Senin, 25 Agustus 2014

Bukan Pengabaian


“Jadi kemana saja perempuanku ini ?” tanya Gaska.

“Menyibukkan diri. Mengembalikan kerja setiap indra yang melekat di tubuhku” jawabku asal.

“Kamu mulai lagi, Del. Menggunakan kalimat-kalimat memutar yang tak kupahami maksudnya. Kuulangi, kemana saja kamu, Adelin ?” tanya Gaska lagi. Suaranya naik sepuluh desibel dengan penekanan.

“Menyibukkan diri, Bagaskara. Sama seperti kamu yang bilang bahwa kamu sibuk dan tak sempat memberiku kabar” jawabku akhirnya.

“Berhenti memberi perhatian juga ? Sok-sok ngambek dengan balik tak memberi kabar begitu ?” kata Gaska. Aku hanya mendengus.


Percakapan rooftop gedung kantornya berakhir begitu saja. Aku meninggalkan Gaska yang masih mematung dengan Americano di tangannya. Aku bergegas menuju lantai pertama. Kembali ke kantorku yang hanya terletak di seberang jalan kantor Gaska. Aku tak sengaja bertemu dengan Gaska siang ini. Gaska memang sering mengunjungi kedai kopi yang berjarak 200 meter dari kantornya. Aku sendiri tak sengaja mampir ke kedai kopi langganan Gaska untuk segelas cokelat panas siang ini.
Sebenarnya sudah dua bulan belakangan komunikasi antara aku dan Gaska mengalami hambatan. Berasal dari kesibukan Gaska di kantor karena sebuah proyek yang ia tangani. Aku sendiri maklum pada awalnya. Aku masih rajin mengiriminya pesan singkat sekedar mengingatkannya agar tak telat makan. Gaska masih membalasnya. Amat singkat. Aku masih maklum. Hanya saja Gaska makin menghilang. Seringkali mematikan percakapan. Meski kesibukannya sudah banyak berkurang. Bertaruh apalah, Gaska tak akan menghubungiku terlebih dulu jika aku tak menghubunginya duluan. Disinilah aku sekarang. Menghentikan bentuk perhatian dan dituntut Gaska.
Aku sendiri merasa bahwa tiap hubungan entah itu jarak jauh atau dalam satu kota atau entah apalah itu pasti butuh komunikasi yang kuat. Kendalaku dengan Gaska hari ini adalah faktor paling penting dalam sebuah hubungan. Memangnya bagaimana bisa semuanya baik-baik saja jika aku dan Gaska tak tahu apa yang sedang dikerjakan satu sama lain ? Bukan, bukannya aku tak percaya dengan Gaska. Aku juga tak menuntutnya memberiku kabar setiap detiknya. Hanya saja ini nampak keterlaluan buat aku dan Gaska yang kantornya hanya dibatasi jalan besar.
Aku masih bertahan. Meskipun tak punya alasan untuk bertahan. Entahlah. Apa yang terjadi antara aku dan Gaska nampak sepele tapi amat menyebalkan bagiku. Aku sadar benar sejak awal memang bukan prioritas bagi seorang Gaska. Tapi setidaknya aku juga pantas mendapatkan perhatian darinya. Memangnya sampai kapan aku mau mengalah dengan hal-hal yang bahkan harus kumengerti sendiri ? Memikirkan Gaska belakangan ini sangat menyebalkan. Maaf Gas tapi memang begitu keadaannya.

'See me on your lobby this lunch, Del'
Sebuah pesan singkat dari Gaska masuk ke ponselku. Aku sudah hendak mengabaikannnya dan memilih untuk keluar makan siang dengan rekan sekantorku. Tapi akhirnya batal pergi karena aku berpikir aku dan Gaska harus bertemu. Jika tidak, mungkin aku akan makin menghabiskan perhatianku padanya. Aku tak membalas pesan singkatnya. Tunggu saja nanti sewaktu jam makan siang.

“Hai Del” sapanya sumringah. Ayolah, Gas ekspresimu nampak sama sekali tak bersalah. Aku menghela nafas panjang.

“Kamu nampak sangat lelah, Del. Banyak kerjaan ?” tanya Gaska. Hhh, coba kau peka sedikit Gas aku begini juga karenamu tahu. Aku hanya tersenyum tipis. Tak menjawab pertanyaannya.

“Oh yaa, kubawakan cokelat panas kesukaanmu” katanya lagi sembari menyodorkan segelas cokelat panas.

“Terimakasih” kataku singkat
Aku mengajaknya keluar. Tak nyaman sekali bertemu Gaska di lobby kantor seperti ini. Gaska menjajari langkahku. Menggenggam tanganku yang bebas erat-erat. Aku tak menunjukkan respons apa-apa. Aku dan Gaska sampai di sebuah bangku kosong di pinggir jalan. Lalu lintas nampak ramai mengingat ini jam makan siang yang bertepatan dengan jam pulang sekolah. Jika Gaska akan membicarakan sesuatu yang penting maka tempat ini jauh dari kata nyaman. Konsentrasiku akan terdistraksi dengan lalu lalang dihadapanku. Terserahlah.

“Kamu segitu marahnya karena aku ngga ngasih kabar, Del ?” kata Gaska menatapku. Aku tersenyum kecut.

“Entahlah, Gas. Aku sendiri mulai tak tahu bagaimana bentuk perasaanku” kataku terus terang. Menatap lalu lalang dan keramaian.

“Maaf, Del. Ada kesibukan yang benar-benar menyita perhatianku. Lalu mengubah kebiasaanku. Hilangnya kamu makin mengubah kebiasaanku” kata Gaska.

“Kamu lelah Gas berjuang buat kita ?” tanyaku.

“Maksud kamu ?” jawab Gaska.

“Hilangnya kabar dari kamu sama seperti membunuh kita perlahan-lahan, Gas. Aku rindu kita yang dulu” Gaska diam saja.

“Semuanya aku simpan sendiri, Gas. Aku memperlihatkannya samar-samar. Tapi kamu sendiri bahkan ngga mengerti. Aku harus apa, Gas ?” Gaska masih diam. Tak lagi menatapku seperti tadi.

“Yang lebih menyedihkan teman-temanmu lebih mengerti keadaanku, Gas. Padahal aku hanya ingin membaginya denganmu. Biar aku tak perlu menceritakan masalahku denganmu kepada teman-temanku atau malah teman-temanmu. Aku ingin menyelesaikannya sendiri denganmu” Gaska makin diam. Nafasnya terdengar berat dan panjang.

“Maaf Gas kalau ini salahku” kataku. Mengalihkan pandanganku ke arah Gaska. Menatapnya dalam-dalam dan menghitung dalam hati sudah berapa hari yang kulewati tanpanya.

Gaska terdiam cukup lama. Ayolah Gas mau berapa lama kamu seperti ini. Kamu hanya akan menghabiskan jam makan siang tanpa hasil apa-apa. Cokelat panasku mulai dingin karena angin yang berhenbus cukup kencang di luar. Maklum saja. Musim dingin seperti ini seringkali mengikutsertakan angin dalam ramalan cuacanya. Langit yang sedari tadi berawan sudah mulai gelap. Sepertinya akan turun hujan. Gas, mau sampai kapan kamu diam ? Apa yang kamu pikirkan Bagaskara ?

“Kita yang lama, yang masih menyempatkan untuk saling memberi kabar, yang masih punya waktu untuk bertemu sesibuk apapun aku tau kamu. Sesempit apapun waktunya”

“Kita ngga bisa selamanya seperti itu, Del” kata Gaska. Entah kenapa air mataku mendadak jatuh. Sepertinya sulit sekali untuk bernafas.

“Lanjutkan Gas. Jangan berhenti lagi” kataku pelan. Aku tak mau Gaska melihatku menangis.

“Bukan hanya waktu yang akan kupotong Del. Tapi juga ruang. Hiduplah bersamaku” kata Gaska. Tunggu tunggu apa katanya tadi ? Hidup bersamanya ? Apa yang ia maksud ? Air mataku terlanjur tumpah. Aku sudah terlalu lelah.

“Maaf, Del. Selama ini aku tak mengabaikanmu atau malah hendak berhenti berjuang buat kita. Aku hanya sedang meyakinkan diriku atas perasaanku sendiri tehadapmu. Aku menguji diriku sendiri. Seberapa banyak dan seberapa besar aku bergantung padamu. Merasa kehilangan dan kesepian. Semacam itulah. Sebisa mungkin aku meminimalisir komunikasi denganmu. Karena jarak sudah tak mungkin kujadikan alasan. Aku masih bisa melihatmu masuk ke kantor dari ruanganku.”

“Diantara hari-hari itu aku banyak belajar. Betapa aku amat bergantung denganmu. Orang bilang kita akan tahu seberapa besar perasaan ketika kita kehilangan. Tapi menjauh darimu saja sudah cukup menyiksa dan menyakitkan buatku, Adelin. Teman-temanku memang lebih mengerti dirimu. Aku yang meminta mereka untuk itu”

“Maafkan aku, Adelin Sayang”

“Sadarlah Gas. Kamu hampir menghabiskan semua perasaanku terhadapmu. Aku bahkan bisa saja pergi darimu” Gaska makin menyulut emosi yang kuredam habis-habisan. Aku menunduk. Gaska tak bisa melihatku menangis seperti ini.

“Maaf Del. Tapi kali ini aku serius. Hiduplah bersamaku. Jadi perempuan terakhir yang kusapa sebelum aku melepas lelah. Jadi perempuan pertama yang kulihat sewaktu pagi menjelang. Menikahlah denganku” kata Gaska. Pandanganku mengabur. Gaska menyodorkan sebuah cincin dihadapanku. Gaska belum benar-benar sadar aku menangis

“Jawab aku Adelin” katanya mengangkat daguku. Aku masih menangis.

“Responsmu selalu tak sesuai imajinasiku, Del” katanya sembari menghapus air mataku dengan jemarinya. Gerimis mulai turun. Aku memeluknya. Erat sekali. Menangis sesenggukan di bahunya. Aku sudah lelah. Gaska gila!

“Jadi, maukah kau menikah denganku Adelin ?” bisiknya di telingakku. Suaraku parau. Aku tak mau menjawabnya. Aku melonggarkan pelukanku. Menatapnya. Tersenyum kecil. Lalu mengecupnya di pipi kanan.

Kau tak pernah berhenti membuatku khawatir, Bagaskara. Jangan pernah mencoba untuk melakukan hal gila lainnya. Perasaanku bisa saja habis tiba-tiba, Gas.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template