Senin, 28 April 2014

Cerita (hujan) sore ini – bagian 8


Langit mulai mendung, sepertinya hari ini akan hujan. Mungkin jika hujan turun sangat deras aku akan terjebak di kampus seperti yang sudah-sudah. Jebakan hujan kali ini akan kunikmati dengan baik. Rangkaian kalimat yang kususun untuk tugas akhir berhasil menimbulkan penat. Gadisku mungkin bisa jadi cerita lain yang mampu menambah kosakata baru dalam kamus penyusunan tugas akhirku.

Gadisku bilang, penampilanku acak-acakan kali ini. Aku baru sadar jika sudah berhari-hari mengurung diri dikamar demi analisis yang akan kusertakan dalam tugas akhirku. Aku melihatnya tersenyum. Amat polos. Disertai manik mata yang berbinar girang disemubunyikan. “Aku ingin pergi jalan-jalan” katanya spontan. Lantas aku mengajaknya berbincang sebentar di gazebo. Sekedar memastikan apakah hari ini akan turun hujan.

Sejak lima menit yang lalu gadisku mengikuti kelas tambahan. Aku mulai sibuk tak jelas dengan laptop menyala di depanku. Baru jam tiga sore nanti gadisku usai dengan seluruh kelas yang diikutinya hari ini. Aku memutar sebuah film yang tidak fokus kutonton. Aku lebih banyak mengamati sekotar dan merasakan angin yang berhembus. Film yang sedari tadi menontonku kumatikan. Aku beranjak untuk menunaikan empat rakaatku yang belum kujalankan hari ini.

Satu dua tangga di depanku kunaiki. Belum ada pertanda lebih jauh akan siapa yang nantinya punya kedudukan di depan mataku. Bukan gadisku. Mungkin perempuan itu yang membawa mendung kecil atau justru hujan besar di setiap pertemuannya denganku. Baru di tangga paling atas aku melihatnya. Dengan binar mata yang tak berubah sejak aku menyadari tatapannya kepadaku.

'masih sama kaya kemarin. Cuman rada berantakan ajasih. Tumben banget, biasanya juga rapih' katanya di dalam kepala. Ah yaa, dia adalah orang kedua yang mengomentari penampilanku hari ini. Sepertinya memang sangat mengganggu. Binar matanya masih sama meski banyak hal yang kusadari banyak berubah dari perempuan itu. Sudah tak seatraktif sebelumnya ketika ia melihatku. Perempuan itu jauh lebih kalem hari ini.

Aku menyadari aku masih berdiri di anak tangga paling atas. Belum beranjak ke arah mushalla dan masih sibuk dengan hal yang banyak kutinggalkan. Sampai akhirnya tatapanku dipatahkan teman laki-laki perempuan itu yang menyapanya dari belakang. Aku belum beranjak meski sudah tak intens menatapnya. Perempuan itu menampilkan binar ceria dalam manik mata cokelat tuanya. Binar yang sama saat ia menatapku beberapa waktu lalu.

Sepertinya aku sudah terlalu lama meninggalkan kampus dan mengalihkan pandangan dari perempuan itu. Yang tersisa dalam kepalanya adalah kekagumannya sejak lama. Ini bisa jadi akhir cerita aku membaca pikirannya. Heey, kenapa jadi aku yang kecewa begini ?
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template