“Jadi kemana saja perempuanku ini ?” tanya
Gaska.
“Menyibukkan diri. Mengembalikan kerja setiap
indra yang melekat di tubuhku” jawabku asal.
“Kamu mulai lagi, Del. Menggunakan
kalimat-kalimat memutar yang tak kupahami maksudnya. Kuulangi, kemana saja
kamu, Adelin ?” tanya Gaska lagi. Suaranya naik sepuluh desibel dengan
penekanan.
“Menyibukkan diri, Bagaskara. Sama seperti kamu
yang bilang bahwa kamu sibuk dan tak sempat memberiku kabar” jawabku akhirnya.
“Berhenti memberi perhatian juga ? Sok-sok
ngambek dengan balik tak memberi kabar begitu ?” kata Gaska. Aku hanya
mendengus.
Percakapan rooftop gedung kantornya berakhir
begitu saja. Aku meninggalkan Gaska yang masih mematung dengan Americano di
tangannya. Aku bergegas menuju lantai pertama. Kembali ke kantorku yang hanya
terletak di seberang jalan kantor Gaska. Aku tak sengaja bertemu dengan Gaska
siang ini. Gaska memang sering mengunjungi kedai kopi yang berjarak 200 meter
dari kantornya. Aku sendiri tak sengaja mampir ke kedai kopi langganan Gaska
untuk segelas cokelat panas siang ini.
Sebenarnya sudah dua bulan belakangan
komunikasi antara aku dan Gaska mengalami hambatan. Berasal dari kesibukan
Gaska di kantor karena sebuah proyek yang ia tangani. Aku sendiri maklum pada
awalnya. Aku masih rajin mengiriminya pesan singkat sekedar mengingatkannya
agar tak telat makan. Gaska masih membalasnya. Amat singkat. Aku masih maklum.
Hanya saja Gaska makin menghilang. Seringkali mematikan percakapan. Meski
kesibukannya sudah banyak berkurang. Bertaruh apalah, Gaska tak akan
menghubungiku terlebih dulu jika aku tak menghubunginya duluan. Disinilah aku
sekarang. Menghentikan bentuk perhatian dan dituntut Gaska.
Aku sendiri merasa bahwa tiap hubungan entah
itu jarak jauh atau dalam satu kota atau entah apalah itu pasti butuh
komunikasi yang kuat. Kendalaku dengan Gaska hari ini adalah faktor paling
penting dalam sebuah hubungan. Memangnya bagaimana bisa semuanya baik-baik saja
jika aku dan Gaska tak tahu apa yang sedang dikerjakan satu sama lain ? Bukan,
bukannya aku tak percaya dengan Gaska. Aku juga tak menuntutnya memberiku kabar
setiap detiknya. Hanya saja ini nampak keterlaluan buat aku dan Gaska yang
kantornya hanya dibatasi jalan besar.
Aku masih bertahan. Meskipun tak punya alasan
untuk bertahan. Entahlah. Apa yang terjadi antara aku dan Gaska nampak sepele
tapi amat menyebalkan bagiku. Aku sadar benar sejak awal memang bukan prioritas
bagi seorang Gaska. Tapi setidaknya aku juga pantas mendapatkan perhatian
darinya. Memangnya sampai kapan aku mau mengalah dengan hal-hal yang bahkan
harus kumengerti sendiri ? Memikirkan Gaska belakangan ini sangat menyebalkan.
Maaf Gas tapi memang begitu keadaannya.
'See me on your lobby this lunch, Del'
Sebuah pesan singkat dari Gaska masuk ke
ponselku. Aku sudah hendak mengabaikannnya dan memilih untuk keluar makan siang
dengan rekan sekantorku. Tapi akhirnya batal pergi karena aku berpikir aku dan
Gaska harus bertemu. Jika tidak, mungkin aku akan makin menghabiskan
perhatianku padanya. Aku tak membalas pesan singkatnya. Tunggu saja nanti
sewaktu jam makan siang.
“Hai Del” sapanya sumringah. Ayolah, Gas
ekspresimu nampak sama sekali tak bersalah. Aku menghela nafas panjang.
“Kamu nampak sangat lelah, Del. Banyak kerjaan
?” tanya Gaska. Hhh, coba kau peka sedikit Gas aku begini juga karenamu tahu.
Aku hanya tersenyum tipis. Tak menjawab pertanyaannya.
“Oh yaa, kubawakan cokelat panas kesukaanmu”
katanya lagi sembari menyodorkan segelas cokelat panas.
“Terimakasih” kataku singkat
Aku mengajaknya keluar. Tak nyaman sekali
bertemu Gaska di lobby kantor seperti ini. Gaska menjajari langkahku.
Menggenggam tanganku yang bebas erat-erat. Aku tak menunjukkan respons apa-apa.
Aku dan Gaska sampai di sebuah bangku kosong di pinggir jalan. Lalu lintas
nampak ramai mengingat ini jam makan siang yang bertepatan dengan jam pulang
sekolah. Jika Gaska akan membicarakan sesuatu yang penting maka tempat ini jauh
dari kata nyaman. Konsentrasiku akan terdistraksi dengan lalu lalang
dihadapanku. Terserahlah.
“Kamu segitu marahnya karena aku ngga ngasih
kabar, Del ?” kata Gaska menatapku. Aku tersenyum kecut.
“Entahlah, Gas. Aku sendiri mulai tak tahu
bagaimana bentuk perasaanku” kataku terus terang. Menatap lalu lalang dan
keramaian.
“Maaf, Del. Ada kesibukan yang benar-benar
menyita perhatianku. Lalu mengubah kebiasaanku. Hilangnya kamu makin mengubah
kebiasaanku” kata Gaska.
“Kamu lelah Gas berjuang buat kita ?” tanyaku.
“Maksud kamu ?” jawab Gaska.
“Hilangnya kabar dari kamu sama seperti
membunuh kita perlahan-lahan, Gas. Aku rindu kita yang dulu” Gaska diam saja.
“Semuanya aku simpan sendiri, Gas. Aku
memperlihatkannya samar-samar. Tapi kamu sendiri bahkan ngga mengerti. Aku harus
apa, Gas ?” Gaska masih diam. Tak lagi menatapku seperti tadi.
“Yang lebih menyedihkan teman-temanmu lebih
mengerti keadaanku, Gas. Padahal aku hanya ingin membaginya denganmu. Biar aku
tak perlu menceritakan masalahku denganmu kepada teman-temanku atau malah
teman-temanmu. Aku ingin menyelesaikannya sendiri denganmu” Gaska makin diam.
Nafasnya terdengar berat dan panjang.
“Maaf Gas kalau ini salahku” kataku.
Mengalihkan pandanganku ke arah Gaska. Menatapnya dalam-dalam dan menghitung
dalam hati sudah berapa hari yang kulewati tanpanya.
Gaska terdiam cukup lama. Ayolah Gas mau berapa
lama kamu seperti ini. Kamu hanya akan menghabiskan jam makan siang tanpa hasil
apa-apa. Cokelat panasku mulai dingin karena angin yang berhenbus cukup kencang
di luar. Maklum saja. Musim dingin seperti ini seringkali mengikutsertakan
angin dalam ramalan cuacanya. Langit yang sedari tadi berawan sudah mulai
gelap. Sepertinya akan turun hujan. Gas, mau sampai kapan kamu diam ? Apa yang
kamu pikirkan Bagaskara ?
“Kita yang lama, yang masih menyempatkan untuk
saling memberi kabar, yang masih punya waktu untuk bertemu sesibuk apapun aku
tau kamu. Sesempit apapun waktunya”
“Kita ngga bisa selamanya seperti itu, Del”
kata Gaska. Entah kenapa air mataku mendadak jatuh. Sepertinya sulit sekali
untuk bernafas.
“Lanjutkan Gas. Jangan berhenti lagi” kataku
pelan. Aku tak mau Gaska melihatku menangis.
“Bukan hanya waktu yang akan kupotong Del. Tapi
juga ruang. Hiduplah bersamaku” kata Gaska. Tunggu tunggu apa katanya tadi ? Hidup
bersamanya ? Apa yang ia maksud ? Air mataku terlanjur tumpah. Aku sudah
terlalu lelah.
“Maaf, Del. Selama ini aku tak mengabaikanmu
atau malah hendak berhenti berjuang buat kita. Aku hanya sedang meyakinkan
diriku atas perasaanku sendiri tehadapmu. Aku menguji diriku sendiri. Seberapa
banyak dan seberapa besar aku bergantung padamu. Merasa kehilangan dan
kesepian. Semacam itulah. Sebisa mungkin aku meminimalisir komunikasi denganmu.
Karena jarak sudah tak mungkin kujadikan alasan. Aku masih bisa melihatmu masuk
ke kantor dari ruanganku.”
“Diantara hari-hari itu aku banyak belajar.
Betapa aku amat bergantung denganmu. Orang bilang kita akan tahu seberapa besar
perasaan ketika kita kehilangan. Tapi menjauh darimu saja sudah cukup menyiksa
dan menyakitkan buatku, Adelin. Teman-temanku memang lebih mengerti dirimu. Aku
yang meminta mereka untuk itu”
“Maafkan aku, Adelin Sayang”
“Sadarlah Gas. Kamu hampir menghabiskan semua
perasaanku terhadapmu. Aku bahkan bisa saja pergi darimu” Gaska makin menyulut
emosi yang kuredam habis-habisan. Aku menunduk. Gaska tak bisa melihatku
menangis seperti ini.
“Maaf Del. Tapi kali ini aku serius. Hiduplah
bersamaku. Jadi perempuan terakhir yang kusapa sebelum aku melepas lelah. Jadi
perempuan pertama yang kulihat sewaktu pagi menjelang. Menikahlah denganku”
kata Gaska. Pandanganku mengabur. Gaska menyodorkan sebuah cincin dihadapanku.
Gaska belum benar-benar sadar aku menangis
“Jawab aku Adelin” katanya mengangkat daguku.
Aku masih menangis.
“Responsmu selalu tak sesuai imajinasiku, Del”
katanya sembari menghapus air mataku dengan jemarinya. Gerimis mulai turun. Aku
memeluknya. Erat sekali. Menangis sesenggukan di bahunya. Aku sudah lelah.
Gaska gila!
“Jadi, maukah kau menikah denganku Adelin ?”
bisiknya di telingakku. Suaraku parau. Aku tak mau menjawabnya. Aku
melonggarkan pelukanku. Menatapnya. Tersenyum kecil. Lalu mengecupnya di pipi
kanan.
Kau tak pernah berhenti membuatku khawatir,
Bagaskara. Jangan pernah mencoba untuk melakukan hal gila lainnya. Perasaanku
bisa saja habis tiba-tiba, Gas.