Minggu, 09 Maret 2014

Cerita (hujan) Sore ini – Bagian 5


Kata perempuan itu :
                Selama ini mungkin aku memang membatasi harapanku agar tidak pergi lebih tinggi daripada aku. Kenyataan yang kudapati hari ini adalah kalimat-kalimat permintaan yang melambung tinggi dibatasi langit-langit kamar. Kelambu biru tertutup rapat agar angin tidak menerobos. Biar harapan itu tetap dibatasi langit-langit bukannya terbang tinggi menggapai langit yang sebenarnya.
                Aku mulai rindu. Gelisah mencari kedudukannya detik ini. Memutar kepala mencari pelampiasan rasa. Berkeliling menghadapi situasi berbeda yang bukan dia. Kemudian dikagetkan langkahkaki yang tak dikehendaki. Dibebani hati yang berteriak minta didengar. Dibisiki suara yang minta dituruti. Aku beranjak dari gazebo tempatku mengerjakan tugas. Tempat yang paling mudah untuk menemukannya. Memasang sepatu yang sedari tadi ku lepas. Meninggalkan pemandangan berupa pena dan kertas yang berserakan. Berpamitan pada seorang teman untuk menghampiri langkah yang berkhianat.
“aku sholat dulu rek”
                Kakiku melangkah pelan dari arah gazebo menuju tangga depan koridor. Satu dua tangga kunaiki. Koridor dihadapanku benar-benar sepi karena memang sedang berlangsung kelas. Tiga empat tangga aku tatapanku pindah ke arah mushalla. Pijakan kelima pada tangga aku menemukannya. Tepat di depan tempat wudhu laki-laki. Sibuk memainkan pulpen di tangannya dengan sisa-sisa air wudhu yang masih menempel di wajahnya. Tersenyum kecil ke arahku. Entah senyum untuk siapa. Aku menyambut muara rinduku.
                Langkah kaki yangmengkhianati membawaku pada muara rindu yang butuh kutemui. Pelampias rasa yang tampak tak berdosa. Kertasku tercemari seperti yang sudah-sudah. Harapanku menembus batasnya, langit-langit kamar. Aku pun sadar, sebentar lagi akan turun hujan.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template