Senin, 25 Agustus 2014

Harusnya


"Proposalnya fail, Ta" kata Gaska diantara tegukan secangkir kopi dihadapannya. Sudah kuduga. Aku menghela nafas panjang. Lelah.

"Kamu keliatan lebih kecewa dari aku. Kenapa ?" katanya. Aku memalingkan wajah. Menyapukan pandangan ke sekitar. Pikir sendiri coba, Gas.


"Ta?" panggilnya. Aku masih diam saja. Hanya menatapnya. Tersenyum sekilas. Lalu mengaduk-aduk Iced Mocca yang tak lagi dingin.

"Ta jawab aku dong. Aku berasa ngomong sama tembok dari tadi" protesnya. Aku menatapnya. Lalu kembali mengaduk-aduk Iced Mocca dihadapanku. Jawab sendiri gas. Aku sudah ingin mengumpat gara-gara proposalmu itu.

"Kalo kamu ngga jawab aku balik Ta" ancam Gaska. Ah kamu Gas. Sejak kapan aku takut dengan ancamanmu ? Aku yang akan duluan. Aku pun beranjak mengambil tas yang ada dipangkuanku. Tersenyum tipis padanya sekali. Lalu pergi begitu saja. Gaska termangu dari tempat duduknya.

Setengah mati aku sebal dengan Gaska. Aku bahkan ingin mengumpat keras-keras sekeluarnya dari kedai kopi tadi. Aku hanya menggertakkan gigi keras-keras dan mengepalkan tangan. Mengambil nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan kencang-kencang. Aaargh. Aku berteriak dalam hati. Mengubah moodku setelah menghadapi Gaska hari ini.

Aku melangkah dengan santai. Tak peduli pada Gaska. Biar saja. Salah siapa mengesampingkan aku hanya karena proposal. Kalau dia mau cerita kan aku justru bisa bantu. Salah sendiri tak mau cerita. Waktu sudah begini saja cerita. Kenapa tidak kamu simpan sendiri sekalian saja, Gas ?

Gaska harusnya tahu betapa menyebalkannya tak diberi kabar dan bersabar. Lalu yang diterima hanyalah kabar tak mengenakkan seperti ini. Siapa yang suka. Aku tersenyum sendiri. Pahit. Betapa hidup keras sekali dan aku bersikap kekanak-kanakan menghadapinya. Dengar aku Gas sekali-sekali. Kamu pikir aku beri kamu saran asal-asalan dan sekedarnya ? Sama sekali tidak gas. Apalagi buatmu.




 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template