Pukul
sepuluh malam lewat. Apa yang sedang kau lakukan? Kau, tentu saja
kau. Tunggu, di mana pun kau berada berhentilah sejenak dan dengarkan
setiap ucapanku kali ini. Ini akan panjang dan memakan waktu.
Jadi
apa pun yang sedang kau kerjakan tinggalkan saja dulu. Aku, sepertimu
larut dan hanyut terlalu jauh karena secangkir kopi di depanku.
Kuulangi,
pukul sepuluh malam lewat hari kamis tanggal dua puluh tiga Juli.
Entah sudah berapa ratus hari aku dan kamu tidak bertemu. Aku
berharap kamu memikirkanku setiap waktu dalam banyak hal. Sayangnya
aku tidak serajin itu memikirkanmu. Berjarak puluhan pergantian
purnama baru kali ini aku memikirkanmu di depan secangkir kopi hitam.
Sepertimu beberapa waktu yang lalu.
Cahaya
kuning yang temaram jadi satu-satunya penerangan di ruangan ini.
Puluhan batang rokok dinyalakan nyaris bersamaan. Cangkir-cangkir
kopi dihidangkan. Cangkir-cangkir kosong bergulir terus menerus
hingga pagi. Hingga si tuan rumah, pemilik kafe kehabisan stok kopi
di dapurnya. Gadis di
sampingku jadi satu-satunya perempuan yang bergabung denganku dan
teman-temanku. Apa kau berpikir bahwa gadis ini bukan gadis
baik-baik? Tidak seperti itu, dia berkerudung. Sama sepertimu.
Sahabatmu.
Ini
sudah pukul sepuluh lewat. Gadis di sampingku ini santai-santai saja
mendengarkan percakapan yang bergulir di meja sambil sesekali
memainkan telepon genggamnya. Apa dia memberitahumu tentang
kehadiranku? Kupikir begitu. Aku bahkan penasaran apa yang sedang
kalian perbincangkan. Lalu apa yang sedang kau lakukan? Bertopang
dagu di depan layartelepon genggammu menunggu balasan pesannya?
Mungkin begitu.
Kau
tahu abu vulkanik gunung Raung benar-benar menjadi belakangan ini.
Tapi temanmu ini masih santai saja. Ia bahkan menaiki sepeda
gunungnya ke tempat ini. Cangkir kopinya masih mengepulkan asap. Aku
tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan dengan percakapan tak tentu
di meja. Ia sudah berhenti mengirimimu pesan ya? Sepertinya begitu.
Aku sudah duduk di hadapannya jadi tak lagi bisa mencuri pandang
tentang apa yang kalian bicarakan. Mungkin kau sudah tidur malam ini.
Sudah pukul sebelas lewat.
Sekarang
pukul dua belas kurang delapan belas menit. Aku bertanya-tanya apa
yang sedang kau lakukan kalau kau masih terjaga saat ini. Apa kau
akan menunggu balasan pesanmu itu? Atau hanya diam di atas tempat
tidur dan menaikkan selimutmu hingga dagu? Aku tidak tahu. Aku
kehabisan ide. Cangkir-cangkir kopi di depanku membuatku terjaga
hingga tak tahu harus memikirkan apa.
Pukul
dua belas kurang lima belas menit. Aku sedang menghitung mundur
pergantian hari. Apa yang sedang kau lakukan? Aku tidak pernah
memikirkan ini sebelumnya tapi aku penasaran bagaimana rasanya
menjadi dirimu yang seringkali memikirkanku. Jika saja alam mau
berkonspirasi denganmu kita bisa bertemu. Mungkin itu yang biasanya
kau ucapkan setiap kali orang lain bertemu denganku bukannya kau.
Jika saja Tuhan menginjinkanmu dan mengubah sedikit takdirNya kita
bisa bertemu. Jika saja.
Kupikir
lambat laun aku menjadi sepertimu, terlarut dalam kombinasi heningnya
malam dan abu vulkanik gunung Raung hingga meracau di antara
secangkir kopi yang kunikmati sendiri.