Senin, 24 Agustus 2015

Over a coffee

Pukul sepuluh malam lewat. Apa yang sedang kau lakukan? Kau, tentu saja kau. Tunggu, di mana pun kau berada berhentilah sejenak dan dengarkan setiap ucapanku kali ini. Ini akan panjang dan memakan waktu.
Jadi apa pun yang sedang kau kerjakan tinggalkan saja dulu. Aku, sepertimu larut dan hanyut terlalu jauh karena secangkir kopi di depanku.
Kuulangi, pukul sepuluh malam lewat hari kamis tanggal dua puluh tiga Juli. Entah sudah berapa ratus hari aku dan kamu tidak bertemu. Aku berharap kamu memikirkanku setiap waktu dalam banyak hal. Sayangnya aku tidak serajin itu memikirkanmu. Berjarak puluhan pergantian purnama baru kali ini aku memikirkanmu di depan secangkir kopi hitam. Sepertimu beberapa waktu yang lalu.
Cahaya kuning yang temaram jadi satu-satunya penerangan di ruangan ini. Puluhan batang rokok dinyalakan nyaris bersamaan. Cangkir-cangkir kopi dihidangkan. Cangkir-cangkir kosong bergulir terus menerus hingga pagi. Hingga si tuan rumah, pemilik kafe kehabisan stok kopi di dapurnya. Gadis di sampingku jadi satu-satunya perempuan yang bergabung denganku dan teman-temanku. Apa kau berpikir bahwa gadis ini bukan gadis baik-baik? Tidak seperti itu, dia berkerudung. Sama sepertimu. Sahabatmu.
Ini sudah pukul sepuluh lewat. Gadis di sampingku ini santai-santai saja mendengarkan percakapan yang bergulir di meja sambil sesekali memainkan telepon genggamnya. Apa dia memberitahumu tentang kehadiranku? Kupikir begitu. Aku bahkan penasaran apa yang sedang kalian perbincangkan. Lalu apa yang sedang kau lakukan? Bertopang dagu di depan layartelepon genggammu menunggu balasan pesannya? Mungkin begitu.
Kau tahu abu vulkanik gunung Raung benar-benar menjadi belakangan ini. Tapi temanmu ini masih santai saja. Ia bahkan menaiki sepeda gunungnya ke tempat ini. Cangkir kopinya masih mengepulkan asap. Aku tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan dengan percakapan tak tentu di meja. Ia sudah berhenti mengirimimu pesan ya? Sepertinya begitu. Aku sudah duduk di hadapannya jadi tak lagi bisa mencuri pandang tentang apa yang kalian bicarakan. Mungkin kau sudah tidur malam ini. Sudah pukul sebelas lewat.
Sekarang pukul dua belas kurang delapan belas menit. Aku bertanya-tanya apa yang sedang kau lakukan kalau kau masih terjaga saat ini. Apa kau akan menunggu balasan pesanmu itu? Atau hanya diam di atas tempat tidur dan menaikkan selimutmu hingga dagu? Aku tidak tahu. Aku kehabisan ide. Cangkir-cangkir kopi di depanku membuatku terjaga hingga tak tahu harus memikirkan apa.
Pukul dua belas kurang lima belas menit. Aku sedang menghitung mundur pergantian hari. Apa yang sedang kau lakukan? Aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya tapi aku penasaran bagaimana rasanya menjadi dirimu yang seringkali memikirkanku. Jika saja alam mau berkonspirasi denganmu kita bisa bertemu. Mungkin itu yang biasanya kau ucapkan setiap kali orang lain bertemu denganku bukannya kau. Jika saja Tuhan menginjinkanmu dan mengubah sedikit takdirNya kita bisa bertemu. Jika saja.

Kupikir lambat laun aku menjadi sepertimu, terlarut dalam kombinasi heningnya malam dan abu vulkanik gunung Raung hingga meracau di antara secangkir kopi yang kunikmati sendiri. 
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template