Ritme
jantungku masih saja tak karuan padahal sudah lewat dua jam sejak
kejadian itu. Aku tidak lagi di auditorium. Aku sudah di kamar dan
sendirian tapi kenapa ritme jantungku masih berantakan begini?
Efeknya sungguh gila! Bahkan ciuman dan sentuhan yang diberikan
Levine tak pernah sampai sedahsyat ini. Oh ayolah Nat, dia hanya anak
ingusan umur delapan belas tahun, batinku mengejek. Iya dia masih
delapan belas tahun dan aku merasa bodoh karena meyukainya, balas
batinku.
Satu lagi, kau hanya mencium pipinya Nat bukannya melakukan
sesuatu yang lain, jangan bertingkah bodoh, ejek batinku.
“Argh”
geramku lalu menutup wajahku sendiri dengan bantal.
“Ada
sesuatu yang mengganggumu sayang?” suara itu! Itu pasti Levine!
Aku
menyingkirkan bantal yang menutupi wajahku. Terlihat sosok Levine di
depan pintu kamarku dengan posisi terbalik, kepalanya di bawah.
Bukannya dia sedang akrobat atau apa, aku saja yang sedang tidak
waras hingga menggantungkan kepalaku di sisi tempat tidur dan kakiku
di sisi lainnya. Levine tersenyum menatapku yang sedang kacau balau.
Dia pasti sudah paham kalau tunangannya ini sedang tidak waras.
Levine
melenggang santai lalu mengecup keningku pelan. Sapaan wajibnya sejak
ia pacaran denganku dua tahun yang lalu. Nah kan, kecupan Levine
tidak punya efek gila seperti yang dilakukan bocah delapan belas
tahun itu. Ritme jantungku juga tidak berubah meski aku membalas
kecupannya dengan cara yang sama seperti apa yang dilakukan Levine
barusan. Jauh berbeda. Sepertinya aku kacau balau hanya karena bocah
delapan belas tahun yang baru saja kutemui dua hari ini. Get back
to yourself Nat, batinku mengingatkan.
“Ada
sesuatu yang mengganggumu sayang?” tanya Levine lagi, kali ini ia
duduk di sisi tempat tidurku dan menatapku lekat. Aku suka sorot
matanya yang tenang dan mendamaikan itu.
“Sedikit”
jawabku. Aku sebenarnya agak ragu untuk menceritakannya tapi mau
bagaimana lagi. Aku harus menceritakannya pada seseorang atau aku
tidak akan tenang.
“Ada
apa? Kamu capek sepulang konferensi?” tanyanya lembut. Tangannya
membelai rambutku sayang.
“Tidak
juga” kataku.
“Lalu
ada apa?” tanyanya lagi. Levine mulai menghujaniku dengan kecupan
di pipi dan keningku. Levine membuatku geli.
“Hentikan
dulu” kataku sambil memukul dadanya pelan. Ia tersenyum lucu. Aku
ikut tersenyum melihatnya. Aku sungguh tak akan bosan melihatnya
tersenyum.
“Aku
bertemu seseorang” mulaiku.
“Dia
mengganggumu? Atau membuatmu tidak nyaman?” katanya. Levine yang
protektif, batinku. Aku hanya tersenyum lalu beranjak dan merangkum
wajahnya.
“Dengarkan
aku dulu” kataku lalu mengecup bibirnya singkat.
“Kamu
tahu tugasku mendampingi peserta kan? Dia baru delapan belas tahun.
Tampan dan menyenangkan. Penuh tujuan dan banyak kemauan. Hidupnya
terarah dan dia tahu apa yang dia mau. Itu sebabnya kukatakan dia
mengagumkan. Satu lagi, dia menjanjikan” jelasku. Levine menatapku
dengan tatapan 'lalu?'.
“Dia
bilang dia menyukaiku meski tanpa bahasa verbal yang biasa dikatakan
kebanyakan laki-laki” kataku ragu-ragu. Levine menatapku tak
percaya.
“Dia
bahkan mencium keningku” kataku lagi. Astaga! Sepertinya aku berhak
menerima penghargaan atas kejujuranku ini.
“Engg..
dia lumayan berani” komentarnya datar.
“Ritme
jantungku sama sekali tidak normal sayang” sesalku.
“Kamu
menyukainya?” tembaknya, aku mengangguk. Sekarang aku merasa bodoh.
“Aku
mencium pipinya sebelum ia pulang ke hotel, maaf” sesalku. Kau
jujur sekali Natasha, ejek batinku.
“Jadi
itu yang membuatmu kacau balau?” kata Levine datar. Wajahnya yang
lembut menghilang sudah. Aku menyesal menceritakannya. Kalau ia
meninggalkanku bagaimana?
“Look”
ia merangkum wajahku dengan tangannya.
“Kau
menggunakan bibirmu untuk mencium pipinya?” aku mengangguk tak
berani menatap matanya. Bisa saja ia marah kan?
“Nat,
look at me. Aku akan menghapus bekasnya. Begini caranya”
lalu ia mengecup bibirku sekilas.
“Itu
sih maumu saja” kataku lalu memukul lengannya. Ia tertawa. Aku
sebal setengah mati.
“Dengar
ya Natasha, dia masih terlalu muda untuk mencuri perhatianmu. Tapi
tenang saja, hatimu tak akan bisa dicurinya. Hatimu aman bersamaku”
katanya.
“Sejak
kapan seorang Levine ini pintar merayu? Kamu merayu gadis-gadis di
luar sana ya?” cibirku.
“Aku
serius. Dia terlalu muda dan kamu akan melupakannya” katanya
menenangkan lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku merasa jauh lebih
tenang sekarang. Kuharap perkataannya tadi benar, bocah itu terlalu
muda untuk menarik perhatianku.