Sabtu, 24 Mei 2025

Malang and The Story Behind (1)


 

Ternyata setelah beberapa lama pindah ke Malang, masih ada bagian diri ini yang marah dan kecewa. Malang wasn’t bad, as things never always black or white. Padahal apa yang terjadi di Surabaya juga bagian dari kesalahanku, tapi kenapa aku yang marah dan ngga terima? Bukannya aku lebih banyak menerima keuntungan dengan kepindahan ini? Tapi, selain marah ada perasaan lain yang bikin ngga nyaman. Ada rasa bersalah yang menggantung. Banyak kalimat-kalimat menggantung yang ngga bisa diselesaikan, banyak perandaian yang ngga bisa diubah juga. Kelihatannya ngga ada jalan untuk kembali.

Mungkin kata bu Inka ada benernya, aku disembuhkan di sini. Ada pelukan hangat yang tidak nampak. Ada ramai yang nampak sepi. Ada syukur diantara amarah yang masih terpendam.. Perasaannya banyak, pikirannya juga ngga kalah banyak. Kadang kala yang terlintas adalah, kenapa aku yang pindah Malang yaa? Kenapa ngga di Graha Family aja kaya info awalnya?

Tapi mungkin kalo di Graha Family, aku ngga akan sesantai ini menghadapi pekerjaan. Ngga pusing dan terbebani seperti yang sudah-sudah. I was so tired and fucked up last time, sampe tidak ingin disentuh suami karena terlalu lelah. Kalo di Graha Family mungkin akan sama lelahnya, mungkin akan sama muaknya karena pada akhirnya dibersamai pak Firman yang memang bestie-nya bu Andy. Ngga mungkin beliau berdua tidak berbagi cerita. I know I’m not the protagonist, maybe I was a bad person in another story I know I was’nt good enough.

Waktu itu, ketika akhirnya berita kepindahan ini beredar, yang banyak bercerita justru Pak Heru, yang sempat ke Malang duluan tanpa alasan yang jelas. Kata Pak Heru, better befriended Pak Hendro since he’s a good person. Hm, okeey ada benernya juga, but then I befriended almost everyone. Ternyata adaptasi di sini cukup menyenangkan, minus pileknya yang ngga kelar-kelar karena dingin.

Ngga ada bayangan sama sekali Bunda Maria ini mikir apa setelah dikasih tau aku yang pindah ke tempatnya. So far, she didn’t say mean things. Emang prengat-prengut tapi so far so good, ngga rese dan bertele-tele kaya yang udah-udah. At times, I want thanked her so much for accepting me, meski memang ranahnya pekerjaan. Kalo memang dari awal dia ngga suka aku atau membawa penilaian orang lain tanpa menilai sendiri, I believe I go to another place right now. Tapi sejauh ini aku baik-baik saja.

Ketika pindah ke sini, ngga pernah kebayang rasanya ikut makan dimsum mba-mba spg yang ngga terlalu akrab sebelumnya. Tadinya ngga pernah ada cerita begini sih. Ngga pernah kebayang dicurhatin mas Shandy perkara perjalanan asmaranya yang naik turun, diceritain mba Irma soal keinginannya lanjut studi atau ngikut bu Nia makan di pojokan para satpam mangkal. I wasn’t remember ramah ke orang lain dan ngobrol random semudah itu sebelumnya, tapi di sini bisa tiba-tiba ngobrol banyak sama mba Hydro Coco yang baru kenal.

Barangkali memang ini jalan yang baik dari Allah, sebaik-baiknya rencana memang dari-Nya bukan?

Lucu yaa? Ketika bahkan di tempat yang lama aku sama sekali ngga ngobrol dengan orang-orang yang kerja denganku.. tapi di sini aku banyak ketawanya, banyak ngobrolnya. Malang memang hangat sekaligus dingin rupanya. 

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template