Senin, 12 Oktober 2015

Gadis

Chocolate?” tawarku. Gadis ini menatapku dengan tatapan kau-yakin-? yang khas dari sorot matanya.
Ambilah” kataku meyakinkan meski aku sendiri menolak menatapnya.
Aku tak pernah membagi cokelatku pada siapapun. Aku sendiri heran dengan kelakuanku saat ini. Memberikan cokelat sumber ketenanganku pada orang baru? Oh yang benar saja, batinku. Tapi toh aku melakukannya. Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?
Aku baru menatapnya ketika sentuhan tangannya membuatku sadar bahwa cokelat kesayanganku itu berkurang satu. Rupanya gadis itu tengah memakan salah satu cokelat berhargaku. Aku tidak tahu harus berkata apa yang jelas aku terus memperhatikannya. Ia nampak membaik, syukurlah. Tangan kecilnya mengguncang lenganku, sepertinya aku terlempar jauh ke dunia lamunan barusan.

Terimakasih, nanti aku ganti cokelat kakak” ujarnya. Oh, seberapa banyak dia tahu tentangku? Ia bahkan berniat mengganti barang berhargaku.
Lupakan saja. Kau sudah baikan?” tanyaku. Ia hanya mengangguk. Bulir keringatnya ia seka dengan tisu. Senyumnya masih sama mempesonanya meski wajahnya pucat.
Maaf sudah merepotkan” katanya. Sorot matanya yang penuh dengan penyesalan itu membuatku ingin mendekapnya lama-lama. Aku hanya memalingkan wajah. Lagipula tidak ada yang perlu dijawab kan. Aku benci mendengar kata maaf dari bibirnya itu. Aku lebih benci dengan pemikiran mendekapnya lama-lama itu.
Gadis ini diam saja. Seperti sengaja memperluas jarak dan membentengi diri. Mungkin dia hanya sedang menenangkan diri, kata suara di kepalaku. Mungkin saja. Gadis ini menghela nafas berkali-kali. Aku sendiri pura-pura sibuk mengamati jalanan lengang dari taman tempatku duduk. Padahal aku memperhatikannya dari sudut mataku. Aku tahu ia melirikku beberapa kali. Mungkin jengah sendiri dengan keheningan ini.
Ayo kembali” ajaknya. Ia tersenyum seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Aku hanya menatapnya. Rasanya masih enggan masuk ke auditorium. Menghabiskan waktu dengannya terdengar jauh lebih menyenangkan. Hey, sejak kapan aku jadi tidak profesional begini?
Ayo kak, teman-temanku sudah mencarimu” ajaknya lagi. Senyumnya mengembang. Tebak apa efek dari senyumannya barusan? Waktu berhenti. Benar-benar berhenti lalu jantungku meluncur lepas dari tempatnya. Ada apa dengan gadis ini? Ia keturunan penyihir atau apa sampai bisa menghentikan waktu?
Kak?” panggilnya.
Bahkan caranya memanggilku terdengar istimewa. Aku benar-benar berharap aku tidak perlu menghadiri acara itu lalu menghabiskan waktu dengan gadis ini. Ia seperti memancing sisi lain diriku untuk keluar saat bersamanya. Banyak hal yang sengaja kututupi dan kusimpan rapat-rapat sendirian. Jadi seseorang yang ramah bukan berarti juga aku terbuka tentang hal-hal yang berbau pribadi dalam kehidupanku. Tapi gadis ini, bahkan sorot matanya membuaiku untuk menceritakan semuanya. Aku tahu bahwa aku seorang pembicara publik. Tapi menjadi seorang pembicara publik bukan berarti aku menyediakan semua bagian kehidupanku untuk jadi konsumsi umum. Aku punya batas yang jelas untuk hal itu dan gadis ini seakan melebur batas itu perlahan-lahan. Tanpa aku menceritakannya seakan ia sudah tahu. Tentang cokelat itu misalnya.
Kak” Sepertinya aku melamun terlalu lama. Gadis ini sudah beberapa langkah di depanku. Mau tak mau aku mensejajari langkahnya untuk kembali ke auditorium seperti permintaannya tadi.
Acara hari ini berakhir sukses seperti acara yang sudah-sudah. Cukup banyak pertanyaan yang dilontarkan peserta seminar seputar materi yang kusampaikan juga senyuman-senyuman terpesona yang selalu sama. Gadis itu masih duduk manis di samping tas punggung yang kutitipkan padanya tadi. Sekembalinya dari taman tadi teman-temannya menempatkanku di jajaran kursi khusus tepat di depan panggung bersama beberapa orang penting lainnya dan gadis ini duduk di sampingku. Sepertinya selama aku menyajikan materi tadi ia tetap duduk manis di sini. Aku tidak tahu ia selama menungguku atau mungkin juga menikmati materi yang kusampaikan ia melakukan apa yang jelas ia tersenyum menyambutku saat aku selesai menyajikan materi. Seperti ini rasanya kalau ada yang menunggu setelah menyelesaikan pekerjaan? Semacam.. Lupakan saja.
Gadis ini benar-benar menarik setiap cerita untuk keluar dari mulutku. Sayangnya aku mendadak kehabisan bahan obrolan dan bahan cerita untuk diceritakan kepadanya. Aku bisa mengobrol dan membahas apa saja dengan banyak orang. Tapi gadis ini berhasil membuatku gagu dan mendadak bodoh. Sama sekali bukan aku. Aku sudah mengambil tempat di sampingnya sejak tadi. Meneguk dan memainkan air mineral yang disuguhkan teman-temannya. Ia sendiri sudah fokus dengan pemateri selanjutnya. Sedangkan aku hanya bisa memainkan ponsel tidak tentu begini. Dunia seperti mendadak tidak adil, benar kan?
Aku sengaja mennyenggol lengannya untuk menarik perhatiannya. Aku sedang tidak ingin memanggilnya meski memang sejak bertemu aku tidak menyebut namanya. Aku merasa tidak menemukan panggilan yang tepat untuknya. Padahal aku biasa memanggil orang lain dengan nama mereka. Bukannya namanya tidak cantik hanya saja aku ingin punya panggilan khusus buatnya. Aneh kan? Gadis ini benar-benar menjadi sebuah pengecualian buatku.
Ah ya, gadis ini menatapku dengan senyuman menggantung di wajahnya. Engg, untuk apa aku menuntut perhatiannya tadi? Aku merasa bodoh.
Ada sesuatu yang kakak perlukan?” tanyanya. Ia sama sekali tak kehilangan keramahannya meski fokusannya kuganggu. Atau memang ia ramah karena tugasnya ini? Aku benci pemikiran ini sejujurnya. Tapi selama ini ia nampak tulus dan tidak dibuat-buat.
Bisa kita pulang ke hotel sekarang?” Kenapa juga harus pertanyaan ini yang keluar dari mulutku. Gadis ini hanya tersenyum lalu mengangguk.
Aku tanya Devan sebentar” pamitnya. Kilat kesedihan tertutup senyum ramah yang mengiringi langkahnya. Kenapa dia sedih? Aku sendiri sejujurnya masih ingin tinggal. Bukan untuk menikmati acara ini atau hiruk pikuk ibukota provinsi ini. Tapi tinggal untuk menghabiskan waktu dengannya sekedar mengobrol dan menguak diriku yang lain.
Harusnya aku tidak memintanya dengan permintaan semacam itu. Penerbanganku masih besok malam. Terlalu panjang untuk dihabiskan sendirian di dalam kamar hotel. Kuharap gadis itu tak mengijinkanku pulang tapi sayangnya itu tidak mungkin. Bahkan sebelum kedatanganku kemarin gadis ini sudah mengatakan bahwa kebutuhan dan keperluanku akan dipenuhinya. Memprioritaskan tamu? Mungkin begitu, sayangnya sebelah hatiku tidak semudah itu setuju.
Ayo kak” Benar kan, ia mengijinkanku pulang duluan. Oh ayolah, setidaknya tahan aku sampai acara ini selesai atau temani aku sampai aku kehabisan bahan obrolan. Aku hanya tersenyum kaku menatapnya. Baiklah, mau tak mau aku beranjak juga setelah berpamitan pada lainnya. Setidaknya aku masih bisa berbincang dengannya selama perjalanan ke hotel kan?
Masih mobil yang sama dengan orang yang sedikit berbeda. Tadi pagi ia duduk di sampingku tapi dengan kebodohan yang lain aku memintanya duduk di depan kali ini dan meninggalkanku sendirian di kursi penumpang. Aku membuatnya menemani teman laki-lakinya yang sepertinya punya sesuatu dengannya. Tapi dengan begitu aku bisa leluasa melihatnya tanpa perlu khawatir akan tatapan atau senyumannya yang bisa sewaktu-waktu membuatku gagu dan mati kutu dengan cara yang dungu.
Gadis ini tidak membawa tas ranselnya seperti tadi pagi. Mungkin ia tinggalkan di ruang panitia di auditorium sana atau justru sudah berada di dalam bagian lain mobil ini. Hanya ada clutch bag di tangannya. Si teman laki-laki ini belum menyalakan mobilnya. Mungkin ada sesuatu yang sedang ia tunggu. Aku menangkap senyuman gadis ini sekilas. Si teman laki-laki memberikan jaketnya untuk menutupi pangkuan gadis ini. Begitu lebih baik. Tube dress di atas lututnya itu akan tersingkap sedikit dan mempertontonkan kulitnya yang tanpa cela itu. Aku jelas tidak menyukai hal itu terlebih lagi bagian si teman laki-lakinya yang melirik pangkuannya diam-diam itu. Ya, menutupi pangkuannya dengan jaket lebih baik tapi mungkin akan lebih baik lagi kalau aku yang memberikannya. Kuharap senyuman yang muncul di wajahnya tadi bukan karena hal ini.
Jalanan Surabaya tak benar-benar lengang meski hari Minggu begini. Panasnya yang menyengat benar-benar mengalahkan ibukota sana. Bahkan pendingin di mobil ini tidak terasa fungsinya. Gadis ini melempar tatapannya ke jalanan. Wajah ayunya jelas mencetak senyuman yang aku sendiri tidak tahu alasannya.
Acaranya keren. Salut sama kalian. Persiapannya berapa lama?” tanyaku memecah keheningan. Gadis ini menatapku tertarik. Ia bahkan repot-repot memiringkan tubuhnya agar bisa melihatku sedang si teman laki-laki meliriknya dengan senyuman tersembunyi.
Terimakasih banyak. Teman-teman yang lain pasti senang mendengarnya. Sekitar satu atau dua bulan sebelum aku menghubungi kakak untuk pertama kalinya sudah mulai disiapkan” katanya panjang lebar. Sorot matanya penuh dengan antusias dan kesenangan. Aku menyimpan senyumku sendiri dibalik anggukan yang kuberikan atas jawabannya barusan.
Sudah berapa kali?” tanyaku. Gadis ini punya antusias yang tinggi dan aku senang melihatnya berbinar seperti itu.
Harusnya ini yang ketiga tapi untuk skala nasional ini yang pertama kalinya” ujarnya.
Oh ya? Selamat kalau begitu” selamat sudah membuatku gagu dan nampak seperti bukan diriku, batinku melanjutkan.
Terimakasih, senang bisa undang kakak ke sini” katanya. Ia tersenyum tulus. Aku perlu merekam senyumnya kalau-kalau hari ini hari terakhirku bertemu dengannya.
Setelah ini mau ke mana kak?” tanyanya.
Tatapannya membentur jalanan macet di depan mobil yang kami tumpangi. Gadis ini mendadak menghela nafas. Perubahannya cepat sekali. Aku ikut berubah melihatnya seakan semua bergantung padanya. Aku memilih bersandar dan membuang tatapan ke jalanan ramai sampingku.
Mungkin istirahat sebentar lalu mampir ke rumah kerabat” kataku pelan. Rasanya semangatku turut hilang bersama dengan senyumannya.
Kenapa penerbangannya diubah jadi besok sore kak?” tanyanya. Gadis ini jelas tahu jawabannya. Tapi tidakkah pertanyaan ini terkesan ingin tahu, menuntut dan mencampuri privasiku?
Sekedar ingin jalan-jalan mengelilingi kota lalu membeli banyak oleh-oleh” bercerita banyak hal dan berfoto denganmu lanjutku dalam hati. Ia mengangguk mendengar jawabanku.
Maaf kak, Tara dan aku ngga bisa menemani dan mengantar kakak besok” si teman laki-laki menyahut.
Saya biasa jalan-jalan sendiri kok” ucapku. Aku menangkap kilat sedih di mata gadis ini lewat bayangannya di kaca spion, kenapa?
Kalau begitu hati-hati kak, semoga jalan-jalannya menyenangkan. Hubungi aku kalau ada apa-apa” pesannya. Aku akan berharap terjadi sesuatu biar aku punya alasan untuk menghubungimu kalau begitu.
Hotel tempatku menginap sudah di depan mata. Bisa tidak gadis ini kubawa untuk menemaniku? Tidak sampai melakukan hal itu meski harus kuakui pakaiannya membuat sisi tiap laki-laki tidak tenang. Untuk sekedar mengobrol dan membunuh waktu. Dua hari ini sama sekali tidak cukup. Kalau tahu akan begini jadinya aku tidak akan mengabaikan pesan-pesannya dan menciptakan obrolan yang lain dengannya saat ia menghubungiku dulu.
Walk him in Ta” kata si teman laki-laki.
It's okay” kataku. Harusnya kuterima saja kan.
Ngga apa-apa kak, yuk” ajaknya. Aku baru sadar gadis ini menenteng sebuah goodie bag yang ukurannya lumayan besar.
Wait” kataku sembari meraih tas punggungku lalu memakainya.
Aku tunggu di sini, Ta” kata si teman laki-laki. Gadis ini tersenyum manis. Tolong jangan tersenyum semanis itu untuk orang lain.
Aku melangkah memasuki lobby hotel menuju lift di ujung koridor. Gadis ini hanya mnegekoriku tanpa mengatakan apa-apa. Aku menunggu lift yang akan membawa kami sampai di lantai 17, lantai di mana kamarku berada. Gadis ini masih betah membisu sedang aku tak punya bahan obrolan dengannya. Hening yang ada baru pecah ketika denting lift berbunyi.
Ada salam dari teman-teman tadi kak” katanya. Akhirnya ia bicara juga.
Salam balik kalau begitu” kataku senang. Apa aku terdengar antusias? Aku senang ia membuka obrolan denganku.
Akan kusampaikan nanti” ujarnya lalu tersenyum. Pantulan bayangannya di dinding lift terlihat cantik.
Selamat sekali lagi, acara tadi sukses dan meriah” pujiku tulus.
Terimakasih. Lega bisa menyelesaikan acara ini” katanya lagi.
Berapa orang yang datang?”
Sekitar empat ratus orang. Sayangnya pak menteri berhalangan hadir”
Sayang sekali” sayang sekali perbincangan kita harus berakhir di sini karena denting lift terdengar lagi di lantai 17.
Gadis ini mengekoriku setelah keluar dari lift tadi. Mungkin kaki-kakinya yang disangga heels itu mulai lelah. Ia berhenti seakan hafal dengan nomor kamarku. 17004. Aku memutar kunci dan membuka pintu sedang ia tetap berdiri di belakangku tanpa mengatakan apa-apa. Aku sudah di ambang pintu tanpa ada langkah selanjutnya untuk masuk ke kamar. Aku masih menunggu gadis ini bicara. Gadis ini nampak mengumpulkan sesuatu dalam dirinya. Aku tak pernah melihatnya menunduk gelisah seperti itu.
Ini souvenir untuk kakak dari kami selaku panitia acara” mulainya
dan sekotak cokelat untuk mengganti cokelat kakak tadi pagi” lanjutnya.
Maaf aku kehabisan cokelat yang sama, tapi kuharap sekotak cokelat Belgia ini bisa menggantinya”. Ia mengulurkan goodie bag yang ia bawa. Cokelat Belgia? Tentu saja aku terima apalagi jika ditambah dengan tawaran mengobrol dengannya.
Maaf kalau ada kesalahan atau kesalahpahaman kecil barangkali. Terimakasih sudah mau datang” ujarnya. Berhenti menggunakan kata maaf, aku sama sekali tidak menyukainya.
Sama-sama. Senang bisa mengunjungi Surabaya. Simpan nomor ponselku, kita masih bisa jadi teman diskusi” kataku. Atau hubungi aku sesuka hatimu, aku tak akan keberatan dengan hal itu.
Senang bisa mengenalmu” kataku lalu menjabat tangannya. Ia tersenyum dan menyambut jabatan tanganku. Untuk kedua kalinya gadis yang mungkin punya darah penyihir dalam tubuhnya ini menghentikan waktu, membuat nafasku tercekat dan jantungku meluncur bebas.
Hati-hati di jalan” pesanku. Sejak kapan aku berubah perhatian begini?
Gadis ini lalu mengangguk dan tersenyum meninggalkanku yang masih terpaku sampai tubuhnya dibawa pergi ke lantai dasar oleh lift. Gadis itu sudah pergi. Mungkin beberapa bulan ke depan pesona dan pengaruhnya akan menghilang karena aku tak pernah bertemu dengannya, tak punya alasan untuk menghubunginya terlebih dulu, ia tak kunjung menghubungiku dan tak punya keberanian untuk menghubunginya.
Untuk sisa hari ini aku memilih menjadi aku yang lain. Menjadi aku yang membunuh waktu untuk memikirkan gadis yang baru kutemui pertama kali dan mungkin tidak akan kutemui lagi dengan meringkuk di atas tempat tidur dan membaca pesan-pesan lawas yang ia kirimkan kepadaku. See? Gadis itu merubahku sejauh ini tanpa melakukan apa-apa dan membuatku merasa dungu sendiri.
Memikirkan gadis itu sukses membuatku terlelap hingga pagi. Aku bahkan melewatkan makan malam dan kunjungan ke rumah Syam semalam. Notifikasi pesan singkat, obrolan dan telepon masuk memenuhi layar ponselku. Sepertinya banyak orang yang mencariku tapi tidak dengan gadis itu. Sayang sekali. Akan kuselesaikan semua notifikasi itu nanti setelah mandi.
Sepertinya aku terlalu lama mandi. Notifikasi pesan singkat, obrolan dan telepon masuk di ponselku bertambah. Dari sekian banyak notifikasi pesan dan obrolan yang masuk hanya satu yang menyita perhatianku, tentu saja datangnya dari gadis itu, memang siapa lagi?
Gadis: May I come for a sec? Some friends want to meet you
Me: Just come. What time will you come?
Gadis: Satu jam lagi?
Me: Okay then
Aku juga tidak keberatan kalau kunjunganmu ini tidak membawa teman-temanmu itu. Atau aku yang menunggumu selesai kuliah lalu menghabiskan waktu. Bodoh, batinku. Aku bahkan senyum-senyum sendiri karena pesan yang dikirimkan gadis itu. Mungkin tidak ada salahnya mengobrol lagi dan lagi dengannya sekaligus memenuhi memoriku sendiri. Bisa jadi aku tak akan bertemu dengannya lagi. Bisa jadi tak ada gadis sepertinya yang bisa kutemui. Bisa juga Tuhan mengirimku kembali ke sini. Entahlah, tapi aku menyukai pemikiran terakhir itu.
Gadis itu lumayan tepat waktu. Ia sudah duduk manis di lobby hotel dengan teman-temannya. Penampilannya jauh berbeda dengan kemarin meski kuakui wajahnya tetap ayu. No dress. No heels. Hanya jeans ketat, kemeja hitam dan sneakers khas anak kuliahan. Bahkan bayangannya saja sudah membuatku mendadak dungu. Gadis itu menatap cermin yang dipasang pihak hotel dan menemukan bayanganku di sana. Ia tersenyum lalu berbalik dan menatapku. Apa yang bisa kulakukan selain tersenyum balik kepadanya meski aku sendiri tiba-tiba punya keinginan untuk mendekapnya.
Gadis itu berdiri dan menyambutku, begitu pula dengan teman-temannya. Si teman laki-laki yang menemaninya kemarin sama sekali tidak tampak. Baguslah. Hanya ada si ketua panitia yang duduk rapat di sampingnya dan tiga orang teman perempuannya yang mendadak diam setelah melihatku. Obrolan ini hanya dipenuhi suaraku, suaranya dan suara si ketua panitia. Si ketua panitia ini entah memang jahil atau sedang mencari perhatian dari gadis ini. Si ketua panitia berkali-kali mengejek dan menggoda gadis ini di tengah obrolan yang berhasil dihadiahi ekspresi sebal yang menurutku menggemaskan. Jadi, gadis ini dekat dengan laki-laki yang mana?
Kunjungannya hari ini berakhir dengan sesi foto khas meet and greet. Kupikir gadis ini akan ikut sesi foto tapi ia hanya berdiri mengamati teman-temannya dengan senyum menggantung di wajahnya. Aku hanya bisa meliriknya satu dua kali. Mungkin ini benar-benar yang terakhir kalinya.
Terimakasih sudah menerima kami” katanya. Ini sebuah salam perpisahan ya? Gadis ini tersenyum. Senyum tulus yang sepertinya tak ada duanya.
Saya juga senang bisa mengobrol dengan kalian” kataku, tidak buruk kan? Gadis ini tersenyum dengan sorot sedih di matanya yang mendadak muncul.
Datang lagi kak, Tara pasti senang kalau kakak datang lagi” kata si ketua panitia sembari merangkul leher gadis ini. Gadis ini menatap si ketua panitia sebal. Wajah sebal yang lucu.
Gas” tegurnya lalu melepas rangkulan di lehernya. Ia meringis menatapku.
Lain kali kita ajak kakak keliling kampus kita” kata si ketua panitia lagi.
Bakal rame cewe-cewe pasti Gas” katanya. Begitu ya? Asal ada gadis ini mungkin ada baiknya kucoba.
Atau mungkin keliling Surabaya kak” usulnya. Good advice should be noted! Aku tersenyum mengiyakan.
Kita pulang dulu kak” pamit si ketua panitia. Aku mengangguk mempersilahkannya pamit. Sebelah tangan si ketua panitia menarik gadis ini untuk mendekat ke arahnya. Si ketua panitia merangkulnya lehernya lagi.
Gas jangan suka narik-narik sembarangan dong” bisiknya. Aku menatapnya ingin tahu sedang ia hanya tersenyum kecil padaku. Si ketua panitia lalu melepas rangkulannya.
Kita pamit kak” katanya. Tapi kakinya sama sekali tidak beranjak padahal teman-temannya yang lain sudah berhamburan keluar.
Maaf tidak bisa mengantar ke bandara” katanya. Bibir tipisnya itu terlalu sering mengucapkan kata maaf.
Tidak apa-apa. Saya senang bisa punya extra day di sini. Lagipula saya yang minta tiketnya untuk diubah. Kamu ngga perlu khawatir” kataku panjang lebar.
Yakin tidak apa-apa?” tanyanya. Ada gurat ragu di matanya. Kalau bisa aku mau dia yang mengantarku tapi membuatnya membolos kuliah bukan ide yang bagus.
Ta ayo” panggil si ketua panitia dari luar lobby. Ada sorot jahil di matanya ketika memanggil gadis ini.
Aku pulang dulu kak” pamitnya. Senyuman terakhirnya hari ini menjadi bekal pengantarku ke bandara.
Beberapa bulan ke depan aku pasti melupakannya, batinku meyakinkan. Lagipula rasanya terlalu konyol. Gadis itu merubahku hanya dalam waktu kurang dari tiga hari terhitung sejak kedatanganku ke kota ini. Senyumannya jelas menunjukkan bahwa ia bukan gadis yang ambisius dalam mencapai sesuatu tapi tetap konsisten dengan pilihannya. Coba tebak dari mana aku mendapatkan kalimat sepanjang itu? Aku menggedikkan bahu acuh, aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku bisa membaca gadis itu. Aku suka senyumannya dan caranya berbicara meski harus kuakui ia tak berbicara macam pembicara handal yang mudah mempengaruhi orang. Aku hanya suka. Itu saja. Baik, aku salut dengan gadis itu yang sukses membuatku mengakui apa yang kurasakan sekarang. Perubahanku drastis sekali ya, aku bahkan tak mau repot-repot mengakui kalau aku kecewa atau sedih akan sesuatu tadinya.
Bandara dan segala hiruk pikuknya selalu punya cerita yang bermacam-macam. Setengah jam yang lalu aku sudah sampai di bandara dan menikmati secangkir green tea demi menunggu penerbanganku kembali ke Jakarta. Ingatanku terlempar pada tiga hari yang lalu ketika gadis itu menjemputku. Menungguku dengan wajahnya yang gelisah di pintu kedatangan terminal 2 Bandara Juanda. Aku tidak tahu apa yang membuatnya gelisah, tapi senyumannya menunjukkan kelegaan luar biasa ketika ia menemukanku di pintu kedatangan terminal 2. Tentu saja dia tidak sendirian, seorang teman perempuan dan si teman laki-laki itu menemaninya. Ia mensejajari langkahku ketika dua temannya itu meninggalkanku dengannya di belakang mereka. Gadis ini bukan gadis yang banyak bicara, tapi ia mencoba ramah dan terbuka pada orang baru sepertiku. Nah, aku berhasil membacanya lagi.
Kalau kupikir-pikir lagi tidak banyak obrolan yang terjadi antara aku dan gadis itu. Basa-basi biasa. Aku terpaku pada senyumannya yang entah kenapa menurutku menyimpan cerita, menjadi candu dan membuatku dungu. Bisa jadi aku mulai tak waras saat aku tersenyum sendiri menatap secangkir green tea-ku seakan sedang menatap gadis itu. Gadis itu tidak banyak bicara, tapi selalu ada ketulusan dalam ucapannya. Aku sadar hal itu. Gadis polos itu terlalu rentan terpengaruh kota sebesar Surabaya.
Penerbangan yang membawaku kembali ke Jakarta sudah diumumkan melalui pengeras suara. Aku membereskan barang-barangku termasuk cokelat Belgia yang diberikannya kemarin. Rasa-rasanya aku membawa lebih banyak hal saat aku sampai di Jakarta nanti. Termasuk kenangan tentangnya yang tak sampai seujung jari. Satu jam. Waktu tempuh Surabaya-Jakarta hanya satu jam dengan pesawat. Jam lima lewat. Gadis itu setidaknya harus mengirimkan pesan untuk mengantarku pulang, batinku. Kenapa aku jadi mengharapkannya begini? Drrt drrt. Ponselku memberikan notifikasi obrolan masuk. Gadis itu, batinku bersorak senang. Aku pasti sudah berubah jadi abege labil yang sedang kasmaran.
Gadis: Sudah sampai di bandara kak? Hati-hati di jalan. Lekas datang lagi ke Surabaya :]
Aku hanya bisa tersenyum membaca pesan yang dikirimkannya. Semoga Tuhan membawaku kembali lagi kalau begitu.
Me: Terimakasih :]
Hanya itu. Lalu ponselku kuubah ke mode penerbangan dan terbang menuju Jakarta.

5 bulan kemudian..
Surabaya, 5 Oktober 2015. Tanggal yang disodorkan salah satu panitia seminar ini kubaca berulang-ulang. Dua bulan lagi di Surabaya. Tuhan benar-benar mengirimku kembali. Meski tetap saja kemungkinan untuk bertemu dengannya nyaris nol. Surabaya hampir sama luasnya dan padatnya dengan Jakarta. Meski gadis itu mengenalku bukan berarti dia akan datang ke acara ini kan. Kalaupun ia datang aku juga belum tentu bisa menemuinya. Memangnya aku siapa? Tapi baiklah, untuk menghormati undangan ini aku akan datang.
Soal gadis itu, aku tidak benar-benar bisa melupakannya. Hanya mampu mengabaikan dan acuh untuk sementara waktu saja. Sisanya aku jelas mengingatnya. Benar saja, tidak ada lagi komunikasi yang terjalin. Gadis itu tidak menguhubungiku dan aku tidak punya alasan yang jelas untuk menghubunginya terlebih dulu selain otakku yang mulai dungu kalau berkaitan dengan hal-hal tentangnya.
Bahkan sahabatku sadar benar tentang kedunguan yang seringkali terjadi ketika aku mengingatnya. Aku sama sekali tidak fokus kalau sudah memikirkannya. Juga kehilangan kendali. Danisa bahkan mengatakan kalau aku yang sekarang berbeda dengan aku yang sebelumnya. Sederhananya aku sebelum berangkat ke Surabaya dan aku sepulang dari Surabaya berbeda. Apa Surabaya punya daya magis yang bisa mengubahku? Apa yang dipikirkan gadis itu tentangku?

2 bulan kemudian, Oktober 2015
Penerbangan paling pagi jelas tidak akan membawaku sampai tepat waktu jadi penerbangan yang dipilih adalah penerbangan hari sebelumnya. Sesuai kan? Bahkan jadwal penerbangannya saja mengingatkanku pada gadis itu. Bedanya tak ada lagi pesan singkat atau obrolan yang dikirimkan gadis itu untuk memastikan bahwa aku tidak ketinggalan pesawat atau bahasan tentang akomodasiku selama di Surabaya nanti. Gadis itu terlalu banyak menyita ruang pikirku ternyata. Sayangnya gadis itu tak juga menunjukkan eksistensinya. Ia tidak menghubungiku sama sekali dalam beberapa bulan ini. Kupikir tak mungkin kalau ia tak tahu kedatanganku ini. Bukannya aku sok eksis atau apa buktinya memang penyebaran informasi begitu cepat sekarang ini. Jadi kusimpulkan bahwa kemungkinannya tidak tahu tentang kedatanganku kali ini sangat kecil. Juga informasi yang kuperoleh lokasi acara ini masih satu area dengan kampusnya, makin tidak mungkin kan kalau ia tidak tahu? Kalau meminjam istilah abege jaman sekarang mungkin ini yang namanya terbawa perasaan.
Bandara Soekarno-Hatta, penerbangan yang sama menuju bandara Juanda untuk kedua kalinya. Aku juga baru tahu bahwa hotel tempatku menginap nanti adalah hotel yang sama. Kuharap yang menjemputku dan menemaniku nanti juga orang yang sama. Sayangnya tidak semua harapan bisa jadi kenyataan kan. Bahkan hari yang dipilih panitia acara ini sama. Aku tesenyum sinis diantara waktu tungguku di bandara. Mungkin aku benar terserang penyakit ala abege jaman sekarang yang namanya terbawa perasaan ini.
Hanya satu jam sampai aku resmi menginjakkan kaki di kota Surabaya untuk kedua kalinya. Si burung besi ini tahu-tahu sudah mendarat dengan manis di Bandara Juanda. Terik matahari yang menyengat dan angin kering khas pesisir menyapaku ketika aku keluar pintu kedatangan terminal dua bandara Juanda menuju tempat parkir bersama seorang panitia laki-laki yang bertugas menemaniku. Si panitia laki-laki ini teman ngobrol yang menyenangkaan. Agaknya pikiran tentang gadis itu membuatku malas beramah tamah dengannya. Si panitia laki-laki ini mengantarku ke hotel tempatku menginap. Ia sempat menawarkan untuk sekedar jalan-jalan demi membunuh waktu tapi aku menolaknya. Aku juga tidak tahu kenapa. Sepertinya aku akan membunuh waktu dengan memikirkan gadis itu di dalam kamar hotel nanti. Oh ya tawaran jalan-jalannya ke mana tadi? Sebuah pasar malam yang diadakan di jalanan kampus ya? Kampus mana tadi katanya? Oh kampus gadis itu. Mungkin itu bisa jadi cara membunuh waktu yang tepat, tapi bukan dengan si panitia laki-laki ini. Baiklah, mungkin malam ini akan berbeda.
Normalnya pasar malam akan mulai ramai sekitar pukul tujuh ya kan? Masih jam enam lewat tapi aku sudah tak punya sesuatu untuk dilakukan. Aku memutuskan memainkan ponselku lalu membuka fitur kamera. This sneakers should attract someone, batinku. Jadi tanpa berpikir dua kali aku memotret kakiku sendiri dan mengirimkannya pada gadis itu.
Me: [picture] Got time for a walk? Saya tidak punya sesuatu untuk dilakukan malam ini
Sent!
Aku menunggu balasannya gelisah. Bisa saja gadis itu lupa denganku. Konyol sekali tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan seperti ini. Bisa tidak kau melakukannya dengan lebih baik heh? batinku mengejek. Sial. Benar juga. Bagaimana kalau ternyata gadis ini sudah punya sesuatu untuk dilakukan malam ini. Dasar Levine, dia bisa saja punya kencan malam ini Vine! Aku hanya bisa mengusap wajahku kasar lalu menimbang-nimbang untuk melepas sneakers yang kupakai. Ada baiknya aku menyiapkan energiku untuk esok hari. Aku baru akan melepas sneakersku ketika ponselku bergetar dan menampilkan notifikasi obrolan yang sejak tadi kutunggu.
Gadis: Kakak di Surabaya? Mau jalan-jalan ke mana?
Gadis ini benar-benar paham apa yang kuinginkan. Aku membalas pesannya.
Me: Pasar malam di kampusmu?
Gadis: Baiklah. Jam berapa?
Me: 45 menit lagi, bisa kau berikan alamatmu?
Gadis: Nanti kukirimkan. Ke pasar malam berjalan kaki tidak apa?
Tentu saja tidak apa selama itu denganmu. Terdengar menjijikkan sekali.
Me: Tidak apa

Balasku. Pesan selanjutnya berisi alamatnya. Gadis ini tidak banyak bertanya tapi apa artinya itu ia tahu tentang acara esok pagi? Entahlah. Aku tidak peduli. Jelasnya aku berhasil membunuh waktu dengan gadis itu malam ini. Sebentar lagi, batinku meyakinkan. 
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template