"Raa, dimana?"
panggilannya membuyarkan bacaanku yang nyaris mencapai klimaks. Biasanya aku
akan memasang tampang cemberut pada siapa saja yang mengganggu acara membacaku.
Tapi kali ini aku tak akan mampu memasang wajah cemberut atau sebal. Apalagi
ketika menemukan senyum lebar yang menunjukkan lesung pipinya menggantung menyenangkan di wajahnya. Aku hanya bisa ikut
tersenyum.
"Baca apa,
Raa?" tanyanya sembari naik ke atas tempat tidur, menempati posisi
kesukaannya disampingku sebelum menempatkan kepalanya di pangkuanku.
"Ini" kataku
menunjukkan sampul novel Pramoedya Ananta Toer yang tengah kubaca kepadanya. Ia
hanya mengangguk dan kembali berpindah posisi.
"Raa, laper"
katanya menyingkirkan novel yang tak sengaja menutupi pandangannya. Aku
tersenyum. Sepertinya bacaanku sampai di sini.
"Mau makan
apa?" tanyaku setelah menutup novel dan meletakannya di meja lampu samping
tempat tidur.
"Telur dadar boleh
ya?" jawabannya terdengar seperti sebuah pertanyaan. Aku mengangguk.
"Tapi ngga mau yang
kaya biasanya" ujarnya lagi. My lil
boy trapped in a man's body, batinku lucu.
"Terus?"
tanyaku meminta penjelasan.
"Itu loh yang, telur
dadar yang kaya punya Revan" jelasnya. Telur dadar Revan? Aku tengah
berpikir tentang telur dadar macam apa yang pernah kubuatkan untuk adik
bungsuku di rumah.
"Nasinya dibungkus
telur dadar, yang" jelasnya lagi. Aku mendadak ingin tertawa. My lil boy trapped in a man's body
tengah menginginkan bekal anak kelas 2 SD.
"Serius? Ntar kamu
ngga doyan lagi" kataku.
"Doyan kook"
katanya yakin.
"That's so simple and minimalist. Ngga
banyak bumbu yang dipake, yang. You sure
it'll suit your palate?" tanyaku.
"Revan keliatannya
baik-baik aja dan sepertinya enak kok despite
of that's so simple and minimalist as you say, yang" katanya panjang
lebar.
"Well Revan eats whatever I make"
kataku.
"Raa, mau bikinin
yang begitu yaa? Yang sama persis kaya punya Revan" katanya merajuk. Aku
mengangguk meski masih tak paham dengan permintaannya.
"Yess. Asik ya punya
istri" gumamnya. Aku menatapnya tak percaya yang disambut dengan senyuman
lebar dan lesung pipinya itu.
Aku
tengah mengocok dua butir telur untuk memenuhi permintaan Yasa lalu menuangnya
ke penggorengan ketika suara televisi terdengar dari ruang tengah. There he is
now, menonton tv sembari menunggu makanannya datang. Kalau kupikir-pikir lagi,
Ramadhan ini akan jadi Ramadhan yang berbeda. Berbeda dari tahun lalu dan
tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan tahun lalu kuhabiskan di Jakarta sendirian
karena pekerjaan kantor yang membuatku harus menetap di sana selama setidaknya
6 bulan. Buka puasa diisi dengan segala jenis ajakan teman sekantor yang
akhirnya kuiyakan karena aku malas berpikir tentang menu buka puasa. Makan
sahur kulewatkan begitu saja karena aku malas bangun. Tahun-tahun sebelumnya
kuhabiskan Ramadhan bersama mama. Ramadhan versi Yasa kuduga ia habiskan di
rumah bersama Ibu dan Ayah. Bisnisnya tengah berkembang pesat di Surabaya
tahun lalu jadi ia tak perlu menghabiskan Ramadhannya di tempat lain. Tidak
juga di tanah rantau seperti masa-masa kuliahnya dulu.
Sebenarnya
tidak ada rencana atau pikiran apapun menghabiskan Ramadhan dengan cara yang
amat berbeda. Nyaris setahun lalu yang kupikirkan tentang Ramadhanku adalah
menghabiskannya di rumah. Menemani mama dan adik-adikku beribadah. But who knows, Allah mengirimkan
laki-laki ini lebih cepat dari dugaanku. Jauh lebih cepat baragkali. Desember
tahun lalu, setelah aku kembali bertugas di Surabaya pak Bos memintaku kembali
mengunjungi biro konsultasi Jakarta dan menetap di sana setidaknya tiga bulan.
Bulan kedua di Jakarta, sekitar Februari tahun ini mama tiba-tiba menelepon.
Aku tengah meeting dengan salah satu
kontraktor yang membutuhkan jasa konsultasi untuk manajemen dan sumberdaya
perusahaan mereka jadi aku tak menerima telepon mama. Baru selepas jam kantor
aku menelepon mama. Hari itu mama bilang ada laki-laki yang mengaku sebagai
teman sekolahku dan memintaku menjadi istrinya. Aku menghentikan kegiatanku
yang tengah membereskan barang-barang untuk pulang dan kembali duduk. Well, teman
sekolah yang mana ya?
Ternyata
laki-laki yang mengaku sebagai teman sekolahku ini tidak sekali dua kali
berkunjung ke rumah dan menemui mama. Mama bilang, hari itu adalah kunjungannya
yang kesekian diantara kesibukannya sendiri. Si laki-laki yang mengaku sebagai
teman sekolahku ini bahkan sudah akrab dengan si bungsu Revan. Dari sekian
banyak kunjungannya ke rumah yang tak pernah kuketahui, sebanyak itu pula ia
sampaikan niatnya untuk mendekatiku dan melamarku pada mama. Mama bahkan
menjelaskan banyak hal tentangku meski berkali-kali ia mengatakan bahwa ia tak
punya keberanian untuk mendekatiku dan mengajakku berpacaran. Jadi selama ini,
sebelum ia melamarku menjadi istrinya, ia mendekati mama. Dan ternyata mama
dengan mudahnya menerima bahkan sejak kunjungan pertamanya ke rumah dua tahun
yang lalu. Mama bilang ia laki-laki yang bisa mendampingiku dan menjagaku
nantinya. Alasan mama tak memberi tahuku hanya karena mama ingin tahu seberapa
kuat niatnya meminangku. Hari itu ditelepon mama memintaku pulang secepatnya ke
Surabaya. Mama ingin mempertemukanku dengannya karena bahkan diantara cerita
mama tadi tidak sedikitpun namanya disebutkan. Seminggu setelah telepon mama
aku berhasil pulang dengan hasil lembur gila-gilaan. Pak Bos mengijinkanku off hari Jumat jadi aku bisa pulang hari
Kamis dengan flight malam.
Jumat
pagi hari itu, tamu rutin mama ternyata tengah mengadakan kunjungan istimewa
pada jam sarapan lebih tepatnya. Aku dengan kaos bergambar Donald Duck
kesayanganku serta celana pendek keluar dari kamar tanpa perasaan bersalah.
Baru kemudian setelah menyadari bahwa ada orang lain yang tengah duduk di meja
makan bersama mama, Revan, dan Rio aku mendadak ingin menghilang dari bumi.
Tamu rutin mama atau si laki-laki yang mengaku sebagai teman sekolahku itu tengah
melakukan kunjungan. Di hari Jumat pagi dan harus melihatku seperti ini. Hari
itu aku memutuskan untuk kembali ke kamar berganti baju tapi mama menahanku.
Pagi itu kusadari bahwa pemilik senyuman lebar dan lesung pipi dalam yang
diceritakan mama seminggu yang lalu adalah laki-laki yang akan menghabiskan
sisa hidupnya bersamaku.
"Mas ini makannya
udah siap. Mau makan di mana?" kataku dari dapur sembari melepas apron
yang kugunakan tadi. Tidak ada jawaban dari ruang tengah tapi aku mendapati
pemilik senyum lebar dan lesung pipi dalam ini sudah memelukku dari belakang lalu
menghadiahi sebuah ciuman di pipi.
"Makan di sini deh,
temenin ya" katanya lalu duduk di meja makan.
"Oh kamu ikut makan
juga ternyata" sambungnya lagi. Aku mengangguk.
"Aku ikutan
laper" ringisku.
"Yang kelar makan
tarawih ya. Ini tarawih pertama" ajaknya.
"Lah itu tarawihnya
baru kelar di masjid kompleks" kataku.
"Tarawih sendiri
yang, aku yang imamin" katanya mantap. Aku tersenyum. Setengah isi
kepalaku berlarian ke langit seakan berkata, oh ini rasanya Ramadhan pertama.
June, 9th 2017