It was really our casual tea time. Jadi banyak hal tidak terduga yang bisa Raisa ceritakan padaku dan banyak hal yang dapat kuceritakan padanya. Cerita kami kadang nampak lebih berat dari hutang pemerintah. Kadang kala malah tidak penting seperti jam berapa kami bangun. Atau malah amat sangat penting seperti darimana ayam-ayam MCD dibeli. Rasanya seperti melihat air mengalir kalau sudah mendengar cerita kami. Tidak ada yang mau berhenti kalau belum ada telepon dari para suami. Well we both married by the way.
Pertemuanku
dengan mas Yasa tentu saat jaman sekolah dulu. Cerita menarik tentang aku dan
mas Yasa bagi seorang Raisa adalah bagaimana Yasa mendekati ibuku dua tahun
sebelum ia melamarku. Kata Raisa hari itu, that’s
really sweet in any way and he’s a manner man dan bahwa Raisa yang juga
teman Yasa tidak tahu bahwa Yasa punya sisi seperti itu dalam dirinya.
Bagiku yang
saat ini tiba-tiba teringat Raisa, yang paling seru dari ceritanya adalah
bagaimana harapannya dijawab Tuhan. Ada salah satu our casual tea time yang isinya banyak hal tentang harapan Raisa.
Hari itu sama seperti hari Sabtu di minggu-minggu lainnya. I was a newly wed dan mas Yasa paham benar bahwa this casual tea time means a lot to me
jadi ia mengantarku ke salah satu café while
he’s on his weekend meeting. Hari itu satu-satunya hari di mana Raisa bisa
melarikan diri dari tumpukan analisis keuangan akhir bulan di meja kerjanya.
Raisa yang
baru bisa melarikan diri sore itu tetap tersenyum seperti ia yang biasanya
meski lelah dari matanya tidak bisa ia sembunyikan. Aku memeluknya sebentar dan
ia balas memelukku. Senyumannya mengembang dengan cepat ketika menemui segelas
cokelat panas sudah ada di meja. There was
so many things that we talked about that day, tapi yang paling membuatku
diam adalah ceritanya dan sepenggal percakapan kami.
What’s so good about marriage, Ta?
Isn’t the life companion itself is good?
Think so. Ada kalanya pas gue beneran capek
begini gue pengen pulang. But I don’t know where the home is.
Guess home is what you need. Mulai sadar butuh
suami lo?
Kampret. Gue punya banyak definisi tentang
apa yang gue butuhin. Soal suami juga banyak definisi yang gue sebutin. Baiknya
lagi ada satu orang yang paling mendekati kriteria ini. Dia baik, agamanya
baik, ganteng dan banyak hal lainnya. But then gue ngga punya keberanian buat
deketin ini orang even I know all I need is on him dan lagi I’ve had crush on
him like this last seven years. But what if apa yang dia butuh ngga ada sama
gue?
Kok lo jadi hopeless begini..
Ngga tau deh ya. Gue maunya dia yang jadi
rumah tempat gue pulang dan sebaliknya. Tapi kalo Tuhan ngga kasih ijin bisa
apa gue yang cuma remah-remah cupcakes ini? Jadi ya, entah dia atau bukan suami
dan jodoh gue nanti gue pasrah deh. Selama yang gue sama nyaman sama orang ini.
Well Sa, Tuhan tau apa yang lo butuhin.
Iyaaa.
Raisa’s
crush ini sebenarnya sahabat mas Yasa yang namanya Bayu. I know him too, but not as
well as mas Yasa knows him. Mas Yasa dan Bayu ini sudah dekat sejak masuk
SMA dan ternyata masih lanjut bersahabat sampai sekarang. Sampai mas Yasa
menikah denganku. Definisi Raisa tentang baik, agama, dan gantengnya Bayu juga
tidak salah sasaran. Meski beda jauh dengan mas Yasa secara fisik, well Bayu is as good as Raisa I thought
that time. And as the time passes by, kepasrahan Raisa waktu itu terjawab
sudah. Hari ini our casual tea time sedikit bergeser karena kami tidak lagi
kumpul berdua, tapi berempat dengan mas Yasa dan Bayu sebagai tambahannya. Eh barangkali
our casual tea time akan tetap menjadi
milikku dan Raisa since girls always need
time.
July, 29th 2017