“Itu bibirnya ngga bisa ngga ditekuk gitu ? Manyun-manyun seenaknya.
Kamu kenapa sih ?” aku masih termangu menanggapi sebuah suara yang akrab di
telingaku. Masih bersandar pada pagar pembatas sungai di hadapanku. Sungai di
depanku juga bukan sungai yang bagus. Aliran airnya mampet dan terlalu banyak
daun kering mengapung diatasnya. Sebenarnya tidak nyaman berdiri sendirian
menunggunya disini. Tapi apa boleh buat. Toh ini tempat paling dekat yang bisa
kujangkau.
Tak berapa lama pemilik suara itu sudah berdiri disampingku. Meletakkan
lengannya di pagar pembatas. Menuntut perhatian dengan mengusap puncak kepalaku
dengan sebelah tangannya yang bebas. Rambutku berantakan. Dan ia selalu
tersenyum melihatku seperti ini. Aku menatapnya. Memiringkan sedikit kepalaku
dan menelusuri setiap inchi wajahnya. Ia tersenyum lagi sembari menggaruk
kepalanya lalu memalingkan muka. Masih saja seperti ini. Menjadi gugup
menghadapi tingkahku yang suka sekali memandangi wajahnya.
“Ngga kenapa-napa” jawabku kembali menatap sungai di depanku lagi.
“Lah terus kenapa manyun-manyun sendiri ?” Ia bertanya.
“Emang aku manyun-manyun sendiri mas ?” tanyaku padanya.
“Menurut kamu Adelin ?” ia melontarkan pertanyaan dengan jawaban yang
tak kumengerti. Dahiku berkerut menanggapi kalimatnya barusan. Ia tersenyum
lalu mengusap puncak kepalaku hangat.
“Kamu sering banget manyun-manyun sendiri” aku hanya ber-ooh ria tanpa bersuara.
“Mas juga hobi banget ngusap kepalaku sampe rambut aku berantakan”
“Oh ya ?” ia menjawab dengan pertanyaan lucu.
“Iya, we both have unconscious thing haha” kataku. Ia mengabaikan
kalimat terakhirku. Tak ambil pusing dan mengajakku duduk di bangku marmer
kesukaannya.
Benar. Dia satu tingkat di atasku. Senior yang senyumannya belakangan
jadi favorit. Polo shirt biru muda, jeans warna senada dan ransel hitam yang
melekat dengan sempurna di tubuhnya paling kusuka. Entah kenapa bisa jadi
penampilan mengesankan suatu hari. Hari itu aku sedang tak enak badan. Suhu
tubuhku naik. Imbas dari kegiatan yang kuikuti beberapa minggu terakhir ini.
Menyenangkan dan membuatku lupa bahwa tubuhku punya batas yang tidak bisa
dilanggar. Hari itu pula aku berada diantara suporter pertandingan futsal yang
tak lain teman-temanku sendiri dan para angkatan atas. Disanalah ia hari itu,
berdiri di pinggir lapangan lengkap dengan polo shirt biru muda dan jeans warna
senada. Minus ransel hitam yang selalu ia bawa kuliah. Ditambah tanda pengenal sebagai
panitia kompetisi futsal hari ini. Raut wajahnya serius mengamati pertandingan
yang berlangsung. Sekaligus menikmati apa yang ada dihadapannya. Sedikit
tersirat bahwa ia juga ingin masuk ke lapangan ketimbang harus berdiam diri
mengamati pertandingan.
Sejak hari itu pula aku hafal siapa dia. Sederhananya aku menyukainya.
Hanya karena senyumannya ada aliran hangat yang menjalar di dalam tubuhku.
Semua penat di dalamnya menjadi hilang begitu saja. Entah sejak kapan ia jadi
tahu aku. Aku tak pernah secara langsung memperkenalkan diri kepadanya. Ia juga
bukan senior yang banyak terlibat dengan kegiatan mahasiswa baru seperti
teman-temannya. Aku lebih sering melihatnya dengan teman sekelasnya ketimbang
terlibat untuk sekedar mengobrol bersama mahasiswa baru. Sampai pada suatu hari
dengan tak sengaja aku terlibat dengannya.
Aku duduk tepat dihadapannya. Sok fokus melipat kertas untuk paper bag
souvenir alumni. Aku sendiri yang sukarela terlibat dengan acara ini. Dia duduk
tepat dihadapanku. Fokus menempel stiker sambil sesekali memotong paper bag.
Aku menikmati keterdiamannya diantara obrolan seru teman-temannya disampingku.
Bukannya ia tak tertarik untuk menimpali tapi ia amat fokus dengan stiker di
depannya. Hanya sesekali ia mengeluarkan suara. Sekedar berkomentar dengan lagu
yang diputar temannya.
Aku benar-benar menikmati ini. Ia melihatku dan aku melihatnya. Sesekali
saling menatap tepat di manik mata masing-masing. Aku semakin menyukainya.
Hampir gila karena bisa duduk dihadapannya seperti ini. Konyol sekali memang.
Bahkan ia tak tahu siapa namaku. Meski aku tahu siapa namanya. Hari makin
beranjak begitu pula ia. Dengan santai memutuskan untuk naik ke lantai atas
bersama teman yang duduk disampingnya. Aku sendiri kecewa. Aku menghembuskan
nafas keras-keras. Ber-aah sedih tanpa mengeluarkan suara.
Setengah jam setelah ia beranjak aku masih disini. Berkutat dengan
berlembar-lembar kertas bahan paper bag. Aku mendengar suaranya. Ia mengambil
alih tempat kosong di depanku. Tersenyum lalu menyapaku.
“Masih banyak dek ?” katanya.
“Masih 30-an lagi mas” kataku. Jujur saja jantungku hampir lepas karena
pertanyaan sepele yang ia lontarkan.
“Aku bantuin lagi deh. Yang mau ditempelin stiker mana ?” Aku
mengulurkan beberapa paper bag setengah jadi kepadanya. Ia tersenyum lalu aku
membalas senyumannya. Ah dunia indah sekali hari ini.
“Oya, nama kamu ?”
“Adelin” jawabku. Singkat.
“aah Adelin. Manggilnya ?”
“As you please mas hehe. Biasanya sih dipanggil Adel atau ngga ya Adelin
gitu”
“Aku Hanif” Aku tau kok mas, batinku.
“Ah ya mas” kataku kehabisan kosakata.
Jangan ditanya seberapa bahagianya aku bisa dikenal olehnya. Aku pulang
dengan perasaan yang meluap. Merasa kelebihan energi untuk terpejam di malam
hari. Esok pagi aku harus kembali ke kampus untuk menyelesaikan tugasku sebagai
panitia temu alumni. Harusnya mas Hanif juga datang. Sekedar menyapa alumni dan
menyambut wisudawan. Kebetulan hari ini bertepatan dengan Graduation
Day. Tradisinya akan ada penyambutan dan pemberian souvenir untuk para
wisudawan. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh dua
menit. Aku belum melihat mas Hanif. Jujur saja kehadirannya termasuk salah satu
hal yang membuatku candu. Aku melihat sekeliling tapi hanya menemukan teman
akrabnya. Minus kehadiran mas Hanif. Mas Hanif datang atau tidak sebenarnya
bukan perkara besar buatku. Tugasku dengan acara temu alumni sama sekali tak
punya urusan dengannya. Hanya saja ini tak akan lengkap jika ia tak muncul
dihadapanku.
“Finally I see you” kataku pelan setelah melihat mas Hanif dari
kejauhan.
Sayangnya aku tak leluasa melihat gerak-geriknya karena tugasku yang
belum selesai. Aku terlarut dalam acara temu alumni. Sibuk mengambil beberapa
foto dan video untuk dokumentasi. Beberapa kali bolak-balik ruang panitia untuk
mengganti baterai kamera yang habis. Mas Hanif menghilang begitu saja.
Sampai di penghujung hari aku melihatnya lagi. Duduk di samping senior
perempuan yang aku lupa siapa namanya. Aku cukup senang melihatnya dari sini.
Ia beberapa kali melihatku sampai akhirnya mendekat untuk menghampiri temannya
yang lain yang kebetulan duduk di dekatku. Entah kenapa senangku hilang.
Mengingat betapa ia ingin sekali diambil gambarnya dengan seorang teman
perempuan. Baiklah, akan kupermudah aku cemburu. Ia hanya tersenyum melihatku melepaskan
sepatu setelah lelah berkeliling seharian ini.