I wasn't expected to get such a message from LinkedIn since I put the company I currently work. Ngga pernah nyangka retail jadi jalan buat banyak hal. I was always feel I failed, udah susah-susah kuliah statistik kenapa malah jadi frontliner retail? Kenapa rejeki pekerjaanku ngga kaya temen-temen atau adik tingkatku yang lain, yang kerjaannya di back office, libur ketika orang lain libur dan hidup lebih ‘normal’ dan ‘teratur’.
Retail to me adalah penyambung hidup, bukan sebuah pilihan tapi sebuah jalan yang harus ditempuh. Untuk bayar kuliah Dhio, untuk biaya pendidikan Caca, untuk bantu dapur mama supaya tetap ngebul. Terakhir buat beli apa yang aku pengen selama ini. Retail to me bukan sebuah kenyamanan, tapi keseharian yang harus ditelan dan ditahan karena kebutuhan. Duit retail yang bikin hidup tetep hidup meski agak ngga waras dikit. But maybe we’re all insane, cuma ngga ada energi lebih untuk ngider di jalanan aja ye kan..
But then, retail juga yang bawa banyak perubahan dalam hidup dan kepribadian. Gilanya iyaa, kena tekanan sana sini tapi tetap tegak berdiri ngga tumbang karena tipes dan gerd. Asam lambung doang yang kadang naik atau jadi kelewat pusing karena tegang dan stress. I found my body sekuat itu setelah kerja berjam-jam dalam keadaan lapar dan berdiri for almost 8-10 hours a day. Kalo jago begadang sih udah dari dulu karena suka nontonin drama dan Running Man sampe jam 1 pagi.
Retail juga yang bikin si pendiam ini menemukan bakat terpendamnya. Si pendiam ini jadi paham bahwa jadi ramah dan menyenangkan itu soal energi yang bersambut, bukan soal ngga jago basa-basi atau ngga punya topik pembahasan. Retail juga yang bikin banyak kejutan, bahwa ternyata si anak cimit ini bisa punya banyak temen dan ramah ke hampir semua orang bahkan yang baru ketemu. Once dikatain menthel dan kepikiran seharian, tapi yhaa aku cuma berusaha ramah-tamah sama orang lain, ngga genit juga karena tiap hari ketemu orang ya kan.
Retail juga yang memungkinkan beli laptop hanya setelah lima bulan bekerja, pake duit tabungan hasil bekerja. Having me time sebulan sekali nonton dan jajan tanpa diganggu siapapun, possible beli barang yang rasanya dulu cuma impian..
Two days ago ada yang reach out di LinkedIn, nanyain rekrutmen MDP SBL yang mana tidak kuikuti. MT Trans Retail sih iyaa, tapi masuk SBL kuhanya berperan sebagai remahan daging giling. Pertanyaannya ngga banyak, seputar proses rekrutmen dan ups and downs menjadi anak retail. And I found out instead of merasa gagal, kenapa ngga berpikir bahwa semua hal bisa digas dan dipelajari selama ada kesempatan? Meski ngga sesuai prodi..
I always feel I failed myself and my life karena masuk retail.. Just because anyone’s life is sparkly and happy. Hanya karena ini bukan pilihanku tapi kewajibanku menghidupi dan menyambung kehidupan..
And what she said give me the answer I didn’t know I needed. Instead of merasa gagal kenapa ngga merasa diberi kesempatan untuk belajar dan membuktikan diri? Toh ya retail membawa banyak berkah dan hikmah kan. Mungkin kamu ngga akan menemukan banyak ilmu yang menurutmu kurang berguna itu kalau kamu ngga masuk retail. Mungkin kamu ngga akan jadi sekuat ini kalo ngga masuk retail. Dan kehidupanmu, kehidupan keluargamu berlanjut setelah kamu masuk retail..
She said this too, tapi semoga jalannya jauh lebih mudah dan lebih lancar daripada jalanku. Tons of luck and blessings for her, jangan jadi seperti aku, jadi lebih baik dibanding diriku.
Ps.
Instead of twitter I put it here, the safest place I have.
Thanks Queen, you're the queen indeed.
.jpeg)
