Mas Rama
nampak nyaman duduk diantara adik-adik binaan di atas tikar lusuh yang sedari
tadi membuatku tak nyaman. Kegiatan belajar rutin yang diadakan seminggu sekali
ini tidak menjamin sebuah tempat yang nyaman dan kondusif untuk belajar
menurutku. Aku sendiri lebih suka belajar di ruangan yang sangat terang dan
tenang. Satu-satunya keramaian yang ada
hanyalah suaraku sendiri yang bergumam tak jelas mengulangi materi atau
bernyanyi mengikuti lagu yang kuputar lewat earphone.
Kegiatan belajar ini diadakan tepat di tengah jalan diantar rumah-rumah
penduduk. Di bawah lampu penerangan
jalan dengan adik-adik binaan yang membawa perangkat belajar mereka serta meja
lipat kecil.
Aku kembali
dari pikiranku yang melayang-layang membandingkan fasilitas belajarku dengan
mereka. Jauh sekali. Aku jauh lebih beruntung karena tak perlu berdesak-desakan
atau malah berebut kakak pendamping untuk minta ditemani menyelesaikan pr. Guru
les privatku semasa sekolah selalu siap sedia hampir 24 jam untuk kutanyai
tentang materi di sekolah. Akses internet yang tidak terbatas di rumah
mendukungku belajar dan menggali informasi lebih banyak. Adina merengek minta
digambarkan sesuatu kepadaku.
“Kaak ayo gambarin rumaah” rengeknya. Aku mengangguk
mengiyakan lalu mulai mencoret-coret buku gambar yang ia sodorkan kepadaku.
Usia Adina
baru lima tahun masih duduk di taman kanak-kanak. Belum ada tugas rumah yang
harus dikerjakan. Siswa TK biasanya baru diberi pekerjaan rumah ketika hari
Sabtu menjelang dan dikumpulkan Senin pagi ketika mereka masuk sekolah.
Adik-adik binaan disini sebenarnya lumayan bandel menurutku. Suka seenaknya
sendiri dan saling mengganggu bahkan beberapa melontarkan kata-kata kasar dan
tidak pantas diucapkan anak seusia mereka. Budaya disini memang seperti itu,
kata-kata kasar seperti umpatan bukan hal yang tabu untuk diucapkan. Bukan
karena tidak menghormati atau menghargai orang lain melainkan menunjukkan
keakraban kepada sesama. Sayangnya tidak semua orang berpikiran seperti itu.
Apalagi jika anak-anak yang mengucapkannya. Seringkali anak-anak disini
menyertai ucapan kasar mereka dengan tindakan yang kasar pula.
Mas Rama
sama sekali tidak terganggu dengan tingkah laku adik-adik binaan yang kadang
tidak bisa kupahami dengan baik. Mas Rama sama sekali tidak surut, binar
matanya sedari tadi menunjukkan rasa puas yang luar biasa bisa berada diantara
mereka. Ia berkali-kali tersenyum melihat tingkah konyol Tyo dan Indah yang
sedang belajar membaca. Mereka kadang mengarang sendiri kata-kata yang mereka
ucapkan. Mereka tidak benar-benar membaca buku dihadapan mereka.
Aku menatap
mas Rama lekat-lekat sembari sesekali memperhatikan Adina yang akhirnya ikut
belajar menggambar. Mas Rama hanya tersenyum melihatku menatapnya. Sepasang
alis tebal yang menaungi matanya tidak pernah membuatku bosan memperhatikan apa
yang ia lakukan. Garis wajahnya yang tegas membuatku yakin bahwa Tuhan
benar-benar sadar menciptakan laki-laki sepertinya untuk banyak dikagumi
perempuan. Satu lagi, sorot matanya yang berwibawa sekaligus lembut dan penuh
sayang membuatku jatuh cinta dengan orang yang sama setiap harinya.
Hujan turun
perlahan-lahan. Satu dua tetes hujan turun membuat kegiatan belajar dipindahkan
dengan segera ke selasar mushalla. Sayangnya hujan kali ini disertai angin
kencang dan petir yang menyambar. Selasar mushalla hanya tertutup di bagian
atapnya saja. Percik hujan yang terbawa angin masih bisa masuk dan membasahi
setiap orang yang berteduh di selasar mushalla. Kegiatan belajar berhenti.
Hanya beberapa yang masih nyaman dan tidak peduli dengan keadaan sekitar untuk
melanjutkan belajar. Mas Rama berada di tengah keramaian bersama adik-adik dan
teman-teman yang lain. Sibuk bercanda dan belajar dalam waktu yang sama. Aku
memilih duduk di atas papan-papan kayu di teras masjid. Menikmati hujan. Adina
duduk disampingku, menitipkan tas yang ia bawa lalu berlari ke selasar
mushalla. Merasakan percik hujan yang terbawa angin diantara riuhnya suara.
Danisa duduk
disampingku lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Ngantuk, Del”
“Sama Nis hehe” kataku.
“Duuh sumpah deh adiknya bandel bangeet. Ntar anakku ngga
bakal senakal itu kan yaa?” ah Danisa meracau.
“Ya enggaklah, Nis. Sebandel-bandelnya anak kamu nanti kamu
pasti bisa ngatasi lah. Lagian adik-adik ini kan bandel karena memang
lingkungannya. Beda ntar kalo kamu punya anak sendiri. Kita kan berpendidikan
jadi kita pasti lebih paham lah gimana ngurusin anak-anak kita ntar” aku
meracau balik. Danisa hanya mengiyakan kata-kataku barusan.
Aku
mengeluarkan smartphone dari dompet
lalu memasang earphone di telingaku.
Danisa meminta sebelah earphone-ku
dan aku memberikannya. Adina masih sibuk bermain hujan di selasar mushalla bersama
adik-adik binaan yang lain. Aku memutuskan untuk menulis sesuatu. Hujan yang
turun selalu membuatku berpikir tentang banyak hal lalu menuliskannya. Jadi aku
duduk disini mendengarkan suara hujan, hiruk pikuk adik-adik binaan dan
menuliskan sesuatu secara bersamaan.
Tahu-tahu
mas Rama sudah duduk disampingku dan memasangkan jaketnya kepadaku. Aku
menatapnya dalam. Teman-temannya pasti akan ramai sekali jika tahu apa yang
terjadi diantara aku dan mas Rama. Maklumlah di tahun pertama perkuliahan seperti
ini dianggap tak terlihat oleh senior saja sudah patut disyukuri. Jadi kalau
sampai ada yang tahu apa yang terjadi ya, entahlah. Mas Rama yang sedari tadi
kutatap dalam-dalam hanya tersenyum.
“Ngga apa kok Del. Mereka taunya kamu adik aku kok”
Aah ternyata
aku hanya adik buatnya. Aku batal tersenyum menanggapi perlakuan manisnya ini.
Ada sedikit rasa kecewa yang hinggap. Aku kembali memusatkan perhatianku pada
notes yang kubuat barusan. Mas Rama ikut-ikutan fokus pada apa yang kutuliskan.
Aku menatapnya lagi.
“Apa?” tanya mas Rama.
“Jangan diliatin mas kan jadi ngga fokus aku nulisnya”
“Lah kan aku baca tulisannya ngga liatin kamu”
“Sama aja mas” kataku. Mas Rama hanya tersenyum lalu mengusap
punggungku hangat.
Hujan sudah
mulai reda. Adik-adik binaan sudah mulai berkemas untuk pulang. Kali ini
seluruh kakak pendamping yang tidak lain adalah seniorku di kampus dan
teman-temanku sendiri mengantarkan adik-adik binaan pulang. Sebenarnya mereka
bisa pulang sendiri tapi karena hari ini hujan deras dan kegiatan memakan waktu
lebih lama jadilah mereka diantarkan pulang ke rumah masing-masing. Beberapa
sudah dijemput orang tuanya di tengah hujan.
Diantara
hiruk pikuk keributan persiapan pulang, tangis seorang adik binaan pecah. Adina
menangis keras. Beberapa kakak pendamping menghampirinya dan berusaha
mengetahui apa yang membuatnya menangis. Aku urung mendekat karena sudah banyak
kakak pendamping yang mengerubuti Adina. Aku masih menggandeng Indah karena mas
Rama yang sejak tadi menemaninya pergi melihat Adina.
Adina
kehilangan uang yang ia bawa di dompetnya. Dompetnya juga hilang. Adik-adik
binaan yang lain ikut mengerubuti Adina. Acara mengantarkan pulang adik binaan
terhambat. Aku masih mengamati sekitar tanpa melepas genggaman tanganku pada
Indah. Indah hanya menatapku tanpa banyak tanya. Ia jadi lebih banyak diam.
Padahal selama bersama mas Rama tadi ia banyak bicara. Mas Rama berjongkok
menatap Adina. Berusaha menenangkan tangisnya. Adina masih belum berhenti
tangisnya. Adina takut dimarahi orang tuanya perkara dompet serta uang yang
hilang barusan. Mas Rama menepuk punggung Adina pelan lalu membujuknya untuk
diantarkan pulang. Diantara kesibukanku mengamati mas Rama, seorang adik binaan
yang aku tak tahu namanya dengan iseng menyelipkan dompet berwarna pink ke saku
jaket mas Rama. Setahuku adik binaan ini yang paling bandel dan usil menjahili
teman-temannya selama kegiatan belajar berlangsung. Sepertinya dompet itu milik
Adina. Aku tak sengaja melihatnya sewaktu menemani Adina menggambar tadi.
“Del, Indah aku aja yang anter pulang ya. Udah malem nih”
kata Doni, salah satu temanku dengan logat Jakartanya yang khas. Aku hanya
mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Indah malah dengan manjanya minta
digendong oleh Doni. Menurutku Indah sudah mulai paham mana laki-laki keren dan
mana yang bukan.
Adina masih
terisak ketika mas Rama menawarinya untuk diantar pulang kesekian kalinya. Kali
ini Adina setuju. Aku menghampiri mas Rama dan Adina. Ikut-ikutan berjongkok
dihadapan Adina lalu menenangkannya terakhir kali.
“Cantik jangan nangis yaa, sekarang pulang dulu yaa. Udah
malem” kataku sambil menghapus air mata Adina dengan tangan. Adina hanya
mengangguk sambil mengucek matanya.
“Mas, boleh ikut anter Adina pulang?” tanyaku pada mas Rama.
Mas Rama hanya mengangguk lalu tersenyum.
Jalanan
sudah amat sepi. Hanya suara televisi dari rumah penduduk yang terdengar dari
luar. Dari suara yang kutangkap beberapa rumah menonton acara yang sama. Drama
televisi yang bisa berseri-seri. Tipikal acara yang bertemu antar tokohnya amat
sulit padahal tokoh tersebut hanya berjarak sekitar dua meter satu sama lain.
Drama televisi yang lebih lama durasi iklan daripada acaranya sendiri. Acara
yang selalu dipotong kata bersambung saat cerita mencapai klimaks.
Sepanjang
perjalanan mengantar Adina pulang, mas Rama diam saja. Aku sendiri juga tidak
tahu harus memulai pembicaraan apa dengannya. Adina yang sudah mulai tenang
mengayun-ayunkan kedua tangannya yang digandeng olehku dan mas Rama. Adina
mulai berceloteh tak jelas menceritakan teman-temannya di sekolah. Aku
menanggapi Adina dengan antusias.
Tak berapa
lama, aku, mas Rama dan Adina sampai di depan rumah Adina. Mas Rama mengetuk
pintu rumah Adina dan mengucapkan salam. Dari dalam rumah terdengar jawaban
salam dan langkah kaki berat yang mendekati pintu. Mungkin ayah Adina. Benar
saja, seorang laki-laki bertubuh tegap dengan perut tambun muncul dihadapan
kami dengan kaos oblong serta sarung. Ayah Adina tersenyum menyapa kami. Mas
Rama tanpa ragu menyampaikan kejadian hilangnya dompet Adina dan meminta maaf.
Ayah Adina hanya bisa maklum dengan kejadian barusan.
“yo wes mas yo yoopo maneh. Ben mene bocahe ra sah nggowo
dompet meneh” kata ayah Adina dalam bahasa Jawa setempat. Yang artinya, ya
sudah mas mau gimana lagi, biar anaknya ngga usah bawa dompet lagi besok-besok.
Mas Rama tersenyum sungkan menanggapi perkataan ayah Adina.
“Sekali lagi saya mewakili teman-teman yang lain minta maaf
pak. Kami belum bisa jaga dengan baik” kata mas Rama.
Aku
diam-diam melingkarkan tanganku ke pinggang mas Rama untuk meraih dompet Adina
di saku kanan mas Rama. Untungnya mas Rama berdiri sangat dekat denganku jadi
aku bisa leluasa menjangkaunya. Sebenarnya tadi aku sudah hendak mengatakan
kepada mas Rama bahwa dompet Adina ada di sakunya. Tapi aku baru ingat setelah
mas Rama menyinggung-nyinggung soal dompet Adina di depan ayah Adina. Mas Rama
sepertinya sama sekali tak merasakan bahwa tanganku sudah mencapai sakunya dan
berhasil mengambil dompet Adina.
“Bapak permisi sebelumnya, ini dompet adik sudah ketemu. Coba
di cek dulu uangnya” kataku pelan ketika mas Rama hendak pamit. Aku menyerahkan
dompet Adina yang belum sempat kuperiksa isinya. Mas Rama menatapku penuh tanda
tanya. Aku hanya tersenyum.
Persoalan
mengenai Adina sudah selesai. Untungnya uang dalam dompet Adina masih utuh.
Sepertinya adik binaan yang bandel tadi hanya ingin mengusili Adina saja tanpa
berniat benar-benar mencurinya. Aku bernafas lega. Mas Rama dan aku akhirnya
pamit untuk pulang. Kakak pendamping yang lain sepertinya sudah selesai
berkemas lalu kembali ke jurusan.
Aku
menyusuri jalanan yang lengang tadi menuju sepeda motor yang diparkir di depan
rumah-rumah warga. Kali ini hanya tinggal aku dan mas Rama. Angin berhembus
pelan menyisakan sejuk sehabis hujan. Mas Rama masih diam. Aku sendiri sibuk
menikmati suara jangkrik dan katak yang beradu dengan suara televisi di
rumah-rumah penduduk sampai mas Rama tiba-tiba menggenggam tanganku tanpa
berkata apa-apa.
“Adik yang ini ngga bakalan ilang kok mas meskipun ngga
digandeng” kataku. Aku menangkapnya tersenyum mendengar perkataanku. Bukannya
melepas genggamannya ia malah makin erat.
“Kok dompet Adina bisa di saku jaketku Del?” tanya mas Rama.
“Tadi adik yang bandel itu yang masukin ke jaket mas Rama.
Emang mas Rama ngga kerasa?” kataku. Mas Rama menggeleng pelan sekaligus heran.
“Ya udah sih ya yang penting kan dompetnya udah balik”
katanya.
Aku hanya
mengangguk tanpa melihat ke arahnya. Entah kenapa aku tiba-tiba canggung dengan
kelakuan mas Rama yang menggandengku seperti ini. Padahal sebelum-sebelumnya
tidak seperti ini. Sepertinya kalau aku melihat mas Rama sekarang wajahku akan
mirip dengan kepiting rebus, merah karena malu. Mas Rama juga sepertinya sama
sekali tidak menatapku. Ia malah mengayun-ayunkan tangannya. Aku menangkapnya
tersenyum dari sudut mataku. Aku menghangat melihat senyumannya .
“Mau dianterin pulang?” katanya setelah sampai di parkiran.
Aku menggeleng.
“Aku bawa motor kok mas” kataku.
“Ya yaudah biar motor kamu Danisa yang bawa, kamu sama aku
aja. Tadi berangkat sama Danisa kan?” katanya panjang lebar. Aku mengangguk.
“Emang ngga apa mas? Kalo ditanyain senior yang lain aku kudu
jawab apa?”
“Takut banget sama senior. Aku kan juga senior kamu. Kamu
ngga takut sama aku? Dianterin senior loh, berani nolak?” katanya meledek.
“Oh jadi ini bagian dari ospek mas? Jangan-jangan ngga cuma
aku nih maba yang diginiin” balasku.
“Eeh yaa engga lah, Del. Kamu doang kok, serius” katanya
kelabakan. Aku hanya tertawa melihatnya panik dengan perkataanku barusan,
padahal aku cuma bercanda.
Aku
terbangun oleh suara adzan maghrib masjid depan kos. Jam di smartphone-ku menunjukkan pukul setengah
enam sore. Ada empat pesan masuk, beberapa chat whatsapp dan sebuah telepon masuk. Rupanya aku tertidur cukup lama
sore ini. Dua pesan dari mas Rama, dua chat whatsapp
dari mas Rama, percakapan ramai di grup whatsapp
dan sebuah telpon masuk dari mas Rama. Aku sedang berpikir keras apa yang ingin
disampaikan mas Rama. Aku juga sibuk memahami kenapa aku memimpikan mas Rama
setelah sekian lama.