Minggu, 16 Februari 2014

Cerita (hujan) Sore ini – Bagian 4 yang lain


Kata perempuan itu :
                Hari ini sebenarnya secara tidak sadar kutunggu dan kuharapkan kedatangannya melebihi hari lain. Menurutku ini tidak hanya sekedar hari libur. Hari ini sudah datang, tapi kenapa responku biasa saja ? Tak ada ekspektasi yang bisa membuatku antusias. Hanya saja tubuhku tidak bisa berbohong dan bahkan merespon datangnya hari ini dengan lebih baik ketimbang aku sendiri pemiliknya. Jam empat pagi dihari libur dengan sebuah kegiatan yang menurutku bukan prioritas berhasil membangunkanku dan menyeretku ke kamar mandi. Satu jam perjalanan ke kampus yang biasanya membuatku menguap beralih menjadi nyanyian sepanjang jalan meski perut masih kosong. Dingin sepanjang jalan juga tidak membuatku kembali.
                Aku datang terlalu awal ke kampus untuk sekedar berkumpul lalu berangkat ke Monumen Kapal Selam serta Taman Prestasi seperti rencana awal. Hari ini memang aku sengaja ikut kegiatan himpunan untuk sekedar tahu bagaimana adik-adik binaan dan bertemu banyak orang baru. Tentu saja salah satu alasannya adalah laki-laki yang kutemui di Masjid Agung beberapa bulan lalu yang sampai hari ini kusebut kakak. Aku tahu benar siapa namanya hanya saja aku tak begitu suka menyebut namanya, alih-alih aku menyebutnya dunia. Entah kenapa.

                Pertemuan itu biasanya disertai hujan. Aku menatap langit berkali-kali memastikan apa hujan akan turun. Petir di Taman Prestasi sudah menceritakan bahwa pertemuan ini akan tetap disertai hujan meski hujan tak akan turun sekarang. Hujan baru turun saat aku dalam perjalanan pulang dan tertidur tak lelap dirumah.
                Tatapan itu belum berubah. Kadang masih disertai senyum lebar yang sepertinya bisa membawaku terbang. Tatapan itu belum berubah. Kadang masih mencuri-curi apa yang aku pikirkan di dalam. Tak pernah sangat terlihat hanya saja dapat dirasakan. Hari ini tak seperti biasanya. Tatapan yang sama dengan perasaanku yang sudah mulai berubah. Dengan cerita yang semakin lama semakin membingungkan harus dimulai darimana. Tujuh setengah jam dengan konspirasi alam yang membuatku semakin kagum. Tapi terbang lebih rendah daripada detik-detik yang biasanya kulewati diantara hujan. Tatapan yang sama.
                Aku sedang duduk diam menuliskan apa yang kurasakan. Bingung hendak menceritakan karena mendadak semuanya tampak terhambat. Laki-laki itu tampak begitu mengagumkan hanya dari caranya tersenyum. Hari-hari yang kulewati hanya membuatku semakin kagum tanpa ekspektasi yang terbang melambung akibat kenyataan yang ia sajikan dihadapanku. Pertemuan pertama di Masjid Agung. Kedua di mushalla fakultas. Sisanya di gazebo favoritnya atau kelas yang tertata rapi terpisah lorong panjang. Pertemuan pertama dan kedua tanpa hujan. Sisanya diikuti hujan bahkan hari ini. Entah pertanda apa. Sepasang mata yang dinaungi barisan alis tebal yang menggambarkannya sebagai laki-laki tegas. Hidung mancung dan bibir yang sering tersenyum yang kuharap ditujukannya kepadaku. Serta kulit kecokelatan. Sisanya terlihat akrab dengan makhluk-makhluk kecil yang sedang bertumbuh bernama anak-anak.
                Dewasa, tegas, punya figur membimbing dan menjaga. Apa lagi yang tidak membuatku kagum ? Dengan agamanya yang seperti itu apalagi yang membuatku berpikir dua kali untuk berharap laki-laki itu menyandang kepemilikanku selain apa yang ia hadapkan padaku sejak awal ? akhirnya aku menjatuhkan harapan, bahkan sejak hujan pertama yang turun tahun lalu saat aku tepat disampingnya. Tetap menyimpan harapan itu dibalik angka nol koma yang diikuti sembilan angka nol yang lain dibelakangnya. Tak berani meletakkannya lebih tinggi dari tempat yang sudah kusediakan.
                Hari ini pun begitu. Terjadi untuk menambah kekagumanku sekaligus menetapkan kedudukan harapan yang kuciptakan sendiri. Fitri tanpa beban merengek dan minta gendong kepadanya. Berlari disekitarnya dan terus menerus bermain dengannya. Iya, Fitri salah satu adik binaannya yang cukup akrab dan tanpa beban bergelayut dilengannya. Fitri yang tadi minta ditangkap olehku saat main perosotan yang cukup tinggi dan licin. Fitri yang mendadak mengajakku naik kapal dan jalan kesana kemari. Fitri yang menggenggam tanganku seperti sudah pernah bertemu dan banyak bicara. Fitri yang akhirnya tak jadi naik kapal. Fitri yang tiba-tiba ada disebelahku dan merajuk.
                Mungkin Fitri tahu tanpa aku harus berbicara. Mungkin Fitri tahu bahwa aku punya perasaan yang tak biasa kepada kakak favoritnya itu. Mungkin Fitri juga tahu makanya ia menggandengku. Tapi Fitri juga tahu bahwa kakak favoritnya ada yang punya.
                Seharusnya aku berharap agar cerita ini tak berakhir sampai disini. Harusnya aku punya alasan untuk terus menemuinya atau sekedar ada dalam satu kejadian bernama konspirasi alam. Harusnya.
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template