Sabtu, 08 Februari 2014

Sepayung Kenangan


Hujan turun sore ini. Tanpa diduga. Tanpa ada ramalan cuaca yang mengatakannya pagi tadi. Hujan turun tanpa mendung. Aku berpayung dibawah hujan. Berjalan sendiri. Memainkan sendiri film-film lama. Melihat pelakunya dalam sebuah kepingan cerita lama. Seorang gadis berpayung lebar hendak pulang. Seorang gadis berpayung lebar menawarkan payungnya kepada dua teman. Payung lebarnya penuh. Gadis itu sama sekali tak basah. Teman lelakinya basah di bahu. Jalan pulangnya masih jauh. Gadis berpayung lebar masih harus mengantar temannya yang satu lagi. Hanya berdua.
Hujan yang dilalui sepertinya biasa saja. Basah. Wangi tanah. Harum rumput basah yang dilalui. Becek tanah sawah. Bekas cipratan genangan di lapangan. Jejak kaki orang berteduh di pos jaga malam. Toko kelontong yang tutup sementara. Gadis berpayung lebar sudah sampai. Hanya di ujung gang rumah teman lelakinya. Teman lelakinya memintanya mengantar sampai ujung gang. Padahal sampai depan rumah bukan masalah buat gadis itu. kakinya sudah basah. Sandalnya sudah kotor karena genangan air hujan. Gadis berpayung lebar pulang. Tanpa punya angan bahwa ceritanya tak berhenti sampai disini.
Hujan disini biasa saja. Aku berpayung sendirian dibawahnya. Hujan disini tak sedingin hari itu. hujan disini tak sehangat hari itu. hujan disini tak sebasah hari itu. hujan disini tak sewangi hari itu. hujan hari ini hanya menimbulkan kenangan. Kepingan film lama yang diputar di kepala. Hujan hari ini tak menyembuhkan kerinduan.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template