Minggu, 27 Juli 2014

Berubah




ketika waktu terus berputar dan lambat laun banyak hal berubah. kamu pun begitu. aku tak luput pula. lalu bagaimana dengan kita ?



Aku menghela nafas panjang. Dengan segelas cokelat panas di tanganku dan tangan yang lain mencengkeram pegangan tangga, aku melangkahkan kaki naik satu per satu anak tangga di depanku. Sudah lama aku tak naik ke atap hanya untuk menikmati malam. Malam ini cukup dingin sebenarnya. Tapi tak apa aku sudah amat rindu menatap langit tanpa terhalang apapun seperti dulu. Angin berhembus cukup kencang sesampainya aku di atap. Kakiku melangkah menuju genting di sampingku. Naik ke atasnya dengan hati-hati setelah meletakkan segelas cokelat panas yang kubawa di bawah kakiku.
Langit cerah sekali malam ini. Bintang yang nampak banyak sekali. Sesuai dengan perkiraan cuaca yang tertera di layar handphoneku. Suhu dua puluh derajat celcius tak membuatku urung untuk naik semakin tinggi. Aku merebahkan tubuhku di atap. Menatap langsung langit luas di atasku. Pikiranku menerawang jauh. Banyak sekali yang melintas di kepalaku. Samar aku mendengar suara langkah kaki yang menaiki tangga di belakangku. Aku tak peduli siapa yang akan naik kesini. Mungkin mama menyusulnya. Aku mendapati seorang Gaska menyusulku naik ke atap. Perkiraanku salah. Aku menghela nafas panjang. Kenapa Gaska ?
Gaska melangkah santai ke atas genting menyusulku dengan syal abu-abu di tangannya. Pasti mama yang mempersilahkannya naik ke sini. Tanpa sapaan apapun Gaska merebahkan tubuhnya di sampingku.

“Kamu berubah, Del” kata Gaska straight to do point. Aku membaca kemana arah pembicaraan ini.

“Semua manusia berubah, Gas. Apa yang salah ?” kataku santai.

“Everything seems wrong now, Del” kata Gaska menerawang.

“Aku sadar Gas aku bukan prioritas buat kamu. Banyak hal yang harus kamu kejar. Kamu laki-laki dan aku perempuan. Selayaknya aku jadi perempuan yang mendukung kamu dari belakang. Kamu sibuk. Aku memberikanmu waktu menyelesaikan semuanya. Aku menghabiskan banyak waktuku menunggumu selesai dengan kesibukanmu, Gas” jelasku.

“Tapi bukan berarti kamu menghilang gitu aja, Del” tuntut Gaska.

“Aku ngga kemana-mana, Gas. Aku menunggu kabar dari kamu. Aku belajar untuk tidak menganggumu dengan kesibukanmu itu. Kamu bilang tak sempat mengabariku. Bahkan satu pesan singkat saja tak ada, Gas. Tapi kamu sendiri sempat membalas pesan singkat perempuan lain” kataku getir

“Kamu cemburu, Del?” tanya Gaska.

“Entahlah, Gas. Ketika aku ditanya tentang bagaimana perasaanku terhadapmu tak satupun kata muncul di otakku” jawabku terus terang.

“Kamu ngga sayang lagi sama aku, Del?” Gaska mulai tak sabaran.

“Hubungan kita hari ini ngga cuma sekedar sayang, Gas. Aku dan kamu harus punya cara untuk saling mempertahankan dan memperjuangkan. Tapi bahkan aku tak menemukan alasan untuk bertahan denganmu, Gas” jelasku lagi. Kali ini aku mengubah posisiku. Duduk di samping Gaska. Gaska tak lagi merebahkan tubuhnya.

“Tapi aku masih sayang kamu, Del”

“Seharusnya kamu kasih kabar, Gas. Bukannya baru muncul sekarang.”

“Iya aku salah, maafin aku”

“Entahlah, Gas” kataku sembari beranjak turun dari genting. Meninggalkan Gaska sendirian.

Gaska ikut turun menyusulku yang sudah berdiri di belakang pagar. Segelas cokelat panasku kubawa serta. Padi di belakang rumah sudah menguning. Mungkin dalam dua tiga hari lagi akan dipanen. Warna padi yang menguning terlihat jelas oleh cahaya lampu di bawahku. Jalanan di depanku sudah lengang sejak tadi. Gaska masih diam. Entah kebingungan macam apa yang mendera kepalanya. Aku melihat siluetnya yang ragu-ragu untuk berdiri di sampingku.
Segelas cokelat panasku tersisa setengah saja. Setengah bagian yang sebelumnya kuhabiskan untuk membunuh diam yang ada. Gaska selalu begini. Membuatku makin tak paham harus melakukan apa. Setidaknya katakan ribuan alasan Gas biar aku tahu harus mengatakan apa. Sekalipun alasan yang kamu berikan itu kebohongan. Keterdiamanmu ini membuatku makin sangsi dengan kalimat-kalimatmu. Gaska masih diam. Syal abu-abu di tangannya sudah berpindah di leherku. Gaska memakaikannya barusan.

“Terimakasih” kataku singkat tanpa membalas tatapannya yang sedari tadi mengamatiku.

“Jelaskan dengan mudah Del apa yang sudah terjadi biar aku paham. Kau tahu sendiri bagaimana laki-laki” kata Gaska akhirnya. Aku terdiam. Sejak kapan Gaska jadi tak mengerti keadaan begini ?

“Kuulangi, Gas. Aku tahu aku bukan prioritas buatmu. Aku tak menuntutmu memberiku kabar setiap detiknya dalam dua puluh empat jam sehari. Begitu seterusnya hingga seminggu dalam hitungan bulan dan tahun. Tapi alasanmu sibuk dua bulan terakhir sama sekali tak masuk akal buatku. Ayolah Gas, seberapa sibuknya kamu sampai tak sempat memberiku kabar ?” kataku panjang lebar. Mengubah tatapanku ke arahnya. Gaska memalingkan wajah. Tuhan, Gaska sendiri terlalu banyak berubah.

“Setidaknya ajak aku berubah juga, Gas. Biar salah satu dari kita tidak tertinggal di belakang dan hanya mampu menatap punggung yang lainnya. Perasaan kita sama sekali bukan hanya pertimbangan utama untuk terus bertahan. Aku sudah hendak menyerah padamu. Tapi aku sadar bukan itu jawabannya. Sayangnya aku juga tak menemukan alasan untuk bertahan meski aku ingin sekali menyerah, Gas” kataku sembari menatapnya. Gaska sendiri terpaku pada jalanan lengang di hadapannya.

“Aku harus apa, Del?” tanya Gaska lemah.

“Entahlah, Gas. Tanyakan pada hatimu hendak kamu bawa kemana ini semua. Perempuan sepertiku hanya bertugas menunjukkan arah. Soal kemana kemudi akan diarahkan kembali pada laki-laki di belakang kemudinya, Gas” jawabku.

“Lagipula tak selamanya berubah itu tak menyenangkan Gas” lanjutku sambil melangkahkan kaki menuju tangga dan masuk ke dalam rumah. Gaska terpaku di tempatnya.

Maaf, Gas. Aku dan kamu sudah banyak berubah. Entah perubahan itu setara atau tidak. Entah perubahan itu nanti membawa kita lebih kuat atau berpisah menjalani jalan masing-masing. Putuskan, Gas.

July,18th 2014
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template