Kau
tahu apa yang tercipta dari setiap keterdiamanmu itu sayang? Atau aku
akan mencoba pertanyaan lain, apa yang kau buat dari senyap dalam
kepalamu? Apa yang kau wujudkan dari bungkamnya dirimu? Jawab aku
sayang, kali ini saja. Kupikir kau cukup lelah untuk menyimpan dan
memendam semua perasaanmu sendirian.
Kalau saja kau tidak mengatupkan
bibir cantikmu selama ini aku pasti sudah di sampingmu sekarang.
Jika kau mau mengeluarkan sedikit saja suaramu itu aku akan segera
berlari ke sampingmu. Kau
harusnya tau bahwa aku juga punya perasaan yang sama denganmu.
Tidakkah kau tahu itu?
Kupikir
perbincangan kita selama ini sudah cukup dalam dan mencakup banyak
hal. Kenyataannya tidak sejengkal pun aku mengenalmu dengan baik.
Kupikir dengan menunjukkan sedikit perhatianku kepadamu kau akan tahu
bahwa aku punya perasaan kepadamu. Sayang beribu sayang kau hanya
bisa diam dan bungkam. Apa selama ini kau sengaja menciptakan jarak
diantara kita? Sungguh aku berpikir bahwa kau hanya menganggapku
temanmu. Sekedar teman tanpa embel-embel apapun dibelakangnya.
Perempuan sungguh rumit untuk dimengerti.
Kau
ingat hari itu? Ketika kau hendak pulang ke rumah, oh maaf maksudku
ketika jam tambahan pelajaran sekolah usai dan hujan turun dengan
lebat? Hari di mana kau hanya duduk menanti hujan reda. Hujan hari
itu begitu lebatnya. Angin pun berhembus lumayan kencang. Cukup
berbahaya untuk berkendara sendirian dengan tubuh dan otak yang mulai
lelah. Senja mulai beranjak. Satu per satu teman kita sudah
meninggalkan sekolah. Kau dengan seragam putih abu-abumu yang mulai
basah terpercik hujan. Wajah lelah nan sayu kala itu serta tatapan
sendu yang khas milikmu.
Aku
melihatmu di antara percik hujan yang membasahi seragammu. Aku
menjinjing sepatuku yang mulai basah. Semoga kau ingat bagaimana
derasnya hujan hari itu hingga lantai-lantai sekolah tergenang air.
Kau masih saja duduk diam menatap hujan bersama seorang teman
perempuanmu. Entah apa yang kau bicarakan dengannnya. Tatapanmu
nampak menerawang. Bersinar lalu redup tiba-tiba. Apa yang kiranya
kau pikirkan hari itu? Apa yang membuatmu berbinar senang hingga
ingin melompat menyentuh langit lalu redup seakan jatuh menyelami
lautan dalam? Aku tidak tahu. Aku tak bisa menebaknya. Aku tak pandai
membaca pikiran. Apalagi pikiranmu.
Aku
menuruni tangga dengan hati-hati sembari berusaha menghilangkan
bayanganmu dalam pikiranku. Astaga! Aku
baru ingat hari itu kau sama
sekali tak membawa jaket. Apa hari itu kau kedinginan? Seorang
temanku mengikuti langkahku di belakang. Seorang teman ini sibuk
mengocehkan sesuatu yang tak kupahami. Lebih tepatnya tak kudengarkan
karena aku sibuk menata detak jantungku yang mendadak tak beraturan.
Ah ya, sebentar lagi aku akan melewati tempatmu. Tidak hanya
menatapmu dari depan kelasku tanpa kau tahu seperti tadi. Aku
mendengar suaramu di antara gemericik hujan. Samar tetapi
menenangkan. Aku tak tahu kenapa bisa seperti itu kalau kau tanya.
Aku
melewatimu dan kau diam saja. Sedang temanmu sudah memasang senyum
penuh artinya sesaat setelah mendapati kedatanganku. Seorang temanku
yang sedari tadi mengoceh tak jelas di belakangku, temanmu itu
menyapanya. Kau juga senang hati menyapanya. Lalu kenapa aku tidak?
Kau memusuhiku atau bagaimana? Aku tak habis pikir hingga aku
berbalik menatapmu yang kala itu memasang senyumanmu kepadanya.
Kenapa tak ada senyuman untukku juga? Kenapa hanya diam dan bungkam
yang kau ciptakan buatku?