Jumat, 14 Februari 2014

Cerita (hujan) Sore ini – Bagian 3



                Kuliah semester genap minggu pertama. Menyenangkan dan melelahkan. Cuaca belakangan ini sepertinya sedang tidak bagus. Gunung Kelud statusnya siaga. Entah. Sepertinya aktivitas gunung Kelud ikut mempengaruhi cuaca Surabaya. Langit juga mendung seperti kemarin siang ini. Hanya saja lebih pekat dan gelap. Hujan akan turun sebentar lagi. Hujan deras disertai angin sepertinya. Aku sendiri masih di dalam kelas menghitung detik-detik terakhir kelas usai. Pikiranku mendadak tidak tenang. Tidak terdefinisi seperti firasat-firasat sebelumnya.

                Tak sampai tiga menit kemudian kuliah diakhiri. Aku beranjak dari kursi dan meraih jaket yang kuletakkan di sandaran kursi. Ah jaket gadisku yang belum sempat ku kembalikan. Gadisku bilang dia belum begitu membutuhkannya meski cuaca sedang tidak baik seperti ini. Jaketku sendiri masih basah dirumah. Pikiranku semakin tidak tenang. Ada suatu hal yang berteriak kepadaku untuk dilihat. Jendela kelas. Aku menatap ke arah luar lewat jendela kelas. Kebetulan bagian belakang kelas yang kutempati menghadap langsung ke taman yang biasanya digunakan berkumpul mahasiswa untuk sekedar mengerjakan tugas atau menunggu kelas selanjutnya. Sebuah taman dengan delapan meja kursi marmer merah muda yang dinaungi sebuha pohon besar. Bunga-bunga berwarna ungu sering jatuh dari atas pohon ketika angin berhembus. Tampak seperti musim gugur saat bunga-bunga itu berjatuhan. Tapi  aku sendiri lebih suka menghabiskan waktu di gazebo daripada taman itu. Benar saja, perempuan itu sedang duduk manis disana. Menatap ke arahku dengan senyuman dan lagu yang berputar-putar diatas kepalanya. You're stuck on me and my laughing eyes I can't pretend though I try to hide  I like you I like you. I think I felt my heart skip a beat I'm standing here and I can hardly breathe - you got me do I ? Senyumannya mengembang. Tampak sangat bahagia dan ringan sampai-sampai sepertinya ia bisa terbang dengan keringanan itu. Sejenak kemudian, perempuan itu mengalihkan pandangannya. Aku ingin tertawa melihat ekspresinya. Perempuan itu lucu sekali.
                Sore ini hujan deras disertai angin. Persis seperti perkiraanku tadi. Tapi lebih parah dari apa yang kubayangkan. Terlalu berbahaya untuk pulang sekarang. Aku menunda kepulanganku dan berakhir dengan kembali ke sebuah ruang kelas yang tidak digunakan bersama teman-temanku. Berkumpul sembari menunggu hujan reda. Mengobrol tidak jelas tapi merasa aman dari serangan hujan angin diluar. Mushalla depan kelas ini penuh. Aku menunggu sepi untuk menunaikan shalat ashar. Padahal aku mendengar ada suara yang berharap untuk ditemani shalat di mushalla itu. Tentu saja, perempuan itu. Aku mampu melihatnya dari dalam kelas ini. Hanya saja dia tidak dapat menjangkauku dengan pemandangannya.
                Hujan sudah tidak begitu deras. Aku memilih untuk duduk di gazebo timur. Aku senang sekali duduk disini. Di belakang empat gazebo yang berjajar ini mengalir sebuah sungai yang meskipun agak kotor tapi indah dililhat saat malam. Lampu-lampunya dipasang lampu taman dengan jembatan penghubung dari kayu yang bisa dilewati menuju salah satu jalan utama. Jam lima. Harusnya gadisku sudah selesai kelas. Lorong-lorong dihadapanku penuh dengan mahasiswa tahun pertama yang mengikuti sosialisasi PSDM himpunan. Perempuan itu sepertinya terlambat. Aku belum melihatnya diantara kerumunan mahasiswa tahun pertama yang dibagi menjadi tiga kelompok besar.
                Perempuan itu melihatku duduk sendirian di gazebo timur. Dia tersenyum. Bahkan ingin melompat. Sahabatnya justru mempermainkannya dengan memancingnya untuk melewati lorong dihadapanku. Perempuan itu tampak kesal sekaligus malu. Senyumnya tidak bisa ditutupi. Meskipun dia kedinginan dia tetap saja mengikuti sosialisasi itu sambil sesekali melihat ke arahku. Pikiran dan gerak-geriknya terbaca olehku. ‘are you going home that easy ?’ itu yang kubaca pertama kali dikepalanya. Tentu saja tidak. Masih ada magnet yang menarikku untuk tetap tinggal. Aku tak tau apa. ‘ya tuhan senyumnya’ itu yang kubaca selanjutnya.Perempuan itu hampir melompat kegirangan. ‘Cukup untuk tiga hari ke depan’ apa yang cukup untuk tiga hari ke depan ?       
                Hari selalu hujan setiap aku bertemu dengan perempuan itu, pertanda apa ini ?
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template