Senin, 26 Maret 2018

Mas Rama

 – Blue Polo Series (November 27, 2014)



            Mas Rama nampak nyaman duduk diantara adik-adik binaan di atas tikar lusuh yang sedari tadi membuatku tak nyaman. Kegiatan belajar rutin yang diadakan seminggu sekali ini tidak menjamin sebuah tempat yang nyaman dan kondusif untuk belajar menurutku. Aku sendiri lebih suka belajar di ruangan yang sangat terang dan tenang.  Satu-satunya keramaian yang ada hanyalah suaraku sendiri yang bergumam tak jelas mengulangi materi atau bernyanyi mengikuti lagu yang kuputar lewat earphone. Kegiatan belajar ini diadakan tepat di tengah jalan diantar rumah-rumah penduduk. Di bawah  lampu penerangan jalan dengan adik-adik binaan yang membawa perangkat belajar mereka serta meja lipat kecil.
            Aku kembali dari pikiranku yang melayang-layang membandingkan fasilitas belajarku dengan mereka. Jauh sekali. Aku jauh lebih beruntung karena tak perlu berdesak-desakan atau malah berebut kakak pendamping untuk minta ditemani menyelesaikan pr. Guru les privatku semasa sekolah selalu siap sedia hampir 24 jam untuk kutanyai tentang materi di sekolah. Akses internet yang tidak terbatas di rumah mendukungku belajar dan menggali informasi lebih banyak. Adina merengek minta digambarkan sesuatu kepadaku.
“Kaak ayo gambarin rumaah” rengeknya. Aku mengangguk mengiyakan lalu mulai mencoret-coret buku gambar yang ia sodorkan kepadaku.
            Usia Adina baru lima tahun masih duduk di taman kanak-kanak. Belum ada tugas rumah yang harus dikerjakan. Siswa TK biasanya baru diberi pekerjaan rumah ketika hari Sabtu menjelang dan dikumpulkan Senin pagi ketika mereka masuk sekolah. Adik-adik binaan disini sebenarnya lumayan bandel menurutku. Suka seenaknya sendiri dan saling mengganggu bahkan beberapa melontarkan kata-kata kasar dan tidak pantas diucapkan anak seusia mereka. Budaya disini memang seperti itu, kata-kata kasar seperti umpatan bukan hal yang tabu untuk diucapkan. Bukan karena tidak menghormati atau menghargai orang lain melainkan menunjukkan keakraban kepada sesama. Sayangnya tidak semua orang berpikiran seperti itu. Apalagi jika anak-anak yang mengucapkannya. Seringkali anak-anak disini menyertai ucapan kasar mereka dengan tindakan yang kasar pula. 
            Mas Rama sama sekali tidak terganggu dengan tingkah laku adik-adik binaan yang kadang tidak bisa kupahami dengan baik. Mas Rama sama sekali tidak surut, binar matanya sedari tadi menunjukkan rasa puas yang luar biasa bisa berada diantara mereka. Ia berkali-kali tersenyum melihat tingkah konyol Tyo dan Indah yang sedang belajar membaca. Mereka kadang mengarang sendiri kata-kata yang mereka ucapkan. Mereka tidak benar-benar membaca buku dihadapan mereka.
            Aku menatap mas Rama lekat-lekat sembari sesekali memperhatikan Adina yang akhirnya ikut belajar menggambar. Mas Rama hanya tersenyum melihatku menatapnya. Sepasang alis tebal yang menaungi matanya tidak pernah membuatku bosan memperhatikan apa yang ia lakukan. Garis wajahnya yang tegas membuatku yakin bahwa Tuhan benar-benar sadar menciptakan laki-laki sepertinya untuk banyak dikagumi perempuan. Satu lagi, sorot matanya yang berwibawa sekaligus lembut dan penuh sayang membuatku jatuh cinta dengan orang yang sama setiap harinya.
            Hujan turun perlahan-lahan. Satu dua tetes hujan turun membuat kegiatan belajar dipindahkan dengan segera ke selasar mushalla. Sayangnya hujan kali ini disertai angin kencang dan petir yang menyambar. Selasar mushalla hanya tertutup di bagian atapnya saja. Percik hujan yang terbawa angin masih bisa masuk dan membasahi setiap orang yang berteduh di selasar mushalla. Kegiatan belajar berhenti. Hanya beberapa yang masih nyaman dan tidak peduli dengan keadaan sekitar untuk melanjutkan belajar. Mas Rama berada di tengah keramaian bersama adik-adik dan teman-teman yang lain. Sibuk bercanda dan belajar dalam waktu yang sama. Aku memilih duduk di atas papan-papan kayu di teras masjid. Menikmati hujan. Adina duduk disampingku, menitipkan tas yang ia bawa lalu berlari ke selasar mushalla. Merasakan percik hujan yang terbawa angin diantara riuhnya suara.
            Danisa duduk disampingku lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Ngantuk, Del”
“Sama Nis hehe” kataku.
“Duuh sumpah deh adiknya bandel bangeet. Ntar anakku ngga bakal senakal itu kan yaa?” ah Danisa meracau.
“Ya enggaklah, Nis. Sebandel-bandelnya anak kamu nanti kamu pasti bisa ngatasi lah. Lagian adik-adik ini kan bandel karena memang lingkungannya. Beda ntar kalo kamu punya anak sendiri. Kita kan berpendidikan jadi kita pasti lebih paham lah gimana ngurusin anak-anak kita ntar” aku meracau balik. Danisa hanya mengiyakan kata-kataku barusan.
            Aku mengeluarkan smartphone dari dompet lalu memasang earphone di telingaku. Danisa meminta sebelah earphone-ku dan aku memberikannya. Adina masih sibuk bermain hujan di selasar mushalla bersama adik-adik binaan yang lain. Aku memutuskan untuk menulis sesuatu. Hujan yang turun selalu membuatku berpikir tentang banyak hal lalu menuliskannya. Jadi aku duduk disini mendengarkan suara hujan, hiruk pikuk adik-adik binaan dan menuliskan sesuatu secara bersamaan.
            Tahu-tahu mas Rama sudah duduk disampingku dan memasangkan jaketnya kepadaku. Aku menatapnya dalam. Teman-temannya pasti akan ramai sekali jika tahu apa yang terjadi diantara aku dan mas Rama. Maklumlah di tahun pertama perkuliahan seperti ini dianggap tak terlihat oleh senior saja sudah patut disyukuri. Jadi kalau sampai ada yang tahu apa yang terjadi ya, entahlah. Mas Rama yang sedari tadi kutatap dalam-dalam hanya tersenyum.
“Ngga apa kok Del. Mereka taunya kamu adik aku kok”
            Aah ternyata aku hanya adik buatnya. Aku batal tersenyum menanggapi perlakuan manisnya ini. Ada sedikit rasa kecewa yang hinggap. Aku kembali memusatkan perhatianku pada notes yang kubuat barusan. Mas Rama ikut-ikutan fokus pada apa yang kutuliskan. Aku menatapnya lagi.
“Apa?” tanya mas Rama.
“Jangan diliatin mas kan jadi ngga fokus aku nulisnya”
“Lah kan aku baca tulisannya ngga liatin kamu”
“Sama aja mas” kataku. Mas Rama hanya tersenyum lalu mengusap punggungku hangat.
            Hujan sudah mulai reda. Adik-adik binaan sudah mulai berkemas untuk pulang. Kali ini seluruh kakak pendamping yang tidak lain adalah seniorku di kampus dan teman-temanku sendiri mengantarkan adik-adik binaan pulang. Sebenarnya mereka bisa pulang sendiri tapi karena hari ini hujan deras dan kegiatan memakan waktu lebih lama jadilah mereka diantarkan pulang ke rumah masing-masing. Beberapa sudah dijemput orang tuanya di tengah hujan.
            Diantara hiruk pikuk keributan persiapan pulang, tangis seorang adik binaan pecah. Adina menangis keras. Beberapa kakak pendamping menghampirinya dan berusaha mengetahui apa yang membuatnya menangis. Aku urung mendekat karena sudah banyak kakak pendamping yang mengerubuti Adina. Aku masih menggandeng Indah karena mas Rama yang sejak tadi menemaninya pergi melihat Adina.
            Adina kehilangan uang yang ia bawa di dompetnya. Dompetnya juga hilang. Adik-adik binaan yang lain ikut mengerubuti Adina. Acara mengantarkan pulang adik binaan terhambat. Aku masih mengamati sekitar tanpa melepas genggaman tanganku pada Indah. Indah hanya menatapku tanpa banyak tanya. Ia jadi lebih banyak diam. Padahal selama bersama mas Rama tadi ia banyak bicara. Mas Rama berjongkok menatap Adina. Berusaha menenangkan tangisnya. Adina masih belum berhenti tangisnya. Adina takut dimarahi orang tuanya perkara dompet serta uang yang hilang barusan. Mas Rama menepuk punggung Adina pelan lalu membujuknya untuk diantarkan pulang. Diantara kesibukanku mengamati mas Rama, seorang adik binaan yang aku tak tahu namanya dengan iseng menyelipkan dompet berwarna pink ke saku jaket mas Rama. Setahuku adik binaan ini yang paling bandel dan usil menjahili teman-temannya selama kegiatan belajar berlangsung. Sepertinya dompet itu milik Adina. Aku tak sengaja melihatnya sewaktu menemani Adina menggambar tadi.
“Del, Indah aku aja yang anter pulang ya. Udah malem nih” kata Doni, salah satu temanku dengan logat Jakartanya yang khas. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Indah malah dengan manjanya minta digendong oleh Doni. Menurutku Indah sudah mulai paham mana laki-laki keren dan mana yang bukan.
            Adina masih terisak ketika mas Rama menawarinya untuk diantar pulang kesekian kalinya. Kali ini Adina setuju. Aku menghampiri mas Rama dan Adina. Ikut-ikutan berjongkok dihadapan Adina lalu menenangkannya terakhir kali.
“Cantik jangan nangis yaa, sekarang pulang dulu yaa. Udah malem” kataku sambil menghapus air mata Adina dengan tangan. Adina hanya mengangguk sambil mengucek matanya.
“Mas, boleh ikut anter Adina pulang?” tanyaku pada mas Rama. Mas Rama hanya mengangguk lalu tersenyum.
            Jalanan sudah amat sepi. Hanya suara televisi dari rumah penduduk yang terdengar dari luar. Dari suara yang kutangkap beberapa rumah menonton acara yang sama. Drama televisi yang bisa berseri-seri. Tipikal acara yang bertemu antar tokohnya amat sulit padahal tokoh tersebut hanya berjarak sekitar dua meter satu sama lain. Drama televisi yang lebih lama durasi iklan daripada acaranya sendiri. Acara yang selalu dipotong kata bersambung saat cerita mencapai klimaks.
            Sepanjang perjalanan mengantar Adina pulang, mas Rama diam saja. Aku sendiri juga tidak tahu harus memulai pembicaraan apa dengannya. Adina yang sudah mulai tenang mengayun-ayunkan kedua tangannya yang digandeng olehku dan mas Rama. Adina mulai berceloteh tak jelas menceritakan teman-temannya di sekolah. Aku menanggapi Adina dengan antusias.
            Tak berapa lama, aku, mas Rama dan Adina sampai di depan rumah Adina. Mas Rama mengetuk pintu rumah Adina dan mengucapkan salam. Dari dalam rumah terdengar jawaban salam dan langkah kaki berat yang mendekati pintu. Mungkin ayah Adina. Benar saja, seorang laki-laki bertubuh tegap dengan perut tambun muncul dihadapan kami dengan kaos oblong serta sarung. Ayah Adina tersenyum menyapa kami. Mas Rama tanpa ragu menyampaikan kejadian hilangnya dompet Adina dan meminta maaf. Ayah Adina hanya bisa maklum dengan kejadian barusan.
“yo wes mas yo yoopo maneh. Ben mene bocahe ra sah nggowo dompet meneh” kata ayah Adina dalam bahasa Jawa setempat. Yang artinya, ya sudah mas mau gimana lagi, biar anaknya ngga usah bawa dompet lagi besok-besok. Mas Rama tersenyum sungkan menanggapi perkataan ayah Adina.
“Sekali lagi saya mewakili teman-teman yang lain minta maaf pak. Kami belum bisa jaga dengan baik” kata mas Rama.
            Aku diam-diam melingkarkan tanganku ke pinggang mas Rama untuk meraih dompet Adina di saku kanan mas Rama. Untungnya mas Rama berdiri sangat dekat denganku jadi aku bisa leluasa menjangkaunya. Sebenarnya tadi aku sudah hendak mengatakan kepada mas Rama bahwa dompet Adina ada di sakunya. Tapi aku baru ingat setelah mas Rama menyinggung-nyinggung soal dompet Adina di depan ayah Adina. Mas Rama sepertinya sama sekali tak merasakan bahwa tanganku sudah mencapai sakunya dan berhasil mengambil dompet Adina.
“Bapak permisi sebelumnya, ini dompet adik sudah ketemu. Coba di cek dulu uangnya” kataku pelan ketika mas Rama hendak pamit. Aku menyerahkan dompet Adina yang belum sempat kuperiksa isinya. Mas Rama menatapku penuh tanda tanya. Aku hanya tersenyum.
            Persoalan mengenai Adina sudah selesai. Untungnya uang dalam dompet Adina masih utuh. Sepertinya adik binaan yang bandel tadi hanya ingin mengusili Adina saja tanpa berniat benar-benar mencurinya. Aku bernafas lega. Mas Rama dan aku akhirnya pamit untuk pulang. Kakak pendamping yang lain sepertinya sudah selesai berkemas lalu kembali ke jurusan.
            Aku menyusuri jalanan yang lengang tadi menuju sepeda motor yang diparkir di depan rumah-rumah warga. Kali ini hanya tinggal aku dan mas Rama. Angin berhembus pelan menyisakan sejuk sehabis hujan. Mas Rama masih diam. Aku sendiri sibuk menikmati suara jangkrik dan katak yang beradu dengan suara televisi di rumah-rumah penduduk sampai mas Rama tiba-tiba menggenggam tanganku tanpa berkata apa-apa.
“Adik yang ini ngga bakalan ilang kok mas meskipun ngga digandeng” kataku. Aku menangkapnya tersenyum mendengar perkataanku. Bukannya melepas genggamannya ia malah makin erat.
“Kok dompet Adina bisa di saku jaketku Del?” tanya mas Rama.
“Tadi adik yang bandel itu yang masukin ke jaket mas Rama. Emang mas Rama ngga kerasa?” kataku. Mas Rama menggeleng pelan sekaligus heran.
“Ya udah sih ya yang penting kan dompetnya udah balik” katanya.
            Aku hanya mengangguk tanpa melihat ke arahnya. Entah kenapa aku tiba-tiba canggung dengan kelakuan mas Rama yang menggandengku seperti ini. Padahal sebelum-sebelumnya tidak seperti ini. Sepertinya kalau aku melihat mas Rama sekarang wajahku akan mirip dengan kepiting rebus, merah karena malu. Mas Rama juga sepertinya sama sekali tidak menatapku. Ia malah mengayun-ayunkan tangannya. Aku menangkapnya tersenyum dari sudut mataku. Aku menghangat melihat senyumannya .
“Mau dianterin pulang?” katanya setelah sampai di parkiran. Aku menggeleng.
“Aku bawa motor kok mas” kataku.
“Ya yaudah biar motor kamu Danisa yang bawa, kamu sama aku aja. Tadi berangkat sama Danisa kan?” katanya panjang lebar. Aku mengangguk.
“Emang ngga apa mas? Kalo ditanyain senior yang lain aku kudu jawab apa?”
“Takut banget sama senior. Aku kan juga senior kamu. Kamu ngga takut sama aku? Dianterin senior loh, berani nolak?” katanya meledek.
“Oh jadi ini bagian dari ospek mas? Jangan-jangan ngga cuma aku nih maba yang diginiin” balasku.
“Eeh yaa engga lah, Del. Kamu doang kok, serius” katanya kelabakan. Aku hanya tertawa melihatnya panik dengan perkataanku barusan, padahal aku cuma bercanda.

            Aku terbangun oleh suara adzan maghrib masjid depan kos. Jam di smartphone-ku menunjukkan pukul setengah enam sore. Ada empat pesan masuk, beberapa chat whatsapp dan sebuah telepon masuk. Rupanya aku tertidur cukup lama sore ini. Dua pesan dari mas Rama, dua chat whatsapp dari mas Rama, percakapan ramai di grup whatsapp dan sebuah telpon masuk dari mas Rama. Aku sedang berpikir keras apa yang ingin disampaikan mas Rama. Aku juga sibuk memahami kenapa aku memimpikan mas Rama setelah sekian lama.
 
A's Journal Blogger Template by Ipietoon Blogger Template