-Barangkali orang yang
tengah jatuh cinta paham benar bahwa yang mereka lakukan kadangkala tak masuk
akal, tak penting dan tak bisa dipercaya, barangkali juga kelakuannya amat
bodoh dan kekanakan. Barangkali pula mereka juga paham benar bahwa yang mereka
lakukan sudah menimbulkan senyum di wajah mereka, menyenangkan hari mereka atau
justru merusaknya.
Meminjam istilah yang digunakan Alexandra Rhea dalam
Twivortiare saya mencoba mendongengkan kisah seorang teman lama yang
bisa-bisanya tersenyum hanya karena mendengar sebuah nama.
Barangkali namanya adalah nama yang unik bagi seorang
Danisa. Tipikal nama yang gagah dan tak mudah dilupa sekelas Raditya atau
Aksara, mungkin juga semempesona nama Arjuna dalam kisah Mahabarata. Danisa
pikir ini baru pertama kali mendengar nama yang amat merdu di telinga. Nama yang
bisa membuatnya menahan nafas sebentar ketika mendengarnya. Namanya Yasa. Jelas
bukan nama yang umum di telinga Danisa. Bukan pula nama yang mudah
dilewatkannya begitu saja. Iya, Yasa teman semasa sekolah menengah atasnya.
Danisa tidak pernah berpikir bahwa seragam putih abu-abu
bisa jadi semenyenangkan itu untuk dipandang. Jika bukan Yasa yang memakainya
barangkali Danisa tak akan berpikir begitu. Dengan rambut acak-acakan, kulit
putih, manik mata cokelat tua, hidung mancung, alis tebal serta bibir merah
muda lalu sneakers hitam dan tas selempang cokelatnya. Danisa juga tak akan
menyangka bahwa hanya seorang Yasa yang bisa menyita perhatiannya begitu lama.
Danisa tidak pernah dekat dengannya. Hanya segala jenis
cerita yang ia dengar dari teman-temannya yang jadi penghibur serta pupuk yang
menyemai lebat perasaannya pada Yasa. Danisa tak pernah berani mendekat. Danisa
merasa tidak pantas karena Yasa yang nampak begitu tinggi dan tak terjangkau. Barangkali
hingga saat ini Danisa hanya butiran debu yang lewat dan tak menarik
perhatiannya. Barangkali pula Danisa sudah dilupakannya sejak lama. Sejak Yasa
tiba-tiba meminta maaf padanya beberapa hari menjelang ujian nasional.
Tidak banyak yang membuat Danisa bisa mengenang Yasa
selain kalimat-kalimat tak penting yang dilontarkan Yasa sewaktu mereka
mengobrol. Tentu bukan jenis obrolan seru yang lantas membuat mereka dekat dan
menjadi teman. Bukan jenis obrolan yang pantas dianggap kenangan manis. Bukan jenis
obrolan manis tapi bagi Danisa cukup membuatnya tersenyum senang sebentar.
Danisa memilih cara yang paling aman versinya dengan
melihat Yasa dari jauh. Menuliskan banyak hal tentangnya karena Danisa tak
pandai berdoa. Tak pandai memilih hadiah apa yang bisa diberikannya untuk Yasa.
Danisa memilih cara yang aman versinya dengan berdiam diri dan menyimpan
perasaannya sekian lama. Barangkali pula ini cara yang paling egois karena
Danisa tak mau sakit hati. Barangkali pula ini cara Dania melindungi diri
sendiri.
Bagi Danisa melihat Yasa datang ke sekolah setiap pagi
adalah hal yang menyenangkan. Menatap siluet Yasa di pagi hari dari lantai dua
sekolahnya bisa jadi alasan untuk membuatnya tersenyum sepanjang hari. Sekedar berpapasan
di lapangan sekolah bisa membuatnya lupa bahwa ia tidak bisa mengerjakan ujian
yang diberikan gurunya. Menatap Yasa barangkali bisa menumpas segala jenis kesedihan
di hatinya belakangan ini. Mengingat Yasa membuat kantuknya hilang.
Yasa serta perubahannya kadang kala membuatnya tidak
habis pikir. Barangkali sudah hampir empat tahun Danisa tak bertemu dengannya. Sayangnya
meski waktu terus berjalan dan banyak hal yang terjadi Danisa belum juga lupa. Belakangan
ketika hatinya remuk redam, kabar tentang Yasa bisa jadi satu alasan tak
penting yang membuatnya tersenyum seharian. Meski Danisa sempat mencari yang
lain, Yasa tetap jadi tempatnya berteduh ketika hatinya patah. Yasa bisa jadi
alasan. Yasa masih bisa jadi alasan meski pertemuan itu tak kunjung datang.
Hujan dan cokelat panas adalah hal yang disukai Danisa.
Hari itu hujan deras, Danisa pulang ketika hujan sedikit reda. Begitupula dengan
Yasa. Hujan turun lagi ketika Danisa melihat Yasa duduk diboncengan temannya. Hari
itu, Danisa berharap Yasa tak jatuh sakit karena hujan. Hari itu pula Danisa
tahu bahwa Yasa suka cokelat panas disamping bola basket, gitar, komik dan
hal-hal yang berbau Jepang.
Sore tadi diantara percakapan kami tentang Yasa dia
berkata. Kadangkala aku merasa bodoh. Ketika kutanya kenapa, dia hanya menjawab,
bahkan hanya mendengar namanya saja aku tersenyum sendiri. Maybe those trivial
things may slap a smile on their faces when they’re in love, simpulku. Dan barangkali
pula banyak hal diluar nalar dilakukan orang yang tengah jatuh cinta. Barangkali
memang begitu.
Danisa, di tahun keduanya berkuliah sadar bahwa Yasa juga
tengah berkuliah di kota yang sama dengannya. Hanya saja Yasa tengah berada di
tahun pertamanya. Danisa tersenyum mengetahuinya. Meski kadangkala khawatir
dengan lingkungan Yasa yang amat jauh berbeda dengannya. Diam-diam Danisa
menulis agar Yasa tidak terpengaruh lingkungannya. Agar Yasa tidak terbawa
pengaruh buruk. Agar Yasa mantap dengan agamanya. Itu saja.
Sore tadi diantara percakapanku dengan Danisa, aku
mendapatinya berada dalam suasana hati yang baik. Aku bahkan bisa
membayangkannya tersenyum setelah aku menceritakan bagaimana Yasa banyak
berubah sejauh ini. Yasa bukan lagi bocah laki-laki manja. Barangkali Yasa
sudah berubah jadi laki-laki yang punya prinsip dan pertimbangan matang. Perencanaan
masa depan yang sesuai. Tindakan yang menunjukkan bahwa dia jauh lebih dewasa
dan banyak lagi. Barangkali jika Tuhan tengah berbaik hati, Ia akan mengijinkan
Yasa bertemu Danisa secara kebetulan. Meski Danisa tahu bahwa Yasa tak ada
perasaan apapun padanya, barangkali sebuah pertemanan yang menyenangkan bisa
terjalin diantara mereka.
Danisa bilang ia hanya butiran debu jika dibandingkan
dengan Yasa. Jika dibandingkan dengan segala jenis perempuan yang pernah
mendekati Yasa. Danisa bilang ia bukan apa-apa.