Senin, 24 Agustus 2015

Diam – August 8, 2015



Kau tahu apa yang tercipta dari setiap keterdiamanmu itu sayang? Atau aku akan mencoba pertanyaan lain, apa yang kau buat dari senyap dalam kepalamu? Apa yang kau wujudkan dari bungkamnya dirimu? Jawab aku sayang, kali ini saja. Kupikir kau cukup lelah untuk menyimpan dan memendam semua perasaanmu sendirian.
Kalau saja kau tidak mengatupkan bibir cantikmu selama ini aku pasti sudah di sampingmu sekarang. Jika kau mau mengeluarkan sedikit saja suaramu itu aku akan segera berlari ke sampingmu. Kau harusnya tau bahwa aku juga punya perasaan yang sama denganmu. Tidakkah kau tahu itu?
Kupikir perbincangan kita selama ini sudah cukup dalam dan mencakup banyak hal. Kenyataannya tidak sejengkal pun aku mengenalmu dengan baik. Kupikir dengan menunjukkan sedikit perhatianku kepadamu kau akan tahu bahwa aku punya perasaan kepadamu. Sayang beribu sayang kau hanya bisa diam dan bungkam. Apa selama ini kau sengaja menciptakan jarak diantara kita? Sungguh aku berpikir bahwa kau hanya menganggapku temanmu. Sekedar teman tanpa embel-embel apapun dibelakangnya. Perempuan sungguh rumit untuk dimengerti.
Kau ingat hari itu? Ketika kau hendak pulang ke rumah, oh maaf maksudku ketika jam tambahan pelajaran sekolah usai dan hujan turun dengan lebat? Hari di mana kau hanya duduk menanti hujan reda. Hujan hari itu begitu lebatnya. Angin pun berhembus lumayan kencang. Cukup berbahaya untuk berkendara sendirian dengan tubuh dan otak yang mulai lelah. Senja mulai beranjak. Satu per satu teman kita sudah meninggalkan sekolah. Kau dengan seragam putih abu-abumu yang mulai basah terpercik hujan. Wajah lelah nan sayu kala itu serta tatapan sendu yang khas milikmu.
Aku melihatmu di antara percik hujan yang membasahi seragammu. Aku menjinjing sepatuku yang mulai basah. Semoga kau ingat bagaimana derasnya hujan hari itu hingga lantai-lantai sekolah tergenang air. Kau masih saja duduk diam menatap hujan bersama seorang teman perempuanmu. Entah apa yang kau bicarakan dengannnya. Tatapanmu nampak menerawang. Bersinar lalu redup tiba-tiba. Apa yang kiranya kau pikirkan hari itu? Apa yang membuatmu berbinar senang hingga ingin melompat menyentuh langit lalu redup seakan jatuh menyelami lautan dalam? Aku tidak tahu. Aku tak bisa menebaknya. Aku tak pandai membaca pikiran. Apalagi pikiranmu.
Aku menuruni tangga dengan hati-hati sembari berusaha menghilangkan bayanganmu dalam pikiranku. Astaga! Aku baru ingat hari itu kau sama sekali tak membawa jaket. Apa hari itu kau kedinginan? Seorang temanku mengikuti langkahku di belakang. Seorang teman ini sibuk mengocehkan sesuatu yang tak kupahami. Lebih tepatnya tak kudengarkan karena aku sibuk menata detak jantungku yang mendadak tak beraturan. Ah ya, sebentar lagi aku akan melewati tempatmu. Tidak hanya menatapmu dari depan kelasku tanpa kau tahu seperti tadi. Aku mendengar suaramu di antara gemericik hujan. Samar tetapi menenangkan. Aku tak tahu kenapa bisa seperti itu kalau kau tanya.

Aku melewatimu dan kau diam saja. Sedang temanmu sudah memasang senyum penuh artinya sesaat setelah mendapati kedatanganku. Seorang temanku yang sedari tadi mengoceh tak jelas di belakangku, temanmu itu menyapanya. Kau juga senang hati menyapanya. Lalu kenapa aku tidak? Kau memusuhiku atau bagaimana? Aku tak habis pikir hingga aku berbalik menatapmu yang kala itu memasang senyumanmu kepadanya. Kenapa tak ada senyuman untukku juga? Kenapa hanya diam dan bungkam yang kau ciptakan buatku?
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template