May, 23rd
2018
“Mbaa”
panggil Sheryl pada Rara.
“Hmm?”
gumam Rara mengalihkan perhatiannya pada murid SD kelas 4 di hadapannya itu.
“Mba Rara
kalo ke sini ngga naik motor lagi dong ya” lanjutnya. Dahi Rara berkerut tak
paham.
“Eh? Kalo
ngga naik motor naik apa dong Ryl? Nge-grab
kan mahal, abis gaji aku dipake nge-grab
ke sini dong” ucapnya panjang lebar. Berusaha mengerti jalan pikiran Sheryl.
“Iihh, ya
ngga nge-grab lah mbaa” balas Sheryl
gemas.
“Terus?”
tuntut Rara.
“Dianter
masa depan, ntar dijemputin lagi” kekehnya. Mengacu pada cem-ceman Rara jaman
entah kapan yang tak sengaja ia ceritakan pada bocah di bawah umur itu.
“Yee masa
depan apaan” ujar Rara. Kepalanya berkataTidak sedang hatinya berkata iya.
“Ih tapi
mba Rara mau kan?” godanya lagi.
“Dih apaan
sih yaa. Lagian kasian kalo kudu nganter jemput aku ih” kata Rara berusaha
menjelaskan.
“Kan ngga
apa-apa, kan masa depan yang mau” Sheryl mulai memaksakan pendapatnya.
“Sok tau
kamu ih” kata Rara.
“Biariin
aja wleee” balasnya tak terima.