Minggu, 06 April 2014

Cerita (hujan) Sore ini - Bagian 7


Aku kembali menghindari sebuah pertemuan. Bukan hanya karena jadwal yang padat kali ini. Cuaca yang tak menentu serta jam tidur yang berantakan membuat kondisiku tidak karuan. Aku terserang flu. Aku bersyukur dengan semester akhir yang tidak mengharuskanku mengikuti kelas setiap harinya. Hanya butuh sedikit perjuangan lebih untuk menemui dosen pembimbing.

Hari ini aku memutuskan untuk datang ke kampus. Ada jadwal pertemuan dengan pembimbing untuk mendiskusikan tugas akhirku. Jika tidak menemui banyak kendala tugas akhirku akan selesai dua tiga bulan lagi. Sebenarnya aku juga akan menemui gadisku. Telepon atau pesan singkat tidak cukup kuat menjadi jembatan. Aku perlu menemuinya. Sekali dua kali dalam seminggu ini.

Sebenarnya ini cerita dari dua pertemuan berbeda yang sudah terjadi. Seperti biasa, hari itu tak mendung. Panas menyengat mengingat kota ini adalah Surabaya. Aku berjalan santai diantara lorong. Memikirkan apa yang harus ku tulis dalam tugas akhirku nanti. Angin berhembus pelan dan menyebabkan dingin menurutku. Angin disini memang angin kering. Tapi demam yang belum sembuh semalam membuatku mau tak mau memakai jaket kesayanganku ke kampus. Jaket yang beberapa waktu lalu dikembalikan perempuan itu.

Aku tak sengaja melihatnya. Bersandar di pembatas pagar ruang T104. Memainkan smartphone sembari sesekali melihat ke arah mushalla. Perempuan itu menunggu teman perempuan yang sering kulihat berjalan dengannya. Aku masih saja membaca pikirannya. Perempuan itu tersenyum sedikit. Menyadari keberadaanku yang hanya berjarak empat ubin secara phytagoras dengannya. Sibuk memainkan handphone menghubungi gadisku. Perempuan itu bilang gadisku tak berada di dalam kelas. Perempuan itu sempat melihat gadisku pergi ke arah jembatan. Aku masih tetap di tempatku. Mengawasi perempuan itu sekaligus mengirimkan pesan singkat berisi pertanyaan kepada gadisku.

Gerimis turun pada sore hari. Aku sudah berada di rumah. Bersyukur tak sampai berhujan-hujan ria untuk pulang. Kemudian aku teringat perempuan itu. Hujan yang selalu turun saat pertemuan itu terjadi. Hujan yang mungkin jadi pertanda buat pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Siang ini pun begitu. Panas terik matahari mengusung tema kegiatan hari ini. Aku berjalan santai menuju gazebo. Melewati kanopi-kanopi kelopak berwarna ungu yang akan jatuh ketika ditiup angin. Kanopi-kanopi yang menaungi taman sigma. Tak sengaja melihat perempuan itu di plasa jurusan tetangga. Berusaha tak peduli meski sedikit banyak ikut tersenyum geli.

Aku kembali fokus dengan urusanku disini. Menyapa beberapa teman. Memilih untuk menyelesaikan urusan di gazebo ketiga. Perempuan itu tahu benar aku disana. Langkahnya yang buru-buru menuju toilet membuatnya tak sempat melihat keberadaanku disini. Baru ketika perempuan itu selesai dengan urusannya di toilet perempuan itu semakin sadar dengan keberadaanku. Mencuri pandang dengan sengaja lalu tersenyum sendiri dengan imajinasi dan kekagumannya. Sampai akhirnya senyumnya berubah setelah bertemu seorang teman laki-laki. Bukan. Kali ini bukan teman laki-laki yang biasanya ia sapa. Perempuan itu memanggil namanya. Membicarakan beberapa hal sampai akhirnya laki-laki itu mengubah arah berjalannya menuju kemana perempuan itu kembali.

Perempuan itu masih tersenyum sendiri saat ia kembali menyusuri koridor menuju mushalla. Memperlambat langkahnya hanya untuk melihat ke arah gazebo yang kutempati. Bertingkah lucu karena harus pergi dari sini. Hari ini terjadi pertemuan seperti yang sudah-sudah. Aku masih menjalani kebiasaanku membaca pikirannya setiap perempuan itu berada daalm jarak pandangku. Hanya saja aku tidak tahu hari ini akan hujan atau tidak seperti yang lalu.
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template