Minggu, 27 Juli 2014

Sekali saja


Katakan saja aku tak waras. Tak cukup memendamnya sendirian aku bahkan ingin bertemu dengannya. Sekali ini saja. Setelah hampir dua tahun aku tak bertemu dengannya ..


Dia adalah seorang laki-laki yang menarik perhatianku sejak awal pertemuan kami. Laki-laki itu teman kuliahku dulu. Tak cukup di hari pertama ia menarik perhatianku hari-hari selanjutnya pun begitu. Apapun yang dilakukannya terlihat begitu mengagumkan di mataku. Entah racun apa sebenarnya yang membuatku buta seperti ini. Sayangnya aku hanya berani melihatnya dari jauh. Aku amat menyukai senyumannya yang mendamaikan. Seakan-akan setiap gundah yang bersarang terbang begitu saja bersama senyumannya. Aku tak tahu sebenarnya pesona macam apa yang ia punya. Aku ketagihan dengan sorot matanya yang ingin bicara tapi tak menemukan kata-kata.
Perawakannya yang tak terlalu tinggi bukan sebuah kelemahan buatnya. Di mata tiap perempuan yang melihatnya dia sama sekali tak punya kekurangan. Sepasang alis tebal yang berbaris rapi di atas sorot mata tegas yang ia miliki serta tulang pipinya yang menampilkan sosok kepemimpinan sukses membuatnya jadi idaman di kampusku. Tak cukup itu kulit kecokelatan khas pribuminya terlihat sesuai dengan wajah kelaki-lakiannya yang amat berbeda dengan laki-laki jaman sekarang yang tak kalah pandai berhias dengan perempuan-perempuan mereka. Hampir tiap perempuan di kampus tahu benar siapa dia. Laki-laki yang tak banyak bicara tapi tak pendiam. Laki-laki yang selalu punya kesempatan memikat wanita dengan petikan gitar oleh jemarinya. Laki-laki yang bahkan dengan kehadirannya bisa mengubah ceritaku.
Hampir setiap hari selama perkuliahan aku bertemu dengannya. Setiap hari pula perasaan yang kupunya semakin dalam. Meski tak sepatah kata pun pernah menghubungkan aku dengan dia. Setiap hari pula aku menatap senyumannya yang mendamaikan itu. Aku sadar benar senyuman itu sama sekali bukan untukku. Sayangnya senyuman itu punya kedudukan yang setara dengan pain reliever, mampu meredakan rasa sakit. Perasaan itu makin hari makin besar saja.
Ada kalanya ia menyajikan raut sedihnya dihadapanku. Tanpa mengatakan apa-apa. Hanya melewatiku dengan setumpuk kecewa dan kesedihan menggantung di atas kepalanya. Aku selalu ingin tahu apa yang membuatnya kecewa dan sedih seperti itu. Hanya saja aku tak pernah punya keberanian untuk menanyakan itu semua. Bahkan menyapanya saja aku tak berani. Aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan. Anehnya perasaan itu tak berkurang sedikitpun jika disandingkan dengan keberanian yang kupunya.
Pernah suatu kali aku terjebak hujan bersamanya. Hanya berdua. Di sebuah gazebo taman. Hari itu kuliah selesai awal sekali. Aku bahkan belum ingin pulang meski bertumpuk tugas harus kuselesaiakan. Tentunya aku tak hanya berdua dengannya di awal. Aku bersama teman-temanku dan dia bersama teman-temannya. Sampai ketika mendung bergelayut dan teman-teman satu persatu pulang. Menyisakan aku dan dia yang masih asyik dengan kegiatan masing-masing. Dia dengan gitarnya dan aku dengan buku di pangkuanku.
Hari itu ketika hujan turun amat deras aku malah merasa bahagia meski angin berhembus cukup kencang. Aku terjebak dengannya di tempat yang cukup menyenangkan. Terlibat percakapan canggung dan singkat. Hari itu untuk pertama kalinya aku tak ingin hujan lekas reda. Doaku terkabul. Hujan reda ketika malam mulai menyapa. Aku harus pulang hari itu. Mau tak mau. Dan dengan baiknya, ia mengantarku pulang. Menambahkan pesonanya yang setiap hari menghantuiku.
Sejak hari itu perasaanku makin dalam. Bahkan makin bahagia melihatnya dari jauh. Entah mengapa hanya menyadari kehadirannya aku bahagia. Tapi begitulah manusia, tak pernah puas dengan apa yang dilihatnya. Bukan satu dua kali aku menangisi perasaan yang kupendam sendiri. Keinginan tak tahu diri kadang muncul begitu saja. Jika hari ini aku mengenalnya, maka esok aku ingin dekat dengannya. Jika esok aku dekat dengannya maka lusa aku ingin ia punya perasaan yang sama denganku. Lalu esok lusa aku ingin dia jadi milikku dan begitupun sebaliknya. Lalu aku dan dia akan punya cerita bersama.
Kadang aku iri melihat perempuan lain leluasa mengobrol dengannya. Bahkan membicarakan banyak hal. Sedangkan aku takpernah berani menyapa. Hanya punya putaran kaset percakapan canggung dan singkat yang diputar berulang-ulang. Sampai pada titik ini aku tak pernah sakit hati melihat perempuan lain yang punya perasaan serupa denganku. Hanya saja air mataku terkadang jatuh melihat mereka yang punya perasaan serupa dan leluasa mendekat seenaknya. Dia sendiri takkan menolak kedekatan itu. Tapi tak pernah menganggap serius kedekatan yang ia jalani. Kenyataan yang tersaji di depan mata adalah hatinya yang masih tertambat pada hati lain di seberang benua sana. Aku begitu sadar dengan perasaannya sendiri. Sayangnya perasaanku tak mau habis begitu saja menatap kenyataan di depan mata.
Hari ini ketika aku masih mengingatnya bahkan tahu di mana keberadaannya, aku ingin bertemu. Setelah dua tahun aku tak melihat senyum damainya itu. Sekali saja. Keinginanku untuk bertemu dengannya tak pernah surut sejak entah kapan aku tak bisa mengingatnya dengan baik. Setiap jalan yang kulalui, aku berharap alam mau menciptakan konspirasi yang hebat biar aku bisa bertemu dengannya. Setiap kali aku melewati rumahnya aku bahkan berharap dia sedang duduk di beranda rumahnya, melihatku lalu menyapaku sesekali.
Aku ingin bertemu dengannya sekali saja. Sekedar mengobrol panjang lebar dengan dua cangkir kopi di meja akan lebih baik. Biar tak seperti waktu itu, singkat dan canggung. Duduk berhadapan dengan kue manis dihadapan. Membicarakan apa yang sudah kulewatkan begitu saja darinya. Atau sekedar mendengarnya memainkan sebuah lagi dengan jemarinya itu. Karena mungkin saja perasaan yang kusimpan sendiri selama ini tak sia-sia.
Aku ingin bertemu denganmu. Di manapun kamu hari ini. Sekali saja.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template