“Yuk ganti baju, Sa” katanya setelah menerima
panggilan telepon barusan. Aku yang tengah duduk di depan televisi menatapnya
penuh tanda tanya.
“Mau kemana?” tanyaku.
“Yuk deh ikut aja” jawabnya. Aku hanya
mengangguk lalu mengganti pakaian rumahanku sesuai permintaannya.
Bayu
jelas bukan orang yang banyak bicara. Tapi tindakannya membuatmu yakin tentang
apa yang ia rasakan padamu. Aku tidak pernah menyangka bisa menikah dengannya
tentu saja. Terlepas dari betapa pasrahnya ceritaku pada Tara beberapa bulan
lalu in our super casual tea time. So our newly wed life tidak banyak diisi
dengan percakapan seperti pasangan lainnya. Selain Bayu yang tidak banyak
bicara aku juga bukan orang yang pintar menginisiasi percakapan kecuali aku
sudah benar-benar nyaman. Bukannya Bayu tidak membuatku nyaman, hanya saja
sepertinya aku butuh beberapa waktu untuk membiasakan diri melihatnya setiap
waktu. Juga meyakinkan diri bahwa tujuh tahun yang kuhabiskan untuk memendam
perasaanku padanya tidak sia-sia dan jadi istrinya bukan mimpi belaka.
Aku
dan Bayu tengah menanti bus kota untuk menuju suatu tempat. Bayu sama sekali
tidak memberitahuku apapun tentang kemana kami akan pergi. Ketika sebuah bus
kota berhenti, Bayu hanya menggandengku dan mengajakku naik dengan senyuman di
wajahnya. Entah berapa lama yang kami habiskan dalam bus kota sampai akhirnya
bus yang kami tumpangi berhenti di sebuah halte bus yang lain. Aku sama sekali
tidak akrab dengan tempat baru. Apalagi dengan Seoul yang jadi tempat tinggal
Bayu dua tahun belakangan ini. Kesibukannya sebagai konsultan perencanaan
keuangan membuatnya pindah ke Seoul dan turut serta membawaku kemari satu bulan
terakhir ini sebagai istrinya. Bahkan karena kesibukannya itu pernikahan kami
dilangsungkan di sini.
This place is so good of course. Hanya
saja belum banyak yang bisa kulakukan di sini karena keasinganku pada tempat
baru dan Bayu yang tidak bisa menemaniku jalan-jalan. Beberapa hari sebelum
pernikahanku cukup menyenangkan karena Tara dan Yasa datang kemari hanya untuk
membantu persiapan pernikahan kami. Tapi tetap saja aku tak bisa menghabiskan
banyak waktu karena persiapan pernikahan kami. Ketika segala hal yang berkaitan
dengan pernikahan selesai giliran Tara dan Yasa yang harus pulang ke Indonesia
karena tugas mereka di sini sudah selesai. Padahal kupikir aku bisa meminjam
Tara sebentar untuk menemaniku berkeliling di sini. So only those excitement left now.
Bayu
yang sedari tadi diam dan menggandengku ketika berjalan tiba-tiba berhenti.
Sebuah pelataran gedung besar dipenuhi begitu banyak pasangan yang tengah
mengantri untuk masuk. Kuduga seperti itu. Beberapa dari mereka tengah
melakukan wawancara di depan kamera. Beberapa sibuk mengambil foto.
“Yuk Sa” kata Bayu mengajakku kembali berjalan
menuju pintu masuk gedung besar di depanku. Sekilas tertangkap mata ini gedung
MBC. Oh MBC saluran televisi yang biasa menayangkan drama kesukaan Tara itu ya?
Eh ini MBC? Harusnya Tara ikut kesini.
“Bay kita mau ngapain sih kesini?” tanyaku
memecah keheningan di dalam lift. Bayu yang kutanya seperti itu hanya menatapku
dengan senyuman tenang dan genggaman tangannya yang makin erat mengisi
jemariku.
Lift
berhenti di lantai 4 gedung. Bayu dan genggaman tangannya sama sekali tak
melepaskanku. Juga tetap tidak ada jawaban yang ia berikan padaku. Lantai ini
sepertinya berisi ruang kerja staff. Lorong panjangnya membuatku bertanya-tanya
berapa banyak orang yang bekerja di lantai ini. Diantara pertanyaanku yang
tidak dijawab Bayu aku mulai membayangkan siapa saja yang pernah kemari and who I may bumped into in this building.
Who knows that I may meet Yonghwa today? Pikiran semacam itu membuatku
tersenyum sendiri.
“Tunggu sini bentar ya, Sa. Aku ketemu temen
bentar” pamitnya sembari melepas genggamannya pada tanganku. Aku mengangguk
patuh. Tak ada lima menit aku menunggu Bayu sudah kembali dan mengajakku
berjalan kembali.
“Udah ketemu temennya?” tanyaku.
“Udah”
“Terus sekarang kita kemana?”
“Nonton ini”
Jawabannya
tadi tetap saja tidak menyelesaikan seluruh tanda tanya di kepalaku. Aku tidak
sempat lagi bertanya lebih lanjut karena seorang staff meminta kami untuk duduk
di bangku penonton. Kalau aku tidak salah ingat, ini studio yang biasa
digunakan acara Duet Song Festival. Beberapa penyanyi akan berkolaborasi dengan
tujuan mencapai skor tertentu. Fungsi penonton di sini tentu saja memberikan
penilaian dengan voter yang diberikan staff. Aku hanya tersenyum pada Bayu yang
tiba-tiba membawaku ke sini padahal hari ini bisa ia manfaatkan untuk
mengerjakan beberapa proyeknya atau beristirahat di apartemen kami.
Tak
beberapa lama setelah acara dimulai seorang MC yang tak asing buatku muncul di
depan mata. Setahuku pemandu acara Duet Song Festival seorang penyanyi ballad
bersuara merdu yang biasa mengisi soundtrack drama kesukaan Tara, Sung Si
Kyung. Tapi kenapa hari ini yang muncul Yoo Jae Suk? Aku menatap Bayu penuh
tanda tanya tapi aku tahu bahwa ia tidak akan memberikan jawaban apapun pada
pertanyaanku kali ini. Well I know the
answer kenapa hari ini Yoo Jae Suk karena studio ini dipinjam untuk syuting
Infinity Challenge Wedding Singers Special. Dan yang lebih menyenangkan lagi
Jung Yonghwa juga berada di sini. I get
excited at times even I don’t fully understand what they say. But seeing
Yonghwa itself is exciting right.
They’re performing one by one and I am
getting more excited. Aku menyadari bahwa orang-orang yang mengantri di
pelataran tadi merupakan pasangan yang akan menikah dan menonton acara ini
untuk memberikan penilaian sama denganku. Tapi aku tetap tak paham kenapa aku
bisa berada di kursi paling depan panggung bersama Bayu yang sepertinya juga
menikmati acara ini. Yonghwa bersama Kwang Hee, Lee Joon dan Doo Joon mendapat
urutan ketiga. Rasanya aku ingin melompat sembari menikmati penampilan mereka.
Kebanyakan penonton perempuan di sini berteriak girang melihat penampilan yang
diberikan The Wedding Boys. Bayu yang sedari tadi menurutku menikmati acara ini
menggenggam tanganku dan terseyum. Feels
like those seven years means nothing than his precious smile to me right now.
“Are
you happy?” tanyanya ketika Yonghwa melantunkan bait-bait yang berbunyi would you marry me. Aku mengangguk. Aku bahagia tentu saja.
“It’s good than” katanya sembari
menarikku ke dalam pelukannya sebentar.
Penonton
makin histeris ketika The Wedding Boys menampilkan tarian meriah mereka di
panggung. Aku menatap barisan penonton di samping Bayu yang tengah histeris
karena penampilan The Wedding Boys lalu ikut tersenyum. Aku tidak pernah
membenci keramaian seperti ini. Menurutku ini menyenangkan. Tapi barangkali
tidak lagi hanya menyenangkan ketika aku tak sengaja menatap mata Bayu yang
tengah duduk di sampingku. Tatapanku bersirobok dengannya dan entah bagaimana jelasnya
ia tahu-tahu sudah mendekatkan wajahnya padaku lalu menciumku cepat. Menyisakan
debaran yang jauh lebih kencang ketika aku tak sengaja menatap matanya semasa
sekolah dulu. Aku menunduk malu karena perlakuan Bayu barusan. Samar aku
mendengarnya tertawa kecil setelah menciumku lalu menarik kepalaku untuk
bersandar pada bahunya. And I’ll say it
once again that those seven years really pays off.
August, 1st 2017