Liburan semester
sudah berakhir sejak seminggu yang lalu. Tapi perkuliahan baru dimulai senin
ini. Ini baru hari kedua perkuliahan semester genap. Bertemu dengan gadisku
lagi tentunya. Kelasku sudah usai sejak tadi. Aku malas pulang dan memilih
untuk menghabiskan waktu di kampus. Entah kenapa kampus yang menyibukkan seperti
ini bisa membuatku rindu juga. Aku memutuskan untuk berdiam diri di gazebo sembari menonton film. Gadisku sedang
mengikuti kuliah di ruang kelas tepat di seberang gazebo ini. Aku hanya akan
menunggunya. Masih pukul 2 dan gadisku selesai pukul 5.
Belakangan konsentrasiku
sering terganggu. Mungkin efek liburan yang agak sepi kali ini hingga aku mudah
bosan. Aku melihat ke sekeliling gazebo. Sepi. Langit mendung dan sepertinya
hari ini akan benar-benar hujan. Pandanganku kali ini diisi
perempuan yang
waktu itu sempat mengganggu pikiranku. Perempuan itu tampak sedikit panik. Ah,
bagaimana bisa perempuan itu kehilangan kunci motornya ? Perempuan itu ceroboh
sekali. Tapi perempuan itu masih punya ketenangan. Di kepalanya tertulis bahwa
kunci motornya kembali sebentar lagi. Hey pikiran macam apa itu ? Kuncinya tertinggal
di gazebo timur ternyata. Syukurlah temanku masih menyimpannya disana. Perempuan
itu tampak lebih tenang setelah menggenggam kunci motornya. Perempuan itu
tersenyum. Terkejut melihatku dan aku sendiri tercekat. Kenapa pandanganku tak
berpindah ? Perempuan itu berlalu begitu saja. Aku kembali sibuk dengan
kegiatanku : menonton film.
Sepertinya film
ini juga tak begitu menarik buatku. Aku mencoba mengusir kebosanan dengan
melihat ke sekeliling. Hari ini benar-benar hujan. Hujan yang turun membuatku
semakin malas untuk beranjak dari sini. Dan sepertinya sebentar lagi perempuan
itu akan ada di gazebo sebelah. Aku melihat sahabatnya berjalan ke arah gazebo
itu. Diikuti dengan perempuan itu dan teman laki-lakinya. Teman laki-lakinya ? Untuk
kali ini ? Aku mencoba untuk tidak tertarik dengan apa yang perempuan itu
lakukan di gazebo sebelah. Tapi ternyata sulit sekali karena perempuan itu
duduk dengan jarak kurang dari tiga meter dari tempatku duduk sekarang. Berinteraksi
dengan amat sangat akrab dengan teman laki-lakinya. Membahas soal matriks dan
sesekali tertawa atau sekedar tersenyum. Hey kenapa perempuan itu harus
tersenyum dan tertawa serenyah itu dengan teman laki-lakinya ? Dan kenapa aku
harus sentimen seperti ini ?
Aku merasa
sesekali perempuan itu melihat kearahku. Aku hanya berusaha untuk tidak
membalas tatapannya. Aku tahu bahwa dengan mudah perempuan itu bisa memusatkan
perhatian ke satu orang. Mengganggu frekuensi kerja otak orang yang dilihatnya.
Aku mendengar sahabatnya meminta ia melakukan hal itu kepadaku. Perempuan itu
menolak dengan suara yang pelan ‘engga
ah, ngga berani. Malah aku sendiri yang ngerasa bahaya. Kapan-kapan ya hehe’
katanya. Takut ? Kenapa ?
Kebosanan yang
berkali-kali menyerang membuatku mengalihkan perhatian ke gazebo sebelah dan
kelas gadisku. Kenyataannya gazebo sebelah lebih menarik daripada kelas gadisku
di seberang. Perempuan itu, sahabatnya dan teman laki-lakinya sedang sibuk
mengerjakan soal-soal matriks. Aku mendengar perempuan itu ikut bernyanyi
bersama sahabatnya. ‘ingin aku menyapa
namun aku terdiam tak kulakukan’ perempuan itu bernyanyi dengan suara yang
pelan ditambah ekspresi yang lucu. Perempuan ini tak hanya bernyanyi, dia
sedang menyuarakan hatinya. Cute silly~
Kegiatan gazebo
sebelah memang benar-benar menarik perhatian. Aku berkali-kali mengamati gazebo
sebelah. Tertangkap basah dua kali oleh perempuan itu. tertangkap basah
berkali-kali oleh sahabatnya. Saling menatap untuk beberapa waktu lalu
berpaling lebih dulu. Ah apa ini ?
Setengah lima
sore, perempuan itu beranjak dari gazebo sebelah menuju mushalla. Sendirian. Sahabatnya
masih di gazebo. Teman laki-lakinya sibuk dengan selembar folio. Aku sendiri
belum shalat ashar. Tak lama setelah perempuan itu masuk ke dalam toilet aku
menuju mushalla. Melepas sepatu lantas mengambil wudhu. Perempuan itu masih di
toilet ketika aku mengambil wudhu dan sudah hilang ketika aku selesai dengan
shalatku. Kenapa dia tidak menunggu ? Ahh apa yang sedang kupikirkan.
Perempuan itu
masih di gazebo. Sibuk membicarakan firasatnya tentangku. Rupanya perempuan itu
cukup peka untuk punya firasat. “tadi pas
aku shalat kayak ada yang bilang kalo kakak itu bakalan nyusulin aku. Ngga tau
deh kenapa. Firasatnya muncul lagi”
“ohya
? Tapi tadi emang pas kamu udah jalan kakak itu beres-beres gitu. Pas aku lihat
kakaknya udah di depan mushalla”
“kayaknya
kakak itu peka juga deh kayak aku. Tapi aku takutnya ini cuman harapan bukan bener-bener
firasat kayak biasanya”
Harapan
? Memangnya perempuan itu punya harapan apa ?
Gadisku
ada dihadapanku sekarang. Aku menghilang dari pikiran-pikiran tentang perempuan
itu dan setiap pikirannya yang juga muncul di kepalaku. Aku mengobrol sebentar
dengan gadisku. Sahabat perempuan itu melintas di depanku. Menatap lurus ke
dapan setelah melihatku sedang mengobrol dengan gadisku. Perempuan itu. Tanpa
sadar aku menghentikan pembicaraannku
dengan gadisku dan memutar kepalaku ke arah perempuan itu. Perempuan itu
menghindari tatapan mataku. Kepalanya berisi ‘ahh kak ada pacarnya loh. Kenapa kudu noleh sih ? Aku juga pengen liat
tapi ngga berani’ dan senyum yang tertahan di wajahnya.
Aku
ingat pertemuan terakhirku dengan perempuan ini. Aku kira aku hanya akan membaca
pikirannya sampai hari itu. Ternyata aku masih melakukannya dan semakin terjerumus
begini.