ketika waktu terus berputar dan lambat laun banyak hal berubah. kamu pun begitu. aku tak luput pula. lalu bagaimana dengan kita ?
Aku menghela nafas panjang. Dengan segelas
cokelat panas di tanganku dan tangan yang lain mencengkeram pegangan tangga,
aku melangkahkan kaki naik satu per satu anak tangga di depanku. Sudah lama aku
tak naik ke atap hanya untuk menikmati malam. Malam ini cukup dingin sebenarnya.
Tapi tak apa aku sudah amat rindu menatap langit tanpa terhalang apapun seperti
dulu. Angin berhembus cukup kencang sesampainya aku di atap. Kakiku melangkah
menuju genting di sampingku. Naik ke atasnya dengan hati-hati setelah
meletakkan segelas cokelat panas yang kubawa di bawah kakiku.
Langit cerah sekali malam ini. Bintang yang
nampak banyak sekali. Sesuai dengan perkiraan cuaca yang tertera di layar
handphoneku. Suhu dua puluh derajat celcius tak membuatku urung untuk naik
semakin tinggi. Aku merebahkan tubuhku di atap. Menatap langsung langit luas di
atasku. Pikiranku menerawang jauh. Banyak sekali yang melintas di kepalaku.
Samar aku mendengar suara langkah kaki yang menaiki tangga di belakangku. Aku
tak peduli siapa yang akan naik kesini. Mungkin mama menyusulnya. Aku mendapati
seorang Gaska menyusulku naik ke atap. Perkiraanku salah. Aku menghela nafas
panjang. Kenapa Gaska ?
Gaska melangkah santai ke atas genting
menyusulku dengan syal abu-abu di tangannya. Pasti mama yang mempersilahkannya
naik ke sini. Tanpa sapaan apapun Gaska merebahkan tubuhnya di sampingku.
“Kamu berubah, Del” kata Gaska straight to do
point. Aku membaca kemana arah pembicaraan ini.
“Semua manusia berubah, Gas. Apa yang salah ?”
kataku santai.
“Everything seems wrong now, Del” kata Gaska
menerawang.
“Aku sadar Gas aku bukan prioritas buat kamu.
Banyak hal yang harus kamu kejar. Kamu laki-laki dan aku perempuan. Selayaknya
aku jadi perempuan yang mendukung kamu dari belakang. Kamu sibuk. Aku
memberikanmu waktu menyelesaikan semuanya. Aku menghabiskan banyak waktuku
menunggumu selesai dengan kesibukanmu, Gas” jelasku.
“Tapi bukan berarti kamu menghilang gitu aja,
Del” tuntut Gaska.
“Aku ngga kemana-mana, Gas. Aku menunggu kabar
dari kamu. Aku belajar untuk tidak menganggumu dengan kesibukanmu itu. Kamu
bilang tak sempat mengabariku. Bahkan satu pesan singkat saja tak ada, Gas.
Tapi kamu sendiri sempat membalas pesan singkat perempuan lain” kataku getir
“Kamu cemburu, Del?” tanya Gaska.
“Entahlah, Gas. Ketika aku ditanya tentang
bagaimana perasaanku terhadapmu tak satupun kata muncul di otakku” jawabku
terus terang.
“Kamu ngga sayang lagi sama aku, Del?” Gaska
mulai tak sabaran.
“Hubungan kita hari ini ngga cuma sekedar
sayang, Gas. Aku dan kamu harus punya cara untuk saling mempertahankan dan
memperjuangkan. Tapi bahkan aku tak menemukan alasan untuk bertahan denganmu,
Gas” jelasku lagi. Kali ini aku mengubah posisiku. Duduk di samping Gaska.
Gaska tak lagi merebahkan tubuhnya.
“Tapi aku masih sayang kamu, Del”
“Seharusnya kamu kasih kabar, Gas. Bukannya
baru muncul sekarang.”
“Iya aku salah, maafin aku”
“Entahlah, Gas” kataku sembari beranjak turun
dari genting. Meninggalkan Gaska sendirian.
Gaska ikut turun menyusulku yang sudah berdiri
di belakang pagar. Segelas cokelat panasku kubawa serta. Padi di belakang rumah
sudah menguning. Mungkin dalam dua tiga hari lagi akan dipanen. Warna padi yang
menguning terlihat jelas oleh cahaya lampu di bawahku. Jalanan di depanku sudah
lengang sejak tadi. Gaska masih diam. Entah kebingungan macam apa yang mendera
kepalanya. Aku melihat siluetnya yang ragu-ragu untuk berdiri di sampingku.
Segelas cokelat panasku tersisa setengah saja.
Setengah bagian yang sebelumnya kuhabiskan untuk membunuh diam yang ada. Gaska
selalu begini. Membuatku makin tak paham harus melakukan apa. Setidaknya
katakan ribuan alasan Gas biar aku tahu harus mengatakan apa. Sekalipun alasan
yang kamu berikan itu kebohongan. Keterdiamanmu ini membuatku makin sangsi
dengan kalimat-kalimatmu. Gaska masih diam. Syal abu-abu di tangannya sudah
berpindah di leherku. Gaska memakaikannya barusan.
“Terimakasih” kataku singkat tanpa membalas
tatapannya yang sedari tadi mengamatiku.
“Jelaskan dengan mudah Del apa yang sudah
terjadi biar aku paham. Kau tahu sendiri bagaimana laki-laki” kata Gaska
akhirnya. Aku terdiam. Sejak kapan Gaska jadi tak mengerti keadaan begini ?
“Kuulangi, Gas. Aku tahu aku bukan prioritas
buatmu. Aku tak menuntutmu memberiku kabar setiap detiknya dalam dua puluh
empat jam sehari. Begitu seterusnya hingga seminggu dalam hitungan bulan dan
tahun. Tapi alasanmu sibuk dua bulan terakhir sama sekali tak masuk akal
buatku. Ayolah Gas, seberapa sibuknya kamu sampai tak sempat memberiku kabar ?”
kataku panjang lebar. Mengubah tatapanku ke arahnya. Gaska memalingkan wajah.
Tuhan, Gaska sendiri terlalu banyak berubah.
“Setidaknya ajak aku berubah juga, Gas. Biar
salah satu dari kita tidak tertinggal di belakang dan hanya mampu menatap
punggung yang lainnya. Perasaan kita sama sekali bukan hanya pertimbangan utama
untuk terus bertahan. Aku sudah hendak menyerah padamu. Tapi aku sadar bukan
itu jawabannya. Sayangnya aku juga tak menemukan alasan untuk bertahan meski
aku ingin sekali menyerah, Gas” kataku sembari menatapnya. Gaska sendiri
terpaku pada jalanan lengang di hadapannya.
“Aku harus apa, Del?” tanya Gaska lemah.
“Entahlah, Gas. Tanyakan pada hatimu hendak
kamu bawa kemana ini semua. Perempuan sepertiku hanya bertugas menunjukkan
arah. Soal kemana kemudi akan diarahkan kembali pada laki-laki di belakang
kemudinya, Gas” jawabku.
“Lagipula tak selamanya berubah itu tak
menyenangkan Gas” lanjutku sambil melangkahkan kaki menuju tangga dan masuk ke
dalam rumah. Gaska terpaku di tempatnya.
Maaf, Gas. Aku dan kamu sudah banyak berubah.
Entah perubahan itu setara atau tidak. Entah perubahan itu nanti membawa kita
lebih kuat atau berpisah menjalani jalan masing-masing. Putuskan, Gas.
July,18th 2014