Aku sedikit merasa terbebani setelah mendengar cerita Jammie
tentang perempuan itu. Tapi anehnya aku tidak merasakan sedikitpun penyesalan
setelah meminta Jammie menceritakan tentang perempuan itu. Aku melepaskan syal
yang terlilit di leherku dan menghempaskan tubuhku keatas tempat tidur. Mataku
menatap langit-langit yang sepertinya semakin dekat sekaligus semakin jauh
untuk kujangkau. Aku tidak mengerti
kenapa banyak sekali kalimat yang muncul dan seakan-akan menghakimi Jammie. Kepalaku penuh, dadaku mendadak sesak.
kenapa banyak sekali kalimat yang muncul dan seakan-akan menghakimi Jammie. Kepalaku penuh, dadaku mendadak sesak.
Jammie sepertinya khawatir dengan keadaanku. Jammie juga
tak banyak bicara setelah mengantarku pulang. Butuh waktu dua jam untuknya
meneleponku setelah mengantarku pulang. Biasanya hanya butuh lima belas menit
buatnya meneleponku setelah bertemu seperti ini. Sayangnya, Jammie tak banyak
bicara ditelepon. Sepertinya dia juga terkejut dengan kalimat yang aku
lontarkan kepadanya. Ya Tuhan, ada apa denganku ?
Dua hari kemudian Jammie datang membawakanku hadiah. Aku tidak
menyangka Jammie akan datang dengan mengendarai mobil. Jammie bilang dia tak
begitu suka mengendarai mobil tapi kenapa kali ini ia mengendarai mobilnya ?
“Selamat pagi Danisa, bagaimana
keadaanmu ? Apa kau baik-baik saja ?” sapanya. Aku menangkap kekhawatiran di
matanya, tak biasanya Jammie sekhawatir ini kepadaku.
“Pagi
Jammie. Aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa ?” kataku. Jammie pasti masih
mengkhawatirkan tanggapanku tentang ceritanya di taman.
“Yah
kau tahu bagaimana kau memintaku menceritakannya kemudian kau meminta pulang
secara tiba-tiba. Aku khawatir dengan kesehatanmu Danisa” kata Jammie berterus
terang. Ah, padahal aku mengharapkan Jammie mengkhawatirkan aku lebih dari
sekedar kesehatanku.
“Aku
baik-baik saja Jammie. Aku sudah mengatakannya kepadamu. Kau tidak perlu
khawatir” kataku sembari menyembunyikan kekecewaanku. Tapi aku masih berharap Jammie
melanjutkan ceritanya tentang perempuan itu.
“Aku
lega mendengarnya. Tapi aku harap kau tidak memintaku menceritakan perempuan
itu lagi, oke ? Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu hanya karena ceritaku”
kata Jammie. Perkataannya sedikit membuatku terkejut. Memangnya apa yang akan
terjadi denganku jika aku mendengarkan cerita tentang perempuan itu ? Cerita tentang
perempuan itu bukan sebuah kutukan yang perlu dikhawatirkan.
“Danisa..”
Sepertinya aku terdiam terlalu lama sampai-sampai Jammie memanggilku. Aku hanya
tersenyum menanggapi panggilannya. Permintaannya itu tidak kujawab.
“Jammie,
aku ingin pergi ke suatu tempat. Bisakah kau mengantarku kesana ?” kataku pada Jammie.
Jammie terhenyak mendengar permintaanku. Aku harus menjelaskan sesuatu
kepadanya. Dan kurasa semakin cepat akan semakin baik. Aku tidak ingin membuat
seseorang menunggu terlalu lama.
“Kemana
?” tanya Jammie. Aku menyebutkan nama satu kawasan. Jammie menyanggupi tanpa
menanyakan apa-apa lagi. Ternyata cerita tentang perempuan itu membawa dampak
yang yah tidak kecil rupanya.
Sepanjang perjalanan aku dan Jammie hanya terdiam. Entah
kemana hilangnya Jammie yang selalu menanyakan banyak hal kepadaku. Tapi
mungkin ia sedang berkonsentrasi menyetir. Hanya musik up beat yang tidak
benar-benar aku dan Jammie dengarkan yang menghiasi perjalanan.
“Jammie
bisakah kita memberli sebuket bunga ?” Kataku.
“Ah,
bunga ? Ya, di depan sana akan kubelikan beberapa untukmu” Jammie menjawabku
dengan sedikit keterkejutan karena tak biasanya aku memintanya membeli bunga.
Tapi tetap saja Jammie tak banyak tanya dengan permintaanku.
“Aku
akan ikut membelinya” kataku kemudian. Jammie hanya terdiam menanggapi
perkataanku.
Tak berapa lama aku dan Jammie sampai di tempat yang
dituju. Jammie semakin tak mengerti mendapati tempat yang kusebutkan adalah
sebuah pemakaman. Sorot matanya penuh tanda tanya tapi tak satupun kalimat
tanya meluncur dari mulutnya. Aku menggenggam tangannya halus takut jika Jammie
semakin terkejut.
“Aku
tahu banyak hal yang tidak kau mengerti Jammie sayang. Tapi percayalah tidak
akan lama untuk kita tidak mengerti” kataku sembari tersenyum berharap Jammie
sedikit tenang. Kulihat Jammie tersenyum tipis. Aku lega melihatnya seperti
itu.
Aku menuntunnya ke sebuah pusara yang masih belum lama
umurnya. Aku melihat Jammie untuk mendapatkan reaksinya setelah meletakkan
sebuket mawar putih yang dipilih Jammie. Jammie terpaku melihat nama yang tertulis
di pusara itu. Ya pusara ini memang pusara perempuan itu, perempuan yang
diceritakan Jammie waktu itu.
“Jammie
sayang sebenarnya bukan tanpa alasan aku memintamu menceritakan Delisa untukku.
Buatku Delisa berarti banyak hal. Banyak hal yang ia ceritakan tentangmu
kepadaku. Tentang perasaannya dan bagaimana ia berpikir banyak hal tentangmu
mengenai perasaannya” genggaman tanganku pada Jammie semakin erat. Jammie
membalas genggaman tanganku. Aku menangkapa sorot mata yang mulai mengerti apa
yang terjadi.
“Delisa
bilang mencintaimu meski dengan cara seperti ini adalah hal yang paling indah
buatnya. Menurutnya meskipun kadang cinta menuntut seseorang untuk saling
memiliki tapi mencintaimu tak pernah mengenal hal semacam itu. Mencintaimu dari
jauh, menyimpan perasaan dalam-dalam dan hanya mendoakanmu sudah cukup buat Delisa. Delisa sadar bahwa mungkin ia tak akan
memilikimu. Bukan karena vonis dokter yang membuatnya pesimis, tapi mungkin ada
baiknya menyimpan perasaan ini sendiri dan membiarkan Tuhan mengetahuinya agar
kau juga tahu” air mataku mulai jatuh mengingat bagaimana Delisa selalu terdiam
ditengah-tengah ceritanya tentang Jammie.
“Delisa
tak pernah mampu untuk menunjukkan perasaannya kepadamu. Jadi ia tak pernah
berpikir untuk memilikimu. Delisa sadar bagaimanapun ia berusaha untuk selalu
ada buatmu tak pernah ada cukup tempat buatnya berdiri disampingmu. Delisa
bertahan hanya dengan memendam perasaannya sendiri. Delisa selalu berpikir
mungkin ia tak terlalu baik buatmu sampai ia tak bisa berdiri disampingmu. Untuk
itu Delisa memberikan ini kepadaku” kataku sembari menunjuk dadaku. Jammie
menatapku dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan maknanya.
“Delisa
yakin ada perempuan yang lebih baik dari seseorang di masa lalumu untuk selalu
ada buatmu. Delisa yakin jika memang perempuan itu bukan dirinya maka akan ada
perempuan lain yang jauh lebih baik darinya. Dan dia mengirimku untuk ada
disampingmu” kataku. Jammie menggenggam tanganku erat. Ia mengusap pelan pusara
Delisa. Ada rasa kagum yang besar dalam sorot matanya.
“Jika
aku adalah Delisa, aku tak yakin aku akan mampu menyimpan perasaan seperti itu
tanpa mengatakannya atau menunjukkannya. Perasaan Delisa terlalu besar buatku
sampai aku tak bisa menyentuhnya. Jika memang takdir membawaku pada Delisa
mungkin aku takkan mampu mencintainya seperti ia mencintaiku. Sorot mata dan
perasaan tertahan itu selesai sampai disini” kata Jammie. Sorot matanya
menunjukkan kelegaan luar biasa. Aku tersenyum melihat Jammie.
Aku
yakin ada seorang perempuan diatas sana yang menangis atas perasaannya. Tapi
perempuan itu kemudian tersenyum karena perasaan itu tak sia-sia. Ada perempuan
lain yang menggantikannya menyampaikan perasaan itu. Perempuan itu aku.