5 Oktober 2015. Tanggal yang disodorkan salah satu panitia seminar
ini kubaca berulang-ulang. Dua bulan lagi di Surabaya. Tuhan
benar-benar mengirimku kembali. Meski tetap saja kemungkinan untuk
bertemu dengannya nyaris nol. Surabaya hampir sama luasnya dan
padatnya dengan Jakarta. Meski gadis itu mengenalku bukan berarti dia
akan datang ke acara ini kan. Kalaupun ia datang aku juga belum tentu
bisa menemuinya. Memangnya aku siapa? Tapi baiklah, untuk menghormati
undangan ini aku akan datang.
Soal
gadis itu, aku tidak benar-benar bisa melupakannya. Hanya mampu
mengabaikan dan acuh untuk sementara waktu saja. Sisanya aku jelas
mengingatnya. Benar saja, tidak ada lagi komunikasi yang terjalin.
Gadis itu tidak menguhubungiku dan aku tidak punya alasan yang jelas
untuk menghubunginya terlebih dulu selain otakku yang mulai dungu
kalau berkaitan dengan hal-hal tentangnya.
Bahkan
sahabatku sadar benar tentang kedunguan yang seringkali terjadi
ketika aku mengingatnya. Aku sama sekali tidak fokus kalau sudah
memikirkannya. Juga kehilangan kendali. Danisa bahkan mengatakan
kalau aku yang sekarang berbeda dengan aku yang sebelumnya.
Sederhananya aku sebelum berangkat ke Surabaya dan aku sepulang dari
Surabaya berbeda. Apa Surabaya punya daya magis yang bisa mengubahku?
Apa yang dipikirkan gadis itu tentangku?
2
bulan kemudian, Oktober 2015
Penerbangan
paling pagi jelas tidak akan membawaku sampai tepat waktu
jadi penerbangan yang dipilih adalah penerbangan hari sebelumnya.
Sesuai kan? Bahkan jadwal penerbangannya saja mengingatkanku pada
gadis itu. Bedanya tak ada lagi pesan singkat atau obrolan yang
dikirimkan gadis itu untuk memastikan bahwa aku tidak ketinggalan
pesawat atau bahasan tentang
akomodasiku
selama di Surabaya nanti. Gadis itu terlalu banyak menyita ruang
pikirku ternyata. Sayangnya gadis itu tak juga menunjukkan
eksistensinya. Ia tidak
menghubungiku sama
sekali dalam beberapa bulan
ini. Kupikir tak mungkin kalau ia tak tahu kedatanganku ini. Bukannya
aku sok eksis atau apa buktinya memang penyebaran informasi begitu
cepat sekarang ini. Jadi kusimpulkan bahwa kemungkinannya tidak tahu
tentang kedatanganku kali ini sangat kecil. Juga informasi yang
kuperoleh lokasi acara ini masih satu area dengan kampusnya, makin
tidak mungkin kan kalau ia tidak tahu?
Kalau meminjam istilah abege jaman sekarang mungkin ini yang namanya
terbawa perasaan.
Bandara
Soekarno-Hatta, penerbangan yang sama menuju bandara Juanda untuk
kedua kalinya. Aku juga baru tahu bahwa hotel tempatku menginap nanti
adalah hotel yang sama. Kuharap yang menjemputku dan menemaniku nanti
juga orang yang sama. Sayangnya tidak semua harapan bisa jadi
kenyataan kan.
Bahkan hari yang dipilih
panitia acara ini sama. Aku tesenyum sinis diantara waktu tungguku di
bandara. Mungkin aku benar terserang penyakit ala
abege jaman sekarang yang
namanya terbawa perasaan ini.
Hanya
satu jam sampai aku resmi menginjakkan kaki di kota Surabaya untuk
kedua kalinya. Si burung besi ini tahu-tahu sudah mendarat dengan
manis di Bandara Juanda. Terik matahari
yang menyengat dan angin kering khas pesisir menyapaku
ketika aku keluar pintu kedatangan terminal dua bandara Juanda menuju
tempat parkir bersama seorang panitia laki-laki yang bertugas
menemaniku. Si panitia laki-laki ini teman ngobrol yang
menyenangkaan. Agaknya pikiran tentang gadis itu membuatku malas
beramah tamah dengannya. Si
panitia laki-laki ini mengantarku
ke hotel tempatku menginap. Ia sempat menawarkan untuk
sekedar jalan-jalan demi membunuh waktu tapi aku menolaknya. Aku juga
tidak tahu kenapa. Sepertinya aku akan membunuh waktu dengan
memikirkan gadis itu di dalam kamar hotel nanti. Oh
ya tawaran jalan-jalannya ke
mana tadi? Sebuah pasar malam yang diadakan di jalanan kampus ya?
Kampus mana tadi katanya? Oh kampus gadis itu. Mungkin itu bisa jadi
cara membunuh waktu yang tepat, tapi bukan dengan si panitia
laki-laki ini. Baiklah, mungkin malam ini akan berbeda.
Normalnya
pasar malam akan mulai ramai sekitar pukul tujuh ya kan? Masih jam
enam lewat tapi aku sudah tak punya sesuatu untuk dilakukan. Aku
memutuskan memainkan ponselku lalu membuka fitur kamera. This
sneakers should attract someone,
batinku. Jadi tanpa berpikir dua kali aku memotret kakiku sendiri dan
mengirimkannya pada gadis itu.
Me:
[picture] Got time for a walk? Saya tidak punya sesuatu untuk
dilakukan malam ini
Sent!
Aku
menunggu balasannya gelisah. Bisa saja gadis itu lupa denganku.
Konyol sekali tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan seperti ini. Bisa
tidak kau melakukannya dengan lebih baik heh? batinku mengejek. Sial.
Benar juga. Bagaimana kalau ternyata gadis ini sudah punya sesuatu
untuk dilakukan malam ini. Dasar Levine, dia bisa saja punya kencan
malam ini Vine! Aku hanya bisa mengusap wajahku kasar lalu
menimbang-nimbang untuk melepas sneakers yang kupakai. Ada baiknya
aku menyiapkan energiku untuk esok hari. Aku baru akan melepas
sneakersku ketika ponselku bergetar dan menampilkan notifikasi
obrolan yang sejak tadi kutunggu.
Gadis:
Kakak di Surabaya? Mau jalan-jalan ke mana?
Gadis
ini benar-benar paham apa yang kuinginkan. Aku membalas pesannya.
Me:
Pasar malam di kampusmu?
Gadis:
Baiklah. Jam berapa?
Me:
45 menit lagi, bisa kau berikan alamatmu?
Gadis:
Nanti kukirimkan. Ke pasar malam berjalan kaki tidak apa?
Tentu
saja tidak apa selama itu denganmu. Terdengar menjijikkan sekali.
Me:
Tidak apa
Balasku.
Pesan selanjutnya berisi alamatnya. Gadis ini tidak banyak bertanya
tapi apa artinya itu ia tahu tentang acara esok pagi? Entahlah. Aku
tidak peduli. Jelasnya aku berhasil membunuh waktu dengan gadis itu
malam ini. Sebentar lagi, batinku meyakinkan.