Sabtu, 10 Juni 2017

#SembariNungguJadwalSemhasSidang: White Shirt and Broad Shoulders

            Did I ever mention that man with broad shoulders in white shirt is stunning effortlessly? Well that broad shoulders cost more than anything though. Who don’t think that man looks lot reliable with that broad shoulders though? Indonesian wear lot of white shirt to interview but I don’t refer to that kind of white shirt. I talk about the trendiest and modest one. That white shirt which brings you lot of confident and good looking effortlessly. One I know wear it most is one of my favorite guitarist. That one and only man, Lee Jonghyun. Or maybe he was that one and only man this time. Since the one and only man to me goes to Yasa right now.
            Aku tengah menonton salah satu reality show Korea yang dibintangi Lee Jonghyun ketika Yasa mencariku. Aku menekan tombol pause dan menatapnya yang tengah tersenyum tak berdosa menunjukkan lesung pipinya. Yasa meletakkan sepiring buah-buahan di hadapanku.
“Buat temen nonton” ujarnya lalu mengambil tempat duduk di sampingku. Aku tersenyum padanya.
“Tumben ngga protes aku nonton beginian” kataku.
It’s your day off so that’s just okay. What’s not okay is kamu yang nyuekin aku seharian ini gara-gara dia” omelnya panjang sembari menunjuk gambar Jonghyun yang tengah muncul di layar televisi. Aku nyaris tertawa.
“Ganteng tau mas, pake kemeja putih aja gantengnya ngga kurang-kurang” godaku. Yasa yang mendengar ucapanku barusan memasang tampang acuh lalu meletakkan kepalanya dipangkuanku dan memainkan game di tabletnya.
            Sepertinya belum ada lima menit aku melanjutkan tontonanku sampai suara Yasa kembali menginterupsi. Mataku masih terpaku dengan Jonghyun dilayar televisi sementara telingaku mendengarkan apa yang akan dibicarakan Yasa.
“Raa, jadwal kamu kosong minggu depan?” tanyanya tanpa beralih dari permainannya.
“Ngga juga tapi bisa diatur, ada apa Mas?” jawabku.
“Inget Bayu temen aku itu ngga?” tanyanya. Bayu? Oh Bayu teman dekat Yasa itu yaa, batinku.
“Oh Bayu, kenapa Bayu?”
He’ll married soon
“Waah bagus dong kalo gitu, terus hubungannya sama jadwal aku apa?”
He asks me to attend his wedding bantu ngurusin lebih tepatnya tapi ternyata nikahannya ngga di Indonesia”
“Terus dimana?” Ketika pertanyaanku ini muncul Yasa dengan semena-mena menekan tombol pause dan menginterupsi tontonanku habis-habisan. Aku menatapnya sebal, ia hanya tertawa kecil lalu meninggalkan permainannya dan duduk disampingku. Oh ini serius ya?
“Seoul” katanya singkat. Ada binar mata menggemaskan saat mengatakannya barusan.
“Aku mau ikut” kataku antusias.
“Jadwal kamu kosong ngga?”
“Aku kosongin khusus buat kamu dan Bayu”
“Satu lagi yang”
“Eh apa?”
I somehow heard that your favorite Band, that boy actually ada jadwal mini concert di salah satu café di sana”. Wajahnya nampak tak ikhlas ketika menyebutkan hal ini tapi sekuat tenaga ditahannya karena ia tahu aku akan sangat menyukainya. And that boy actually refers to Jonghyun. Sampai sini aku tak bisa menahan senyumanku untuk tidak mencapai telinga.
You bought the ticket I guess” tebakku.
I did but I don’t think we will make it, kamu tahu kan bagaimana sibuknya mempersiapkan pernikahan. Lebih lagi aku sama sekali ngga tahu apa yang perlu disiapkan di sana” jelasnya panjang lebar.
“Aku pergi sendiri” kataku masih antusias yang dihadiahi tatapan tak percaya Yasa.
You love him that much” katanya tak percaya.
But I love you more” kataku lalu menghadiahi ciuman di keningnya. Ia mengusap kepalaku sayang lalu memelukku sebentar.
            Persiapan pernikahan Bayu jelas serba kilat dan melelahkan. Tidak banyak waktu yang tersisa meski pernikahan yang ia adakan bukan pernikahan yang mewah. Tapi mengadakan pernikahan di negeri orang tentu memberikan kerepotan sendiri. Yasa yang setahuku tidak begitu telaten jadi amat sangat sabar mendengarkan apa yang diinginkan Bayu sahabatnya semasa sekolah dulu. Melihatnya meninggalkan pekerjaanya di Surabaya dan mengurus banyak hal di Seoul membuatku sadar bahwa banyak sisi Yasa yang belum kuketahui. Beberapa hari belakangan ia amat sibuk mengurus pernikahan Bayu dan sama sekali tidak menunjukkan sikap manjanya padaku. Semalam ia pulang begitu larut dengan wajah lelah tapi masih menatapku dengan senyum lebar dan lesung pipinya. Guess hug is what he needs right now.
            Pagi ini aku terbangun dengan tangan Yasa yang melingkar erat di perutku dan kepalaku yang menghadap dadanya. Aku menyingkirkan tangannya pelan-pelan agar ia tak terbangun, bergegas ke kamar mandi dan memasak sesuatu untuknya. Hari ini kupastikan aku berbahagia dengan menatap Lee Jonghyun selama setidaknya 30 menit.
“Mas” panggilku sembari mengusap lengannya pelan. Ia mengerang lalu mengerjapkan matanya.
“Jam berapa, Raa?” tanyanya.
“Setengah sepuluh” jawabku.
“Yuk cuci muka terus makan” ajakku. Bukannya bangun ia justru merentangkan tangannya lebar. Memintaku masuk sebentar ke dalam pelukannya sebelum ia benar-benar bangun seperti permintaanku.
“Kamu mau ke mana udah rapi begitu?” tanyanya ketika menyadari bahwa aku sudah jauh lebih rapi darinya.
Seeing that boy” godaku. Ia memasang tampang datar sembari melangkah ke kamar mandi.
You’re not seeing that boy alone ya Raa, you're seeing him with me” teriaknya dari kamar mandi. Aku tertawa kecil.
“Iya iyaa udah sana siap-siap”
            He looks so dashing with that white shirt dan celana beige, aku tersenyum melihatnya menyisir asal rambutnya ke belakang. Yasa menghampiriku yang masih tersenyum menatapnya. Alisnya terangkat penuh tanda tanya sebelum duduk di meja makan.
Why are you smiling like that?”tanyanya setelah meminum jus jeruk yang kusiapkan untuk sarapannya.
“Ganteng banget sih yang, mau kemana?” godaku. Yasa hanya melirikku sebal karena kugoda. Well dengan white shirt and beige pants itu, I’ll put a trench coat and muffler untuk membuatnya lebih hangat.
            Selesai sarapan Yasa benar-benar membawaku ke that boy mini concert meski ia cemburu setengah mati. Aku tak hafal benar di mana letak café ini. Sebuah tangga bawah tanah menyambut kami. Oh it’s an underground café. Setelah tangga yang kami turuni habis, jelas bahwa mini concert dilakukan di sini. There’s so many people. This place is so packed. Penerangannya dibuat minim. Set alat musik di panggung nampak menunggu tuannya. Aku memilih tempat tepat di depan that boy yang dihadiahi lirikan maut Yasa, aku hanya tersenyum lalu menciumnya kilat.
            Aku tidak bisa memalingkan tatapanku dari permainan that boy. He’s so handsome and tall and he has broad shoulder. Kemeja putih transparannya membuatku setengah salah fokus. Pencahayaan yang digunakan juga membuatku ingin berterimakasih karena membuatnya nampak ratusan kali lebih tampan ketika kutatap dari dekat begini. Yasa pasti amat sangat sebal denganku hari ini apalagi ketika that boy melemparkan senyuman kepadaku.
“Jangan senyum balik yang” katanya sembari memelukku erat dari belakang. Aku mendapati diriku sendiri tersenyum karena kelakuan Yasa. Afterwards shall tell him that he is the most handsome one in the town and gladly he’s mine. He’s my that white shirt and broad shoulders man. Shall tell him that I love him more.

June, 10th 2017
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template