Minggu, 17 November 2013

Perempuan itu



            Aku sedikit merasa terbebani setelah mendengar cerita Jammie tentang perempuan itu. Tapi anehnya aku tidak merasakan sedikitpun penyesalan setelah meminta Jammie menceritakan tentang perempuan itu. Aku melepaskan syal yang terlilit di leherku dan menghempaskan tubuhku keatas tempat tidur. Mataku menatap langit-langit yang sepertinya semakin dekat sekaligus semakin jauh untuk kujangkau. Aku tidak mengerti
kenapa banyak sekali kalimat yang muncul dan seakan-akan menghakimi Jammie. Kepalaku penuh, dadaku mendadak sesak.
            Jammie sepertinya khawatir dengan keadaanku. Jammie juga tak banyak bicara setelah mengantarku pulang. Butuh waktu dua jam untuknya meneleponku setelah mengantarku pulang. Biasanya hanya butuh lima belas menit buatnya meneleponku setelah bertemu seperti ini. Sayangnya, Jammie tak banyak bicara ditelepon. Sepertinya dia juga terkejut dengan kalimat yang aku lontarkan kepadanya. Ya Tuhan, ada apa denganku ?
            Dua hari kemudian Jammie datang membawakanku hadiah. Aku tidak menyangka Jammie akan datang dengan mengendarai mobil. Jammie bilang dia tak begitu suka mengendarai mobil tapi kenapa kali ini ia mengendarai mobilnya ?
“Selamat pagi Danisa, bagaimana keadaanmu ? Apa kau baik-baik saja ?” sapanya. Aku menangkap kekhawatiran di matanya, tak biasanya Jammie sekhawatir ini kepadaku.
“Pagi Jammie. Aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa ?” kataku. Jammie pasti masih mengkhawatirkan tanggapanku tentang ceritanya di taman.
“Yah kau tahu bagaimana kau memintaku menceritakannya kemudian kau meminta pulang secara tiba-tiba. Aku khawatir dengan kesehatanmu Danisa” kata Jammie berterus terang. Ah, padahal aku mengharapkan Jammie mengkhawatirkan aku lebih dari sekedar kesehatanku.
“Aku baik-baik saja Jammie. Aku sudah mengatakannya kepadamu. Kau tidak perlu khawatir” kataku sembari menyembunyikan kekecewaanku. Tapi aku masih berharap Jammie melanjutkan ceritanya tentang perempuan itu.
            “Aku lega mendengarnya. Tapi aku harap kau tidak memintaku menceritakan perempuan itu lagi, oke ? Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu hanya karena ceritaku” kata Jammie. Perkataannya sedikit membuatku terkejut. Memangnya apa yang akan terjadi denganku jika aku mendengarkan cerita tentang perempuan itu ? Cerita tentang perempuan itu bukan sebuah kutukan yang perlu dikhawatirkan.
“Danisa..” Sepertinya aku terdiam terlalu lama sampai-sampai Jammie memanggilku. Aku hanya tersenyum menanggapi panggilannya. Permintaannya itu tidak kujawab.
“Jammie, aku ingin pergi ke suatu tempat. Bisakah kau mengantarku kesana ?” kataku pada Jammie. Jammie terhenyak mendengar permintaanku. Aku harus menjelaskan sesuatu kepadanya. Dan kurasa semakin cepat akan semakin baik. Aku tidak ingin membuat seseorang menunggu terlalu lama.
“Kemana ?” tanya Jammie. Aku menyebutkan nama satu kawasan. Jammie menyanggupi tanpa menanyakan apa-apa lagi. Ternyata cerita tentang perempuan itu membawa dampak yang yah tidak kecil rupanya.
            Sepanjang perjalanan aku dan Jammie hanya terdiam. Entah kemana hilangnya Jammie yang selalu menanyakan banyak hal kepadaku. Tapi mungkin ia sedang berkonsentrasi menyetir. Hanya musik up beat yang tidak benar-benar aku dan Jammie dengarkan yang menghiasi perjalanan.
“Jammie bisakah kita memberli sebuket bunga ?” Kataku.
“Ah, bunga ? Ya, di depan sana akan kubelikan beberapa untukmu” Jammie menjawabku dengan sedikit keterkejutan karena tak biasanya aku memintanya membeli bunga. Tapi tetap saja Jammie tak banyak tanya dengan permintaanku.
“Aku akan ikut membelinya” kataku kemudian. Jammie hanya terdiam menanggapi perkataanku.
            Tak berapa lama aku dan Jammie sampai di tempat yang dituju. Jammie semakin tak mengerti mendapati tempat yang kusebutkan adalah sebuah pemakaman. Sorot matanya penuh tanda tanya tapi tak satupun kalimat tanya meluncur dari mulutnya. Aku menggenggam tangannya halus takut jika Jammie semakin terkejut.
“Aku tahu banyak hal yang tidak kau mengerti Jammie sayang. Tapi percayalah tidak akan lama untuk kita tidak mengerti” kataku sembari tersenyum berharap Jammie sedikit tenang. Kulihat Jammie tersenyum tipis. Aku lega melihatnya seperti itu.
            Aku menuntunnya ke sebuah pusara yang masih belum lama umurnya. Aku melihat Jammie untuk mendapatkan reaksinya setelah meletakkan sebuket mawar putih yang dipilih Jammie. Jammie terpaku melihat nama yang tertulis di pusara itu. Ya pusara ini memang pusara perempuan itu, perempuan yang diceritakan Jammie waktu itu.
“Jammie sayang sebenarnya bukan tanpa alasan aku memintamu menceritakan Delisa untukku. Buatku Delisa berarti banyak hal. Banyak hal yang ia ceritakan tentangmu kepadaku. Tentang perasaannya dan bagaimana ia berpikir banyak hal tentangmu mengenai perasaannya” genggaman tanganku pada Jammie semakin erat. Jammie membalas genggaman tanganku. Aku menangkapa sorot mata yang mulai mengerti apa yang terjadi.
“Delisa bilang mencintaimu meski dengan cara seperti ini adalah hal yang paling indah buatnya. Menurutnya meskipun kadang cinta menuntut seseorang untuk saling memiliki tapi mencintaimu tak pernah mengenal hal semacam itu. Mencintaimu dari jauh, menyimpan perasaan dalam-dalam dan hanya mendoakanmu sudah cukup buat Delisa.  Delisa sadar bahwa mungkin ia tak akan memilikimu. Bukan karena vonis dokter yang membuatnya pesimis, tapi mungkin ada baiknya menyimpan perasaan ini sendiri dan membiarkan Tuhan mengetahuinya agar kau juga tahu” air mataku mulai jatuh mengingat bagaimana Delisa selalu terdiam ditengah-tengah ceritanya tentang  Jammie.
“Delisa tak pernah mampu untuk menunjukkan perasaannya kepadamu. Jadi ia tak pernah berpikir untuk memilikimu. Delisa sadar bagaimanapun ia berusaha untuk selalu ada buatmu tak pernah ada cukup tempat buatnya berdiri disampingmu. Delisa bertahan hanya dengan memendam perasaannya sendiri. Delisa selalu berpikir mungkin ia tak terlalu baik buatmu sampai ia tak bisa berdiri disampingmu. Untuk itu Delisa memberikan ini kepadaku” kataku sembari menunjuk dadaku. Jammie menatapku dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan maknanya.
“Delisa yakin ada perempuan yang lebih baik dari seseorang di masa lalumu untuk selalu ada buatmu. Delisa yakin jika memang perempuan itu bukan dirinya maka akan ada perempuan lain yang jauh lebih baik darinya. Dan dia mengirimku untuk ada disampingmu” kataku. Jammie menggenggam tanganku erat. Ia mengusap pelan pusara Delisa. Ada rasa kagum yang besar dalam sorot matanya.
“Jika aku adalah Delisa, aku tak yakin aku akan mampu menyimpan perasaan seperti itu tanpa mengatakannya atau menunjukkannya. Perasaan Delisa terlalu besar buatku sampai aku tak bisa menyentuhnya. Jika memang takdir membawaku pada Delisa mungkin aku takkan mampu mencintainya seperti ia mencintaiku. Sorot mata dan perasaan tertahan itu selesai sampai disini” kata Jammie. Sorot matanya menunjukkan kelegaan luar biasa. Aku tersenyum melihat Jammie.
Aku yakin ada seorang perempuan diatas sana yang menangis atas perasaannya. Tapi perempuan itu kemudian tersenyum karena perasaan itu tak sia-sia. Ada perempuan lain yang menggantikannya menyampaikan perasaan itu. Perempuan itu aku.
            
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template