kamu terlalu tinggi dan bersinar untuk digapai. maka jadilah aku yang menunggu,u untuk kau tahu perasaanku tanpa aku harus mengatakannya. dan hari ini ketika aku sudah bangga karena jatuh cintaku dengannya. kamu berdiri dihadapanku. baiklah, senang bertemu denganmu lagi ..
“Kita berangkat sekarang, Del” kata Gaska
sembari menginjak pedal gas mobilnya. Aku hanya mengiyakan saja.
Suasana hatiku sedang tak terlalu baik. Aku
bahkan tak berminat untuk bertanya kemana tujuan kami hari ini. Gaska dan aku
sama-sama diam. Tak ada yang memulai pembicaraan. Sibuk dengan pikiran
masing-masing. Hanya musik yang diputar Gaska yang sibuk meramaikan mobil.
Biasanya baik aku dan Gaska akan menyanyikan lagu yang diputar di dalam mobil.
Sepanjang perjalanan menuju tempat yang kami tuju. Tapi jika salah satu dari
kami sedang tak enak hati maka yang lainnya akan mengalah dan ikut diam selama
beberapa waktu. Nanti suasana akan mencair sendiri.
Mobil yang dikemudikan Gaska memasuki area
perumahan yang tak asing bagiku. Rumah-rumah elit bergaya minimalis jaman
sekarang berjajar rapi dengan sisa tanah yang dijadikan taman kecil. Rumput
hijau pendek dan beraneka bunga tumbuh di atasnya. Beberapa malah menumbuhkan
pohon buah yang dibonsai. Mobil-mobil terparkir rapi di garasi. Beberapa kosong
menandakan pemilik rumah yang sedang tak berada di kediaman.
Gaska mengambil belokan kedua setelah putar
balik tadi. Tangannya dengan lihai mengendalikan kemudi di hadapannya.
Menghindari lubang kecil yang membuat perjalanan tak nyaman. Mobil yang
dikemudikan Gaska berhenti di sebuah rumah bercat abu-abu kombinasi merah.
Rumah yang pernah kukunjungi lima tahun lalu. Sekedar mengerjakan tugas setelah
perdebatan panjang soal tempat. Serta acara pembujukan yang tak kunjung akhir.
Rumah Juna.
Gaska tahu benar sejarahku dengan Juna.
Perasaan yang dipendam terlalu lama dan makin dalam tiap harinya menurutku.
Tanpa Juna sadar benar. Meski sudah lama berlalu aku masih senang mengenangnya.
Kadang tertawa getir sekaligus geli dengan perasaan yang pernah ada. Juga
kebodohan dengan tak menunjukkannya sama sekali. Sederhana, kenapa tak
menunjukkannya meski sedikit waktu itu ?
Kenapa Gaska membawaku kemari ? Dalam rangka
apa ? Menguji perasaanku ? Atau sekedar menyelesaikan urusan dengan Juna.
Mengingat Juna adalah partner bisnis Gaska yang baru. Apapun itu aku tak punya
alasan untuk menghindar. Pertanyaan aneh yang menggantung tadi kuusir
jauh-jauh.
Gaska turun terlebih dahulu. Aku menghela nafas
panjang. Berusaha mengakhiri suasana hati yang tak terlalu baik akibat hormon
tak seimbang di tubuhku. Gaska melangkah ke arah pintu di sampingku. Membukakan
pintu dan mengajakku keluar dengan amat sopan. Aku tersenyum. Gaska membalas
senyumku. Mentup pintu mobil lalu menguncinya secara otomatis. Gaska meraih
tanganku. Meletakkannya di lengannya. Memencet bel rumah Juna tiga kali. Bel
keempat baru mendapat jawaban atas eksistensi penghuninya. Pembantu rumah
tangga Juna membukakan pagar dan mempersilahkan kami masuk. Pamit untuk
membuatkan minuman dan memanggil Juna setelah mempersilahkan kami duduk di
ruang tamu pemilik rumah. Aku dan Gaska duduk bersebelahan. Tanganku sudah tak
menggamit lengannya. Gaska tak mengatakan apa-apa. Aku masih malas bertanya.
Nanti juga tahu apa yang akan diselesaikan Gaska disini.
Juna turun dari tangga yang tak jauh dari
tempat Gaska duduk. Langkah kakinya terdengar jelas. Juna sendiri tak banyak
berubah. Senyum sekadarnya dan menyapa Gaska terlebih dahulu. Melihatku sekilas
dan nampak tak yakin dengan penglihatannya sendiri. Juna mau tak mau menyapaku.
Aku tersenyum membalas sapaannya. Biasa saja. Meski otakku sudah mulai bekerja
mengamati perubahan Juna.
Sweater abu-abu dan celana kain berwarna putih.
Serta sandal rumahan yang senada dengan celana yang dipakainya. Wangi parfum
maskulin yang menyeruak seiring pergerakannya. Juna mengambil tempat duduk di
dekat Gaska. Tak mau repot-repot melangkah lebih jauh dari tangga yang baru
saja dituruninya. Aku sudah mengalihkan pandanganku sejak tadi. Mengamati foto
masa kecil Juna dan kakaknya yang dipajang diatas sebuah meja yang menempel
ditembok.
Juna menyapa Gaska dengan lebih sopan kali ini.
Menanyakan keperluan apa yang membuat Gaska sampai repot-repot mengunjunginya
di rumah. Bukan menanyakannya lewat telepon saja seperti biasanya. Gaska bilang
kebetulan ia sedang senggang dan dokumen yang ia perlukan agak mendesak
sifatnya. Pegawai Gaska yang bertugas mengambil dokumen sedang libur mengingat
ini hari Sabtu. Gaska dan Juna terlibat percakapan serius mengenai bisnis yang
mereka jalankan. Aku sendiri sibuk mengamati interior rumah Juna yang tak
banyak berubah dibandingkan ketika aku pertama kali kemari lima tahun yang
lalu. Gaska dengan santai memperkenalkan aku sebagai tunangannya di depan Juna.
Membuatku mau tak mau menghentikan kegiatanku mengamati.
“Oh ya ini Adelin, tunangan gue” kata Gaska
kepada Juna.
“Juna” kata Juna sembari mengulurkan tangannya
kepadaku.
“Adelin” kataku singkat, tersenyum lalu menjabat
tangannya.
“Kata Adelin kalian dulu satu sekolah ya ?
Beneran gitu, Del ?” pancing Gaska.
“Ya Tuhan ini Adelin ? Iya gue inget sekarang,
Adelin temen sekelas gue dulu, Gas. Pantes aja mukanya familiar gitu” kata Juna
tak terpengaruh.
“Perempuan baik-baik tuh, Gas. Jangan
disia-siain” lanjut Juna. Aku hanya tersenyum. Entah harus menanggapi apa.
“Waah keliatannya gue bisa nanya banyak nih ke
lo soal Adelin. Rahasianya misalnya” kata Gaska diselingi tawa kecil.
“Haha .. Gue sama Adelin ngga pernah deket Gas
meskipun kita sekelas. Gue mana tahu rahasia Adelin. Nanya Tara aja deh tuh”
kata Juna menyebutkan salah satu sahabatku.
“Wah sayang nih, kalo nanya Tara mah sama aja
haha ..” tawa Gaska. Aku hanya tersenyum menanggapi percakapan keduanya.
“Gue nitip Gaska yaa, kalo dia macem-macem
jangan sungkan cerita sama gue ..” kataku mencairkan keadaan.
“Kamu ngga perlu nanya Juna, Del. Percaya aku
aja” kata Gaska. Juna hanya tersenyum.
Percakapan yang berlangsung cukup cair dan
menyenangkan. Terlepas dari pengujian Gaska soal perasaan yang sudah lalu dan
pamer kemesraan di depan Juna. Daripada jadi seseorang yang menganggap punya
lawan lebih baik berteman. Apalagi lawan yang dikiranya ada ternyata sudah jadi
semu dan tak nyata semacam masa lalu. Gaska kadang tak mudah dimengerti. Lewat
cara kekanak-kanakan seperti ini dia baru akan percaya dengan penglihatannya
sendiri tentang perasaan yang sebenarnya. Percaya saja aku, Gas.
Dua minggu setelah pertemuan dengan Juna.
Sebuah email tanpa subject masuk. Notifikasinya menyadarkanku dari tidur siang
hari ini. Dari Juna.
Dear Adelin,
Dunia sudah banyak berubah rupanya. Sayang
sekali aku masih terjebak dengan perasaan yang waktu itu kamu pendam sendiri.
Rasanya menyenangkan sekaligus menyedihkan memilikinya. Aku akhirnya tahu
banyak tentang apa yang kamu rasakan dulu. Hanya saja perasaan yang dipendam
sendiri tak punya arah melangkah, Del. Kalau kamu kira aku tak tahu tentang
perasaanmu kamu salah. Aku tahu, Del. Aku bahkan tidak ragu-ragu. Tapi egoku
terlalu tinggi untuk memulai dan hatiku masih terpaut dengan yang lain. Baru di
lain waktu aku mulai punya perasaan yang sama untukmu. Kali ini kupendam juga.
Bertemu dengannmu dua minggu lalu tentu menyenangkan sekali. Akan lebih
menyenangkan jika bukan partner bisnisku yang membawamu kesana. Terlebih lagi
memperkenalkanmu sebagai tunangannya. Tenang saja, aku sudah hancur
berkeping-keping, Del. Tapi pertemuan denganmu dua minggu yang lalu membuatku
sadar. Sudah selayaknya kamu bahagia dengan partner bisnisku itu. Selayaknya
pula aku punya seseorang yang lain yang sepertimu, Del. Kali ini yang akan
menunjukkan perasaannya padaku dan aku juga akan menunjukkan perasaanku
padanya. Begitulah.
Berbahagialah, Del. Terimakasih untuk
perasaanmu lima tahun yang lalu. Maaf aku tak bisa membalasnya.
Lakukan Juna. Cari seseorang sepertiku yang
mampu menunjukkan perasaannya. Bertemu denganmu dua minggu yang lalu juga
membuatku sadar betapa Gaska adalah orang yang tepat. Bahkan dengan caranya
yang kekanak-kanakan seperti itu aku masih bertahan disisinya.
July 19th 2014