Aku kembali
menghindari sebuah pertemuan. Bukan hanya karena jadwal yang padat kali ini.
Cuaca yang tak menentu serta jam tidur yang berantakan membuat kondisiku tidak
karuan. Aku terserang flu. Aku bersyukur dengan semester akhir yang tidak
mengharuskanku mengikuti kelas setiap harinya. Hanya butuh sedikit perjuangan
lebih untuk menemui dosen pembimbing.
Hari ini aku
memutuskan untuk datang ke kampus. Ada jadwal pertemuan dengan pembimbing untuk
mendiskusikan tugas akhirku. Jika tidak menemui banyak kendala tugas akhirku
akan selesai dua tiga bulan lagi. Sebenarnya aku juga akan menemui gadisku.
Telepon atau pesan singkat tidak cukup kuat menjadi jembatan. Aku perlu
menemuinya. Sekali dua kali dalam seminggu ini.
Sebenarnya ini
cerita dari dua pertemuan berbeda yang sudah terjadi. Seperti biasa, hari itu
tak mendung. Panas menyengat mengingat kota ini adalah Surabaya. Aku berjalan
santai diantara lorong. Memikirkan apa yang harus ku tulis dalam tugas akhirku
nanti. Angin berhembus pelan dan menyebabkan dingin menurutku. Angin disini
memang angin kering. Tapi demam yang belum sembuh semalam membuatku mau tak mau
memakai jaket kesayanganku ke kampus. Jaket yang beberapa waktu lalu
dikembalikan perempuan itu.
Aku tak sengaja
melihatnya. Bersandar di pembatas pagar ruang T104. Memainkan smartphone
sembari sesekali melihat ke arah mushalla. Perempuan itu menunggu teman
perempuan yang sering kulihat berjalan dengannya. Aku masih saja membaca
pikirannya. Perempuan itu tersenyum sedikit. Menyadari keberadaanku yang hanya
berjarak empat ubin secara phytagoras dengannya. Sibuk memainkan handphone
menghubungi gadisku. Perempuan itu bilang gadisku tak berada di dalam kelas.
Perempuan itu sempat melihat gadisku pergi ke arah jembatan. Aku masih tetap di
tempatku. Mengawasi perempuan itu sekaligus mengirimkan pesan singkat berisi
pertanyaan kepada gadisku.
Gerimis turun
pada sore hari. Aku sudah berada di rumah. Bersyukur tak sampai berhujan-hujan
ria untuk pulang. Kemudian aku teringat perempuan itu. Hujan yang selalu turun
saat pertemuan itu terjadi. Hujan yang mungkin jadi pertanda buat
pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Siang ini pun
begitu. Panas terik matahari mengusung tema kegiatan hari ini. Aku berjalan
santai menuju gazebo. Melewati kanopi-kanopi kelopak berwarna ungu yang akan
jatuh ketika ditiup angin. Kanopi-kanopi yang menaungi taman sigma. Tak sengaja
melihat perempuan itu di plasa jurusan tetangga. Berusaha tak peduli meski
sedikit banyak ikut tersenyum geli.
Aku kembali fokus
dengan urusanku disini. Menyapa beberapa teman. Memilih untuk menyelesaikan
urusan di gazebo ketiga. Perempuan itu tahu benar aku disana. Langkahnya yang
buru-buru menuju toilet membuatnya tak sempat melihat keberadaanku disini. Baru
ketika perempuan itu selesai dengan urusannya di toilet perempuan itu semakin
sadar dengan keberadaanku. Mencuri pandang dengan sengaja lalu tersenyum
sendiri dengan imajinasi dan kekagumannya. Sampai akhirnya senyumnya berubah
setelah bertemu seorang teman laki-laki. Bukan. Kali ini bukan teman laki-laki
yang biasanya ia sapa. Perempuan itu memanggil namanya. Membicarakan beberapa
hal sampai akhirnya laki-laki itu mengubah arah berjalannya menuju kemana
perempuan itu kembali.
Perempuan itu
masih tersenyum sendiri saat ia kembali menyusuri koridor menuju mushalla.
Memperlambat langkahnya hanya untuk melihat ke arah gazebo yang kutempati.
Bertingkah lucu karena harus pergi dari sini. Hari ini terjadi pertemuan
seperti yang sudah-sudah. Aku masih menjalani kebiasaanku membaca pikirannya
setiap perempuan itu berada daalm jarak pandangku. Hanya saja aku tidak tahu
hari ini akan hujan atau tidak seperti yang lalu.