Kepadamu
yang beberapa hari ini sibuk menyita pikiranku
Tidak, sejujurnya aku tidak
menghabiskan waktu sebanyak itu untuk memikirkanmu. Aku masih tetap sibuk
dengan kebiasaanku memikirkan apa yang diajarkan dosen setiap aku masuk kelas.
Aku juga masih sesekali memikirkan sesuatu yang diluar dugaanku. Aku juga masih
sering melakukan sesuatu yang mampu melenyapkan setiap hal yang selama ini ku
sebut bosan. Bahkan maalm ini pun aku masih sibuk belajar untuk apa yang harus kuhadapi besok. Hanya saja aku tergoda dengan tuts keyboard yang sudah lama
tak menjadi tempat jemariku menari. Aku juga menyadari bahwa pulpen dan kertas
serta kegiatan semi mengarang yang aku dan kamu ikuti tadi membuatku cepat
lelah. Aku mampu menulis lebih banyak dari itu, biasanya.
Ini masih tentang kamu yang
mendadak mencuri perhatianku. Tidak sengaja mengingatkan mimpi-mimpi lama yang
tak pernah ku tulis. Ku pikir itu hanya keinginan konyol seorang gadis kecil. Sampai
kamu muncul dan membuatku berpikir bahwa mungkin saja mimpi konyol gadis itu
bisa terwujud. Mungkin, hanya tuhan yang tahu.
Cerita yang lalu lalang
dihadapanku serta perbincangan tentang kita masih belum berlalu. Ah aku tidak
seharusnya menyebut hembusan itu dengan sebutan kita. Kita ? Memangnya aku
dan kamu siapa ? Apa yang sedang terjadi diantara kita ? Kamu bilang terserah. Aku
pun begitu. Terserahku bermakna ya kali ini, bagaimana dengan terserahmu ? Mana
yang akan aku dan kamu ikuti ? Terserah dengan makna seperti apa ? Kenapa kamu
tidak bilang saja terlebih dulu. Ah yaa aku ingat aku bahkan bukan undian
berhadiah. Kamu lebih sadar bahwa hal yang seperti ini tak bisa dianggap sebuah
permainan.
Selayaknya kamu yang menurutku
memperlakukanku berbeda. Bahkan membantuku menghindar dari apa yang tak kusuka.
Bahkan membantuku mencapai tempat yang lain. Bahkan kadang membuatku rancu
dengan kalimat-kalimat yang keluar dari bibirmu. Pertanyaannku satu, apa kamu
tidak main-main dengan kalimatmu barusan ?
Maaf aku banyak bertanya. Sepertinya
bahasa pemrograman yang kupelajari barusan sudah menjadi pertanyaan- pertanyaan
membingungkan serta terlalu tiba-tiba buatmu. Mungkin juga terlalu banyak. Maaf
jika ini sepertinya menjadi aneh. Hanya saja apa yang menurutku terjadi biar ku
simpan dulu. Aku mau ini jadi berbeda. Tidak menjauhkan seperti apa yang
sudah-sudah. Tidak menciptakan jarak seperti yang lalu. Karena itu aku
menyimpannya dulu, karena itu aku tersipu malu ketika disinggung tentangmu. Karena
itu aku tidak mau ini berubah sebelum waktunya.
Ini bukan kali pertama kamu
mengeluarkan kalimat yang memunculkan pertanyaannku yang ku tulis di paragraf
sebelumnya. Sadar tidak aku tidak pernah menjawabmu ? aku tidak menghindar aku
juga tak menolak. Aku masih berdiri di tempat yang sama. Di tempat yang
membuatmu mampu melihatku. Aku masih dikelilingi batas harap yang kutetapkan. Bagiku, waktuku terlalu berharga hanya untuk menangisi atau sekedar memikirkanmu. Seperti
yang kau katakan waktu itu di tangga dalam perjalanan pulang. Dalam cerita yang
ku tulis pula suatu hari.
Suratku hari ini akan segera
berakhir. Masih ada yang perlu kau ingat. Terserahku masih bermakna ya sampai
hari ini. Aku hanya tak tahu terserahmu bermakna sejalan atau tidak dengan
milikku. Dan pertanyaanku di paragraf yang sudah-sudah, terkadang aku ingin
kamu menjawabnya di depanku. Sudahlah, selamat malam. Selamat memejam. Aku tahu
kau lelah, aku pun begitu.