Selamat malam
kamu yang sampai saat ini masih mempertahankan kedudukan disampingku
baru kali ini aku
merasa benar-benar diperhatikan. Menurutku aku bukan seseorang yang dengan
mudah mengungkapkan perasaan. Aku cenderung cuek dan menyimpannya sendiri.
Semoga saja kamu tidak begitu. Entah sudah berapa malam aku tak menulis surat
buatmu. Sepertinya terasa sangat lama meski kenyataannya tidak begitu. Kamu
tahu aku dan kamu punya kesibukan yang tak jauh berbeda. Aku sendiri punya
beberapa hal yang harus ku pikirkan sendiri.
Kamu tahu malam
ini harusnya aku belajar buat kuis besok sore. Tapi aku bosan setengah mati.
Aku jadi berpikir, bagaimana bisa nilaiku A jika jam belajarku lebih sedikit
daripada waktuku menulis surat buatmu. Kamu bahkan sempat minta maaf karena
sudah mengajakku berbicara ketika aku sedang belajar seperti ini. Aku tak apa.
Jujur aku bahagia. Aku menunggu kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu.
Membicarakan apa yang akan kamu lakukan besok atau apa yang akan aku lakukan
besok. Mungkin sekedar membahas materi kuliah. Mungkin hanya sekedar mencari
bahan pembicaraan.
Aku hendak
menceritakan apa yang terjadi belakangan. Tapi sepertnya terlalu panjang. Tetap
saja aku ingin menceritakannya. Ah yaa, bagian terbaik yang ku tunggu selama
ini. Pergi berdua saja. Sayangnya batal. Aku tidak tahu apa yang akan kamu dan
aku lakukan jika aku dan kamu jadi pergi berdua. Sayangnya batal karena suatu
hal. Kamu bilang itu salah kita. Tak apa. Mungkin lain kali bisa pergi berdua.
Selalu saja,
setiap ada kesempatan mendekat kamu akan mendekat. Aku tak masalah dengan hal
itu. Toh aku dan kamu sama-sama emnikmatinya. Sekedar membicarakan hal-hal
remeh di senja yang semakin surut. Melihatmu bermain-main dengan kucing di
belakang stadion. Atau mungkin mencium bau parfum yang kamu semprotkan ke jaket
yang kamu pakai. Sekedar duduk disebelahmu.
Harusnya aku dan
kamu bisa sekedar main ke pasar Jum'at. Ikut-ikutan minum susu kaleng yang
dibawa sewaktu Gerigi lalu. Kamu juga ingin kesana. Aku sudah disana. Tertawa
dan sekedar mengenal orang-orang baru yang menyenangkan. Kamu sibuk belajar.
Aku sibuk tertawa mengeluarkan penatnya isi kepala. Sampai senja yang
dihabiskan bersama. Sampai pergi berdua yang berakhir dengan kalimat lain kali
saja. Tentu saja, sebenarnya aku kecewa, aku hanya tak mengatakan apa-apa.
Berakhir dengan menginput data di atas tempat tidur setelah sebelumnya mendapat
jangan terlalu capek hari ini darimu. Aku hanya tersenyum meski rasanya seperti
akan meledak.
Sabtu lalu ku habiskan
di dalam kamar kos. Menghabiskan setumpuk kuesioner KPP untuk menjadi data.
Kamu sibuk dengan acara jurusan yang absen kuikuti. Ahh terlalu banyak
mengeluarkan darah ternyata membuatku jadi rapuh juga. Tak bisa sembarangan
mengubah kedudukan. Tak bisa seenaknya pergi keluar. Terdengar lemah. Tapi ini
baru satu dua kali ku alami. Sampai senja menyapa aku baru keluar kandang.
Menyapa mentari yang sudah hendak surut lagi. Merasakan angin sisa hujan yang
benar terasa basah di Surabaya. Malamnya bertemu denganmu. Di tribun GOR
Pertamina, menonton pertandingan teman dan senior sendiri, sibuk jadi suporter
elegan tanpa sederet botol kosong dan genderang untuk dipukul seperti kata Mas
Fadhil. Sibuk didesak untuk berdiri disampingmu. Tak begitu memperhatikan
jalannya pertandingan. Membicarakan hal sepele seperti biasa denganmu. Tertawa
sendiri membaca chat whatsapp dari Jogja. Mendadak pindah posisi karena
teriakan yang terlalu kencang.
Aku tertawa dalam
hati. Kamu mengekori. Sempat menunggu karena kamu yang ikut rapat dadakan
dengan orang penting. Berakhir dengan segelas es soda susu dan bubble yang
hendak kamu minta.
Pagi ini masih
ditanya tentang bagaimana aku dan kamu. Aku masih tersenyum menjawabnya.
Sedikit menunggu keputusanmu ke depannya.
Terimakasih masih
menjaga kedudukanmu terhadapku. Terimakasih masih sengaja mengirimiku chat
whatsapp atau sekedar meretweet. Selamat malam, selamat belajar. Doakan kuisku
sukses besok sore. Ah yaa, sampai bertemu lagi.