Selasa, 11 Februari 2014

Cerita (hujan) sore ini – Bagian 2


Liburan semester sudah berakhir sejak seminggu yang lalu. Tapi perkuliahan baru dimulai senin ini. Ini baru hari kedua perkuliahan semester genap. Bertemu dengan gadisku lagi tentunya. Kelasku sudah usai sejak tadi. Aku malas pulang dan memilih untuk menghabiskan waktu di kampus. Entah kenapa kampus yang menyibukkan seperti ini bisa membuatku rindu juga. Aku memutuskan untuk berdiam diri di  gazebo sembari menonton film. Gadisku sedang mengikuti kuliah di ruang kelas tepat di seberang gazebo ini. Aku hanya akan menunggunya. Masih pukul 2 dan gadisku selesai pukul 5.
Belakangan konsentrasiku sering terganggu. Mungkin efek liburan yang agak sepi kali ini hingga aku mudah bosan. Aku melihat ke sekeliling gazebo. Sepi. Langit mendung dan sepertinya hari ini akan benar-benar hujan. Pandanganku kali ini diisi
perempuan yang waktu itu sempat mengganggu pikiranku. Perempuan itu tampak sedikit panik. Ah, bagaimana bisa perempuan itu kehilangan kunci motornya ? Perempuan itu ceroboh sekali. Tapi perempuan itu masih punya ketenangan. Di kepalanya tertulis bahwa kunci motornya kembali sebentar lagi. Hey pikiran macam apa itu ? Kuncinya tertinggal di gazebo timur ternyata. Syukurlah temanku masih menyimpannya disana. Perempuan itu tampak lebih tenang setelah menggenggam kunci motornya. Perempuan itu tersenyum. Terkejut melihatku dan aku sendiri tercekat. Kenapa pandanganku tak berpindah ? Perempuan itu berlalu begitu saja. Aku kembali sibuk dengan kegiatanku : menonton film.
Sepertinya film ini juga tak begitu menarik buatku. Aku mencoba mengusir kebosanan dengan melihat ke sekeliling. Hari ini benar-benar hujan. Hujan yang turun membuatku semakin malas untuk beranjak dari sini. Dan sepertinya sebentar lagi perempuan itu akan ada di gazebo sebelah. Aku melihat sahabatnya berjalan ke arah gazebo itu. Diikuti dengan perempuan itu dan teman laki-lakinya. Teman laki-lakinya ? Untuk kali ini ? Aku mencoba untuk tidak tertarik dengan apa yang perempuan itu lakukan di gazebo sebelah. Tapi ternyata sulit sekali karena perempuan itu duduk dengan jarak kurang dari tiga meter dari tempatku duduk sekarang. Berinteraksi dengan amat sangat akrab dengan teman laki-lakinya. Membahas soal matriks dan sesekali tertawa atau sekedar tersenyum. Hey kenapa perempuan itu harus tersenyum dan tertawa serenyah itu dengan teman laki-lakinya ? Dan kenapa aku harus sentimen seperti ini ?
Aku merasa sesekali perempuan itu melihat kearahku. Aku hanya berusaha untuk tidak membalas tatapannya. Aku tahu bahwa dengan mudah perempuan itu bisa memusatkan perhatian ke satu orang. Mengganggu frekuensi kerja otak orang yang dilihatnya. Aku mendengar sahabatnya meminta ia melakukan hal itu kepadaku. Perempuan itu menolak dengan suara yang pelan ‘engga ah, ngga berani. Malah aku sendiri yang ngerasa bahaya. Kapan-kapan ya hehe’ katanya. Takut ? Kenapa ?
Kebosanan yang berkali-kali menyerang membuatku mengalihkan perhatian ke gazebo sebelah dan kelas gadisku. Kenyataannya gazebo sebelah lebih menarik daripada kelas gadisku di seberang. Perempuan itu, sahabatnya dan teman laki-lakinya sedang sibuk mengerjakan soal-soal matriks. Aku mendengar perempuan itu ikut bernyanyi bersama sahabatnya. ‘ingin aku menyapa namun aku terdiam tak kulakukan’ perempuan itu bernyanyi dengan suara yang pelan ditambah ekspresi yang lucu. Perempuan ini tak hanya bernyanyi, dia sedang menyuarakan hatinya. Cute silly~
Kegiatan gazebo sebelah memang benar-benar menarik perhatian. Aku berkali-kali mengamati gazebo sebelah. Tertangkap basah dua kali oleh perempuan itu. tertangkap basah berkali-kali oleh sahabatnya. Saling menatap untuk beberapa waktu lalu berpaling lebih dulu. Ah apa ini ?
Setengah lima sore, perempuan itu beranjak dari gazebo sebelah menuju mushalla. Sendirian. Sahabatnya masih di gazebo. Teman laki-lakinya sibuk dengan selembar folio. Aku sendiri belum shalat ashar. Tak lama setelah perempuan itu masuk ke dalam toilet aku menuju mushalla. Melepas sepatu lantas mengambil wudhu. Perempuan itu masih di toilet ketika aku mengambil wudhu dan sudah hilang ketika aku selesai dengan shalatku. Kenapa dia tidak menunggu ? Ahh apa yang sedang kupikirkan.
Perempuan itu masih di gazebo. Sibuk membicarakan firasatnya tentangku. Rupanya perempuan itu cukup peka untuk punya firasat. “tadi pas aku shalat kayak ada yang bilang kalo kakak itu bakalan nyusulin aku. Ngga tau deh kenapa. Firasatnya muncul lagi”
“ohya ? Tapi tadi emang pas kamu udah jalan kakak itu beres-beres gitu. Pas aku lihat kakaknya udah di depan mushalla”
“kayaknya kakak itu peka juga deh kayak aku. Tapi aku takutnya ini cuman harapan bukan bener-bener firasat kayak biasanya”
            Harapan ? Memangnya perempuan itu punya harapan apa ?
            Gadisku ada dihadapanku sekarang. Aku menghilang dari pikiran-pikiran tentang perempuan itu dan setiap pikirannya yang juga muncul di kepalaku. Aku mengobrol sebentar dengan gadisku. Sahabat perempuan itu melintas di depanku. Menatap lurus ke dapan setelah melihatku sedang mengobrol dengan gadisku. Perempuan itu. Tanpa sadar aku  menghentikan pembicaraannku dengan gadisku dan memutar kepalaku ke arah perempuan itu. Perempuan itu menghindari tatapan mataku. Kepalanya berisi ‘ahh kak ada pacarnya loh. Kenapa kudu noleh sih ? Aku juga pengen liat tapi ngga berani’ dan senyum yang tertahan di wajahnya.
            Aku ingat pertemuan terakhirku dengan perempuan ini. Aku kira aku hanya akan membaca pikirannya sampai hari itu. Ternyata aku masih melakukannya dan semakin terjerumus begini.
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template