Aku berbaring di atas tempat
tidur setelah seharian ini berada di luar rumah. Di luar hujan mulai turun.
Suara rintik-rintik diatas genting terdengar di dalam kamar. Syukurlah aku
sudah sampai di rumah. Ini hari Minggu dan tidak ada kelas yang harus diikuti. Hanya
saja hari ini adalah hari milik adik-adik binaan untuk main ke Monumen Kapal
Selam dan Taman Prestasi. Mereka adalah anak-anak dari lingkungan yang bisa
dibilang kurang beruntung. Aku adalah salah satu mahasiswa yang punya bagian
untuk mengajar mereka. Kampus memang punya peran untuk hal-hal sosial semacam
ini. Mengajar mereka juga bukan kegiatan yang buruk untuk dilakukan. Mereka
juga punya hak yang sama untuk maju dan sukses.
Langit-langit kamarku yang kupandangi
sejak tadi serta suara hujan membuatku banyak mengulang apa yang sudah
kulakukan hari ini. Ternyata ini bukan hanya sekedar cerita adik-adik binaan
yang belajar tentang kapal selam dan menghabiskan waktu di Taman Prestasi
dengan permainan yang ada disana. Ada ceritaku pula disini. Tentu saja, hujan
dan perempuan itu.
Pagi ini aku berangkat ke kampus
lengkap dengan tujuan adik-adik binaan, Monumen Kapal Selam dan Taman Prestasi
dalam satu wadah. Tak ada pikiran atau firasat macam-macam yang tidak bisa dideskripsikan
seperti sebelum-sebelumnya. Aku melihat perempuan itu bahkan sebelum aku sempat
bertemu gadisku. Ya, gadisku ikut meski ia tak begitu tertarik dengan
anak-anak. Gadisku terlalu pendiam. Sifat manjanya juga kadang menurutku
melebihi adik-adik ini. Perempuan itu sibuk dengan lagu yang ia putar. Masih
lagu yang sama dengan pertemuan sebelumnya. Hanya pikirannya saja yang mulai
bicara tidak-tidak ‘Ada sesuatu yang
aneh. Sepertinya akan terjadi sesuatu. Tidak seperti biasanya’ itu yang
kubaca. Apa yang sedang ia pikirkan ? Tanpa sadar aku menatapnya melalui sudut
mataku. Perempuan itu sadar benar. Melihatku dengan penuh tanda tanya sampai
aku memalingkan pandanganku. Selalu saja aku yang berakhir lebih dulu saat aku
memandangnya.
Adik-adik itu jauh lebih ceria
dan antusias dibandingkan apa yang kupikirkan sebelumnya. Gadisku lebih senang
melihat dengan jarak dibandingkan turun langsung mendekati adik-adik itu. Aku paham,
gadisku tak begitu menyukai anak-anak. Berbeda denganku yang akrab dengan adik-adik
itu. Sesekali menggendong mereka atau bercanda. Aku melihat perempuan itu
bicara dengan salah satu dari mereka. Mengingatkan Koko yang minta naik keatas penyangga
yang digunakan untuk menyangga kapal selam agar tidak sampai jatuh. Perempuan
itu juga tidak segan menolong temannya yang hendak menggendong teman Koko untuk
ikut naik lalu berfoto.
Aku terpaksa tidak ikut masuk ke
dalam kapal selam untuk menyiapkan tempat bermain di dekat kolam renang bersama
yang lain. Gadisku masuk ke dalam kapal selam untuk sekedar melihat-lihat. Aku
baru bergabung dengan yang lain serta adik-adik sewaktu menonton video sejarah
yang masih jadi bagian dari penjelasan bagaimana Monumen Kapal Selam sampai
dibangun di Surabaya. Itu pun aku baru bergabung saat video sudah diputar lebih
dari setengah bagian. Menonton ulang video sejarah jadi pilihan buat semuanya
biar lebih mengerti daripada hanya sekedar mengobati rasa penasaran. Buat video
sejarah yang kedua aku sudah berpindah tempat duduk dari sebelumnya dibelakang
menjadi baris ke empat. Kenyataannya hanya sebuah tempat duduk yang diduduki
Ian yang menyatakan kedudukanku dan perempuan itu. Tapi entah berapa baris
orang yang menyatakan kedudukanku dan gadisku sekarang. Perempuan itu belum menyadarinya sampai aku
tahu bahwa ia gemas sendiri melihatku sibuk bercanda dengan Fitri. Perempuan
itu hanya diam tak melakukan apapun. Hanya pikirannya yang melayang ‘Allah kakak ini telaten ya ngurusin Fitri.
Idaman hehe’. Idaman ? Maksudnya ? Aku menangkap isyarat sahabat perempuan
itu yang berkali-kali menggodanya. Perempuan itu tetap diam seolah dia tidak
tahu apa-apa. Ah kelucuan yang lain.
Perempuan itu sibuk menjaga
Rusdi, salah satu adik binaan yang tidak bisa diam dan cenderung nakal. Semoga
saja perempuan itu tidak habis dicubiti Rusdi. Terakhir aku melihatnya duduk
menunggui Rusdi dibawah pohon. Melihat Rusdi yang sedang minum dan duduk
tenang. Rusdi akhirnya tertarik dengan permainan yang sedang dilakukan
teman-temannya dan berlari mendekat. Perempuan itu mengikutinya persis seperti
seorang kakak. Perempuan itu sempat
berpaling lalu tertawa dengan cerita sahabatnya. Aku melihatnya tertawa,
sepertinya sepanjang hari ini aku belum melihatnya tertawa lepas seperti itu.
Entah kenapa sedikit banyak aku
memperpendek kedudukan dengan perempuan itu. Seperti saat Fitri hendak turun perempuan
itu sudah menunjukkan isyarat untuk membantu Fitri turun sampai akhirnya ia
mengurungkan niat karena aku mendekat. ‘Ngga
jadi deh, aku diem disini aja’ itu yang ada dikepalanya. Membaca pikirannya
hari ini entah kenapa tak semenyenangkan yang sudah-sudah. Perempuan itu tampak
bahagia dan ringan berada di tengah adik-adik ini. Hanya satu dua kalimat di
pikirannya yang berisi tentangku. Harusnya tak hanya satu atau dua, satu
paragraf atau selembar penuh pun aku tak keberatan. Seharusnya.