"Proposalnya fail,
Ta" kata Gaska diantara tegukan secangkir kopi dihadapannya. Sudah kuduga.
Aku menghela nafas panjang. Lelah.
"Kamu keliatan lebih
kecewa dari aku. Kenapa ?" katanya. Aku memalingkan wajah. Menyapukan
pandangan ke sekitar. Pikir sendiri coba, Gas.
"Ta?" panggilnya.
Aku masih diam saja. Hanya menatapnya. Tersenyum sekilas. Lalu mengaduk-aduk
Iced Mocca yang tak lagi dingin.
"Ta jawab aku dong. Aku
berasa ngomong sama tembok dari tadi" protesnya. Aku menatapnya. Lalu
kembali mengaduk-aduk Iced Mocca dihadapanku. Jawab sendiri gas. Aku sudah
ingin mengumpat gara-gara proposalmu itu.
"Kalo kamu ngga jawab aku
balik Ta" ancam Gaska. Ah kamu Gas. Sejak kapan aku takut dengan ancamanmu
? Aku yang akan duluan. Aku pun beranjak mengambil tas yang ada dipangkuanku.
Tersenyum tipis padanya sekali. Lalu pergi begitu saja. Gaska termangu dari
tempat duduknya.
Setengah mati aku sebal dengan
Gaska. Aku bahkan ingin mengumpat keras-keras sekeluarnya dari kedai kopi tadi.
Aku hanya menggertakkan gigi keras-keras dan mengepalkan tangan. Mengambil
nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan kencang-kencang. Aaargh. Aku berteriak dalam
hati. Mengubah moodku setelah menghadapi Gaska hari ini.
Aku melangkah dengan santai.
Tak peduli pada Gaska. Biar saja. Salah siapa mengesampingkan aku hanya karena
proposal. Kalau dia mau cerita kan aku justru bisa bantu. Salah sendiri tak mau
cerita. Waktu sudah begini saja cerita. Kenapa tidak kamu simpan sendiri
sekalian saja, Gas ?
Gaska harusnya tahu betapa
menyebalkannya tak diberi kabar dan bersabar. Lalu yang diterima hanyalah kabar
tak mengenakkan seperti ini. Siapa yang suka. Aku tersenyum sendiri. Pahit.
Betapa hidup keras sekali dan aku bersikap kekanak-kanakan menghadapinya.
Dengar aku Gas sekali-sekali. Kamu pikir aku beri kamu saran asal-asalan dan
sekedarnya ? Sama sekali tidak gas. Apalagi buatmu.