Kamis, 12 November 2015

Dear daddy

Dear daddy,
Selamat hari ayah, selamat hari papa atau apalah itu sebutannya. Terimakasih pada Google yang sudah mengingatkan pagi ini. It's almost six years, besok tanggal 13 November 2015 hari Jum'at. Semoga tidak seperti enam tahun yang lalu ya. I know I was calm back then but I know I'm trembling and teary so much. Bahkan sampai hari ini.
Selamat hari papa, pa. Maaf karena tidak sadar lebih cepat betapa 12 November itu bisa jadi sesensitif dan seberharga ini. Maaf karena tidak punya keberanian untuk mengucapkan hal-hal sepele tapi begitu berharga seperti terimakasih, minta maaf dan I love you sebelumnya. Manusia memang seringkali terlambat dalam kehidupannya. Apalagi kalau sudah menyangkut something priceless, disayangi, begitu berarti dan tidak dapat diganti. Sedihnya saya harus jadi salah satu dari kumpulan manusia itu. Tidak apa, bahkan nasi yang sudah menjadi bubur masih bisa dimakan jadi untuk kesadaran yang terlambat ini semoga bisa berakhir manis seperti bubur dengan suwiran ayam dan kacang goreng yang dinikmati perempuan cantik atau diberikan untuk pacarnya yang sedang sakit. Tetap punya arti.
Maaf pa, anak perempuanmu ini tidak punya keberanian yang cukup untuk memulai percakapan sederhana seperti anak-anak lain diluar sana. When I think about it again and again, kita hanya tidak punya obrolan yang asik untuk dibicarakan atau justru tidak ada yang mau mengalah untuk memulai duluan. You're not that scary dad hanya terlalu pendiam dan irit bicara sama seperti anak perempuannya ini.
I know you're good at talking and talking good too. Semoga anak perempuanmu ini begitu ya pa. Karena irit bicaranya sudah mendarah daging sejak lama dan baru menyadari bahwa irit bicara dan membicarakan hal yang penting saja. Selayaknya pengacara handal yang menyerang titik kelemahan lawan.
Maaf pa, anak perempuanmu ini tidak banyak bercerita seperti kebanyakan anak perempuan lainnya. Tidak pintar bercerita dan meminta nasihat seperti kebanyakan anak perempuan lainnya. Belum sempat menceritakan kegiatan sehari-harinya di sekolah, belum sempat menceritakan siapa cowok paling ganteng yang berhasil mencuri perhatian satu sekolahan dan dia sendiri, belum sempat membanggakan dengan pencapaian di sekolah. Anak perempuanmu ini, untuk waktu-waktu yang seringkali dilewatinya sendiri seringkali mendosa dengan berangan-angan mengobrol banyak denganmu tentang apa yang sudah ia lakukan sepanjang hari. Berbicara tak tentu sekedar melepaskan penatnya diantara panas kota Surabaya, tumpukan tugas, dosen yang menyebalkan, ajakan rapat yang menyita waktu juga teman-temannya yang kadang tidak waras. Kadang anak perempuanmu ini sibuk membayangkan bagaimana calon suaminya melamarnya atau pacarnya datang ke rumah ketika anak perempuanmu ini sudah mulai penat dengan kuliahnya.
Anak perempuanmu ini kadang menangis diam-diam karena iri dengan teman satu kosnya yang bisa seenaknya bercerita dan menelepon ayahnya. Bercerita dengan suara bangga dan bahagia tentang apa yang sudah dilakukannya. Kadangkala dengan suara pelan dan sabar menjelaskan sesuatu. Kadangkala dengan suara sendu dan lelah akibat penatnya dunia. Sedang anak perempuanmu ini hanya menatap langit-langit kamar kosnya tanpa selera sibuk bertanya-tanya sedang apa papanya di surga sana.
Anak perempuanmu ini masih iri dengan teman-temannya yang diam-diam berkirim pesan dengan ayah mereka. Sedang ia sendiri sibuk menatap layar ponselnya untuk main game. Usaha mengalihkan pikirannya yang sibuk berkelana dan air mata yang siap jatuh dalam satu kedipan mata.
Maaf pa, anak perempuanmu ini kadang banyak menuntut dalam diamnya. Sebenarnya sebungkus roti pisang cokelat, lekker atau sebungkus molen sudah menyenangkan hatinya. Juga dua potong sosis goreng tanpa saus. Atau lembar-lembar kertas yang sering dibelinya setiap malam minggu di alun-alun kota.
Maaf pa, belum mampu membanggakan sepenuhnya dengan pencapaian hari ini. You haven't told me even once, jadi anak perempuanmu ini tidak tahu. Tidak banyak percakapan yang bisa diputar. Hanya kegiatan yang berulang dan beragam. Tidak banyak kenangan yang bisa diputar, ingatan manusia tidak bertahan lama. Anak perempuanmu ini berharap papa bangga dengan apa yang dicapainya sekarang. Meski tidak banyak. Mungkin juga tidak semembanggakan anak perempuan yang lain.
Maaf pa, for cursing your daughter as jerk and bitch at the same time. Kenyataannya anak perempuanmu ini perlu didikan yang lebih tangguh biar ia tak mudah menangis dan menyalahkan orang lain. Bahwa amanah yang sedang diembannya saat ini bukan main-main dan ia bisa menghadapinya meski perlu rasionalitas dan stabilitas penuh untuk menyelesaikannya. Anak perempuanmu ini tengah merasa dirinya tidak lebih dari jerk karena belum mampu bertanggung jawab dengan apa yang dikerjakannya, terlalu banyak menyalahkan orang lain, lepas kendali, merasa lemah dan tidak mampu, banyak membenci orang dan entah apa lagi yang membuatnya cengeng dan nyaris ambruk belakangan ini. Anak perempuanmu ini tengah mengalami krisis motivasi, merasa tidak berguna, tidak memenuhi harapan orang lain dan banyak mengecewakan orang lain. Juga hal-hal yang tersimpan rapi di kepala cantiknya itu. Hal-hal yang dirinya sendiri yang tahu.
Terimakasih pa, untuk semua dedikasi yang sudah papa berikan selama papa ada di sini, menemani anak perempuan yang manja dan tidak ingin beranjak dewasa ini. Terimakasih sudah rajin menjadi ojek paling tahan menunggu anak sekolahan ini. Terimakasih sudah siap sedia dan mau jadi tempat bermanja-manja sewaktu sakit. Terimakasih sudah memberikan banyak hal tanpa pamrih dan tuntutan apapun buat anak perempuan yang kadang kurang bersyukur bahwa hidupnya cukup menyenangkan untuk dinikmati. Terimakasih sudah mau menikmati secangkir kopi tiap pagi dan sore selama di rumah, membuat anak perempuannya ini mengenal bagaimana menjerang air dan mengaduk kopi. Membuat anak perempuannya ini peka dan siap sedia kalau-kalau papa pulang dan kopi sudah di meja. Terimakasih sudah memperkenalkan lekker, roti pisang cokelat, molen pisang dan terang bulan yang sampai sekarang masih jadi kesukaan dan alasan untuk pulang. Alasan untuk mengenang dan berbahaga sendiri. Terimakasih sudah memperkenalkan betapa manis, segar dan menyenangkannya es blewah setiap buka puasa. Terimakasih sudah memperkenalkan buku sejak dini, menjadi anggota perpustakaan daerah dengan potret yang belum genap lima tahun di kartu catatan anggota. Terimakasih sudah mau berlelah-lelah pulang setiap sabtu sore dan jalan-jalan ke alun-alun kota entah bertiga atau berempat. Terimakasih untuk sepatu baru, tas baru dan peralatan sekolah baru lainnya setiap semester baru yang tidak semua anak bisa merasakannya. Terimakasih untuk ngabuburitnya dan jasa mengantar ke mana-mana. Terimakasih untuk semiran sepatu setiap Minggu sore hingga anak perempuanmu ini selalu tampil rapi Senin pagi. Terimakasih untuk tetap pulang ke rumah setiap Sabtu meski jaraknya tidak lagi dalam kota tapi berubah jadi Lumajang, Situbondo, Probolinggo bahkan Surabaya. Terimakasih sudah selalu pulang dan menyapa secangkir kopi anak perempuanmu ini. Terimakasih sudah mengajarkan bagaimana caranya berbagi dengan orang lain terutama saudara sendiri bagaimanapun menyebalkannya mereka. Terimakasih sudah menurunkan hati yang luas, tangan yang siap membantu, sifat dermawan yang tidak ada habisnya dan toleransi yang besar pula meski kadang tidak selalu menguntungkan juga.
Terimakasih sudah jadi pahlawan yang tidak kenal lelah dan menyerah meski akhirnya tumbang juga. Lagipula pahlawan belum resmi menyandang gelar kalau belum gugur di medan perang. Terimakasih sudah menghantarkan anak perempuan yang masih cengeng ini ke dunia dengan selamat dan bahagia masa kecilnya. Terimakasih sudah mendidik dan membahagiakannya dengan cara yang berbeda.
Maaf pa, anak perempuanmu ini belum rajin mengirimkan doa. Maaf pa, anak perempuanmu ini tiba-tiba sudah punya cita-cita bawa jodohnya ke depan pusara. Maaf pa, anak perempuanmu ini belum sempurna agamanya. Maaf pa, anak perempuanmu ini masih sering bikin kecewa mama dengan omongannya yang kadang diluar nalar anak perempuan lainnya.
Maaf pa, anak perempuanmu ini tiba-tiba sudah beranjak dewasa. Maaf karena tidak pandai bicara dan mengungkapkan perasaannya. Apalagi segala jenis I love you dan kawanannya buat papa.
Semoga nantinya makin pandai berdoa dan bikin bangga. Bisa bawa dua jagoan papa untuk pendidikan dan fasilitas yang lebih baik dari apa yang papa kasih ke anak perempuannya ini. Semoga nantinya tiap cita-cita bisa dibawa nyata ke dunia dan bikin bahagia. Semoga papa tenang di sana, dilipat gandakan kebaikannya, dihapuskan semua dosanya, diberi tempat terbaik di JannahNya. Aamiin ya rabbal al amin.

Anak perempuanmu,
Adheala Nathasya Wisaksono

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template