Sudah
terlalu lama sepertinya menghindari sebuah pertemuan. Entah ini dinamai
konspirasi alam macam apa. Tapi bukankah tidak ada sesuatu yang benar-benar
kebetulan ? Bagku, sepertinya ini takdir. Mampu membaca pikiran orang lain. Termasuk
perempuan itu. Membaca pikirannya seperti melihat film yang diputar di bioskop.
Hanya saja film yang kutonton adalah film dengan genre yang dikumpulkan menjadi
satu.
Secara tidak langsung aku menghindar.
Jadwal yang padat ditambah lagi dengan kegiatan kampus yang kuikuti. Bahkan buat
gadisku hanya lima sepuluh menit buat bertemu. Lima sepuluh menit yang terletak
diantara pergantian jam kuliah. Tapi perempuan itu, entah kenapa satu dua waktu
yang lalu aku rindu membaca pikirannya.
Hujan turun sangat deras. Mendadak aku
ingat perempuan itu. Hari hujan seperti ini biasanya diisi dengan
pertemuan-pertemuan sederhana dengan perempuan itu. Aku urung pulang seperti
waktu itu. Seperti saat lalu, perempuan itu duduk di serambi mushalla. Kali ini
perempuan itu memeluk erat jaket merah yang tak sengaja kutinggalkan di
mushalla sewaktu menunaikan empat rakaat siang tadi. Satu dua langkah kaki membawaku
menghampirinya. Menyapa lalu membaca pikirannya seperti yang sudah-sudah. Seperti
melakukan kebiasaan lama, aku tersenyum dalam hati.
“Hai”
kataku sedikit canggug. Hei memangnya ada apa sampai aku canggung menghadapi
perempuan ini.
“Eh,
hai kak. Mau ambil jaket ya ?” Katanya sembari mengulurkan jaket merah yang
sejak tadi ia peluk erat. Ah, dia terlalu to do point. Harusnya ada
kalimat-kalimat lain yang mampu menjadikan percakapan ini lebih dari tiga
halaman jika dituliskan dalam sebuah cerita.
“Ah
ya, ini jaketku. Kamu tau darimana ini jaketku ?”
“Hehe
sering liat kak” ah ya. Aku sering memakai jaket ini ke kampus. Harusnya ada
kalimat lain yang membuat harapanku terpenuhi. Ah, apa yang sedang kupikirkan. Dan
yang kusadari hari ini, perempuan ini
cukup perhatian juga.
“Mau
sholat ?”
“Engga
kak” sampai kalimat ini keluar dari mulutku aku masih belum mengambil jaket
yang sedari tadi dia ulurkan kepadaku.
“Kak
jaketnya ?” Mau tak mau aku mengambil jaket merahku.
“Ah
ya, makasi del” kataku tanpa sadar menyebut namanya. ‘eh kok tau namaku kak?’ kalimat dengan nada keheranan itu hanya
ada di kepalanya. Perempuan itu terlalu sibuk menghadapi situasi di depannnya. Perempuan
itu akhirnya tersenyum. Kikuk dan malu-malu. Aku pun begitu, masih heran dengan
apa yang kulakukan barusan.