Sabtu, 29 Juli 2017

#SembariNerjemahinPaper: Raisa’s Man


It was really our casual tea time. Jadi banyak hal tidak terduga yang bisa Raisa ceritakan padaku dan banyak hal yang dapat kuceritakan padanya. Cerita kami kadang nampak lebih berat dari hutang pemerintah. Kadang kala malah tidak penting seperti jam berapa kami bangun. Atau malah amat sangat penting seperti darimana ayam-ayam MCD dibeli. Rasanya seperti melihat air mengalir kalau sudah mendengar cerita kami. Tidak ada yang mau berhenti kalau belum ada telepon dari para suami. Well we both married by the way.
Pertemuanku dengan mas Yasa tentu saat jaman sekolah dulu. Cerita menarik tentang aku dan mas Yasa bagi seorang Raisa adalah bagaimana Yasa mendekati ibuku dua tahun sebelum ia melamarku. Kata Raisa hari itu, that’s really sweet in any way and he’s a manner man dan bahwa Raisa yang juga teman Yasa tidak tahu bahwa Yasa punya sisi seperti itu dalam dirinya.
Bagiku yang saat ini tiba-tiba teringat Raisa, yang paling seru dari ceritanya adalah bagaimana harapannya dijawab Tuhan. Ada salah satu our casual tea time yang isinya banyak hal tentang harapan Raisa. Hari itu sama seperti hari Sabtu di minggu-minggu lainnya. I was a newly wed dan mas Yasa paham benar bahwa this casual tea time means a lot to me jadi ia mengantarku ke salah satu café while he’s on his weekend meeting. Hari itu satu-satunya hari di mana Raisa bisa melarikan diri dari tumpukan analisis keuangan akhir bulan di meja kerjanya.
Raisa yang baru bisa melarikan diri sore itu tetap tersenyum seperti ia yang biasanya meski lelah dari matanya tidak bisa ia sembunyikan. Aku memeluknya sebentar dan ia balas memelukku. Senyumannya mengembang dengan cepat ketika menemui segelas cokelat panas sudah ada di meja. There was so many things that we talked about that day, tapi yang paling membuatku diam adalah ceritanya dan sepenggal percakapan kami.
What’s so good about marriage, Ta?
Isn’t the life companion itself is good?
Think so. Ada kalanya pas gue beneran capek begini gue pengen pulang. But I don’t know where the home is.
Guess home is what you need. Mulai sadar butuh suami lo?
Kampret. Gue punya banyak definisi tentang apa yang gue butuhin. Soal suami juga banyak definisi yang gue sebutin. Baiknya lagi ada satu orang yang paling mendekati kriteria ini. Dia baik, agamanya baik, ganteng dan banyak hal lainnya. But then gue ngga punya keberanian buat deketin ini orang even I know all I need is on him dan lagi I’ve had crush on him like this last seven years. But what if apa yang dia butuh ngga ada sama gue?
Kok lo jadi hopeless begini..
Ngga tau deh ya. Gue maunya dia yang jadi rumah tempat gue pulang dan sebaliknya. Tapi kalo Tuhan ngga kasih ijin bisa apa gue yang cuma remah-remah cupcakes ini? Jadi ya, entah dia atau bukan suami dan jodoh gue nanti gue pasrah deh. Selama yang gue sama nyaman sama orang ini.
Well Sa, Tuhan tau apa yang lo butuhin.
Iyaaa.
Raisa’s crush ini sebenarnya sahabat mas Yasa yang namanya Bayu. I know him too, but not as well as mas Yasa knows him. Mas Yasa dan Bayu ini sudah dekat sejak masuk SMA dan ternyata masih lanjut bersahabat sampai sekarang. Sampai mas Yasa menikah denganku. Definisi Raisa tentang baik, agama, dan gantengnya Bayu juga tidak salah sasaran. Meski beda jauh dengan mas Yasa secara fisik, well Bayu is as good as Raisa I thought that time. And as the time passes by, kepasrahan Raisa waktu itu terjawab sudah. Hari ini our casual tea time sedikit bergeser karena kami tidak lagi kumpul berdua, tapi berempat dengan mas Yasa dan Bayu sebagai tambahannya. Eh barangkali our casual tea time akan tetap menjadi milikku dan Raisa since girls always need time.

July, 29th 2017
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template