Sore ini hujan turun dengan lebatnya. Tanah
pekarangan di depan rumah basah diguyur hujan. Bunga mawar yang ku tanam
setahun lalu sudah tumbuh tinggi. Bunganya bukan hanya dua tiga tangkai lagi
hari ini. Tapi menggerombol mengelilingi dedaunan yang tumbuh di tangkainya.
Wangi tanah basah pekarangan menyusup ke dalam kamar lewat jendela yang sedari
tadi kubiarkan terbuka. Air hujan yang jatuh dari atap takkan masuk ke kamar
meski aku membuka jendelanya. Hujan seperti ini selalu menyertakan lamunan yang
tidak ada habisnya buatku. Apalagi jika lamunan itu menyangkut seorang
Bagaskara.
Hampir semua teman sekolahku memanggilnya
dengan Gaska. Tak terkecuali aku yang jarang mengobrol dengannya. Jujur saja
Gaska sudah menarik perhatianku sejak hari pertama masuk sekolah lima tahun
yang lalu. Perawakan Gaska terlalu istimewa untuk dilewatkan begitu saja.
Terlebih lagi entah dari mana datangnya aku punya firasat bahwa Gaska lebih
istimewa daripada yang mereka lihat selama ini. Aku berhasil membuktikannya
lewat makalah bahasa Indonesia yang kukerjakan satu kelompok dengannya.
Sepertinya perasaan yang kupendam sendiri
selama ini pada seorang Gaska terlalu dalam. Aku bahkan tak bisa berhenti
memikirkannya meski hampir dua tahun aku tak bertatap muka dengannya.
Komunikasi yang kujalin dengannya bahkan tak selancar jalan tol di siang hari.
Malah lebih mirip jalanan macet di jam berangkat kerja setiap harinya. Hanya
saja aku tak pernah menemukan alasan untuk pergi dari perasaan yang selama ini
kupendam sendiri buatnya.
Banyak alasan buatku untuk tidak menemui
seorang Gaska. Tapi alasan paling besar yang membuatku ingin menemuinya adalah
rindu yang sudah terlalu lama didiamkan. Aku sama sekali tak punya kepentingan
apapun untuk menemuinya. Meski punya perasaan yang dalam seperti ini aku sama
sekali bukan orang yang dekat dengannya. Itu sebabnya aku tak bisa seenaknya
mengajaknya bertemu di suatu tempat. Gaska sendiri tak pernah punya urusan
denganku selain pelajaran di sekolah. Perkara sepele seperti tugas kelompok.
Sekarang hari-hari sekolah sudah usai sejak dua tahun yang lalu. Aku dan Gaska
sama-sama sudah menyelesaikan pendidikan SMA.
Di sore hari yang basah ini aku ingin menemui
Gaska hingga aku lelah berharap untuk menemuinya secara tak sengaja. Aku sudah
mulai bosan berharap pada Tuhan bahwa aku akan bertemu dengannya suatu hari.
Mengobrol banyak dan iseng menanyakan perasaannya sewaktu aku dan dia
bersekolah dulu. Tentu saja aku penasaran. Tak hanya satu dua siswa perempuan
yang suka dengannya, tapi Gaska tak pernah menolak mereka secara
terang-terangan. Gaska juga tak menerima mereka sepenuhnya. Entah terpaut pada
apa hati seorang Gaska. Tak ada yang tahu kecuali ia dan Tuhan.
Aku terbangun di pagi hari dan mendapati jendela
kamar masih terbuka. Aku jelas lupa tak menutupnya semalam setelah hujan reda.
Sepertinya lamunan tentang Gaska membawaku pada tidur lelap yang panjang hingga
mimpi indah yang menghadirkannya dihadapanku. Aku hanya bergumam dan bergegas
mandi untuk melakukan aktivitas rutin di pagi hari. Berolahraga. Terserah
dengan keinginan bertemu dengan Gaska aku sudah bosan.
Alun-alun kota bisa dibilang cukup ramai pagi
ini. Banyak orang melakukan aktivitas yang sama denganku hari ini. Berolahraga,
meski dengan berbagai cara yang berbeda. Aku memarkirkan sepeda yang kukendarai
dari rumah dan memutuskan untuk lari berkeliling. Aku menyelesaikan dua putaran
dalam waktu lima menit. Tali sepatu yang kugunakan lepas sebelah. Aku memilih
untuk duduk di bangku pinggir lapangan basket yang tak digunakan. Sekalian
mengistirahatkan lelah yang sudah menumpuk meski baru sebentar aku berolahraga.
Tali sepatuku sudah kuikat dengan benar.
“Hai Del” sapa seseorang yang mengambil tempat
duduk di sampingku. Aku terhenyak sebentar kemudian melihat siapa yang
menyapaku barusan.
“Has Gas” sapaku akhirnya. Gaska muncul di
depan mata.
“Suka olahraga disini juga ?” tanya Gaska
sembari membuka botol air mineral di tangannya.
“Ah engga juga sih. Kebetulan pulang dan pengen
olahraga pagi disini. Kamu sendiri ?” jawabku seadanya.
“Kebetulan aja mampir. Kamu apa kabar, Del?”
tanya Gaska lagi.
“Baik, Gas. Kamu sendiri apa kabar ?” jawabku.
“Sama. Baik” jawab Gaska yang diikuti hening
beberapa saat kemudian.
Hening bertahan beberapa saat menghentikan
percakapanku dengan Gaska. Aku sendiri tak punya sesuatu yang ingin kutanyakan.
Pertemuan dengan Gaska seperti ini membuatku terlalu bahagia sampai tak punya
kalimat apapun untuk dikatakan pada Gaska. Padahal ini momen yang langka.
“Kamu sama siapa sekarang?” tanyaku akhirnya
tanpa memikirkan respon yang akan disampaikan Gaska.
“Ah itu .. masih sendiri. Kamu sendiri ?”
jawabnya. Sekarang justru aku yang terkejut dengan pertanyaan Gaska.
“Sama. Masih sendiri juga” percakapan ini
terlalu mematikan. Susah untuk mengalir begitu saja. Ayolah Gaska katakan
sesuatu yang menyangkut masa lalu dan perasaanmu.
“Bukannya dulu deket sama Myra ya ? Kalian ngga
jadian ?” kataku mengingat seorang teman yang sempat mendekati Gaska.
“Engga lah, Del” jawabnya singkat.
“Kalian cocok loh. Myra cantik dan ngga kurang
apapun, Gas. Jadian sama dia sepertinya menyenangkan. Kenapa kamu malah engga
?” kataku asal meski jujur.
“Myra memang nampak sempurna, Del. Tapi
entahlah aku ngga punya perasaan apa-apa sama Myra. Dia teman yang amat baik
buat aku” kata Gaska. Baiklah kalimat ini terdengar seperti sebuah pengakuan di
telingaku.
“Terus sejak dulu hati kamu terpaut sama siapa
sih, Gas ? Buat seukuran selebriti sekolah seperti kamu hal itu banyak bikin
penasaran loh. Sekaligus patah hati juga sebenarnya” kataku panjang lebar.
“Emang siapa yang bakalan patah hati, Del ?”
katanya mengalihkan pembicaraan.
“Aku sama sekali ngga merasa populer”
lanjutnya.
“Kenyataannya bukan satu dua perempuan yang
coba deketin kamu, Gas” kataku jujur.
“Sayangnya ada yang ngga pernah mencoba hal
itu, Del. Malah diam-diam memendamnya sendiri” kata Gaska tiba-tiba. Eh, apa
yang dikatakannya tadi ?
“Maksud kamu ?” tanyaku. Aku tak mengerti apa
yang dikatakannya.
“Hatiku sudah terpaut Adelin. Aku tak ingin
membuatnya patah hati”
“Kalau kamu ingintahu siapa orangnya, dia
sedang duduk disampingku sekarang, yang sejak tadi penasaran tentang hatiku
padahal hatinya sendiri lebih takut untuk mendengar jawabanku” katanya sambil
meninggalkanku yang masih terpaku.
July 16th 2014