Jumat, 09 Juni 2017

#SembariNungguJadwalSemhasSidang: Rasa Ramadhan Pertama

"Raa, dimana?" panggilannya membuyarkan bacaanku yang nyaris mencapai klimaks. Biasanya aku akan memasang tampang cemberut pada siapa saja yang mengganggu acara membacaku. Tapi kali ini aku tak akan mampu memasang wajah cemberut atau sebal. Apalagi ketika menemukan senyum lebar yang menunjukkan lesung pipinya menggantung  menyenangkan di wajahnya. Aku hanya bisa ikut tersenyum.
"Baca apa, Raa?" tanyanya sembari naik ke atas tempat tidur, menempati posisi kesukaannya disampingku sebelum menempatkan kepalanya di pangkuanku.
"Ini" kataku menunjukkan sampul novel Pramoedya Ananta Toer yang tengah kubaca kepadanya. Ia hanya mengangguk dan kembali berpindah posisi.
"Raa, laper" katanya menyingkirkan novel yang tak sengaja menutupi pandangannya. Aku tersenyum. Sepertinya bacaanku sampai di sini.
"Mau makan apa?" tanyaku setelah menutup novel dan meletakannya di meja lampu samping tempat tidur.
"Telur dadar boleh ya?" jawabannya terdengar seperti sebuah pertanyaan. Aku mengangguk.
"Tapi ngga mau yang kaya biasanya" ujarnya lagi. My lil boy trapped in a man's body, batinku lucu.
"Terus?" tanyaku meminta penjelasan.
"Itu loh yang, telur dadar yang kaya punya Revan" jelasnya. Telur dadar Revan? Aku tengah berpikir tentang telur dadar macam apa yang pernah kubuatkan untuk adik bungsuku di rumah.
"Nasinya dibungkus telur dadar, yang" jelasnya lagi. Aku mendadak ingin tertawa. My lil boy trapped in a man's body tengah menginginkan bekal anak kelas 2 SD.
"Serius? Ntar kamu ngga doyan lagi" kataku.
"Doyan kook" katanya yakin.
"That's so simple and minimalist. Ngga banyak bumbu yang dipake, yang. You sure it'll suit your palate?" tanyaku.
"Revan keliatannya baik-baik aja dan sepertinya enak kok despite of that's so simple and minimalist as you say, yang" katanya panjang lebar.
"Well Revan eats whatever I make" kataku.
"Raa, mau bikinin yang begitu yaa? Yang sama persis kaya punya Revan" katanya merajuk. Aku mengangguk meski masih tak paham dengan permintaannya.
"Yess. Asik ya punya istri" gumamnya. Aku menatapnya tak percaya yang disambut dengan senyuman lebar dan lesung pipinya itu.
Aku tengah mengocok dua butir telur untuk memenuhi permintaan Yasa lalu menuangnya ke penggorengan ketika suara televisi terdengar dari ruang tengah. There he is now, menonton tv sembari menunggu makanannya datang. Kalau kupikir-pikir lagi, Ramadhan ini akan jadi Ramadhan yang berbeda. Berbeda dari tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan tahun lalu kuhabiskan di Jakarta sendirian karena pekerjaan kantor yang membuatku harus menetap di sana selama setidaknya 6 bulan. Buka puasa diisi dengan segala jenis ajakan teman sekantor yang akhirnya kuiyakan karena aku malas berpikir tentang menu buka puasa. Makan sahur kulewatkan begitu saja karena aku malas bangun. Tahun-tahun sebelumnya kuhabiskan Ramadhan bersama mama. Ramadhan versi Yasa kuduga ia habiskan di rumah bersama Ibu dan Ayah. Bisnisnya tengah berkembang pesat di Surabaya tahun lalu jadi ia tak perlu menghabiskan Ramadhannya di tempat lain. Tidak juga di tanah rantau seperti masa-masa kuliahnya dulu.
Sebenarnya tidak ada rencana atau pikiran apapun menghabiskan Ramadhan dengan cara yang amat berbeda. Nyaris setahun lalu yang kupikirkan tentang Ramadhanku adalah menghabiskannya di rumah. Menemani mama dan adik-adikku beribadah. But who knows, Allah mengirimkan laki-laki ini lebih cepat dari dugaanku. Jauh lebih cepat baragkali. Desember tahun lalu, setelah aku kembali bertugas di Surabaya pak Bos memintaku kembali mengunjungi biro konsultasi Jakarta dan menetap di sana setidaknya tiga bulan. Bulan kedua di Jakarta, sekitar Februari tahun ini mama tiba-tiba menelepon. Aku tengah meeting dengan salah satu kontraktor yang membutuhkan jasa konsultasi untuk manajemen dan sumberdaya perusahaan mereka jadi aku tak menerima telepon mama. Baru selepas jam kantor aku menelepon mama. Hari itu mama bilang ada laki-laki yang mengaku sebagai teman sekolahku dan memintaku menjadi istrinya. Aku menghentikan kegiatanku yang tengah membereskan barang-barang untuk pulang dan kembali duduk. Well, teman sekolah yang mana ya?
Ternyata laki-laki yang mengaku sebagai teman sekolahku ini tidak sekali dua kali berkunjung ke rumah dan menemui mama. Mama bilang, hari itu adalah kunjungannya yang kesekian diantara kesibukannya sendiri. Si laki-laki yang mengaku sebagai teman sekolahku ini bahkan sudah akrab dengan si bungsu Revan. Dari sekian banyak kunjungannya ke rumah yang tak pernah kuketahui, sebanyak itu pula ia sampaikan niatnya untuk mendekatiku dan melamarku pada mama. Mama bahkan menjelaskan banyak hal tentangku meski berkali-kali ia mengatakan bahwa ia tak punya keberanian untuk mendekatiku dan mengajakku berpacaran. Jadi selama ini, sebelum ia melamarku menjadi istrinya, ia mendekati mama. Dan ternyata mama dengan mudahnya menerima bahkan sejak kunjungan pertamanya ke rumah dua tahun yang lalu. Mama bilang ia laki-laki yang bisa mendampingiku dan menjagaku nantinya. Alasan mama tak memberi tahuku hanya karena mama ingin tahu seberapa kuat niatnya meminangku. Hari itu ditelepon mama memintaku pulang secepatnya ke Surabaya. Mama ingin mempertemukanku dengannya karena bahkan diantara cerita mama tadi tidak sedikitpun namanya disebutkan. Seminggu setelah telepon mama aku berhasil pulang dengan hasil lembur gila-gilaan. Pak Bos mengijinkanku off hari Jumat jadi aku bisa pulang hari Kamis dengan flight malam.
Jumat pagi hari itu, tamu rutin mama ternyata tengah mengadakan kunjungan istimewa pada jam sarapan lebih tepatnya. Aku dengan kaos bergambar Donald Duck kesayanganku serta celana pendek keluar dari kamar tanpa perasaan bersalah. Baru kemudian setelah menyadari bahwa ada orang lain yang tengah duduk di meja makan bersama mama, Revan, dan Rio aku mendadak ingin menghilang dari bumi. Tamu rutin mama atau si laki-laki yang mengaku sebagai teman sekolahku itu tengah melakukan kunjungan. Di hari Jumat pagi dan harus melihatku seperti ini. Hari itu aku memutuskan untuk kembali ke kamar berganti baju tapi mama menahanku. Pagi itu kusadari bahwa pemilik senyuman lebar dan lesung pipi dalam yang diceritakan mama seminggu yang lalu adalah laki-laki yang akan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.
"Mas ini makannya udah siap. Mau makan di mana?" kataku dari dapur sembari melepas apron yang kugunakan tadi. Tidak ada jawaban dari ruang tengah tapi aku mendapati pemilik senyum lebar dan lesung pipi dalam ini sudah memelukku dari belakang lalu menghadiahi sebuah ciuman di pipi.
"Makan di sini deh, temenin ya" katanya lalu duduk di meja makan.
"Oh kamu ikut makan juga ternyata" sambungnya lagi. Aku mengangguk.
"Aku ikutan laper" ringisku.
"Yang kelar makan tarawih ya. Ini tarawih pertama" ajaknya.
"Lah itu tarawihnya baru kelar di masjid kompleks" kataku.
"Tarawih sendiri yang, aku yang imamin" katanya mantap. Aku tersenyum. Setengah isi kepalaku berlarian ke langit seakan berkata, oh ini rasanya Ramadhan pertama.


June, 9th 2017
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template