Aku merindukan kapan kamu pulang menghujamku
sebagai tanda bahwa kamu mau aku disisimu. Aku menginginkan aku merindukanmu yang bertubi-tubi agar aku mampu melewati masa sulit yang tak sengaja kuciptakan sendiri disini. Aku mengharapkan aku ingin bertemu denganmu yang terus menerus kau sampaikan biar aku segera berpindah ruang ke sampingmu. Aku menginginkan setiap kalimat itu buat kau sampaikan kepadaku lewat setiap hal yang mampu menyentuhku.
sebagai tanda bahwa kamu mau aku disisimu. Aku menginginkan aku merindukanmu yang bertubi-tubi agar aku mampu melewati masa sulit yang tak sengaja kuciptakan sendiri disini. Aku mengharapkan aku ingin bertemu denganmu yang terus menerus kau sampaikan biar aku segera berpindah ruang ke sampingmu. Aku menginginkan setiap kalimat itu buat kau sampaikan kepadaku lewat setiap hal yang mampu menyentuhku.
Kenyataan yang
kutelan adalah aku bukan seseorang yang harus kau hujani pertanyaan akan sebuah
kepulangan. Aku bukan seseorang yang benar-benar kau nantikan kehadirannnya
buat kau temani dalam setiap detik yang berharga di hidupmu. Aku juga bukan
seseorang yang kau harapkan untuk ditemui. Apa saja tetapi tetap bukan aku yang
menjadi tetes-tetes jawaban yang membasahi tanah kering penuh pertanyaan.
Terakhir, yang
kusadari, itu semua adalah hal kecil yang kunginkan darimu.