Jumat, 25 April 2014

Balon keinginan


Ini cerita tentang seorang gadis. Masih belia. Tidak cantik. Bukan seorang gadis pintar nan pujaan pula. Kulit kuningnya nampak cokelat terbakar panas terik matahari Kota Surabaya. Sebut saja gadis itu aku. Meski cerita yang akan kutuliskan tidak sepenuhnya terjadi padaku. Mungkin terjadi padamu hari ini. Mungkin kamu pernah mengalaminya. Mungkin nanti bisa saja kamu mengalaminya. Entahlah, dunia tak pernah punya probabilitas sama dengan satu untuk setiap kejadian yang akan ditunjukkannya.

Sudah kukatakan di awal bahwa aku seorang gadis. Jadi, ketika kamu membaca cerita ini tidak menutup kemungkinan kamu akan merasa bahwa cerita ini feminim sekali. Kamu bisa saja mengatakan cerita ini punya genre yang aneh. Aku sebagai gadis yang menuliskannya tidak menolak jika cerita ini dikata melankolis. Aku sebagai karakter yang menyamar di dalamnya tidak protes jika kolom komentar penuh dengan setiap kalimat emosionalmu setelah membaca cerita ini.
Sudahlah, sepertinya prolog yang kuberikan terlalu panjang, aku akan memulai cerita ini tanpa pikir panjang lagi.

Katakan saja bahwa posisiku disini aku tidak sendiri. Entah bagaimana kamu akan mendeskripsikannya. Kamu bisa mengatakan bahwa aku sudah punya kekasih. Atau mungkin seorang pendamping yang spesifik. Tapi bukan itu titik berat ceritaku. Bahkan jika kamu belum punya seseorang yang mampu berdiri di sisimu, kamu masih bisa membaca cerita ini dan ikut merasakannya.

Terlepas aku sendiri atau tidak yang jelas aku sedang menyukai seseorang. Bukan karena dia seseorang yang menyenangkan atau baik rupa seperti seorang pangeran dalam dongeng pengantar tidur semasa aku taman kanak-kanak dulu. Bukan pula karena dia punya masa depan yang mapan buat membangun sebuah keluarga kecil bahagia. Tidak, rencana jangka pendekku belum mencapai poin sensitif nan krusial itu. Aku menyukainya bahkan tanpa alasan apapun. Terdengar absurd tapi aku memang mengalaminya. Beberapa ribu detik yang lalu tepatnya.
Aku menyukainya. Pernyataan ekstrim itu meluncur santai tanpa pemrograman yang melibatkan pernyataan kondisional dan tipe data tertentu. Jika benar ini sebuah pemrograman, maka yang muncul berikutnya adalah cabang-cabang keinginan yang mengembang minta dipenuhi. Keinginan pertama adalah mendekat kepadanya. Aku tak hanya ingin memperpendek kedudukan dengannya. Bahkan jika aku bisa mengaplikasikan limit mendekati nol untuk keadaanku, aku akan melakukannya. Hingga entah bagaimana, keinginan pertama terpenuhi dengan segala kondisi yang menjadi persyaratannya.

Sebuah kalimat bernada aku menyukainya tidak berhenti pada keinginan mendekat. Tapi menggali sebuah lubang dengan kedalaman lima belas sentimeter di awalnya. Belum benar-benar terjatuh tetapi lubang yang akan menangkapmu sudah tersedia di depan mata. Keinginan kedua yang terbaca dari sebuah program aku menyukainya adalah semakin dekat. Bukan hanya kedudukan yang semakin pendek. Semakin dekat yang berarti sendi dan bagian tubuh lain yang mulai berkhianat lalu semakin dekat. Ada sekeping perasaan yang jatuh ke dalam lubang yang kedalamannya bertambah lima sentimeter setiap harinya.

Tidak dengan begitu saja keinginan ketiga muncul dan memenuhi kondisi bahasa pemrograman yang sudah ditetapkan. Aku menyukainya sudah berubah menjadi aku memilikinya. Bukan orang lain selain orang tua dan keluarganya. Bukan gadis lain yang selama ini dekat dengannya. Aku menyukainya sudah berganti tampilan menjadi aku miliknya. Perlahan-lahan meminta untuk jadi satu-satunya dan menyita banyak hal darinya.

Sampai akhirnya, program aku menyukainya berhenti berjalan karena kesalahan bahasa yang dituliskan. Kemudian harus mengulang dari awal dan mencari kesalahan untuk perbaikan. Kenyataannya tidak ada bahasa yang keliru. Mungkin saja belum beruntung dengan keadaan. Program aku menyukainya sudah habis bercerita dan menimbulkan keinginan.

Aku sudah tidak lagi menyukainya. Katakan saja sudah berakhir dan sedang sibuk menjalani jalan masing-masing. Aku masih ingin dia menjalankan program ini, dia menyukaiku. Menyayangiku seperti aku satu-satunya orang yang bisa dia andalkan dan paling penting dalam hidupnya. Mampu memendam perasaannya buatku. Memperlihatkan perasaan itu sesekali. Keinginan terakhir yang tersisa dari program aku menyukainya adalah ketika aku dan dia sudah punya jalan masing-masing, aku masih menginginkan hatinya dan menggenggamnya kemanapun aku pergi. Bersama siapapun aku melangkah. Aku masih saja ingin hatinya meski aku sudah bersama yang lain.

Ceritaku berakhir sampai disini. Katakan pada yang lainnya bahwa aku bukan karakter sebenarnya di dalam sana. Aku hanya pura-pura mengalaminya dan bilang bahwa gadis itu bukanlah aku. Aku juga berada disana. Bagian dari karakter utama. Tapi tidak sepenuhnya.

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template