Ini
cerita tentang seorang gadis. Masih belia. Tidak cantik. Bukan seorang gadis
pintar nan pujaan pula. Kulit kuningnya nampak cokelat terbakar panas terik
matahari Kota Surabaya. Sebut saja gadis itu aku. Meski cerita yang akan
kutuliskan tidak sepenuhnya terjadi padaku. Mungkin terjadi padamu hari ini.
Mungkin kamu pernah mengalaminya. Mungkin nanti bisa saja kamu mengalaminya.
Entahlah, dunia tak pernah punya probabilitas sama dengan satu untuk setiap
kejadian yang akan ditunjukkannya.
Sudah kukatakan
di awal bahwa aku seorang gadis. Jadi, ketika kamu membaca cerita ini tidak
menutup kemungkinan kamu akan merasa bahwa cerita ini feminim sekali. Kamu bisa
saja mengatakan cerita ini punya genre yang aneh. Aku sebagai gadis yang
menuliskannya tidak menolak jika cerita ini dikata melankolis. Aku sebagai
karakter yang menyamar di dalamnya tidak protes jika kolom komentar penuh
dengan setiap kalimat emosionalmu setelah membaca cerita ini.
Sudahlah,
sepertinya prolog yang kuberikan terlalu panjang, aku akan memulai cerita ini
tanpa pikir panjang lagi.
Katakan
saja bahwa posisiku disini aku tidak sendiri. Entah bagaimana kamu akan
mendeskripsikannya. Kamu bisa mengatakan bahwa aku sudah punya kekasih. Atau
mungkin seorang pendamping yang spesifik. Tapi bukan itu titik berat ceritaku.
Bahkan jika kamu belum punya seseorang yang mampu berdiri di sisimu, kamu masih
bisa membaca cerita ini dan ikut merasakannya.
Terlepas
aku sendiri atau tidak yang jelas aku sedang menyukai seseorang. Bukan karena
dia seseorang yang menyenangkan atau baik rupa seperti seorang pangeran dalam
dongeng pengantar tidur semasa aku taman kanak-kanak dulu. Bukan pula karena
dia punya masa depan yang mapan buat membangun sebuah keluarga kecil bahagia.
Tidak, rencana jangka pendekku belum mencapai poin sensitif nan krusial itu.
Aku menyukainya bahkan tanpa alasan apapun. Terdengar absurd tapi aku memang
mengalaminya. Beberapa ribu detik yang lalu tepatnya.
Aku
menyukainya. Pernyataan ekstrim itu meluncur santai tanpa pemrograman yang melibatkan
pernyataan kondisional dan tipe data tertentu. Jika benar ini sebuah
pemrograman, maka yang muncul berikutnya adalah cabang-cabang keinginan yang
mengembang minta dipenuhi. Keinginan pertama adalah mendekat kepadanya. Aku tak
hanya ingin memperpendek kedudukan dengannya. Bahkan jika aku bisa
mengaplikasikan limit mendekati nol untuk keadaanku, aku akan melakukannya.
Hingga entah bagaimana, keinginan pertama terpenuhi dengan segala kondisi yang
menjadi persyaratannya.
Sebuah
kalimat bernada aku menyukainya tidak berhenti pada keinginan mendekat. Tapi
menggali sebuah lubang dengan kedalaman lima belas sentimeter di awalnya. Belum
benar-benar terjatuh tetapi lubang yang akan menangkapmu sudah tersedia di
depan mata. Keinginan kedua yang terbaca dari sebuah program aku menyukainya
adalah semakin dekat. Bukan hanya kedudukan yang semakin pendek. Semakin dekat
yang berarti sendi dan bagian tubuh lain yang mulai berkhianat lalu semakin
dekat. Ada sekeping perasaan yang jatuh ke dalam lubang yang kedalamannya
bertambah lima sentimeter setiap harinya.
Tidak
dengan begitu saja keinginan ketiga muncul dan memenuhi kondisi bahasa
pemrograman yang sudah ditetapkan. Aku menyukainya sudah berubah menjadi aku
memilikinya. Bukan orang lain selain orang tua dan keluarganya. Bukan gadis
lain yang selama ini dekat dengannya. Aku menyukainya sudah berganti tampilan
menjadi aku miliknya. Perlahan-lahan meminta untuk jadi satu-satunya dan
menyita banyak hal darinya.
Sampai
akhirnya, program aku menyukainya berhenti berjalan karena kesalahan bahasa
yang dituliskan. Kemudian harus mengulang dari awal dan mencari kesalahan untuk
perbaikan. Kenyataannya tidak ada bahasa yang keliru. Mungkin saja belum
beruntung dengan keadaan. Program aku menyukainya sudah habis bercerita dan menimbulkan
keinginan.
Aku
sudah tidak lagi menyukainya. Katakan saja sudah berakhir dan sedang sibuk
menjalani jalan masing-masing. Aku masih ingin dia menjalankan program ini, dia
menyukaiku. Menyayangiku seperti aku satu-satunya orang yang bisa dia andalkan
dan paling penting dalam hidupnya. Mampu memendam perasaannya buatku.
Memperlihatkan perasaan itu sesekali. Keinginan terakhir yang tersisa dari
program aku menyukainya adalah ketika aku dan dia sudah punya jalan
masing-masing, aku masih menginginkan hatinya dan menggenggamnya kemanapun aku
pergi. Bersama siapapun aku melangkah. Aku masih saja ingin hatinya meski aku
sudah bersama yang lain.
Ceritaku
berakhir sampai disini. Katakan pada yang lainnya bahwa aku bukan karakter
sebenarnya di dalam sana. Aku hanya pura-pura mengalaminya dan bilang bahwa
gadis itu bukanlah aku. Aku juga berada disana. Bagian dari karakter utama.
Tapi tidak sepenuhnya.