Kata
perempuan itu :
Hari ini sebenarnya secara tidak
sadar kutunggu dan kuharapkan kedatangannya melebihi hari lain. Menurutku ini
tidak hanya sekedar hari libur. Hari ini sudah datang, tapi kenapa responku
biasa saja ? Tak ada ekspektasi yang bisa membuatku antusias. Hanya saja
tubuhku tidak bisa berbohong dan bahkan merespon datangnya hari ini dengan
lebih baik ketimbang aku sendiri pemiliknya. Jam empat pagi dihari libur dengan
sebuah kegiatan yang menurutku bukan prioritas berhasil membangunkanku dan
menyeretku ke kamar mandi. Satu jam perjalanan ke kampus yang biasanya
membuatku menguap beralih menjadi nyanyian sepanjang jalan meski perut masih
kosong. Dingin sepanjang jalan juga tidak membuatku kembali.
Aku datang terlalu awal ke
kampus untuk sekedar berkumpul lalu berangkat ke Monumen Kapal Selam serta
Taman Prestasi seperti rencana awal. Hari ini memang aku sengaja ikut kegiatan
himpunan untuk sekedar tahu bagaimana adik-adik binaan dan bertemu banyak orang
baru. Tentu saja salah satu alasannya adalah laki-laki yang kutemui di Masjid
Agung beberapa bulan lalu yang sampai hari ini kusebut kakak. Aku tahu benar
siapa namanya hanya saja aku tak begitu suka menyebut namanya, alih-alih aku
menyebutnya dunia. Entah kenapa.
Pertemuan itu biasanya disertai
hujan. Aku menatap langit berkali-kali memastikan apa hujan akan turun. Petir di
Taman Prestasi sudah menceritakan bahwa pertemuan ini akan tetap disertai hujan
meski hujan tak akan turun sekarang. Hujan baru turun saat aku dalam perjalanan
pulang dan tertidur tak lelap dirumah.
Tatapan itu belum berubah. Kadang
masih disertai senyum lebar yang sepertinya bisa membawaku terbang. Tatapan itu
belum berubah. Kadang masih mencuri-curi apa yang aku pikirkan di dalam. Tak
pernah sangat terlihat hanya saja dapat dirasakan. Hari ini tak seperti
biasanya. Tatapan yang sama dengan perasaanku yang sudah mulai berubah. Dengan cerita
yang semakin lama semakin membingungkan harus dimulai darimana. Tujuh setengah
jam dengan konspirasi alam yang membuatku semakin kagum. Tapi terbang lebih
rendah daripada detik-detik yang biasanya kulewati diantara hujan. Tatapan yang
sama.
Aku sedang duduk diam menuliskan
apa yang kurasakan. Bingung hendak menceritakan karena mendadak semuanya tampak
terhambat. Laki-laki itu tampak begitu mengagumkan hanya dari caranya
tersenyum. Hari-hari yang kulewati hanya membuatku semakin kagum tanpa
ekspektasi yang terbang melambung akibat kenyataan yang ia sajikan dihadapanku.
Pertemuan pertama di Masjid Agung. Kedua di mushalla fakultas. Sisanya di
gazebo favoritnya atau kelas yang tertata rapi terpisah lorong panjang. Pertemuan
pertama dan kedua tanpa hujan. Sisanya diikuti hujan bahkan hari ini. Entah pertanda
apa. Sepasang mata yang dinaungi barisan alis tebal yang menggambarkannya
sebagai laki-laki tegas. Hidung mancung dan bibir yang sering tersenyum yang
kuharap ditujukannya kepadaku. Serta kulit kecokelatan. Sisanya terlihat akrab
dengan makhluk-makhluk kecil yang sedang bertumbuh bernama anak-anak.
Dewasa, tegas, punya figur
membimbing dan menjaga. Apa lagi yang tidak membuatku kagum ? Dengan agamanya
yang seperti itu apalagi yang membuatku berpikir dua kali untuk berharap
laki-laki itu menyandang kepemilikanku selain apa yang ia hadapkan padaku sejak
awal ? akhirnya aku menjatuhkan harapan, bahkan sejak hujan pertama yang turun
tahun lalu saat aku tepat disampingnya. Tetap menyimpan harapan itu dibalik
angka nol koma yang diikuti sembilan angka nol yang lain dibelakangnya. Tak berani
meletakkannya lebih tinggi dari tempat yang sudah kusediakan.
Hari ini pun begitu. Terjadi untuk
menambah kekagumanku sekaligus menetapkan kedudukan harapan yang kuciptakan
sendiri. Fitri tanpa beban merengek dan minta gendong kepadanya. Berlari disekitarnya
dan terus menerus bermain dengannya. Iya, Fitri salah satu adik binaannya yang
cukup akrab dan tanpa beban bergelayut dilengannya. Fitri yang tadi minta
ditangkap olehku saat main perosotan yang cukup tinggi dan licin. Fitri yang
mendadak mengajakku naik kapal dan jalan kesana kemari. Fitri yang menggenggam
tanganku seperti sudah pernah bertemu dan banyak bicara. Fitri yang akhirnya
tak jadi naik kapal. Fitri yang tiba-tiba ada disebelahku dan merajuk.
Mungkin Fitri tahu tanpa aku
harus berbicara. Mungkin Fitri tahu bahwa aku punya perasaan yang tak biasa
kepada kakak favoritnya itu. Mungkin Fitri juga tahu makanya ia menggandengku. Tapi
Fitri juga tahu bahwa kakak favoritnya ada yang punya.
Seharusnya aku berharap agar
cerita ini tak berakhir sampai disini. Harusnya aku punya alasan untuk terus
menemuinya atau sekedar ada dalam satu kejadian bernama konspirasi alam. Harusnya.