Senin, 20 Oktober 2014

Intro -Blue Polo Series


“Itu bibirnya ngga bisa ngga ditekuk gitu ? Manyun-manyun seenaknya. Kamu kenapa sih ?” aku masih termangu menanggapi sebuah suara yang akrab di telingaku. Masih bersandar pada pagar pembatas sungai di hadapanku. Sungai di depanku juga bukan sungai yang bagus. Aliran airnya mampet dan terlalu banyak daun kering mengapung diatasnya. Sebenarnya tidak nyaman berdiri sendirian menunggunya disini. Tapi apa boleh buat. Toh ini tempat paling dekat yang bisa kujangkau.
Tak berapa lama pemilik suara itu sudah berdiri disampingku. Meletakkan lengannya di pagar pembatas. Menuntut perhatian dengan mengusap puncak kepalaku dengan sebelah tangannya yang bebas. Rambutku berantakan. Dan ia selalu tersenyum melihatku seperti ini. Aku menatapnya. Memiringkan sedikit kepalaku dan menelusuri setiap inchi wajahnya. Ia tersenyum lagi sembari menggaruk kepalanya lalu memalingkan muka. Masih saja seperti ini. Menjadi gugup menghadapi tingkahku yang suka sekali memandangi wajahnya.
“Kenapa ?” bibirnya mengerucut menanggapiku yang sedari tadi belum mengeluarkan kalimat apapun.
“Ngga kenapa-napa” jawabku kembali menatap sungai di depanku lagi.
“Lah terus kenapa manyun-manyun sendiri ?” Ia bertanya.
“Emang aku manyun-manyun sendiri mas ?” tanyaku padanya.
“Menurut kamu Adelin ?” ia melontarkan pertanyaan dengan jawaban yang tak kumengerti. Dahiku berkerut menanggapi kalimatnya barusan. Ia tersenyum lalu mengusap puncak kepalaku hangat.
“Kamu sering banget manyun-manyun sendiri” aku hanya ber-ooh ria tanpa bersuara.
“Mas juga hobi banget ngusap kepalaku sampe rambut aku berantakan”
“Oh ya ?” ia menjawab dengan pertanyaan lucu.
“Iya, we both have unconscious thing haha” kataku. Ia mengabaikan kalimat terakhirku. Tak ambil pusing dan mengajakku duduk di bangku marmer kesukaannya.

Benar. Dia satu tingkat di atasku. Senior yang senyumannya belakangan jadi favorit. Polo shirt biru muda, jeans warna senada dan ransel hitam yang melekat dengan sempurna di tubuhnya paling kusuka. Entah kenapa bisa jadi penampilan mengesankan suatu hari. Hari itu aku sedang tak enak badan. Suhu tubuhku naik. Imbas dari kegiatan yang kuikuti beberapa minggu terakhir ini. Menyenangkan dan membuatku lupa bahwa tubuhku punya batas yang tidak bisa dilanggar. Hari itu pula aku berada diantara suporter pertandingan futsal yang tak lain teman-temanku sendiri dan para angkatan atas. Disanalah ia hari itu, berdiri di pinggir lapangan lengkap dengan polo shirt biru muda dan jeans warna senada. Minus ransel hitam yang selalu ia bawa kuliah. Ditambah tanda pengenal sebagai panitia kompetisi futsal hari ini. Raut wajahnya serius mengamati pertandingan yang berlangsung. Sekaligus menikmati apa yang ada dihadapannya. Sedikit tersirat bahwa ia juga ingin masuk ke lapangan ketimbang harus berdiam diri mengamati pertandingan.
Sejak hari itu pula aku hafal siapa dia. Sederhananya aku menyukainya. Hanya karena senyumannya ada aliran hangat yang menjalar di dalam tubuhku. Semua penat di dalamnya menjadi hilang begitu saja. Entah sejak kapan ia jadi tahu aku. Aku tak pernah secara langsung memperkenalkan diri kepadanya. Ia juga bukan senior yang banyak terlibat dengan kegiatan mahasiswa baru seperti teman-temannya. Aku lebih sering melihatnya dengan teman sekelasnya ketimbang terlibat untuk sekedar mengobrol bersama mahasiswa baru. Sampai pada suatu hari dengan tak sengaja aku terlibat dengannya.
Aku duduk tepat dihadapannya. Sok fokus melipat kertas untuk paper bag souvenir alumni. Aku sendiri yang sukarela terlibat dengan acara ini. Dia duduk tepat dihadapanku. Fokus menempel stiker sambil sesekali memotong paper bag. Aku menikmati keterdiamannya diantara obrolan seru teman-temannya disampingku. Bukannya ia tak tertarik untuk menimpali tapi ia amat fokus dengan stiker di depannya. Hanya sesekali ia mengeluarkan suara. Sekedar berkomentar dengan lagu yang diputar temannya.
Aku benar-benar menikmati ini. Ia melihatku dan aku melihatnya. Sesekali saling menatap tepat di manik mata masing-masing. Aku semakin menyukainya. Hampir gila karena bisa duduk dihadapannya seperti ini. Konyol sekali memang. Bahkan ia tak tahu siapa namaku. Meski aku tahu siapa namanya. Hari makin beranjak begitu pula ia. Dengan santai memutuskan untuk naik ke lantai atas bersama teman yang duduk disampingnya. Aku sendiri kecewa. Aku menghembuskan nafas keras-keras. Ber-aah sedih tanpa mengeluarkan suara.
Setengah jam setelah ia beranjak aku masih disini. Berkutat dengan berlembar-lembar kertas bahan paper bag. Aku mendengar suaranya. Ia mengambil alih tempat kosong di depanku. Tersenyum lalu menyapaku.
“Masih banyak dek ?” katanya.
“Masih 30-an lagi mas” kataku. Jujur saja jantungku hampir lepas karena pertanyaan sepele yang ia lontarkan.
“Aku bantuin lagi deh. Yang mau ditempelin stiker mana ?” Aku mengulurkan beberapa paper bag setengah jadi kepadanya. Ia tersenyum lalu aku membalas senyumannya. Ah dunia indah sekali hari ini.
“Oya, nama kamu ?”
“Adelin” jawabku. Singkat.
“aah Adelin. Manggilnya ?”
“As you please mas hehe. Biasanya sih dipanggil Adel atau ngga ya Adelin gitu”
“Aku Hanif” Aku tau kok mas, batinku.
“Ah ya mas” kataku kehabisan kosakata.
Jangan ditanya seberapa bahagianya aku bisa dikenal olehnya. Aku pulang dengan perasaan yang meluap. Merasa kelebihan energi untuk terpejam di malam hari. Esok pagi aku harus kembali ke kampus untuk menyelesaikan tugasku sebagai panitia temu alumni. Harusnya mas Hanif juga datang. Sekedar menyapa alumni dan menyambut wisudawan. Kebetulan hari ini bertepatan dengan Graduation Day. Tradisinya akan ada penyambutan dan pemberian souvenir untuk para wisudawan. Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh dua menit. Aku belum melihat mas Hanif. Jujur saja kehadirannya termasuk salah satu hal yang membuatku candu. Aku melihat sekeliling tapi hanya menemukan teman akrabnya. Minus kehadiran mas Hanif. Mas Hanif datang atau tidak sebenarnya bukan perkara besar buatku. Tugasku dengan acara temu alumni sama sekali tak punya urusan dengannya. Hanya saja ini tak akan lengkap jika ia tak muncul dihadapanku.
“Finally I see you” kataku pelan setelah melihat mas Hanif dari kejauhan.
Sayangnya aku tak leluasa melihat gerak-geriknya karena tugasku yang belum selesai. Aku terlarut dalam acara temu alumni. Sibuk mengambil beberapa foto dan video untuk dokumentasi. Beberapa kali bolak-balik ruang panitia untuk mengganti baterai kamera yang habis. Mas Hanif menghilang begitu saja. Sampai di penghujung hari aku melihatnya lagi. Duduk di samping senior perempuan yang aku lupa siapa namanya. Aku cukup senang melihatnya dari sini. Ia beberapa kali melihatku sampai akhirnya mendekat untuk menghampiri temannya yang lain yang kebetulan duduk di dekatku. Entah kenapa senangku hilang. Mengingat betapa ia ingin sekali diambil gambarnya dengan seorang teman perempuan. Baiklah, akan kupermudah aku cemburu. Ia hanya tersenyum melihatku melepaskan sepatu setelah lelah berkeliling seharian ini.


 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template