- May, 8th
2018
“Miss, if be a teacher must be patient ya?”
Bahasa Inggris
Rain jelas campur aduk. Tapi tetap saja Rara paham pertanyaan yang dilontarkan
bocah laki-laki kelas 3 SD di hadapannya itu. Bukannya mengerjakan soal-soal
pecahan yang ia buat, Rain justru memberikannya pertanyaan ajaib. Membuat Rara
menghentikan kegiatannya dan terdiam.
“Patient
is sabar in bahasa, miss” ulangnya. Khawatir miss Rara-nya tak paham dengan apa
yang ia maksud. Rara kemudian mengangguki pertanyaan random Rain di pertemuan
keduanya ini.
“Of course Rain” kata Rara lembut.
“So if be a teacher must be patient ya miss. If
not patient can’t be a teacher then?” tanya Rain lagi.
“Teacher must be patient so the student can
study well Rain. It’s not good if the teacher not patient enough” jelas
Rara. Tangannya terulur mengusap kepala Rain yang tengah telungkup di lantai
memainkan pensilnya.
“If not patient enough than dipukul ya, miss?”
balas Rain.
“Heh? Why must be dipukul Rain?” Rara
bertanya balik. Rain malah mengangguk.
“Iya, miss. So miss must be patient ya?” kali ini Rara mengangguk seolah tidak
punya pilihan lain. Kepalanya seolah berputar pada keadaannya beberapa bulan
yang lalu. Hanya saja pikiran itu segera ia singkirkan karena ia masih harus
menemani Rain belajar.
Kelas Rain
selesai tepat pukul enam. Senja jelas sudah lewat. Langit sudah mulai gelap dan
entah kenapa angin berhembus agak kencang. Rara melajukan motornya dengan
kecepatan sedang. Isi kepalanya seperti mengajaknya menilik keadaannya beberapa
bulan yang lalu. Sebelum bertemu Rain dan komplotannya.
Hari itu Rara
menatap jendela kamarnya tak berselera. Pikirannya melanglang buana. Dadanya sesak.
Sejuta pertanyaan ada di kepalanya. Sayang, tak ada satu jawaban pun yang ia
temukan. Pertanyaan terbesarnya pagi itu sederhana, sejak kapan dirinya berubah
jadi orang yang tak sabaran? Tak bisa menahan amarah dan gampang kecewa seperti
ini?