Rabu, 11 Januari 2017

(That) Significant Others



-Barangkali orang yang tengah jatuh cinta paham benar bahwa yang mereka lakukan kadangkala tak masuk akal, tak penting dan tak bisa dipercaya, barangkali juga kelakuannya amat bodoh dan kekanakan. Barangkali pula mereka juga paham benar bahwa yang mereka lakukan sudah menimbulkan senyum di wajah mereka, menyenangkan hari mereka atau justru merusaknya.


            Meminjam istilah yang digunakan Alexandra Rhea dalam Twivortiare saya mencoba mendongengkan kisah seorang teman lama yang bisa-bisanya tersenyum hanya karena mendengar sebuah nama.
            Barangkali namanya adalah nama yang unik bagi seorang Danisa. Tipikal nama yang gagah dan tak mudah dilupa sekelas Raditya atau Aksara, mungkin juga semempesona nama Arjuna dalam kisah Mahabarata. Danisa pikir ini baru pertama kali mendengar nama yang amat merdu di telinga. Nama yang bisa membuatnya menahan nafas sebentar ketika mendengarnya. Namanya Yasa. Jelas bukan nama yang umum di telinga Danisa. Bukan pula nama yang mudah dilewatkannya begitu saja. Iya, Yasa teman semasa sekolah menengah atasnya.
            Danisa tidak pernah berpikir bahwa seragam putih abu-abu bisa jadi semenyenangkan itu untuk dipandang. Jika bukan Yasa yang memakainya barangkali Danisa tak akan berpikir begitu. Dengan rambut acak-acakan, kulit putih, manik mata cokelat tua, hidung mancung, alis tebal serta bibir merah muda lalu sneakers hitam dan tas selempang cokelatnya. Danisa juga tak akan menyangka bahwa hanya seorang Yasa yang bisa menyita perhatiannya begitu lama.
            Danisa tidak pernah dekat dengannya. Hanya segala jenis cerita yang ia dengar dari teman-temannya yang jadi penghibur serta pupuk yang menyemai lebat perasaannya pada Yasa. Danisa tak pernah berani mendekat. Danisa merasa tidak pantas karena Yasa yang nampak begitu tinggi dan tak terjangkau. Barangkali hingga saat ini Danisa hanya butiran debu yang lewat dan tak menarik perhatiannya. Barangkali pula Danisa sudah dilupakannya sejak lama. Sejak Yasa tiba-tiba meminta maaf padanya beberapa hari menjelang ujian nasional.
            Tidak banyak yang membuat Danisa bisa mengenang Yasa selain kalimat-kalimat tak penting yang dilontarkan Yasa sewaktu mereka mengobrol. Tentu bukan jenis obrolan seru yang lantas membuat mereka dekat dan menjadi teman. Bukan jenis obrolan yang pantas dianggap kenangan manis. Bukan jenis obrolan manis tapi bagi Danisa cukup membuatnya tersenyum senang sebentar.
            Danisa memilih cara yang paling aman versinya dengan melihat Yasa dari jauh. Menuliskan banyak hal tentangnya karena Danisa tak pandai berdoa. Tak pandai memilih hadiah apa yang bisa diberikannya untuk Yasa. Danisa memilih cara yang aman versinya dengan berdiam diri dan menyimpan perasaannya sekian lama. Barangkali pula ini cara yang paling egois karena Danisa tak mau sakit hati. Barangkali pula ini cara Dania melindungi diri sendiri.
            Bagi Danisa melihat Yasa datang ke sekolah setiap pagi adalah hal yang menyenangkan. Menatap siluet Yasa di pagi hari dari lantai dua sekolahnya bisa jadi alasan untuk membuatnya tersenyum sepanjang hari. Sekedar berpapasan di lapangan sekolah bisa membuatnya lupa bahwa ia tidak bisa mengerjakan ujian yang diberikan gurunya. Menatap Yasa barangkali bisa menumpas segala jenis kesedihan di hatinya belakangan ini. Mengingat Yasa membuat kantuknya hilang.
            Yasa serta perubahannya kadang kala membuatnya tidak habis pikir. Barangkali sudah hampir empat tahun Danisa tak bertemu dengannya. Sayangnya meski waktu terus berjalan dan banyak hal yang terjadi Danisa belum juga lupa. Belakangan ketika hatinya remuk redam, kabar tentang Yasa bisa jadi satu alasan tak penting yang membuatnya tersenyum seharian. Meski Danisa sempat mencari yang lain, Yasa tetap jadi tempatnya berteduh ketika hatinya patah. Yasa bisa jadi alasan. Yasa masih bisa jadi alasan meski pertemuan itu tak kunjung datang.
            Hujan dan cokelat panas adalah hal yang disukai Danisa. Hari itu hujan deras, Danisa pulang ketika hujan sedikit reda. Begitupula dengan Yasa. Hujan turun lagi ketika Danisa melihat Yasa duduk diboncengan temannya. Hari itu, Danisa berharap Yasa tak jatuh sakit karena hujan. Hari itu pula Danisa tahu bahwa Yasa suka cokelat panas disamping bola basket, gitar, komik dan hal-hal yang berbau Jepang.
            Sore tadi diantara percakapan kami tentang Yasa dia berkata. Kadangkala aku merasa bodoh. Ketika kutanya kenapa, dia hanya menjawab, bahkan hanya mendengar namanya saja aku tersenyum sendiri. Maybe those trivial things may slap a smile on their faces when they’re in love, simpulku. Dan barangkali pula banyak hal diluar nalar dilakukan orang yang tengah jatuh cinta. Barangkali memang begitu.
            Danisa, di tahun keduanya berkuliah sadar bahwa Yasa juga tengah berkuliah di kota yang sama dengannya. Hanya saja Yasa tengah berada di tahun pertamanya. Danisa tersenyum mengetahuinya. Meski kadangkala khawatir dengan lingkungan Yasa yang amat jauh berbeda dengannya. Diam-diam Danisa menulis agar Yasa tidak terpengaruh lingkungannya. Agar Yasa tidak terbawa pengaruh buruk. Agar Yasa mantap dengan agamanya. Itu saja.
            Sore tadi diantara percakapanku dengan Danisa, aku mendapatinya berada dalam suasana hati yang baik. Aku bahkan bisa membayangkannya tersenyum setelah aku menceritakan bagaimana Yasa banyak berubah sejauh ini. Yasa bukan lagi bocah laki-laki manja. Barangkali Yasa sudah berubah jadi laki-laki yang punya prinsip dan pertimbangan matang. Perencanaan masa depan yang sesuai. Tindakan yang menunjukkan bahwa dia jauh lebih dewasa dan banyak lagi. Barangkali jika Tuhan tengah berbaik hati, Ia akan mengijinkan Yasa bertemu Danisa secara kebetulan. Meski Danisa tahu bahwa Yasa tak ada perasaan apapun padanya, barangkali sebuah pertemanan yang menyenangkan bisa terjalin diantara mereka.
            Danisa bilang ia hanya butiran debu jika dibandingkan dengan Yasa. Jika dibandingkan dengan segala jenis perempuan yang pernah mendekati Yasa. Danisa bilang ia bukan apa-apa.
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template