Late night story ? | mungkin saja
Pernah tidak kamu
pertama kali bertemu dan beberapa detik kemudian diajak berkomitmen ? | pernah, hal ini baru saja terjadi
kepadaku. Beberapa saat yang lalu. Dikolong langit. Di sebuah tempat yang
menurutku terlalu menakutkan untuk didatangi. Tepat di antara angin malam yang
berhembus tak terasa. Di bawah langit oranye keunguan lewat sebelas malam kota
Surabaya.
Pernah tidak kamu
disuguhi cerita paling dalam dari orang yang baru saja kamu kenal ? | sebelumnya memang tidak pernah
terpikir olehku. Kenyataannya itu baru saja terjadi. Aku mendengarkannya dengan
sungguh-sungguh. Tanpa tatapan mata yang lurus ke arah sang pencerita. Dengan
kedua mata yang menatap jauh ke arah lampu-lampu kota yang masih menyala hingga
subuh nanti.
Pernah tidak kamu
melihat sahabat dekatmu yang biasanya amat sangat cerewet mendadak diam dan
nyaris menangis hanya dengan apa yang akan dia lakukan ke depannya ? | sayangnya aku baru saja
menyaksikannya sendiri. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Tapi air mata di
sudut matanya menceritakan kepadaku bahwa dunianya selama ini lebih terbatas
dari duniaku. Senyumnya yang penuh keraguan menyadarkanku bahwa ia sendiri
tidak tahu apa yang harus ia pikirkan. Dunia yang tadinya tenang menjadi berbalik
arah. Bahkan mungkin lebih parah dari sensasi serangan orbit yang tiba-tiba
berkunjung dan mengubah pusat rotasinya.
Jadi, apa ceritamu
malam ini ? |
sesak yang mendera beberapa hari yang lalu mungkin menemukan jawabannya malam
ini. Tuhan sedang berbaik hati dengan membawaku ke kolong langit. Hamparan
oranye keunguan serta sepoi-sepoi yang kuabaikan. Melagu, bercerita dan bertemu
orang baru. Jebakan korlas aku menamainya.
Tugas yang membawaku ke tempat yang tidak pernah terpikirkan olehku. Tempat
yang menurutku menakutkan untuk dikunjungi. Sedetik dua detik urusan kewajiban
selesai. Tiga detik empat detik tak bisa langsung pulang. Lima detik enam detik
duduk dan berkenalan. Tujuh detik delapan detik tidak tahu harus berkomentar
apa. Sembilan detik sepuluh detik sudah lupa niatan untuk pulang. Kolong langit
yang nampak sulit dijangkau dengan bawahan hitam model A. Kenyataannya aku naik
saja. Lalu tidak menyesal meski tahu akan susah untuk kembali memijak bumi
setelah tinggal beberapa saat di kolong langit. Aku pun belajar. Aku pun
mendengar. Aku pun bernyanyi. Sesakku hilang ditelan bumi.
Namanya Mba Iis, asing memang.
Tapi perempuan itu pula yang akhirnya membuatku berkomitmen untuk fast track ke
Perancis dua setengah tahun lagi. Menambah komitmenku untuk berangkat umroh tahun
depan dengan mama menggunkan uangku sendiri. Tidak mungkin ? ah siapa bilang.
Menceritakannya akan berbuah lemparan doa dan pengingat bahwa ada yang harus
dicapai dalam waktu dekat. Mencambukku dengan catatan-catatan mimpi yang
dicoret sekaligus digantinya dengan mimpi yang baru di sebuah agenda merah
muda. Mengunjungi sekretariat himpunan memang menyenangkan selama mereka yang
menyambutmu benar-benar memikirkan bahwa kamu adalah anggota keluarga baru yang
layak diajak bicara dan mendekat.
Cerita selanjutnya diisi seorang
lelaki bernama Catur Budi yang entah kenapa punya kisah yang mirip denganku.
Dikalahkan musuh yang terlihat sama sekali tak punya potensi untuk mengalahkan.
Bahkan dikatakan mengancam pun tidak. Kecewa ? tentu saja lelaki berkulit cokelat
itu kecewa. Dihabiskan dalam sebuah pelajaran oleh Mba Iis. Jangan kecewa. Beri
tuhan waktu untuk berpikir apa yang pantas kamu dapatkan setelah apa yang kamu
berikan pada orang lain. Sama dengan hukum Newton ketiga, apa yang kamu
keluarkan akan kembali kepadamu. Hari ini kamu boleh kalah. Tapi keikhlasanmu
untuk menerima kekalahan itu dibalas hadiah yang besar oleh Tuhan esok lusa.
Sederhana itu yang paling
mengancam. Perubahan kecil yang dihargai bisa jadi lebih berarti dari sebuah
perubahan besar nan biasa. Tapi tuhan tau jalanmu,mana yang baik dan amna yang
buruk bagimu. Tuhan mengarahkanmu. Semangatlah. Berikan kebaikanmu ke orang
lain. Keluarlah dari zona nyaman. Bertemulah dengan orang baru. Apa yang kamu
rasakan hari ini bisa jadi hal yang baik esok. Sebuah bayaran.
7-8 maret 2014 00.34 WIB
Sekretariat HIMASTA – ITS Lt 3
Mba Iis, Mas Cabud, Mas Dias, Mba Faza, Imam, Nada, Sendy, Aldi, Aul,
Mas Irwan, Mas Ian, Mas Gentong, Mas Galon, Mas Fian dan Mas Mba yang namanyya tidak bisa saya ingat dengan baik