Kepadamu yang
belakangan ini memperpendek kedudukan menurutku
Ini bukan kali
pertama aku duduk di belakangmu. Ada diboncengan motor sepulang kuliah umum
bersama. Ini juga bukan kali pertama kamu mengajakku pulang ke asalmu. Kamu
pernah mengajakku waktu itu, ketika aku belum sadar benar dengan apa yang kamu
katakan. Aku hanya diam karena suasana hati yang belum bisa ku kendalikan waktu
itu. Tapi aku ingat benar apa yang kamu katakan 'ikut aku ke Mataram yok dhe,
ngga usah khawatir makan sama tidurnya deh. Kamu nyiapin ongkos pulang pergi
aja'. Katamu santai. Aku diam saja waktu itu. Hanya sahabatku yang antusias
menanggapi ucapanmu waktu itu. Ia justru minta diantar main ke Lombok. Aku ?
Masih sibuk dengan suasana hati yang menyerang tiba-tiba.
Aku baru
menyadari ajakanmu saat aku sampai dirumah. Pikirku, apa yang akan kulakukan
jika aku ikut denganmu. Sepertinya aku terlalu menganggap serius ajakanmu. Tapi
kenyataannya kamu pun serius mengajakku kesana. Karena ceritaku yang rindu
pantai. Karena keinginanku mengunjungi tempat yang belum pernah ku kunjungi.
Karena rasa penasaranku akan hamparan pasir pantai yang masih bersih serta biru
yang luas disana.
“ikut aku ke
Mataram yok dhe ntar pas liburan semester?” aku masih belum genap benar dengan
rasa kantuk yang bergelayut. Entah kenapa aku menanggapinya terbuka. Aku juga
ingin kesana. Tapi bukan liburan yang akan datang. Aku juga akan datang kesana.
Kalimatmu tak berbeda seperti ketika kamu mengajakku pertama kali. Kamu lebih
banyak bercerita kali ini. Tentang Pantai Kutha yang ada di Lombok, bukan
Dewata. Jawaban atas pertanyaan kemana kamu akan membawaku saat aku disana yang
bisa terdengar sebagai barisan sajak-sajak manis. Kamu bilang kemana saja yang
ku mau. Aku tak perlu ke Dewata, kamu bilang akan membawakan Dewata buatku.
Sungguh ? Bagaimana jika aku benar-benar meminta Dewata ? Ah, aku hanya
bercanda. Aku sedang tidak ingin banyak meminta.
Kamu tau, apa
yang membuatku terlelap satu setengah jam selepas ayam berkokok pada pukul satu
dini hari ? Sejujurnya aku memikirkan pesanmu. Aku memang yang iseng menanyakan
pendapatmu tentang bagaimana harusnya seorang perempuan berperasaan. Percakapan
yang berakhir dengan cerita kuismu pagi itu. Aku memang terbiasa melakukan
apapun yang ku mau. Termasuk memberikan perhatian dan memberi semangat. Sepele
menurutku, tapi aku ketagihan melakukannya. Apalagi kepadamu. Jawabanmu atas
pernyataanku sedikit banyak membuatku terkejut. Mungkin itu juga yang membuatku
sulit terlelap. Termasuk sederet pikiran yang tak bisa ku ceritakan.
Katamu aku
sebaiknya minum susu sebelum tidur biar aku lekas terlelap. Atau mencium bau
keringatmu. Ahh, hal apalagi yang coba kamu katakan kepadaku. Bagiku ini
terlalu lucu. Tapi kamu bahkan menceritakan aroma kamarmu yang membuat banyak
orang betah dan lekas menjelang mimpi mereka di kamarmu. Aku tak harus kesana
jika aku terlelap. Aku juga tidak berpikir melakukan hal itu. Kamu bercanda.
Aku sebaiknya minum susu cokelat hangat sebelum tidur. Itu saja. Jangan terlalu
memikirkan banyak hal, atau mungkin aku bisa membaginya denganmu.
Tadi pagi aku
bertanya pada sahabatku, apa aku adalah seseorang yang perhatian atau cuek.
Penampilanku cuek tapi sebenarnya aku memperhatikan dengan amat sangat. Begitu
katanya. Aku percaya saja. Kemudian aku ingat pesanmu semalam. Ingat rasa
kantukku yang belum hilang meski aku terbangun pukul delapan pagi dengan jadwal
kuliah pukul sembilan tepat. Aku ingat bagaimana kamu mengapresiasi bentuk
perhatian ku. Aku menyadari satu hal. Aku banyak memperhatikan orang lain tanpa
apresiasi sebanyak yang kuberikan. Aku merasa baik-baik saja dengan hal itu
hingga aku terkejut saat membaca pesanmu semalam. Tak apa, aku hanya akan
tersenyum membacanya.
Oiya, sepertinya
surat ini akan panjang dan membosankan. Aku akan mengakhirinya segera.
Terakhir, aku masih dihampiri pertanyaan yang sama tentang aku dan kamu,
bagaimana denganmu ? Aku masih tidak tau harus menjawab apa. Tak apa. Aku
merasa baik-baik saja. Aku bahkan mulai menyukai jalan cerita ini.
Baiklah, selamat
malam. Aku akan tidur lebih awal malam ini. Selamat beristirahat. Semoga cerita
ini menyenangkan.