Minggu, 06 April 2014

Kriiiing kriiiing Selamat pagi, ada surat mas !


Selamat malam kamu yang mulai berani membuatku khawatir
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk menjemputku di stasiun. Repot-repot membawa sebuah helm buatku. Bercerita banyak hal sepanjang jalan ke tempat kosku. Merelakan waktu istirahatmu buat mengisi ulang tenaga esok hari. Maaf baru sempat menceritakan banyak hal malam ini.
Surat yang lalu aku menceritakan tentang obrolan kita, ah maaf maksudku obrolanku dan kamu tentang kota masing-masing. Waktu yang ku tunggu akhirnya datang. Aku akan pulang. Sebentar. Aku menginginkan kamu yang mengantarku ke stasiun untuk menemui gerbong-gerbong kereta yang akan membawaku pulang. Aku sadar kamu tak bisa. Ada kelas yang harus kamu ikuti. Kamu bersikeras mengantarku malam itu. Aku hanya tidak menyangka dengan jawabanmu malam itu atas permintaanku. Aku hanya ingin memberitahumu. Tapi aku pun bahagia dengan sikapmu yang bersikeras mengantarku. Aku tersenyum sendiri mengingatnya malam ini.
Aku menolaknya, tak apa jika itu bukan kamu yang membawaku menemui gerbong-gerbong panjang berwarna kombinasi biru dan oranye itu. Meski di jalan aku sedikit menyesal kenapa bukan kamu yang mengantarku ke stasiun. Sudahlah, aku sudah kembali. Aku hanya berpamitan padamu satu dua patah kata. Itu saja. Sepanjang jalan bercerita tak banyak denganmu. Sibuk di telpon dengan perempuan patah hati. Menertawai gadis kecil di depanku yang takjub dengan apa yang dilewati kereta.
Aku melewati kepulanganku dengan bahagia. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Membicarakan banyak hal tak penting dan beberapa hal tentangmu. Mama biasa saja mendengarku bercerita tentang dua ajakanmu untuk pergi ke kotamu. Meski akhirnya berkomentar tentang apa yang akan dikatakan ayah ibumu di kedatanganku itu. Mungkin aku yang terlalu serius menanggapi ajakanmu. Hanya saja menurutku itu terlalu dini untuk pergi kesana sedang yang ada bukan kita tapi masih aku dan kamu.
Pembicaraanku pergi jauh ke sebuah titik terang yang masih buram bagiku. Sepertinya bukan satu atau dua tahun lagi akan kutempuh tapi masih sekitar lima tahun lagi. Ibu ikut-ikutan berkomentar tentang isiceritaku yang membawa beberapa hal tentangmu. Aku hanya tertawa mendengarmu dibanding-bandingkan. Jelas saja untuk hal ini aku berada di pihakmu. Memangnya siapa lagi ?
Hari untuk kembali menghadapi rutinitas terlalu cepat datang. Kamu benar-benar memberiku waktu menghabiskan banyak hal dirumah. Kamu tidak menghubungiku untuk sekedar bertanya apa yang sedang kukerjakan. Hanya saja aku masih merasa belum cukup untuk kembali menghadapi rutinitas yang makin padat. Aku tahu aku harus pulang, bertemu denganmu serta menjelang kuis di siang keesokannya. Ikut beberapa rapat dan tertawa dalam banyak hal. Itu saja.
Akhirnya aku pulang. Menghabiskan waktu perjalanan dengan beberapa pesanmu. Mengamati jalanan arus balik dan lampu-lampu kota yang mulai menarik untuk diperhatikan. Menatap bayanganku sendiri di kaca jendela kereta. Penasaran dengan teman sebangku di perjalanan kembali ke perantauan. Sampai akhirnya menemuimu di pinggir jalan depan stasiun Gubeng Lama. Tersenyum kecil lalu membelah jalanan.
Kecepatanmu mungkin tak sampai 50 km/jam di perjalanan ke tempat kos. Sibuk mengulur waktu setelah tidak bertemu. Sibuk bercerita apa yang sudah dilakukan saat tidak bertemu. Kamu bertanya apa aku akan menangis jika kamu tidak menghubungiku selama tiga hari, aku hanya terkejut mendengarnya. Memangnya aku harus menangsis ? Aku masih tetap aku yang duduk di boncengan motor yang kamu pacu. Belum berubah. Aku mungkin tidak akan melakukan hal itu jika kamu tidak menghubungiku. Aku kemudian bermain-main dengan kalimatmu. Memangnya kamu mau aku menangis atau tidak ? Tanyaku, kamu bilang terserah. Kubilang, jangan terserah. Kamu bilang, setidaknya hari ini sudah bertemu denganku.
Kamu pun sempat bercerita tentang teman perempuanmu yang berkuliah di kotaku. Kamu bilang kamu pergi berlibur dengannya. Aku hanya ber ohh ria dalam hati di boncenganmu sampai kamu bersikeras bahwa dia hanya teman. Ahh, memangnya aku siapa harus tahu banyak detail tentangmu ? Aku hanya bertanya.
Tempat kos sudah di depan mata. Aku hendak masuk. Hendak melihatmu berlalu setelah menjemputku. Kamu bilang harusnya aku masuk lebih dulu. Dan kulakukan setelah memberikan oleh-oleh yang kubawa tadi. Membongkar isi tas yang sudah hampir meledak. Sampai akhirnya membaca sebuah pesan darimu dengan embel-embel emotikon yang tak biasa. Haruskah ? Pesan yang sama di social media juga ?
Maaf, tapi sepertinya tidak begitu seharusnya caramu memperlakukan aku. Masih ada sekat yang tidak bisa dilompati begitu saja. Aku hanya bertanya kenapa yang berujung tak membalas pesanmu malam itu. Terkejut ? Tentu saja, bahkan aku tak berani menyebutkan kita diantara hal-hal kecil yang dilalui dan dilakukan bersama. Itu saja. Aku masih sadar siapa aku sayang.
Malam ini aku ditanya lagi. Tentang hal yang sama yang belum pula menemukan jawaban. Hal yang sama yang dijawab dengan senyuman tak tahu. Bahkan membawa istilah mem-PHP dan di-PHP. Aku tidak merasa seperti itu. Tenang saja. Aku masih bisa biasa saja sampai detik ini.
Sudahlah, selamat malam. Semoga harimu menyenangkan karena hariku lebih baik dari itu. Aku bahagia bertemu banyak orang hari ini. Semoga tidak banyak hal yang membuatmu merasa disulitkan. Banyak hal yang menjadikanmu lebih baik daripada hal-hal yang membuatmu sekedar mengeluh, marah bahkan tak tahu harus apa. Sampai bertemu esok pagi !

 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template