Minggu, 11 Juni 2017

#SembariNungguJadwalSemhasSidang: Baby Gy

            Hal pertama yang selalu kucari setiap hari hanya satu. Keberadaan Tara. Seringkali aku mencari keberadaannya saat bangun tidur dan sepulang kantor. Tara seringkali bangun terlebih dahulu tiap pagi. Tapi saat aku pulang kantor ia selalu menyambutku. Entah sebelumnya ia memasak di dapur, menonton sesuatu di ruang televisi, atau sekedar memainkan ponselnya. Alasanku pulang lebih cepat hari ini juga keberadaannya. Hanya saja aku tidak menemukannya di manapun. Tidak ada Tara yang menyambutku. Tidak ada Tara di dapur juga di ruang televisi. Barangkali Tara di kamar.
“Raa dimana?” teriakku ketika mendekati kamar tidur kami.
Aku membuka pintu kamar dan mendapati Tara yang menatapku dengan jari telunjukknya dibibir memintaku untuk tidak berisik. Tempat tidur kami penuh dengan barang-barang baby Gy yang aku sendiri tak paham kenapa bisa ada di rumahku. Stroller nya di sudut ruangan dan Tara yang tengah memberikan susu pada baby Gy dipangkuannya. Aku melangkah mendekatinya dan mencium keningnya. Salah satu kebiasaan kesukaanku selama menjadi suaminya. Baby Gy yang tengah minum susu di pangkuan Tara tahu-tahu menarik dasiku iseng dengan tangan kecilnya. Aku tersenyum gemas melihatnya.
“Cuci tangan dulu ya Mas” katanya pelan. Aku sudah ingin mencium baby Gy kalau Tara tidak mengingatkanku barusan. Aku hanya mengangguk lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan ganti baju.
            Aku mendapati Tara tengah menidurkan baby Gy dalam gendongannya. Ada gambaran menyenangkan dan perasaan hangat ketika melihat Tara seperti ini. Tara dan baby Gy lebih tepatnya. Apalagi ketika matahari sore yang melewati jendela kamar kami menyinarinya seperti itu. She’ll be a good mother soon.
Baby Gy kenapa di sini yang?” tanyaku sembari merangkul bahunya.
“Mba Vin sakit jadi baby Gy dititipin di sini bentar. Ibu bilang besok ibu jemput baby Gy jadi biar nginep di rumah ibu” jawabnya panjang lebar.
“Mba Vin sakit apa?” tanyaku.
“Tadi ditelpon sih bilangnya demam” katanya lalu meletakkan baby Gy di tengah tempat tidur kami.
“Terus yang nganter baby Gy kesini siapa?”
“Mas Jo sama Mas Dion” katanya menyebutkan nama kedua kakakku.
“Eh tapi besok baby Gy dijemput ibu ya?” tanyaku memastikan.
“Iya, besok pagi ibu ke sini jemput baby Gy. Kata ibu biar nginep di rumah ibu aja jadi ibu ada temennya. Ibu juga bilang biar kita berdua bisa istirahat weekend ini” jelas Tara panjang lebar.
“Ibu terbaik” gumamku.
“Eh?” Matanya menunjukkan bahwa ia tak paham maksudku barusan.
“Paham dong yang ibu kalau anaknya ini masih mau berdua terus sama istrinya” kataku yang disambut senyuman Tara. Ia yang sedari tadi duduk disamping baby Gy setelah menidurkannya beranjak mendekat padaku dan memberikan pelukan.
“Mama tadi siang telepon mas” ujarnya sembari melepas pelukanku.
“Ada apa?” tanyaku lalu menariknya kembali ke dalam pelukanku.
“Revan mau nginep, besok dia libur” jawabnya.
“Saingan aku buat berdua sama kamu banyak banget sih minggu ini yang” kataku yang dihadiahi tawa kecilnya.
“Titip baby Gy sebentar ya Mas, aku mandi” katanya lalu melepas pelukanku dan melangkah ke kamar mandi.
            Baby Gy, anak pertama kak Jo, tahu-tahu menangis saat Tara tengah ganti baju. Tara memintaku memeriksa popok yang digunakan baby Gy dan ternyata benar. This baby peed. A lot. Aku menawarkan diri mengganti popoknya. Tara menatapku tak percaya tapi tetap ada senyum mennyenangkan di wajahnya. Aku meminta instruksinya dan Tara dengan baik mengarahkanku. Feel like this baby trained me to be dad dan perempuanku ini tengah menyaksikan laki-laki kesayangannya mengganti popok.
            Bel rumah berdering ketika aku masih menggendong baby Gy dalam usaha mengembalikannya untuk tidur. Tara yang sedari tadi menemaniku melangkah keluar untuk membuka pintu. Barangkali mama dan Revan yang datang, begitu katanya. Tak lama setelah Tara keluar aku mengikutinya dengan baby Gy masih dalam gendonganku. Aku mendengar suara Tara, mama, dan Revan di depan.
“Hai ma” sapaku yang disambut dengan tepukan lembut mama di bahuku. Mama tersenyum menatap baby Gy dalam gendonganku.
“Kok Gy di sini? Ada apa?” tanya mama sembari duduk di sofa. Revan yang tadinya berada di samping mama langsung menempel pada Tara kakak kesayangannya. Tara yang didekati Revan langsung merangkulnya hangat.
“Mba Vin sakit ma, jadi Gy titip di sini sebentar. Besok pagi diambil ibu kok” jelas Tara. Mama tak lama meminta baby Gy dari gendonganku. Ajaibnya tak lama setelah digendong Mama, baby Gy kembali tertidur pulas.
“Yas, mama titip Revan ya? Sejak tahu besok libur minta nginep sini sama kakaknya” pinta mama setelah menyerahkan baby Gy kepada Tara. Aku mengangguk menanggapi permintaan mama barusan.
“Iya ma” kataku. Revan yang sedari tadi menempel pada Tara kini sibuk mengamati baby Gy.
“Revan libur berapa hari?” tanyaku pada Revan yang kini beralih menciumi baby Gy.
“Dua hari mas. Revan nginep sini ya, bobo sama kak Tara. Besok sore Revan pulang” katanya.
“Nanti bobonya rame-rame ya sama Gy sama mas juga” tawarku yang disambut dengan anggukan antusias Revan.
“Kaaak makan yaa” pinta Revan tiba-tiba pada Tara yang masih menggendong baby Gy.
“Revan tadi kan udah makan di rumah sama mama” kata mama.
“Lapar lagi ma” sahut Revan.
“Udah ma ngga apa-apa” kata Tara.
“Mau makan apa Van?” tanya Tara.
“Telur dadar ya kak? Nasinya sembunyi di bawah telur kaya biasanya itu loh” jawab Revan.
“Kakak taruh dedek bayinya dulu ya tapi?” tawar Tara. Revan mengangguk setuju.
“Van mama pulang ya” pamit mama.
“Mama langsung pulang? Makan disini dulu aja ma” tawarku.
“Ngga deh, kasian Rio di rumah sendirian. Mama pulang dulu ya” pamit mama.
            Aku mengantar mama sampai mobil yang dipakai mama menghilang dari balik pagar. Tara sepertinya menidurkan baby Gy di kamar kami dan Revan pasti dengan setia mengikutinya. Ketika aku kembali ke dalam aku mendapati Tara yang sudah sibuk di dapur membuatkan makan malam untuk Revan. Aku menghampirinya yang tengah sibuk membuat telur dadar lalu memeluknya dari belakang.
“Yang aku mau juga ya”. Kalimatku barusan pasti terdengar ajaib bagi Tara karena ia memberiku tatapan tak percaya.
“Enak loh yang” rayuku.
“Iya deh iyaa” ujarnya yang membuatku melepaskan pelukan dan menemani Revan di ruang televisi.
            Tak berapa lama setelahnya Tara sudah berada di sampingku dan Revan. Masih dengan apron biru mudanya.
“Yuk makan” ajaknya sembari menggandeng Revan dan meninggalkanku begitu saja.
Barangkali hidupku beberapa tahun ke depan seperti ini. Tara, aku dan anak kami duduk rapi di meja makan saat sarapan dan makan malam sambil sesekali ngobrol. Good days to come. Tara sudah hendak menyuapkan makanannya ketika tangisan baby Gy terdengar lagi. Ia dengan segera beranjak dan menghampiri baby Gy di kamar kami. Revan yang sedari tadi sibuk makan menatap Tara.
“Bentar ya Van, dedek bayinya nangis. Revan sama mas Yasa dulu ya” katanya. Revan mengangguk.
            Tara kembali dengan baby Gy dalam gendongannya. Juga sebotol susu baby Gy yang sudah kosong. Baby Gy tidak lagi menangis dalam gendongan Tara sedang Tara mulai menyiapkan susu baby Gy. Aku menatapnya yang tengah sibuk lalu beranjak membantunya setelah mengusap kepala Revan yang masih makan.
“Sini kubantu”. Ia tersenyum lega lalu membiarkanku membuatkan sebotol susu untuk baby Gy.

June, 11th 2017
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template