Kamis, 13 Maret 2014

kriiiing kriiiing Selamat pagi, ada surat mas !


Kepadamu yang beberapa hari ini sibuk menyita pikiranku
                Tidak, sejujurnya aku tidak menghabiskan waktu sebanyak itu untuk memikirkanmu. Aku masih tetap sibuk dengan kebiasaanku memikirkan apa yang diajarkan dosen setiap aku masuk kelas. Aku juga masih sesekali memikirkan sesuatu yang diluar dugaanku. Aku juga masih sering melakukan sesuatu yang mampu melenyapkan setiap hal yang selama ini ku sebut bosan. Bahkan maalm ini pun aku masih sibuk belajar untuk apa yang harus kuhadapi besok. Hanya saja aku tergoda dengan tuts keyboard yang sudah lama tak menjadi tempat jemariku menari. Aku juga menyadari bahwa pulpen dan kertas serta kegiatan semi mengarang yang aku dan kamu ikuti tadi membuatku cepat lelah. Aku mampu menulis lebih banyak dari itu, biasanya.
                Ini masih tentang kamu yang mendadak mencuri perhatianku. Tidak sengaja mengingatkan mimpi-mimpi lama yang tak pernah ku tulis. Ku pikir itu hanya keinginan konyol seorang gadis kecil. Sampai kamu muncul dan membuatku berpikir bahwa mungkin saja mimpi konyol gadis itu bisa terwujud. Mungkin, hanya tuhan yang tahu.
                Cerita yang lalu lalang dihadapanku serta perbincangan tentang kita masih belum berlalu. Ah aku tidak seharusnya menyebut hembusan itu dengan sebutan kita. Kita ? Memangnya aku dan kamu siapa ? Apa yang sedang terjadi diantara kita ? Kamu bilang terserah. Aku pun begitu. Terserahku bermakna ya kali ini, bagaimana dengan terserahmu ? Mana yang akan aku dan kamu ikuti ? Terserah dengan makna seperti apa ? Kenapa kamu tidak bilang saja terlebih dulu. Ah yaa aku ingat aku bahkan bukan undian berhadiah. Kamu lebih sadar bahwa hal yang seperti ini tak bisa dianggap sebuah permainan.
                Selayaknya kamu yang menurutku memperlakukanku berbeda. Bahkan membantuku menghindar dari apa yang tak kusuka. Bahkan membantuku mencapai tempat yang lain. Bahkan kadang membuatku rancu dengan kalimat-kalimat yang keluar dari bibirmu. Pertanyaannku satu, apa kamu tidak main-main dengan kalimatmu barusan ?
                Maaf aku banyak bertanya. Sepertinya bahasa pemrograman yang kupelajari barusan sudah menjadi pertanyaan- pertanyaan membingungkan serta terlalu tiba-tiba buatmu. Mungkin juga terlalu banyak. Maaf jika ini sepertinya menjadi aneh. Hanya saja apa yang menurutku terjadi biar ku simpan dulu. Aku mau ini jadi berbeda. Tidak menjauhkan seperti apa yang sudah-sudah. Tidak menciptakan jarak seperti yang lalu. Karena itu aku menyimpannya dulu, karena itu aku tersipu malu ketika disinggung tentangmu. Karena itu aku tidak mau ini berubah sebelum waktunya.
                Ini bukan kali pertama kamu mengeluarkan kalimat yang memunculkan pertanyaannku yang ku tulis di paragraf sebelumnya. Sadar tidak aku tidak pernah menjawabmu ? aku tidak menghindar aku juga tak menolak. Aku masih berdiri di tempat yang sama. Di tempat yang membuatmu mampu melihatku. Aku masih dikelilingi batas harap yang kutetapkan. Bagiku, waktuku terlalu berharga hanya untuk menangisi atau sekedar memikirkanmu. Seperti yang kau katakan waktu itu di tangga dalam perjalanan pulang. Dalam cerita yang ku tulis pula suatu hari.
                Suratku hari ini akan segera berakhir. Masih ada yang perlu kau ingat. Terserahku masih bermakna ya sampai hari ini. Aku hanya tak tahu terserahmu bermakna sejalan atau tidak dengan milikku. Dan pertanyaanku di paragraf yang sudah-sudah, terkadang aku ingin kamu menjawabnya di depanku. Sudahlah, selamat malam. Selamat memejam. Aku tahu kau lelah, aku pun begitu.
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template