Did I ever mention
that man with broad shoulders in white shirt is stunning effortlessly? Well that
broad shoulders cost more than anything though. Who don’t think that man looks
lot reliable with that broad shoulders though? Indonesian wear lot of white shirt
to interview but I don’t refer to that kind of white shirt. I talk about the
trendiest and modest one. That white shirt which brings you lot of confident and
good looking effortlessly. One I know wear it most is one of my favorite guitarist.
That one and only man, Lee Jonghyun. Or maybe he was that one and only man this
time. Since the one and only man to me goes to Yasa right now.
Aku tengah menonton salah satu reality show Korea yang dibintangi Lee Jonghyun ketika Yasa
mencariku. Aku menekan tombol pause dan
menatapnya yang tengah tersenyum tak berdosa menunjukkan lesung pipinya. Yasa
meletakkan sepiring buah-buahan di hadapanku.
“Buat temen nonton”
ujarnya lalu mengambil tempat duduk di sampingku. Aku tersenyum padanya.
“Tumben ngga protes aku
nonton beginian” kataku.
“It’s your day off so that’s just okay. What’s not okay is kamu yang nyuekin aku seharian ini
gara-gara dia” omelnya panjang sembari menunjuk gambar Jonghyun yang tengah
muncul di layar televisi. Aku nyaris tertawa.
“Ganteng tau mas, pake
kemeja putih aja gantengnya ngga kurang-kurang” godaku. Yasa yang mendengar
ucapanku barusan memasang tampang acuh lalu meletakkan kepalanya dipangkuanku
dan memainkan game di tabletnya.
Sepertinya belum ada lima menit aku melanjutkan
tontonanku sampai suara Yasa kembali menginterupsi. Mataku masih terpaku dengan
Jonghyun dilayar televisi sementara telingaku mendengarkan apa yang akan
dibicarakan Yasa.
“Raa, jadwal kamu kosong
minggu depan?” tanyanya tanpa beralih dari permainannya.
“Ngga juga tapi bisa
diatur, ada apa Mas?” jawabku.
“Inget Bayu temen aku itu
ngga?” tanyanya. Bayu? Oh Bayu teman dekat Yasa itu yaa, batinku.
“Oh Bayu, kenapa Bayu?”
“He’ll married soon”
“Waah bagus dong kalo
gitu, terus hubungannya sama jadwal aku apa?”
“He asks me to attend his wedding bantu ngurusin lebih tepatnya tapi
ternyata nikahannya ngga di Indonesia”
“Terus dimana?” Ketika
pertanyaanku ini muncul Yasa dengan semena-mena menekan tombol pause dan menginterupsi tontonanku
habis-habisan. Aku menatapnya sebal, ia hanya tertawa kecil lalu meninggalkan
permainannya dan duduk disampingku. Oh ini serius ya?
“Seoul” katanya singkat. Ada
binar mata menggemaskan saat mengatakannya barusan.
“Aku mau ikut” kataku
antusias.
“Jadwal kamu kosong ngga?”
“Aku kosongin khusus buat
kamu dan Bayu”
“Satu lagi yang”
“Eh apa?”
“I somehow heard that your favorite Band, that boy actually ada
jadwal mini concert di salah satu café
di sana”. Wajahnya nampak tak ikhlas ketika menyebutkan hal ini tapi sekuat
tenaga ditahannya karena ia tahu aku akan sangat menyukainya. And that boy actually refers to
Jonghyun. Sampai sini aku tak bisa menahan senyumanku untuk tidak mencapai
telinga.
“You bought the ticket I guess” tebakku.
“I did but I don’t think we will make it, kamu tahu kan bagaimana
sibuknya mempersiapkan pernikahan. Lebih lagi aku sama sekali ngga tahu apa
yang perlu disiapkan di sana” jelasnya panjang lebar.
“Aku pergi sendiri” kataku
masih antusias yang dihadiahi tatapan tak percaya Yasa.
“You love him that much” katanya tak percaya.
“But I love you more” kataku lalu menghadiahi ciuman di keningnya. Ia
mengusap kepalaku sayang lalu memelukku sebentar.
Persiapan pernikahan Bayu jelas serba kilat dan
melelahkan. Tidak banyak waktu yang tersisa meski pernikahan yang ia adakan
bukan pernikahan yang mewah. Tapi mengadakan pernikahan di negeri orang tentu
memberikan kerepotan sendiri. Yasa yang setahuku tidak begitu telaten jadi amat
sangat sabar mendengarkan apa yang diinginkan Bayu sahabatnya semasa sekolah
dulu. Melihatnya meninggalkan pekerjaanya di Surabaya dan mengurus banyak hal
di Seoul membuatku sadar bahwa banyak sisi Yasa yang belum kuketahui. Beberapa hari
belakangan ia amat sibuk mengurus pernikahan Bayu dan sama sekali tidak
menunjukkan sikap manjanya padaku. Semalam ia pulang begitu larut dengan wajah
lelah tapi masih menatapku dengan senyum lebar dan lesung pipinya. Guess hug is what he needs right now.
Pagi ini aku terbangun dengan tangan Yasa yang melingkar
erat di perutku dan kepalaku yang menghadap dadanya. Aku menyingkirkan
tangannya pelan-pelan agar ia tak terbangun, bergegas ke kamar mandi dan
memasak sesuatu untuknya. Hari ini kupastikan aku berbahagia dengan menatap Lee
Jonghyun selama setidaknya 30 menit.
“Mas” panggilku sembari
mengusap lengannya pelan. Ia mengerang lalu mengerjapkan matanya.
“Jam berapa, Raa?”
tanyanya.
“Setengah sepuluh”
jawabku.
“Yuk cuci muka terus
makan” ajakku. Bukannya bangun ia justru merentangkan tangannya lebar. Memintaku
masuk sebentar ke dalam pelukannya sebelum ia benar-benar bangun seperti
permintaanku.
“Kamu mau ke mana udah
rapi begitu?” tanyanya ketika menyadari bahwa aku sudah jauh lebih rapi
darinya.
“Seeing that boy” godaku. Ia memasang tampang datar sembari
melangkah ke kamar mandi.
“You’re not seeing that boy alone ya Raa, you're seeing him with me” teriaknya dari kamar mandi. Aku tertawa
kecil.
“Iya iyaa udah sana
siap-siap”
He looks so dashing
with that white shirt dan celana beige,
aku tersenyum melihatnya menyisir asal rambutnya ke belakang. Yasa
menghampiriku yang masih tersenyum menatapnya. Alisnya terangkat penuh tanda
tanya sebelum duduk di meja makan.
“Why are you smiling like that?”tanyanya setelah meminum jus jeruk
yang kusiapkan untuk sarapannya.
“Ganteng banget sih yang,
mau kemana?” godaku. Yasa hanya melirikku sebal karena kugoda. Well dengan white shirt and beige pants itu, I’ll put a trench coat and muffler untuk membuatnya lebih hangat.
Selesai sarapan Yasa benar-benar membawaku ke that boy mini concert meski ia cemburu
setengah mati. Aku tak hafal benar di mana letak café ini. Sebuah tangga bawah
tanah menyambut kami. Oh it’s an underground
café. Setelah tangga yang kami turuni habis, jelas bahwa mini concert dilakukan di sini. There’s so many people. This place is so packed. Penerangannya
dibuat minim. Set alat musik di panggung nampak menunggu tuannya. Aku memilih
tempat tepat di depan that boy yang dihadiahi lirikan maut Yasa, aku hanya
tersenyum lalu menciumnya kilat.
Aku tidak bisa memalingkan tatapanku dari permainan that boy. He’s so handsome and tall and he
has broad shoulder. Kemeja putih transparannya membuatku setengah salah fokus.
Pencahayaan yang digunakan juga membuatku ingin berterimakasih karena
membuatnya nampak ratusan kali lebih tampan ketika kutatap dari dekat begini. Yasa
pasti amat sangat sebal denganku hari ini apalagi ketika that boy melemparkan senyuman kepadaku.
“Jangan senyum balik yang”
katanya sembari memelukku erat dari belakang. Aku mendapati diriku sendiri
tersenyum karena kelakuan Yasa. Afterwards
shall tell him that he is the most handsome one in the town and gladly he’s
mine. He’s my that white shirt and broad shoulders man. Shall tell him that I love
him more.
June, 10th
2017