Kepadamu yang
membawaku kembali ke sebuah tempat hampir setiap Senin
Terimakasih sudah
memperbolehkan aku duduk diboncenganmu dan membicarakan hal tak tentu denganmu
setiap Senin. Entah ini sudah Senin keberapa aku duduk diboncenganmu hanya
untuk kembali ke sebuah tempat bernama jurusan. Mengikuti kelas terakhir dalam
urutan jadwalku setiap Senin. Jadwal yang sama denganmu. Kelas kalkulus II. Di
sebuah ruangan yang dipisahkan sebuah ruang lain denganmu.
Seperti
Senin-senin yang lain. Aku dan kamu membicarakan hal tak tentu yang diawali
dengan tugas dan kelas apa yang akan aku atau kamu ikuti. Atau sekedar mengajak
mengerjakan tugas KWN yang sejak kemarin berakhir sebagai wacana saja. Tak apa,
waktu tenggang yang diberi dosen masih cukup lama. Awalnya memang aku yang tak
mau mengikuti deadline sebagai acuanku mengerjakan sesuatu. Tapi mungkin jika
tugas itu selesai, aku tak lagi punya bahan pembicaraan denganmu. Ahh tidak,
aku hanya bercanda.
Kamu menyinggung
kotaku lagi, buat yang kedua kali. Aku hendak pulang memang. Memanfaatkan jatah
libur. Kuliah empat hari benar-benar menyenangkan. Aku akan mengisi ulang
baterai hidupku dulu. Kamu bilang hendak ikut. Memangnya apa yang akan kamu
lakukan jika kamu ikut pulang ke kotaku ? Tak ada apa-apa disana. Kamu juga
bilang akan ke kota sebelah. Mungkin aku akan memilih kota sebelah juga. Hanya
dengan lokasi berbeda jika aku berpikir yang lain.
Malam yang lalu
aku sempat tahu bahwa kamu punya pembicaraan dengan temanmu. Teman perempuan
yang merantau ke kotaku. Aku tak sengaja tahu. Siang ini kamu bilang hendak ke
kotaku. Mengunjungi temanmu itu. Aku hanya bertanya bagaimana keputusanmu. Kamu
masih bimbang hendak menghabiskan liburmu kemana.
Ah yaa weekend
lalu kamu sibuk mengikuti kegiatan himpunan yang absen kuikuti selama sehari.
Pertandingan futsal yang kamu dan aku tonton bersama jadi sebuah media bagimu
membujukku buat datang di hari kedua, sesuai niatku sebelumnya. Aku datang
akhirnya. Dengan senyum yang tak begitu dipaksakan. Aku malah senang. Ada
banyak hal yang menggoyahkan disana. Entah mana yang akan kucoba nantinya.
Mendalami ilmuku sekaligus berorganisasi dalam Pst atau belajar berorganisasi
dan memenuhi panggilan hati bersama departemen Sosmas himpunan. Kamu pilih yang
mana ?
Jujur aku justru
senang tak selalu denganmu. Melakukan terlalu banyak hal denganmu mungkin tak
akan melulu baik-baik saja. Aku sadar, memiliki kedudukan sedekat ini denganmu
tak berarti menjadi pusat segala hal. Aku bahagia dengan tatapan-tatapan kecil
yang kamu berikan di sela-sela waktumu. Atau kamu yang sekedar menyapaku di
antara kesibukanmu. Dan kamu yang mempertahankan kedudukanmu di dekatku. Itu.
Entah apa yang
akan terjadi ke depannya aku tidak tahu. Aku belajar menjalaninya dengan
santai. Sebisa mungkin menikmatinya. Dan diantara pertandingan futsal itu kamu
sempat membicarakan rambutmu yang sudah mulai panjang. Kamu juga minta
pendapatku sebaiknya dipotong seperti apa. Candamu dipotong dengan bentuk
namaku. Aku refleks mengatakan tidak. Aku tidak ingin membebani apa yang akan
kamu dan aku jalani ke depannya. Hari ini aku melihat rambutmu sudah lebih
pendek dari kemarin. Sebenarnya aku lebih suka rambutmu yang sedikit panjang
itu. Entah kenapa.
Malam ini kamu
belum mengirimkan satu dua kata buatku. Sekedar memanggil namaku mungkin.
Kebiasaan menerimanya membuatku sedikit banyak mengharapkannya belakangan ini.
Tapi aku akan mencoba mengerti. Kamu akan mengikuti sebuah kuis seperti yang
kuikuti sore tadi. Kamu pasti sibuk belajar.
Sudahlah, selamat
malam. Terimakasih banyak. Mungkin suatu hari kamu datang ke kotaku atau aku
yang akan datang ke pantaimu. Semoga kuismu sukses esok hari. Selamat malam,
hai hati !