Finally ini kelas terakhir yang harus kuikuti untuk
kuliah hari ini. Minus dengan tugas-tugas yang masih harus kukerjakan sepulang
kuliah ini. Minggu UTS makin dekat tapi tugas makin banyak. Sepertinya banyak
agenda yang harus kulakukan untuk persiapan UTS kali ini. Dosen mata kuliah
Aljabar Linear II berbaik hati hari ini, kuliah diakhiri lima menit lebih awal.
Aku bernafas amat lega mengingat jadwal kuliahku yang beruntun hari ini.
Sebenarnya tidak berat hanya saja dengan kondisiku yang kurang fit selesai
kuliah lebih awal melegakan juga.
Aku membereskan buku dan beberapa
alat tulis yang kugunakan selama kelas berlangsung tadi. Mendadak smartphone
dalam genggamanku bergetar. Menunjukkan sebuah chat masuk. Mas Hanif.
Aku tersenyum tanpa sadar melihat namanya tertera di layar smartphone-ku.
'Adelin selesai kelas jam berapa
hari ini ?' tulisnya di ruang chat.
'Harusnya jam lima mas tapi ini udah
selesai' jawabku. Aku urung keluar dari ruang kelas, menunggu balasan mas Hanif
di ruang chat yang ia ciptakan.
'Kamu dimana ?' tak sampai semenit
mas Hanif membalas chat-ku.
'masih di kelas mas, di ruang F. mas
Hanif dimana ?' tanyaku sekedar ingin tau. Chat terakhir hanya dibaca
tanpa dibalas.
Aku memandangi layar smartphone-ku
sekali lagi. Belum ada balasan dari mas Hanif di ruang chat yang ia
mulai terlebih dulu. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku
menunjukkan pukul lima tepat.
Pantas saja, mas Hanif pasti belum selesai
kuliah. Seringkali kuliahnya berakhir paling terlambat. Entah kenapa
dosen-dosennya senang sekali menahan lelakiku dan teman-temannya di kelas.
Aku beranjak dari kursi yang sedari
tadi kutempati. Menyambar jaket di bahu kursi, merogoh kunci motor di saku
celana lalu mengambil STNK yang kusimpan di dompet. 'Ah kelas sudah sepi
rupanya' batinku. Aku melangkah gontai ke arah lapangan parkir. Sedikit
kecewa dengan mas Hanif yang tidak membalas chat terakhirku. Sampai akhirnya
aku menemui sebuah tangan yang terulur di depanku dengan sneakers
abu-abu yang akrab serta aroma parfum maskulin yang belakangan jadi favorit.
“Suntuk gitu kenapa ? Segitunya chat
ngga dibales ?” Suara mas Hanif ! Seruku dalam hati. Benar saja, ia sudah
berdiri dengan tangan terulur di depanku. Aku menyembunyikan senyumku lalu
menyambut tanganya. Sekejap kemudian jemarinya sudah memenuhi sela jemariku.
Sedang tangannya yang lain meminta jaketku untuk ia bawa.
“Mind to go somewhere with me
?” mas Hanif bertanya. Aku mengerutkan dahi penasaran. Sesore ini akan kemana ?
“Kemana mas ?”
“Udah ikut aja, sebelum maghrib udah
balik kok. Kamu sudah sholat ashar kan ?” katanya. Aku mengangguk mengiyakan
sekaligus menjawab pertanyaannya. Mas Hanif mengajakku berjalan lebih cepat
sembari menggenggam jemariku lebih erat.
Tak sampai lima belas menit aku
sampai ke tempat yang dimaksud mas Hanif. Alisku bertaut kali ini. Gedung
perpustakaan kampus ? Mas Hanif, apa yang akan dia lakukan dengan mengajakku
kemari ? Mas Hanif membaca gelagatku yang penuh tanda tanya. Ia hanya tersneyum
meyakinkan bahwa ia tidak sedang mengajakku mendekati bahaya atau sesuatu
diluar nalar. Tanpa ragu mas Hanif menuntunku ke depan lift dan menekan tombol
masuk. Sampai di dalam lift mas Hanif tak berkata apa-apa. Sama sekali tak
melonggarkan genggaman jemarinya. Ia mengajakku ke lantai paling atas. Apa lagi
ini ? Aku masih belum paham dengan apa yang akan dia lakukan kali ini.
“Kita sudah sampai” katanya melepas
genggaman tangannya. Masih ada tangga yang harus dinaiki, ia menuntunku tanpa
berkata apa-apa.
Sore ini mas Hanif memberiku penutup
hari yang tidak kusangka. Senja dari lantai paling atas gedung perpustakaan
kampus. Aku terpaku menatap jingganya langit yang ia suguhkan hari ini saat aku
sendiri mulai lelah dengan hari yang aku jalani. Bahkan dari tempat ini aku
bisa melihat lingkaran sempurna matahari berwarna jingga yang hendak pulang ke
peraduan. Mas Hanif dalam diamnya menawarkan sebelah earphone kepadaku.
Aku memasangnya tanpa ekspresi tanda tanya seperti sebelumnya. Mas Hanif hanya
tersenyum menatapku lalu mengusap puncak kepalaku hangat. Ia sendiri sudah memakai
sebelah earphone yang lain di telinganya. Angin berhembus lumayan
kencang diatas sini. Refleks aku bersin karena tubuhku yang kurang fit. Mas
Hanif memakaikan jaketku yang sedari tadi ia bawa. Kali ini aku yang tersenyum
serta merta ingin menghambur ke dalam pelukannya tapi urung kulakukan.
Apa yang kini harus kulakukan
Wajahnya selalu ada dipikiran
Ooh tiba-tiba aku suka
Senyumnya selalu terbayang-bayang
Caranya bicara ooh aku suka
Dia punya semua pesona
Dia punya semua yang kudamba
Sosok yang cantik anggun menarik gerak menawan
Tutur cemerlang hati yang tulus tak bisa aku lewatkan
Sungguh ku cinta dia
Sungguh ku sayang dia
Dia sangat menggoda
Dia sempurna
Lagu yang mas Hanif putar lewat earphone mengalun pelan bersamaan
dengan angin yang berhembus. Aku diam-diam tersenyum dengan apa yang ia lakukan
buatku hari ini. Senja dan lagu milik Tulus yang judulnya jatuh cinta untuk
didengakan bersama. Aku tahu benar ia tak bisa bermain gitar sedang aku sendiri
suka dengan gitar. Aku juga tahu benar bahwa caranya mengungkapkan perasaan
sedikit berbeda. But somehow I love it just the way he express his feeling
to me. Kemudian pikiran jail muncul di kepalaku.
“Dia siapa mas ?” godaku. Mas Hanif diam dengan mimik lucu menatapku.
“Kamu” katanya singkat. Aku tersenyum dengan pipi merona. Mas Hanif yang
sedari tadi menatapku mengusap puncak kepalaku.
“Ngga perlu godain gitu, Del. Kamu iseng banget deh” katanya. Aku hanya
tersenyum menatapnya hangat. Entah kenapa angin yang berhembus tidak sedingin
tadi.
“Udah yuk, ntar kamu flu lagi” ajaknya sembari memenuhi jemari tanganku
seperti sebelumnya.