Kata
perempuan itu :
Selama ini mungkin aku memang
membatasi harapanku agar tidak pergi lebih tinggi daripada aku. Kenyataan yang
kudapati hari ini adalah kalimat-kalimat permintaan yang melambung tinggi
dibatasi langit-langit kamar. Kelambu biru tertutup rapat agar angin tidak
menerobos. Biar harapan itu tetap dibatasi langit-langit bukannya terbang
tinggi menggapai langit yang sebenarnya.
Aku mulai rindu. Gelisah mencari
kedudukannya detik ini. Memutar kepala mencari pelampiasan rasa. Berkeliling menghadapi
situasi berbeda yang bukan dia. Kemudian dikagetkan langkahkaki yang tak dikehendaki.
Dibebani hati yang berteriak minta didengar. Dibisiki suara yang minta
dituruti. Aku beranjak dari gazebo tempatku mengerjakan tugas. Tempat yang paling
mudah untuk menemukannya. Memasang sepatu yang sedari tadi ku lepas. Meninggalkan
pemandangan berupa pena dan kertas yang berserakan. Berpamitan pada seorang
teman untuk menghampiri langkah yang berkhianat.
“aku
sholat dulu rek”
Kakiku melangkah pelan dari arah
gazebo menuju tangga depan koridor. Satu dua tangga kunaiki. Koridor dihadapanku
benar-benar sepi karena memang sedang berlangsung kelas. Tiga empat tangga aku
tatapanku pindah ke arah mushalla. Pijakan kelima pada tangga aku menemukannya.
Tepat di depan tempat wudhu laki-laki. Sibuk memainkan pulpen di tangannya
dengan sisa-sisa air wudhu yang masih menempel di wajahnya. Tersenyum kecil ke
arahku. Entah senyum untuk siapa. Aku menyambut muara rinduku.
Langkah kaki yangmengkhianati
membawaku pada muara rindu yang butuh kutemui. Pelampias rasa yang tampak tak
berdosa. Kertasku tercemari seperti yang sudah-sudah. Harapanku menembus
batasnya, langit-langit kamar. Aku pun sadar, sebentar lagi akan turun hujan.