Jumat, 02 Juni 2017

Dheala’s Journal: Jodoh



            Tipikal chat yang bikin bangun hari ini adalah si anu mau nikah dhe September terus aku baper. Respon saya begini aja, waaah udah mau nikah aja ya tipikal respon yang ngga tahu harus komentar apa padahal sebenernya kalau dipikir lagi kan begini ya: Alhamdulillah si anu udah ketemu jodohnya, udah mau nikah, udah mau naik tingkat level hidupnya jadi istri orang. Nah saya yang komentar waaah udah mau nikah aja ya ini masih gini-gini aja. Masih suka bangun siang dan ngga pedulian atau istilahnya merasa belum siap buat ambil tanggung jawab mengurus orang lain setelah diri saya sendiri.
            Si teman baper ini rupanya mulai memasuki fase sudah-punya-pacar-apa-belum-calonnya-mana dan kapan-nikah. Pertanyaan macam ini jadi salah satu gangguan buat makhluk-makhluk single yang mulai merasa dikejar target menikah karena sudah waktunya. Menganggu buat mereka yang sudah merasa mampu dan ingin tapi belum punya calon. Mengganggu buat mereka yang tengah menikmati masa sendiri sebelum memutuskan untuk settle dan menikah.  Mengganggu buat mereka yang tengah menikmati karir dan pencapaiannya masing-masing. So why do people ask this kind of question while they’re not even the one who living our life?
            The biggest topic of the day isn’t that question but still related to those. Jodoh. That one word yang abu-abu jika meminjam istilah si teman baper ini. Saya setuju perihal jodoh yang abu-abu.  Si jodoh ini kita tidak tahu siapa, tidak tahu bagaimana wujudnya, tidak tahu bagaimana karakternya, tidak tahu saat ini sedang apa dan dimana. Si jodoh yang sepertinya makin ditunggu makin ngga kelihatan kapan datangnya. So grey yet so exciting right?
Beberapa orang menghabiskan waktu menunggu dan membayangkan seperti apa jodonya.  Buat beberapa yang seperti ini saya menyarankan konsep memperbaiki dan memantaskan diri. Kalau dipikir ulang bukannya memperbaiki dan memantaskan diri ini tujuannya baik ya? Rather than wondering around and expecting so much I mean. Semakin dibayangkan dan dipikirkan seperti apa wujudnya, makin tinggi pula pengharapan yang ada. Sadar atau tidak. Pengharapan ini yang nampaknya menjauhkan, barangkali juga bisa jadi salah satu kesakitan.
Tapi kalau mengikuti konsep memperbaiki dan memantaskan diri, pengharapan itu jauh. You’re not expecting yet you’re still ready. Banyak hal yang bisa diraih rather than wondering around seperti sebelumnya. Pergaulan makin luas juga, pemikirannya makin terbuka. Atau kalau tidak begitu suka istilahnya bisa diganti dengan menikmati waktu sendiri. Merasa bukan masanya nambah daftar mantan tapi cari yang siap ke jenjang pernikahan. Apa sih enaknya nambah daftar mantan dan jagain jodoh orang?
Konsep menikmati waktu sendiri menurut saya personally sih banyak menghabiskan waktu menikmati apa yang jadi kesukaan. Apa yang ingin dilakukan. Apa yang ingin dicapai. Since we don’t know what will happen later, apa nanti setelah settle dan jadi pasangan orang masih bisa melakukan apa yang jadi kesukaan, apa masih bisa mencapai apa yang ingin dicapai. We don’t know, we have no idea right now. Menikmati waktu sendiri juga jadi waktu penting untuk mencintai dan menghargai diri sendiri sebelum akhirnya berakhir mencintai dan menghargai orang lain.
Jadi buat kalian yang tengah merasa abu-abu akan jodohnya, nikmati saja dulu waktu sendiri. Jangan diburu, nanti jodohmu meragu. It’s not like having your own me time is being lonely. You’re not lonely when you’re alone. Don’t think about what people say. Good things come at the right time. When it’s not the right time it means that it’s not good. When it’s good but it slip it means that it’s not the right time.


June, 2nd 2017
           
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template