Katakan saja
aku tak waras. Tak cukup memendamnya sendirian aku bahkan ingin bertemu
dengannya. Sekali ini saja. Setelah hampir dua tahun aku tak bertemu dengannya
..
Dia adalah
seorang laki-laki yang menarik perhatianku sejak awal pertemuan kami. Laki-laki
itu teman kuliahku dulu. Tak cukup di hari pertama ia menarik perhatianku
hari-hari selanjutnya pun begitu. Apapun yang dilakukannya terlihat begitu
mengagumkan di mataku. Entah racun apa sebenarnya yang membuatku buta seperti
ini. Sayangnya aku hanya berani melihatnya dari jauh. Aku amat menyukai
senyumannya yang mendamaikan. Seakan-akan setiap gundah yang bersarang terbang
begitu saja bersama senyumannya. Aku tak tahu sebenarnya pesona macam apa yang
ia punya. Aku ketagihan dengan sorot matanya yang ingin bicara tapi tak
menemukan kata-kata.
Perawakannya
yang tak terlalu tinggi bukan sebuah kelemahan buatnya. Di mata tiap perempuan
yang melihatnya dia sama sekali tak punya kekurangan. Sepasang alis tebal yang
berbaris rapi di atas sorot mata tegas yang ia miliki serta tulang pipinya yang
menampilkan sosok kepemimpinan sukses membuatnya jadi idaman di kampusku. Tak
cukup itu kulit kecokelatan khas pribuminya terlihat sesuai dengan wajah
kelaki-lakiannya yang amat berbeda dengan laki-laki jaman sekarang yang tak
kalah pandai berhias dengan perempuan-perempuan mereka. Hampir tiap perempuan
di kampus tahu benar siapa dia. Laki-laki yang tak banyak bicara tapi tak
pendiam. Laki-laki yang selalu punya kesempatan memikat wanita dengan petikan
gitar oleh jemarinya. Laki-laki yang bahkan dengan kehadirannya bisa mengubah
ceritaku.
Hampir setiap
hari selama perkuliahan aku bertemu dengannya. Setiap hari pula perasaan yang
kupunya semakin dalam. Meski tak sepatah kata pun pernah menghubungkan aku
dengan dia. Setiap hari pula aku menatap senyumannya yang mendamaikan itu. Aku
sadar benar senyuman itu sama sekali bukan untukku. Sayangnya senyuman itu
punya kedudukan yang setara dengan pain reliever, mampu meredakan rasa
sakit. Perasaan itu makin hari makin besar saja.
Ada kalanya ia
menyajikan raut sedihnya dihadapanku. Tanpa mengatakan apa-apa. Hanya
melewatiku dengan setumpuk kecewa dan kesedihan menggantung di atas kepalanya.
Aku selalu ingin tahu apa yang membuatnya kecewa dan sedih seperti itu. Hanya
saja aku tak pernah punya keberanian untuk menanyakan itu semua. Bahkan
menyapanya saja aku tak berani. Aku hanya mampu melihatnya dari kejauhan.
Anehnya perasaan itu tak berkurang sedikitpun jika disandingkan dengan
keberanian yang kupunya.
Pernah suatu
kali aku terjebak hujan bersamanya. Hanya berdua. Di sebuah gazebo taman. Hari
itu kuliah selesai awal sekali. Aku bahkan belum ingin pulang meski bertumpuk
tugas harus kuselesaiakan. Tentunya aku tak hanya berdua dengannya di awal. Aku
bersama teman-temanku dan dia bersama teman-temannya. Sampai ketika mendung
bergelayut dan teman-teman satu persatu pulang. Menyisakan aku dan dia yang
masih asyik dengan kegiatan masing-masing. Dia dengan gitarnya dan aku dengan
buku di pangkuanku.
Hari itu
ketika hujan turun amat deras aku malah merasa bahagia meski angin berhembus
cukup kencang. Aku terjebak dengannya di tempat yang cukup menyenangkan.
Terlibat percakapan canggung dan singkat. Hari itu untuk pertama kalinya aku
tak ingin hujan lekas reda. Doaku terkabul. Hujan reda ketika malam mulai
menyapa. Aku harus pulang hari itu. Mau tak mau. Dan dengan baiknya, ia
mengantarku pulang. Menambahkan pesonanya yang setiap hari menghantuiku.
Sejak hari itu
perasaanku makin dalam. Bahkan makin bahagia melihatnya dari jauh. Entah
mengapa hanya menyadari kehadirannya aku bahagia. Tapi begitulah manusia, tak
pernah puas dengan apa yang dilihatnya. Bukan satu dua kali aku menangisi
perasaan yang kupendam sendiri. Keinginan tak tahu diri kadang muncul begitu
saja. Jika hari ini aku mengenalnya, maka esok aku ingin dekat dengannya. Jika
esok aku dekat dengannya maka lusa aku ingin ia punya perasaan yang sama
denganku. Lalu esok lusa aku ingin dia jadi milikku dan begitupun sebaliknya.
Lalu aku dan dia akan punya cerita bersama.
Kadang aku iri
melihat perempuan lain leluasa mengobrol dengannya. Bahkan membicarakan banyak
hal. Sedangkan aku takpernah berani menyapa. Hanya punya putaran kaset percakapan
canggung dan singkat yang diputar berulang-ulang. Sampai pada titik ini aku tak
pernah sakit hati melihat perempuan lain yang punya perasaan serupa denganku.
Hanya saja air mataku terkadang jatuh melihat mereka yang punya perasaan serupa
dan leluasa mendekat seenaknya. Dia sendiri takkan menolak kedekatan itu. Tapi
tak pernah menganggap serius kedekatan yang ia jalani. Kenyataan yang tersaji
di depan mata adalah hatinya yang masih tertambat pada hati lain di seberang
benua sana. Aku begitu sadar dengan perasaannya sendiri. Sayangnya perasaanku
tak mau habis begitu saja menatap kenyataan di depan mata.
Hari ini
ketika aku masih mengingatnya bahkan tahu di mana keberadaannya, aku ingin
bertemu. Setelah dua tahun aku tak melihat senyum damainya itu. Sekali saja.
Keinginanku untuk bertemu dengannya tak pernah surut sejak entah kapan aku tak
bisa mengingatnya dengan baik. Setiap jalan yang kulalui, aku berharap alam mau
menciptakan konspirasi yang hebat biar aku bisa bertemu dengannya. Setiap kali
aku melewati rumahnya aku bahkan berharap dia sedang duduk di beranda rumahnya,
melihatku lalu menyapaku sesekali.
Aku ingin
bertemu dengannya sekali saja. Sekedar mengobrol panjang lebar dengan dua
cangkir kopi di meja akan lebih baik. Biar tak seperti waktu itu, singkat dan
canggung. Duduk berhadapan dengan kue manis dihadapan. Membicarakan apa yang
sudah kulewatkan begitu saja darinya. Atau sekedar mendengarnya memainkan
sebuah lagi dengan jemarinya itu. Karena mungkin saja perasaan yang kusimpan
sendiri selama ini tak sia-sia.
Aku ingin
bertemu denganmu. Di manapun kamu hari ini. Sekali saja.