Hal pertama yang selalu kucari setiap hari hanya satu. Keberadaan
Tara. Seringkali aku mencari keberadaannya saat bangun tidur dan sepulang
kantor. Tara seringkali bangun terlebih dahulu tiap pagi. Tapi saat aku pulang
kantor ia selalu menyambutku. Entah sebelumnya ia memasak di dapur, menonton
sesuatu di ruang televisi, atau sekedar memainkan ponselnya. Alasanku pulang lebih
cepat hari ini juga keberadaannya. Hanya saja aku tidak menemukannya di
manapun. Tidak ada Tara yang menyambutku. Tidak ada Tara di dapur juga di ruang
televisi. Barangkali Tara di kamar.
“Raa dimana?” teriakku
ketika mendekati kamar tidur kami.
Aku
membuka pintu kamar dan mendapati Tara yang menatapku dengan jari telunjukknya
dibibir memintaku untuk tidak berisik. Tempat tidur kami penuh dengan
barang-barang baby Gy yang aku
sendiri tak paham kenapa bisa ada di rumahku. Stroller nya di sudut ruangan dan Tara yang tengah memberikan susu
pada baby Gy dipangkuannya. Aku melangkah
mendekatinya dan mencium keningnya. Salah satu kebiasaan kesukaanku selama
menjadi suaminya. Baby Gy yang tengah
minum susu di pangkuan Tara tahu-tahu menarik dasiku iseng dengan tangan
kecilnya. Aku tersenyum gemas melihatnya.
“Cuci tangan dulu ya Mas”
katanya pelan. Aku sudah ingin mencium baby
Gy kalau Tara tidak mengingatkanku barusan. Aku hanya mengangguk lalu
melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan ganti baju.
Aku mendapati Tara tengah menidurkan baby Gy dalam gendongannya. Ada gambaran menyenangkan dan perasaan
hangat ketika melihat Tara seperti ini. Tara dan baby Gy lebih tepatnya. Apalagi ketika matahari sore yang melewati
jendela kamar kami menyinarinya seperti itu. She’ll be a good mother soon.
“Baby Gy kenapa di sini yang?” tanyaku sembari merangkul bahunya.
“Mba Vin sakit jadi baby Gy dititipin di sini bentar. Ibu
bilang besok ibu jemput baby Gy jadi
biar nginep di rumah ibu” jawabnya panjang lebar.
“Mba Vin sakit apa?” tanyaku.
“Tadi ditelpon sih
bilangnya demam” katanya lalu meletakkan baby
Gy di tengah tempat tidur kami.
“Terus yang nganter baby Gy kesini siapa?”
“Mas Jo sama Mas Dion”
katanya menyebutkan nama kedua kakakku.
“Eh tapi besok baby Gy dijemput ibu ya?” tanyaku
memastikan.
“Iya, besok pagi ibu ke
sini jemput baby Gy. Kata ibu biar
nginep di rumah ibu aja jadi ibu ada temennya. Ibu juga bilang biar kita berdua
bisa istirahat weekend ini” jelas
Tara panjang lebar.
“Ibu terbaik” gumamku.
“Eh?” Matanya menunjukkan
bahwa ia tak paham maksudku barusan.
“Paham dong yang ibu
kalau anaknya ini masih mau berdua terus sama istrinya” kataku yang disambut
senyuman Tara. Ia yang sedari tadi duduk disamping baby Gy setelah menidurkannya beranjak mendekat padaku dan
memberikan pelukan.
“Mama tadi siang telepon
mas” ujarnya sembari melepas pelukanku.
“Ada apa?” tanyaku lalu
menariknya kembali ke dalam pelukanku.
“Revan mau nginep, besok
dia libur” jawabnya.
“Saingan aku buat berdua
sama kamu banyak banget sih minggu ini yang” kataku yang dihadiahi tawa
kecilnya.
“Titip baby Gy sebentar ya Mas, aku mandi”
katanya lalu melepas pelukanku dan melangkah ke kamar mandi.
Baby Gy, anak
pertama kak Jo, tahu-tahu menangis saat Tara tengah ganti baju. Tara memintaku
memeriksa popok yang digunakan baby Gy
dan ternyata benar. This baby peed. A lot.
Aku menawarkan diri mengganti popoknya. Tara menatapku tak percaya tapi tetap
ada senyum mennyenangkan di wajahnya. Aku meminta instruksinya dan Tara dengan baik
mengarahkanku. Feel like this baby
trained me to be dad dan perempuanku ini tengah menyaksikan laki-laki
kesayangannya mengganti popok.
Bel rumah berdering ketika aku masih menggendong baby Gy dalam usaha mengembalikannya
untuk tidur. Tara yang sedari tadi menemaniku melangkah keluar untuk membuka
pintu. Barangkali mama dan Revan yang datang, begitu katanya. Tak lama setelah
Tara keluar aku mengikutinya dengan baby Gy
masih dalam gendonganku. Aku mendengar suara Tara, mama, dan Revan di depan.
“Hai ma” sapaku yang
disambut dengan tepukan lembut mama di bahuku. Mama tersenyum menatap baby Gy dalam gendonganku.
“Kok Gy di sini? Ada apa?”
tanya mama sembari duduk di sofa. Revan yang tadinya berada di samping mama
langsung menempel pada Tara kakak kesayangannya. Tara yang didekati Revan
langsung merangkulnya hangat.
“Mba Vin sakit ma, jadi
Gy titip di sini sebentar. Besok pagi diambil ibu kok” jelas Tara. Mama tak
lama meminta baby Gy dari
gendonganku. Ajaibnya tak lama setelah digendong Mama, baby Gy kembali tertidur pulas.
“Yas, mama titip Revan
ya? Sejak tahu besok libur minta nginep sini sama kakaknya” pinta mama setelah
menyerahkan baby Gy kepada Tara. Aku mengangguk
menanggapi permintaan mama barusan.
“Iya ma” kataku. Revan
yang sedari tadi menempel pada Tara kini sibuk mengamati baby Gy.
“Revan libur berapa hari?”
tanyaku pada Revan yang kini beralih menciumi baby Gy.
“Dua hari mas. Revan
nginep sini ya, bobo sama kak Tara. Besok sore Revan pulang” katanya.
“Nanti bobonya rame-rame
ya sama Gy sama mas juga” tawarku yang disambut dengan anggukan antusias Revan.
“Kaaak makan yaa” pinta
Revan tiba-tiba pada Tara yang masih menggendong baby Gy.
“Revan tadi kan udah makan
di rumah sama mama” kata mama.
“Lapar lagi ma” sahut
Revan.
“Udah ma ngga apa-apa”
kata Tara.
“Mau makan apa Van?”
tanya Tara.
“Telur dadar ya kak?
Nasinya sembunyi di bawah telur kaya biasanya itu loh” jawab Revan.
“Kakak taruh dedek
bayinya dulu ya tapi?” tawar Tara. Revan mengangguk setuju.
“Van mama pulang ya”
pamit mama.
“Mama langsung pulang? Makan
disini dulu aja ma” tawarku.
“Ngga deh, kasian Rio di
rumah sendirian. Mama pulang dulu ya” pamit mama.
Aku mengantar mama sampai mobil yang dipakai mama
menghilang dari balik pagar. Tara sepertinya menidurkan baby Gy di kamar kami dan Revan pasti dengan setia mengikutinya. Ketika
aku kembali ke dalam aku mendapati Tara yang sudah sibuk di dapur membuatkan
makan malam untuk Revan. Aku menghampirinya yang tengah sibuk membuat telur
dadar lalu memeluknya dari belakang.
“Yang aku mau juga ya”. Kalimatku
barusan pasti terdengar ajaib bagi Tara karena ia memberiku tatapan tak
percaya.
“Enak loh yang” rayuku.
“Iya deh iyaa” ujarnya
yang membuatku melepaskan pelukan dan menemani Revan di ruang televisi.
Tak berapa lama setelahnya Tara sudah berada di sampingku
dan Revan. Masih dengan apron biru mudanya.
“Yuk makan” ajaknya
sembari menggandeng Revan dan meninggalkanku begitu saja.
Barangkali
hidupku beberapa tahun ke depan seperti ini. Tara, aku dan anak kami duduk rapi
di meja makan saat sarapan dan makan malam sambil sesekali ngobrol. Good days to come. Tara sudah hendak
menyuapkan makanannya ketika tangisan baby
Gy terdengar lagi. Ia dengan segera beranjak dan menghampiri baby Gy di kamar kami. Revan yang sedari
tadi sibuk makan menatap Tara.
“Bentar ya Van, dedek
bayinya nangis. Revan sama mas Yasa dulu ya” katanya. Revan mengangguk.
Tara kembali dengan baby
Gy dalam gendongannya. Juga sebotol susu baby
Gy yang sudah kosong. Baby Gy tidak
lagi menangis dalam gendongan Tara sedang Tara mulai menyiapkan susu baby Gy. Aku menatapnya yang tengah
sibuk lalu beranjak membantunya setelah mengusap kepala Revan yang masih makan.
“Sini kubantu”. Ia tersenyum
lega lalu membiarkanku membuatkan sebotol susu untuk baby Gy.
June, 11th
2017