Minggu, 27 Juli 2014

Kamu


Sore ini hujan turun dengan lebatnya. Tanah pekarangan di depan rumah basah diguyur hujan. Bunga mawar yang ku tanam setahun lalu sudah tumbuh tinggi. Bunganya bukan hanya dua tiga tangkai lagi hari ini. Tapi menggerombol mengelilingi dedaunan yang tumbuh di tangkainya. Wangi tanah basah pekarangan menyusup ke dalam kamar lewat jendela yang sedari tadi kubiarkan terbuka. Air hujan yang jatuh dari atap takkan masuk ke kamar meski aku membuka jendelanya. Hujan seperti ini selalu menyertakan lamunan yang tidak ada habisnya buatku. Apalagi jika lamunan itu menyangkut seorang Bagaskara. 

Hampir semua teman sekolahku memanggilnya dengan Gaska. Tak terkecuali aku yang jarang mengobrol dengannya. Jujur saja Gaska sudah menarik perhatianku sejak hari pertama masuk sekolah lima tahun yang lalu. Perawakan Gaska terlalu istimewa untuk dilewatkan begitu saja. Terlebih lagi entah dari mana datangnya aku punya firasat bahwa Gaska lebih istimewa daripada yang mereka lihat selama ini. Aku berhasil membuktikannya lewat makalah bahasa Indonesia yang kukerjakan satu kelompok dengannya.
Sepertinya perasaan yang kupendam sendiri selama ini pada seorang Gaska terlalu dalam. Aku bahkan tak bisa berhenti memikirkannya meski hampir dua tahun aku tak bertatap muka dengannya. Komunikasi yang kujalin dengannya bahkan tak selancar jalan tol di siang hari. Malah lebih mirip jalanan macet di jam berangkat kerja setiap harinya. Hanya saja aku tak pernah menemukan alasan untuk pergi dari perasaan yang selama ini kupendam sendiri buatnya.
Banyak alasan buatku untuk tidak menemui seorang Gaska. Tapi alasan paling besar yang membuatku ingin menemuinya adalah rindu yang sudah terlalu lama didiamkan. Aku sama sekali tak punya kepentingan apapun untuk menemuinya. Meski punya perasaan yang dalam seperti ini aku sama sekali bukan orang yang dekat dengannya. Itu sebabnya aku tak bisa seenaknya mengajaknya bertemu di suatu tempat. Gaska sendiri tak pernah punya urusan denganku selain pelajaran di sekolah. Perkara sepele seperti tugas kelompok. Sekarang hari-hari sekolah sudah usai sejak dua tahun yang lalu. Aku dan Gaska sama-sama sudah menyelesaikan pendidikan SMA.
Di sore hari yang basah ini aku ingin menemui Gaska hingga aku lelah berharap untuk menemuinya secara tak sengaja. Aku sudah mulai bosan berharap pada Tuhan bahwa aku akan bertemu dengannya suatu hari. Mengobrol banyak dan iseng menanyakan perasaannya sewaktu aku dan dia bersekolah dulu. Tentu saja aku penasaran. Tak hanya satu dua siswa perempuan yang suka dengannya, tapi Gaska tak pernah menolak mereka secara terang-terangan. Gaska juga tak menerima mereka sepenuhnya. Entah terpaut pada apa hati seorang Gaska. Tak ada yang tahu kecuali ia dan Tuhan.
Aku terbangun di pagi hari dan mendapati jendela kamar masih terbuka. Aku jelas lupa tak menutupnya semalam setelah hujan reda. Sepertinya lamunan tentang Gaska membawaku pada tidur lelap yang panjang hingga mimpi indah yang menghadirkannya dihadapanku. Aku hanya bergumam dan bergegas mandi untuk melakukan aktivitas rutin di pagi hari. Berolahraga. Terserah dengan keinginan bertemu dengan Gaska aku sudah bosan.
Alun-alun kota bisa dibilang cukup ramai pagi ini. Banyak orang melakukan aktivitas yang sama denganku hari ini. Berolahraga, meski dengan berbagai cara yang berbeda. Aku memarkirkan sepeda yang kukendarai dari rumah dan memutuskan untuk lari berkeliling. Aku menyelesaikan dua putaran dalam waktu lima menit. Tali sepatu yang kugunakan lepas sebelah. Aku memilih untuk duduk di bangku pinggir lapangan basket yang tak digunakan. Sekalian mengistirahatkan lelah yang sudah menumpuk meski baru sebentar aku berolahraga. Tali sepatuku sudah kuikat dengan benar.

“Hai Del” sapa seseorang yang mengambil tempat duduk di sampingku. Aku terhenyak sebentar kemudian melihat siapa yang menyapaku barusan.

“Has Gas” sapaku akhirnya. Gaska muncul di depan mata.

“Suka olahraga disini juga ?” tanya Gaska sembari membuka botol air mineral di tangannya.

“Ah engga juga sih. Kebetulan pulang dan pengen olahraga pagi disini. Kamu sendiri ?” jawabku seadanya.

“Kebetulan aja mampir. Kamu apa kabar, Del?” tanya Gaska lagi.

“Baik, Gas. Kamu sendiri apa kabar ?” jawabku.

“Sama. Baik” jawab Gaska yang diikuti hening beberapa saat kemudian.

Hening bertahan beberapa saat menghentikan percakapanku dengan Gaska. Aku sendiri tak punya sesuatu yang ingin kutanyakan. Pertemuan dengan Gaska seperti ini membuatku terlalu bahagia sampai tak punya kalimat apapun untuk dikatakan pada Gaska. Padahal ini momen yang langka.

“Kamu sama siapa sekarang?” tanyaku akhirnya tanpa memikirkan respon yang akan disampaikan Gaska.

“Ah itu .. masih sendiri. Kamu sendiri ?” jawabnya. Sekarang justru aku yang terkejut dengan pertanyaan Gaska.

“Sama. Masih sendiri juga” percakapan ini terlalu mematikan. Susah untuk mengalir begitu saja. Ayolah Gaska katakan sesuatu yang menyangkut masa lalu dan perasaanmu.

“Bukannya dulu deket sama Myra ya ? Kalian ngga jadian ?” kataku mengingat seorang teman yang sempat mendekati Gaska.

“Engga lah, Del” jawabnya singkat.

“Kalian cocok loh. Myra cantik dan ngga kurang apapun, Gas. Jadian sama dia sepertinya menyenangkan. Kenapa kamu malah engga ?” kataku asal meski jujur.

“Myra memang nampak sempurna, Del. Tapi entahlah aku ngga punya perasaan apa-apa sama Myra. Dia teman yang amat baik buat aku” kata Gaska. Baiklah kalimat ini terdengar seperti sebuah pengakuan di telingaku.

“Terus sejak dulu hati kamu terpaut sama siapa sih, Gas ? Buat seukuran selebriti sekolah seperti kamu hal itu banyak bikin penasaran loh. Sekaligus patah hati juga sebenarnya” kataku panjang lebar.

“Emang siapa yang bakalan patah hati, Del ?” katanya mengalihkan pembicaraan.

“Aku sama sekali ngga merasa populer” lanjutnya.

“Kenyataannya bukan satu dua perempuan yang coba deketin kamu, Gas” kataku jujur.

“Sayangnya ada yang ngga pernah mencoba hal itu, Del. Malah diam-diam memendamnya sendiri” kata Gaska tiba-tiba. Eh, apa yang dikatakannya tadi ?

“Maksud kamu ?” tanyaku. Aku tak mengerti apa yang dikatakannya.

“Hatiku sudah terpaut Adelin. Aku tak ingin membuatnya patah hati”

“Kalau kamu ingintahu siapa orangnya, dia sedang duduk disampingku sekarang, yang sejak tadi penasaran tentang hatiku padahal hatinya sendiri lebih takut untuk mendengar jawabanku” katanya sambil meninggalkanku yang masih terpaku.
July 16th 2014
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template