Minggu, 16 Februari 2014

Cerita (hujan) Sore ini – Bagian 4



                Aku berbaring di atas tempat tidur setelah seharian ini berada di luar rumah. Di luar hujan mulai turun. Suara rintik-rintik diatas genting terdengar di dalam kamar. Syukurlah aku sudah sampai di rumah. Ini hari Minggu dan tidak ada kelas yang harus diikuti. Hanya saja hari ini adalah hari milik adik-adik binaan untuk main ke Monumen Kapal Selam dan Taman Prestasi. Mereka adalah anak-anak dari lingkungan yang bisa dibilang kurang beruntung. Aku adalah salah satu mahasiswa yang punya bagian untuk mengajar mereka. Kampus memang punya peran untuk hal-hal sosial semacam ini. Mengajar mereka juga bukan kegiatan yang buruk untuk dilakukan. Mereka juga punya hak yang sama untuk maju dan sukses.
                Langit-langit kamarku yang kupandangi sejak tadi serta suara hujan membuatku banyak mengulang apa yang sudah kulakukan hari ini. Ternyata ini bukan hanya sekedar cerita adik-adik binaan yang belajar tentang kapal selam dan menghabiskan waktu di Taman Prestasi dengan permainan yang ada disana. Ada ceritaku pula disini. Tentu saja, hujan dan perempuan itu.

                Pagi ini aku berangkat ke kampus lengkap dengan tujuan adik-adik binaan, Monumen Kapal Selam dan Taman Prestasi dalam satu wadah. Tak ada pikiran atau firasat macam-macam yang tidak bisa dideskripsikan seperti sebelum-sebelumnya. Aku melihat perempuan itu bahkan sebelum aku sempat bertemu gadisku. Ya, gadisku ikut meski ia tak begitu tertarik dengan anak-anak. Gadisku terlalu pendiam. Sifat manjanya juga kadang menurutku melebihi adik-adik ini. Perempuan itu sibuk dengan lagu yang ia putar. Masih lagu yang sama dengan pertemuan sebelumnya. Hanya pikirannya saja yang mulai bicara tidak-tidak ‘Ada sesuatu yang aneh. Sepertinya akan terjadi sesuatu. Tidak seperti biasanya’ itu yang kubaca. Apa yang sedang ia pikirkan ? Tanpa sadar aku menatapnya melalui sudut mataku. Perempuan itu sadar benar. Melihatku dengan penuh tanda tanya sampai aku memalingkan pandanganku. Selalu saja aku yang berakhir lebih dulu saat aku memandangnya.
                Adik-adik itu jauh lebih ceria dan antusias dibandingkan apa yang kupikirkan sebelumnya. Gadisku lebih senang melihat dengan jarak dibandingkan turun langsung mendekati adik-adik itu. Aku paham, gadisku tak begitu menyukai anak-anak. Berbeda denganku yang akrab dengan adik-adik itu. Sesekali menggendong mereka atau bercanda. Aku melihat perempuan itu bicara dengan salah satu dari mereka. Mengingatkan Koko yang minta naik keatas penyangga yang digunakan untuk menyangga kapal selam agar tidak sampai jatuh. Perempuan itu juga tidak segan menolong temannya yang hendak menggendong teman Koko untuk ikut naik lalu berfoto.
                Aku terpaksa tidak ikut masuk ke dalam kapal selam untuk menyiapkan tempat bermain di dekat kolam renang bersama yang lain. Gadisku masuk ke dalam kapal selam untuk sekedar melihat-lihat. Aku baru bergabung dengan yang lain serta adik-adik sewaktu menonton video sejarah yang masih jadi bagian dari penjelasan bagaimana Monumen Kapal Selam sampai dibangun di Surabaya. Itu pun aku baru bergabung saat video sudah diputar lebih dari setengah bagian. Menonton ulang video sejarah jadi pilihan buat semuanya biar lebih mengerti daripada hanya sekedar mengobati rasa penasaran. Buat video sejarah yang kedua aku sudah berpindah tempat duduk dari sebelumnya dibelakang menjadi baris ke empat. Kenyataannya hanya sebuah tempat duduk yang diduduki Ian yang menyatakan kedudukanku dan perempuan itu. Tapi entah berapa baris orang yang menyatakan kedudukanku dan gadisku sekarang.  Perempuan itu belum menyadarinya sampai aku tahu bahwa ia gemas sendiri melihatku sibuk bercanda dengan Fitri. Perempuan itu hanya diam tak melakukan apapun. Hanya pikirannya yang melayang ‘Allah kakak ini telaten ya ngurusin Fitri. Idaman hehe’. Idaman ? Maksudnya ? Aku menangkap isyarat sahabat perempuan itu yang berkali-kali menggodanya. Perempuan itu tetap diam seolah dia tidak tahu apa-apa. Ah kelucuan yang lain.
                Perempuan itu sibuk menjaga Rusdi, salah satu adik binaan yang tidak bisa diam dan cenderung nakal. Semoga saja perempuan itu tidak habis dicubiti Rusdi. Terakhir aku melihatnya duduk menunggui Rusdi dibawah pohon. Melihat Rusdi yang sedang minum dan duduk tenang. Rusdi akhirnya tertarik dengan permainan yang sedang dilakukan teman-temannya dan berlari mendekat. Perempuan itu mengikutinya persis seperti seorang kakak.  Perempuan itu sempat berpaling lalu tertawa dengan cerita sahabatnya. Aku melihatnya tertawa, sepertinya sepanjang hari ini aku belum melihatnya tertawa lepas seperti itu.
                Entah kenapa sedikit banyak aku memperpendek kedudukan dengan perempuan itu. Seperti saat Fitri hendak turun perempuan itu sudah menunjukkan isyarat untuk membantu Fitri turun sampai akhirnya ia mengurungkan niat karena aku mendekat. ‘Ngga jadi deh, aku diem disini aja’ itu yang ada dikepalanya. Membaca pikirannya hari ini entah kenapa tak semenyenangkan yang sudah-sudah. Perempuan itu tampak bahagia dan ringan berada di tengah adik-adik ini. Hanya satu dua kalimat di pikirannya yang berisi tentangku. Harusnya tak hanya satu atau dua, satu paragraf atau selembar penuh pun aku tak keberatan. Seharusnya.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template