Minggu, 09 Maret 2014

Cerita (hujan) Sore ini – Bagian 6


Sudah terlalu lama sepertinya menghindari sebuah pertemuan. Entah ini dinamai konspirasi alam macam apa. Tapi bukankah tidak ada sesuatu yang benar-benar kebetulan ? Bagku, sepertinya ini takdir. Mampu membaca pikiran orang lain. Termasuk perempuan itu. Membaca pikirannya seperti melihat film yang diputar di bioskop. Hanya saja film yang kutonton adalah film dengan genre yang dikumpulkan menjadi satu.
            Secara tidak langsung aku menghindar. Jadwal yang padat ditambah lagi dengan kegiatan kampus yang kuikuti. Bahkan buat gadisku hanya lima sepuluh menit buat bertemu. Lima sepuluh menit yang terletak diantara pergantian jam kuliah. Tapi perempuan itu, entah kenapa satu dua waktu yang lalu aku rindu membaca pikirannya.
            Hujan turun sangat deras. Mendadak aku ingat perempuan itu. Hari hujan seperti ini biasanya diisi dengan pertemuan-pertemuan sederhana dengan perempuan itu. Aku urung pulang seperti waktu itu. Seperti saat lalu, perempuan itu duduk di serambi mushalla. Kali ini perempuan itu memeluk erat jaket merah yang tak sengaja kutinggalkan di mushalla sewaktu menunaikan empat rakaat siang tadi. Satu dua langkah kaki membawaku menghampirinya. Menyapa lalu membaca pikirannya seperti yang sudah-sudah. Seperti melakukan kebiasaan lama, aku tersenyum dalam hati.
“Hai” kataku sedikit canggug. Hei memangnya ada apa sampai aku canggung menghadapi perempuan ini.
“Eh, hai kak. Mau ambil jaket ya ?” Katanya sembari mengulurkan jaket merah yang sejak tadi ia peluk erat. Ah, dia terlalu to do point. Harusnya ada kalimat-kalimat lain yang mampu menjadikan percakapan ini lebih dari tiga halaman jika dituliskan dalam sebuah cerita.
“Ah ya, ini jaketku. Kamu tau darimana ini jaketku ?”
“Hehe sering liat kak” ah ya. Aku sering memakai jaket ini ke kampus. Harusnya ada kalimat lain yang membuat harapanku terpenuhi. Ah, apa yang sedang kupikirkan. Dan yang kusadari hari ini,  perempuan ini cukup perhatian juga.
“Mau sholat ?”
“Engga kak” sampai kalimat ini keluar dari mulutku aku masih belum mengambil jaket yang sedari tadi dia ulurkan kepadaku.
“Kak jaketnya ?” Mau tak mau aku mengambil jaket merahku.
“Ah ya, makasi del” kataku tanpa sadar menyebut namanya. ‘eh kok tau namaku kak?’ kalimat dengan nada keheranan itu hanya ada di kepalanya. Perempuan itu terlalu sibuk menghadapi situasi di depannnya. Perempuan itu akhirnya tersenyum. Kikuk dan malu-malu. Aku pun begitu, masih heran dengan apa yang kulakukan barusan.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template