Selamat malam
kamu yang mulai berani membuatku khawatir
Terimakasih sudah
meluangkan waktu untuk menjemputku di stasiun. Repot-repot membawa sebuah helm
buatku. Bercerita banyak hal sepanjang jalan ke tempat kosku. Merelakan waktu
istirahatmu buat mengisi ulang tenaga esok hari. Maaf baru sempat menceritakan
banyak hal malam ini.
Surat yang lalu
aku menceritakan tentang obrolan kita, ah maaf maksudku obrolanku dan kamu
tentang kota masing-masing. Waktu yang ku tunggu akhirnya datang. Aku akan
pulang. Sebentar. Aku menginginkan kamu yang mengantarku ke stasiun untuk
menemui gerbong-gerbong kereta yang akan membawaku pulang. Aku sadar kamu tak
bisa. Ada kelas yang harus kamu ikuti. Kamu bersikeras mengantarku malam itu.
Aku hanya tidak menyangka dengan jawabanmu malam itu atas permintaanku. Aku
hanya ingin memberitahumu. Tapi aku pun bahagia dengan sikapmu yang bersikeras
mengantarku. Aku tersenyum sendiri mengingatnya malam ini.
Aku menolaknya,
tak apa jika itu bukan kamu yang membawaku menemui gerbong-gerbong panjang
berwarna kombinasi biru dan oranye itu. Meski di jalan aku sedikit menyesal
kenapa bukan kamu yang mengantarku ke stasiun. Sudahlah, aku sudah kembali. Aku
hanya berpamitan padamu satu dua patah kata. Itu saja. Sepanjang jalan
bercerita tak banyak denganmu. Sibuk di telpon dengan perempuan patah hati.
Menertawai gadis kecil di depanku yang takjub dengan apa yang dilewati kereta.
Aku melewati
kepulanganku dengan bahagia. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Membicarakan banyak hal tak penting dan beberapa hal tentangmu. Mama biasa saja
mendengarku bercerita tentang dua ajakanmu untuk pergi ke kotamu. Meski
akhirnya berkomentar tentang apa yang akan dikatakan ayah ibumu di kedatanganku
itu. Mungkin aku yang terlalu serius menanggapi ajakanmu. Hanya saja menurutku
itu terlalu dini untuk pergi kesana sedang yang ada bukan kita tapi masih aku
dan kamu.
Pembicaraanku
pergi jauh ke sebuah titik terang yang masih buram bagiku. Sepertinya bukan
satu atau dua tahun lagi akan kutempuh tapi masih sekitar lima tahun lagi. Ibu
ikut-ikutan berkomentar tentang isiceritaku yang membawa beberapa hal
tentangmu. Aku hanya tertawa mendengarmu dibanding-bandingkan. Jelas saja untuk
hal ini aku berada di pihakmu. Memangnya siapa lagi ?
Hari untuk
kembali menghadapi rutinitas terlalu cepat datang. Kamu benar-benar memberiku
waktu menghabiskan banyak hal dirumah. Kamu tidak menghubungiku untuk sekedar
bertanya apa yang sedang kukerjakan. Hanya saja aku masih merasa belum cukup
untuk kembali menghadapi rutinitas yang makin padat. Aku tahu aku harus pulang,
bertemu denganmu serta menjelang kuis di siang keesokannya. Ikut beberapa rapat
dan tertawa dalam banyak hal. Itu saja.
Akhirnya aku
pulang. Menghabiskan waktu perjalanan dengan beberapa pesanmu. Mengamati
jalanan arus balik dan lampu-lampu kota yang mulai menarik untuk diperhatikan. Menatap
bayanganku sendiri di kaca jendela kereta. Penasaran dengan teman sebangku di
perjalanan kembali ke perantauan. Sampai akhirnya menemuimu di pinggir jalan
depan stasiun Gubeng Lama. Tersenyum kecil lalu membelah jalanan.
Kecepatanmu
mungkin tak sampai 50 km/jam di perjalanan ke tempat kos. Sibuk mengulur waktu
setelah tidak bertemu. Sibuk bercerita apa yang sudah dilakukan saat tidak
bertemu. Kamu bertanya apa aku akan menangis jika kamu tidak menghubungiku
selama tiga hari, aku hanya terkejut mendengarnya. Memangnya aku harus
menangsis ? Aku masih tetap aku yang duduk di boncengan motor yang kamu pacu.
Belum berubah. Aku mungkin tidak akan melakukan hal itu jika kamu tidak
menghubungiku. Aku kemudian bermain-main dengan kalimatmu. Memangnya kamu mau
aku menangis atau tidak ? Tanyaku, kamu bilang terserah. Kubilang, jangan
terserah. Kamu bilang, setidaknya hari ini sudah bertemu denganku.
Kamu pun sempat
bercerita tentang teman perempuanmu yang berkuliah di kotaku. Kamu bilang kamu
pergi berlibur dengannya. Aku hanya ber ohh ria dalam hati di boncenganmu
sampai kamu bersikeras bahwa dia hanya teman. Ahh, memangnya aku siapa harus
tahu banyak detail tentangmu ? Aku hanya bertanya.
Tempat kos sudah
di depan mata. Aku hendak masuk. Hendak melihatmu berlalu setelah menjemputku.
Kamu bilang harusnya aku masuk lebih dulu. Dan kulakukan setelah memberikan
oleh-oleh yang kubawa tadi. Membongkar isi tas yang sudah hampir meledak.
Sampai akhirnya membaca sebuah pesan darimu dengan embel-embel emotikon yang
tak biasa. Haruskah ? Pesan yang sama di social media juga ?
Maaf, tapi
sepertinya tidak begitu seharusnya caramu memperlakukan aku. Masih ada sekat
yang tidak bisa dilompati begitu saja. Aku hanya bertanya kenapa yang berujung
tak membalas pesanmu malam itu. Terkejut ? Tentu saja, bahkan aku tak berani
menyebutkan kita diantara hal-hal kecil yang dilalui dan dilakukan bersama. Itu
saja. Aku masih sadar siapa aku sayang.
Malam ini aku
ditanya lagi. Tentang hal yang sama yang belum pula menemukan jawaban. Hal yang
sama yang dijawab dengan senyuman tak tahu. Bahkan membawa istilah mem-PHP dan
di-PHP. Aku tidak merasa seperti itu. Tenang saja. Aku masih bisa biasa saja
sampai detik ini.
Sudahlah, selamat
malam. Semoga harimu menyenangkan karena hariku lebih baik dari itu. Aku
bahagia bertemu banyak orang hari ini. Semoga tidak banyak hal yang membuatmu
merasa disulitkan. Banyak hal yang menjadikanmu lebih baik daripada hal-hal
yang membuatmu sekedar mengeluh, marah bahkan tak tahu harus apa. Sampai
bertemu esok pagi !