Sabtu, 08 Maret 2014

Late night story


Late night story ? | mungkin saja
Pernah tidak kamu pertama kali bertemu dan beberapa detik kemudian diajak berkomitmen ? | pernah, hal ini baru saja terjadi kepadaku. Beberapa saat yang lalu. Dikolong langit. Di sebuah tempat yang menurutku terlalu menakutkan untuk didatangi. Tepat di antara angin malam yang berhembus tak terasa. Di bawah langit oranye keunguan lewat sebelas malam kota Surabaya.
Pernah tidak kamu disuguhi cerita paling dalam dari orang yang baru saja kamu kenal ? | sebelumnya memang tidak pernah terpikir olehku. Kenyataannya itu baru saja terjadi. Aku mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Tanpa tatapan mata yang lurus ke arah sang pencerita. Dengan kedua mata yang menatap jauh ke arah lampu-lampu kota yang masih menyala hingga subuh nanti.
Pernah tidak kamu melihat sahabat dekatmu yang biasanya amat sangat cerewet mendadak diam dan nyaris menangis hanya dengan apa yang akan dia lakukan ke depannya ? | sayangnya aku baru saja menyaksikannya sendiri. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Tapi air mata di sudut matanya menceritakan kepadaku bahwa dunianya selama ini lebih terbatas dari duniaku. Senyumnya yang penuh keraguan menyadarkanku bahwa ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia pikirkan. Dunia yang tadinya tenang menjadi berbalik arah. Bahkan mungkin lebih parah dari sensasi serangan orbit yang tiba-tiba berkunjung dan mengubah pusat rotasinya.
Jadi, apa ceritamu malam ini ? | sesak yang mendera beberapa hari yang lalu mungkin menemukan jawabannya malam ini. Tuhan sedang berbaik hati dengan membawaku ke kolong langit. Hamparan oranye keunguan serta sepoi-sepoi yang kuabaikan. Melagu, bercerita dan bertemu orang baru. Jebakan korlas aku menamainya.  Tugas yang membawaku ke tempat yang tidak pernah terpikirkan olehku. Tempat yang menurutku menakutkan untuk dikunjungi. Sedetik dua detik urusan kewajiban selesai. Tiga detik empat detik tak bisa langsung pulang. Lima detik enam detik duduk dan berkenalan. Tujuh detik delapan detik tidak tahu harus berkomentar apa. Sembilan detik sepuluh detik sudah lupa niatan untuk pulang. Kolong langit yang nampak sulit dijangkau dengan bawahan hitam model A. Kenyataannya aku naik saja. Lalu tidak menyesal meski tahu akan susah untuk kembali memijak bumi setelah tinggal beberapa saat di kolong langit. Aku pun belajar. Aku pun mendengar. Aku pun bernyanyi. Sesakku hilang ditelan bumi.
                Namanya Mba Iis, asing memang. Tapi perempuan itu pula yang akhirnya membuatku berkomitmen untuk fast track ke Perancis dua setengah tahun lagi. Menambah komitmenku untuk berangkat umroh tahun depan dengan mama menggunkan uangku sendiri. Tidak mungkin ? ah siapa bilang. Menceritakannya akan berbuah lemparan doa dan pengingat bahwa ada yang harus dicapai dalam waktu dekat. Mencambukku dengan catatan-catatan mimpi yang dicoret sekaligus digantinya dengan mimpi yang baru di sebuah agenda merah muda. Mengunjungi sekretariat himpunan memang menyenangkan selama mereka yang menyambutmu benar-benar memikirkan bahwa kamu adalah anggota keluarga baru yang layak diajak bicara dan mendekat.
                Cerita selanjutnya diisi seorang lelaki bernama Catur Budi yang entah kenapa punya kisah yang mirip denganku. Dikalahkan musuh yang terlihat sama sekali tak punya potensi untuk mengalahkan. Bahkan dikatakan mengancam pun tidak. Kecewa ? tentu saja lelaki berkulit cokelat itu kecewa. Dihabiskan dalam sebuah pelajaran oleh Mba Iis. Jangan kecewa. Beri tuhan waktu untuk berpikir apa yang pantas kamu dapatkan setelah apa yang kamu berikan pada orang lain. Sama dengan hukum Newton ketiga, apa yang kamu keluarkan akan kembali kepadamu. Hari ini kamu boleh kalah. Tapi keikhlasanmu untuk menerima kekalahan itu dibalas hadiah yang besar oleh Tuhan esok lusa.
                Sederhana itu yang paling mengancam. Perubahan kecil yang dihargai bisa jadi lebih berarti dari sebuah perubahan besar nan biasa. Tapi tuhan tau jalanmu,mana yang baik dan amna yang buruk bagimu. Tuhan mengarahkanmu. Semangatlah. Berikan kebaikanmu ke orang lain. Keluarlah dari zona nyaman. Bertemulah dengan orang baru. Apa yang kamu rasakan hari ini bisa jadi hal yang baik esok. Sebuah bayaran.
7-8 maret 2014 00.34 WIB
Sekretariat HIMASTA – ITS Lt 3
Mba Iis, Mas Cabud, Mas Dias, Mba Faza, Imam, Nada, Sendy, Aldi, Aul, Mas Irwan, Mas Ian, Mas Gentong, Mas Galon, Mas Fian dan Mas Mba yang namanyya tidak bisa saya ingat dengan baik
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template