Minggu, 27 Juli 2014

Meet You


kamu terlalu tinggi dan bersinar untuk digapai. maka jadilah aku yang menunggu,u untuk kau tahu perasaanku tanpa aku harus mengatakannya. dan hari ini ketika aku sudah bangga karena jatuh cintaku dengannya. kamu berdiri dihadapanku. baiklah, senang bertemu denganmu lagi ..


“Kita berangkat sekarang, Del” kata Gaska sembari menginjak pedal gas mobilnya. Aku hanya mengiyakan saja.

Suasana hatiku sedang tak terlalu baik. Aku bahkan tak berminat untuk bertanya kemana tujuan kami hari ini. Gaska dan aku sama-sama diam. Tak ada yang memulai pembicaraan. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya musik yang diputar Gaska yang sibuk meramaikan mobil. Biasanya baik aku dan Gaska akan menyanyikan lagu yang diputar di dalam mobil. Sepanjang perjalanan menuju tempat yang kami tuju. Tapi jika salah satu dari kami sedang tak enak hati maka yang lainnya akan mengalah dan ikut diam selama beberapa waktu. Nanti suasana akan mencair sendiri.
Mobil yang dikemudikan Gaska memasuki area perumahan yang tak asing bagiku. Rumah-rumah elit bergaya minimalis jaman sekarang berjajar rapi dengan sisa tanah yang dijadikan taman kecil. Rumput hijau pendek dan beraneka bunga tumbuh di atasnya. Beberapa malah menumbuhkan pohon buah yang dibonsai. Mobil-mobil terparkir rapi di garasi. Beberapa kosong menandakan pemilik rumah yang sedang tak berada di kediaman.
Gaska mengambil belokan kedua setelah putar balik tadi. Tangannya dengan lihai mengendalikan kemudi di hadapannya. Menghindari lubang kecil yang membuat perjalanan tak nyaman. Mobil yang dikemudikan Gaska berhenti di sebuah rumah bercat abu-abu kombinasi merah. Rumah yang pernah kukunjungi lima tahun lalu. Sekedar mengerjakan tugas setelah perdebatan panjang soal tempat. Serta acara pembujukan yang tak kunjung akhir. Rumah Juna.
Gaska tahu benar sejarahku dengan Juna. Perasaan yang dipendam terlalu lama dan makin dalam tiap harinya menurutku. Tanpa Juna sadar benar. Meski sudah lama berlalu aku masih senang mengenangnya. Kadang tertawa getir sekaligus geli dengan perasaan yang pernah ada. Juga kebodohan dengan tak menunjukkannya sama sekali. Sederhana, kenapa tak menunjukkannya meski sedikit waktu itu ?
Kenapa Gaska membawaku kemari ? Dalam rangka apa ? Menguji perasaanku ? Atau sekedar menyelesaikan urusan dengan Juna. Mengingat Juna adalah partner bisnis Gaska yang baru. Apapun itu aku tak punya alasan untuk menghindar. Pertanyaan aneh yang menggantung tadi kuusir jauh-jauh.
Gaska turun terlebih dahulu. Aku menghela nafas panjang. Berusaha mengakhiri suasana hati yang tak terlalu baik akibat hormon tak seimbang di tubuhku. Gaska melangkah ke arah pintu di sampingku. Membukakan pintu dan mengajakku keluar dengan amat sopan. Aku tersenyum. Gaska membalas senyumku. Mentup pintu mobil lalu menguncinya secara otomatis. Gaska meraih tanganku. Meletakkannya di lengannya. Memencet bel rumah Juna tiga kali. Bel keempat baru mendapat jawaban atas eksistensi penghuninya. Pembantu rumah tangga Juna membukakan pagar dan mempersilahkan kami masuk. Pamit untuk membuatkan minuman dan memanggil Juna setelah mempersilahkan kami duduk di ruang tamu pemilik rumah. Aku dan Gaska duduk bersebelahan. Tanganku sudah tak menggamit lengannya. Gaska tak mengatakan apa-apa. Aku masih malas bertanya. Nanti juga tahu apa yang akan diselesaikan Gaska disini.
Juna turun dari tangga yang tak jauh dari tempat Gaska duduk. Langkah kakinya terdengar jelas. Juna sendiri tak banyak berubah. Senyum sekadarnya dan menyapa Gaska terlebih dahulu. Melihatku sekilas dan nampak tak yakin dengan penglihatannya sendiri. Juna mau tak mau menyapaku. Aku tersenyum membalas sapaannya. Biasa saja. Meski otakku sudah mulai bekerja mengamati perubahan Juna.
Sweater abu-abu dan celana kain berwarna putih. Serta sandal rumahan yang senada dengan celana yang dipakainya. Wangi parfum maskulin yang menyeruak seiring pergerakannya. Juna mengambil tempat duduk di dekat Gaska. Tak mau repot-repot melangkah lebih jauh dari tangga yang baru saja dituruninya. Aku sudah mengalihkan pandanganku sejak tadi. Mengamati foto masa kecil Juna dan kakaknya yang dipajang diatas sebuah meja yang menempel ditembok.
Juna menyapa Gaska dengan lebih sopan kali ini. Menanyakan keperluan apa yang membuat Gaska sampai repot-repot mengunjunginya di rumah. Bukan menanyakannya lewat telepon saja seperti biasanya. Gaska bilang kebetulan ia sedang senggang dan dokumen yang ia perlukan agak mendesak sifatnya. Pegawai Gaska yang bertugas mengambil dokumen sedang libur mengingat ini hari Sabtu. Gaska dan Juna terlibat percakapan serius mengenai bisnis yang mereka jalankan. Aku sendiri sibuk mengamati interior rumah Juna yang tak banyak berubah dibandingkan ketika aku pertama kali kemari lima tahun yang lalu. Gaska dengan santai memperkenalkan aku sebagai tunangannya di depan Juna. Membuatku mau tak mau menghentikan kegiatanku mengamati.

“Oh ya ini Adelin, tunangan gue” kata Gaska kepada Juna.

“Juna” kata Juna sembari mengulurkan tangannya kepadaku.

“Adelin” kataku singkat, tersenyum lalu menjabat tangannya.

“Kata Adelin kalian dulu satu sekolah ya ? Beneran gitu, Del ?” pancing Gaska.

“Ya Tuhan ini Adelin ? Iya gue inget sekarang, Adelin temen sekelas gue dulu, Gas. Pantes aja mukanya familiar gitu” kata Juna tak terpengaruh.

“Perempuan baik-baik tuh, Gas. Jangan disia-siain” lanjut Juna. Aku hanya tersenyum. Entah harus menanggapi apa.

“Waah keliatannya gue bisa nanya banyak nih ke lo soal Adelin. Rahasianya misalnya” kata Gaska diselingi tawa kecil.

“Haha .. Gue sama Adelin ngga pernah deket Gas meskipun kita sekelas. Gue mana tahu rahasia Adelin. Nanya Tara aja deh tuh” kata Juna menyebutkan salah satu sahabatku.

“Wah sayang nih, kalo nanya Tara mah sama aja haha ..” tawa Gaska. Aku hanya tersenyum menanggapi percakapan keduanya.

“Gue nitip Gaska yaa, kalo dia macem-macem jangan sungkan cerita sama gue ..” kataku mencairkan keadaan.

“Kamu ngga perlu nanya Juna, Del. Percaya aku aja” kata Gaska. Juna hanya tersenyum.

Percakapan yang berlangsung cukup cair dan menyenangkan. Terlepas dari pengujian Gaska soal perasaan yang sudah lalu dan pamer kemesraan di depan Juna. Daripada jadi seseorang yang menganggap punya lawan lebih baik berteman. Apalagi lawan yang dikiranya ada ternyata sudah jadi semu dan tak nyata semacam masa lalu. Gaska kadang tak mudah dimengerti. Lewat cara kekanak-kanakan seperti ini dia baru akan percaya dengan penglihatannya sendiri tentang perasaan yang sebenarnya. Percaya saja aku, Gas.
Dua minggu setelah pertemuan dengan Juna. Sebuah email tanpa subject masuk. Notifikasinya menyadarkanku dari tidur siang hari ini. Dari Juna.

Dear Adelin,
Dunia sudah banyak berubah rupanya. Sayang sekali aku masih terjebak dengan perasaan yang waktu itu kamu pendam sendiri. Rasanya menyenangkan sekaligus menyedihkan memilikinya. Aku akhirnya tahu banyak tentang apa yang kamu rasakan dulu. Hanya saja perasaan yang dipendam sendiri tak punya arah melangkah, Del. Kalau kamu kira aku tak tahu tentang perasaanmu kamu salah. Aku tahu, Del. Aku bahkan tidak ragu-ragu. Tapi egoku terlalu tinggi untuk memulai dan hatiku masih terpaut dengan yang lain. Baru di lain waktu aku mulai punya perasaan yang sama untukmu. Kali ini kupendam juga. Bertemu dengannmu dua minggu lalu tentu menyenangkan sekali. Akan lebih menyenangkan jika bukan partner bisnisku yang membawamu kesana. Terlebih lagi memperkenalkanmu sebagai tunangannya. Tenang saja, aku sudah hancur berkeping-keping, Del. Tapi pertemuan denganmu dua minggu yang lalu membuatku sadar. Sudah selayaknya kamu bahagia dengan partner bisnisku itu. Selayaknya pula aku punya seseorang yang lain yang sepertimu, Del. Kali ini yang akan menunjukkan perasaannya padaku dan aku juga akan menunjukkan perasaanku padanya. Begitulah.
Berbahagialah, Del. Terimakasih untuk perasaanmu lima tahun yang lalu. Maaf aku tak bisa membalasnya.

Lakukan Juna. Cari seseorang sepertiku yang mampu menunjukkan perasaannya. Bertemu denganmu dua minggu yang lalu juga membuatku sadar betapa Gaska adalah orang yang tepat. Bahkan dengan caranya yang kekanak-kanakan seperti itu aku masih bertahan disisinya.

July 19th 2014

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template