Kamis, 10 September 2015

Muda


Ritme jantungku masih saja tak karuan padahal sudah lewat dua jam sejak kejadian itu. Aku tidak lagi di auditorium. Aku sudah di kamar dan sendirian tapi kenapa ritme jantungku masih berantakan begini? Efeknya sungguh gila! Bahkan ciuman dan sentuhan yang diberikan Levine tak pernah sampai sedahsyat ini. Oh ayolah Nat, dia hanya anak ingusan umur delapan belas tahun, batinku mengejek. Iya dia masih delapan belas tahun dan aku merasa bodoh karena meyukainya, balas batinku.
Satu lagi, kau hanya mencium pipinya Nat bukannya melakukan sesuatu yang lain, jangan bertingkah bodoh, ejek batinku.
Argh” geramku lalu menutup wajahku sendiri dengan bantal.
Ada sesuatu yang mengganggumu sayang?” suara itu! Itu pasti Levine!
Aku menyingkirkan bantal yang menutupi wajahku. Terlihat sosok Levine di depan pintu kamarku dengan posisi terbalik, kepalanya di bawah. Bukannya dia sedang akrobat atau apa, aku saja yang sedang tidak waras hingga menggantungkan kepalaku di sisi tempat tidur dan kakiku di sisi lainnya. Levine tersenyum menatapku yang sedang kacau balau. Dia pasti sudah paham kalau tunangannya ini sedang tidak waras.
Levine melenggang santai lalu mengecup keningku pelan. Sapaan wajibnya sejak ia pacaran denganku dua tahun yang lalu. Nah kan, kecupan Levine tidak punya efek gila seperti yang dilakukan bocah delapan belas tahun itu. Ritme jantungku juga tidak berubah meski aku membalas kecupannya dengan cara yang sama seperti apa yang dilakukan Levine barusan. Jauh berbeda. Sepertinya aku kacau balau hanya karena bocah delapan belas tahun yang baru saja kutemui dua hari ini. Get back to yourself Nat, batinku mengingatkan.
Ada sesuatu yang mengganggumu sayang?” tanya Levine lagi, kali ini ia duduk di sisi tempat tidurku dan menatapku lekat. Aku suka sorot matanya yang tenang dan mendamaikan itu.
Sedikit” jawabku. Aku sebenarnya agak ragu untuk menceritakannya tapi mau bagaimana lagi. Aku harus menceritakannya pada seseorang atau aku tidak akan tenang.
Ada apa? Kamu capek sepulang konferensi?” tanyanya lembut. Tangannya membelai rambutku sayang.
Tidak juga” kataku.
Lalu ada apa?” tanyanya lagi. Levine mulai menghujaniku dengan kecupan di pipi dan keningku. Levine membuatku geli.
Hentikan dulu” kataku sambil memukul dadanya pelan. Ia tersenyum lucu. Aku ikut tersenyum melihatnya. Aku sungguh tak akan bosan melihatnya tersenyum.
Aku bertemu seseorang” mulaiku.
Dia mengganggumu? Atau membuatmu tidak nyaman?” katanya. Levine yang protektif, batinku. Aku hanya tersenyum lalu beranjak dan merangkum wajahnya.
Dengarkan aku dulu” kataku lalu mengecup bibirnya singkat.
Kamu tahu tugasku mendampingi peserta kan? Dia baru delapan belas tahun. Tampan dan menyenangkan. Penuh tujuan dan banyak kemauan. Hidupnya terarah dan dia tahu apa yang dia mau. Itu sebabnya kukatakan dia mengagumkan. Satu lagi, dia menjanjikan” jelasku. Levine menatapku dengan tatapan 'lalu?'.
Dia bilang dia menyukaiku meski tanpa bahasa verbal yang biasa dikatakan kebanyakan laki-laki” kataku ragu-ragu. Levine menatapku tak percaya.
Dia bahkan mencium keningku” kataku lagi. Astaga! Sepertinya aku berhak menerima penghargaan atas kejujuranku ini.
Engg.. dia lumayan berani” komentarnya datar.
Ritme jantungku sama sekali tidak normal sayang” sesalku.
Kamu menyukainya?” tembaknya, aku mengangguk. Sekarang aku merasa bodoh.
Aku mencium pipinya sebelum ia pulang ke hotel, maaf” sesalku. Kau jujur sekali Natasha, ejek batinku.
Jadi itu yang membuatmu kacau balau?” kata Levine datar. Wajahnya yang lembut menghilang sudah. Aku menyesal menceritakannya. Kalau ia meninggalkanku bagaimana?
Look” ia merangkum wajahku dengan tangannya.
Kau menggunakan bibirmu untuk mencium pipinya?” aku mengangguk tak berani menatap matanya. Bisa saja ia marah kan?
Nat, look at me. Aku akan menghapus bekasnya. Begini caranya” lalu ia mengecup bibirku sekilas.
Itu sih maumu saja” kataku lalu memukul lengannya. Ia tertawa. Aku sebal setengah mati.
Dengar ya Natasha, dia masih terlalu muda untuk mencuri perhatianmu. Tapi tenang saja, hatimu tak akan bisa dicurinya. Hatimu aman bersamaku” katanya.
Sejak kapan seorang Levine ini pintar merayu? Kamu merayu gadis-gadis di luar sana ya?” cibirku.

Aku serius. Dia terlalu muda dan kamu akan melupakannya” katanya menenangkan lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku merasa jauh lebih tenang sekarang. Kuharap perkataannya tadi benar, bocah itu terlalu muda untuk menarik perhatianku.
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template