Kuliah semester genap minggu
pertama. Menyenangkan dan melelahkan. Cuaca belakangan ini sepertinya sedang
tidak bagus. Gunung Kelud statusnya siaga. Entah. Sepertinya aktivitas gunung
Kelud ikut mempengaruhi cuaca Surabaya. Langit juga mendung seperti
kemarin siang ini. Hanya saja lebih pekat dan gelap. Hujan akan turun sebentar
lagi. Hujan deras disertai angin sepertinya. Aku sendiri masih di dalam kelas
menghitung detik-detik terakhir kelas usai. Pikiranku mendadak tidak tenang. Tidak
terdefinisi seperti firasat-firasat sebelumnya.
Tak sampai tiga menit kemudian kuliah
diakhiri. Aku beranjak dari kursi dan meraih jaket yang kuletakkan di sandaran
kursi. Ah jaket gadisku yang belum sempat ku kembalikan. Gadisku bilang dia
belum begitu membutuhkannya meski cuaca sedang tidak baik seperti ini. Jaketku sendiri
masih basah dirumah. Pikiranku semakin tidak tenang. Ada suatu hal yang
berteriak kepadaku untuk dilihat. Jendela kelas. Aku menatap ke arah luar lewat
jendela kelas. Kebetulan bagian belakang kelas yang kutempati menghadap
langsung ke taman yang biasanya digunakan berkumpul mahasiswa untuk sekedar
mengerjakan tugas atau menunggu kelas selanjutnya. Sebuah taman dengan delapan
meja kursi marmer merah muda yang dinaungi sebuha pohon besar. Bunga-bunga
berwarna ungu sering jatuh dari atas pohon ketika angin berhembus. Tampak seperti
musim gugur saat bunga-bunga itu berjatuhan. Tapi aku sendiri lebih suka menghabiskan waktu
di gazebo daripada taman itu. Benar saja, perempuan itu sedang duduk manis
disana. Menatap ke arahku dengan senyuman dan lagu yang berputar-putar diatas
kepalanya.’ You're stuck on me and my laughing eyes I can't pretend though I try to hide I like you I like you. I think
I felt my heart skip a beat I'm standing
here and I can hardly breathe - you got me’ do I ? Senyumannya mengembang. Tampak sangat bahagia dan
ringan sampai-sampai sepertinya ia bisa terbang dengan keringanan itu. Sejenak kemudian,
perempuan itu mengalihkan pandangannya. Aku ingin tertawa melihat ekspresinya. Perempuan
itu lucu sekali.
Sore ini hujan deras disertai angin.
Persis seperti perkiraanku tadi. Tapi lebih parah dari apa yang kubayangkan. Terlalu
berbahaya untuk pulang sekarang. Aku menunda kepulanganku dan berakhir dengan
kembali ke sebuah ruang kelas yang tidak digunakan bersama teman-temanku. Berkumpul
sembari menunggu hujan reda. Mengobrol tidak jelas tapi merasa aman dari
serangan hujan angin diluar. Mushalla depan kelas ini penuh. Aku menunggu sepi
untuk menunaikan shalat ashar. Padahal aku mendengar ada suara yang berharap
untuk ditemani shalat di mushalla itu. Tentu saja, perempuan itu. Aku mampu melihatnya
dari dalam kelas ini. Hanya saja dia tidak dapat menjangkauku dengan
pemandangannya.
Hujan sudah tidak begitu deras. Aku
memilih untuk duduk di gazebo timur. Aku senang sekali duduk disini. Di belakang
empat gazebo yang berjajar ini mengalir sebuah sungai yang meskipun agak kotor
tapi indah dililhat saat malam. Lampu-lampunya dipasang lampu taman dengan
jembatan penghubung dari kayu yang bisa dilewati menuju salah satu jalan utama.
Jam lima. Harusnya gadisku sudah selesai kelas. Lorong-lorong dihadapanku penuh
dengan mahasiswa tahun pertama yang mengikuti sosialisasi PSDM himpunan. Perempuan
itu sepertinya terlambat. Aku belum melihatnya diantara kerumunan mahasiswa
tahun pertama yang dibagi menjadi tiga kelompok besar.
Perempuan itu melihatku duduk
sendirian di gazebo timur. Dia tersenyum. Bahkan ingin melompat. Sahabatnya justru
mempermainkannya dengan memancingnya untuk melewati lorong dihadapanku. Perempuan itu tampak kesal
sekaligus malu. Senyumnya tidak bisa ditutupi. Meskipun dia kedinginan dia tetap
saja mengikuti sosialisasi itu sambil sesekali melihat ke arahku. Pikiran dan
gerak-geriknya terbaca olehku. ‘are you
going home that easy ?’ itu yang kubaca pertama kali dikepalanya. Tentu saja
tidak. Masih ada magnet yang menarikku untuk tetap tinggal. Aku tak tau apa. ‘ya tuhan senyumnya’ itu yang kubaca
selanjutnya.Perempuan itu hampir melompat kegirangan. ‘Cukup untuk tiga hari ke depan’ apa yang cukup untuk tiga hari ke
depan ?
Hari selalu hujan setiap aku
bertemu dengan perempuan itu, pertanda apa ini ?